twitter



Mozaik Kenangan


Setiap kisah punya awalan. Tapi bagiku, kisahku tak ada awalan, awalan itu sudah terskenario dengan rapi oleh sutradara langit yang tak pernah kuketahui apa maunya. Aku tak punya pilihan untuk memilih menjadi pemeran apa atau bagaimana dialogku nanti. Yang ku tahu hanya menjalankan skenario yang sudah ada. Prolog, akhiran, dan epilog. Kali ini, setting cerita nya adalah sebuah tempat kecil di pojok gedung L bernama “Iqtishodi”. Dengan berat hati, lagi, harus kutinggalkan tempat yang membuatku nyaman. Lucu juga, tempat itu yang dulu aku sangat benci. Tapi entah kenapa kini sulit untuk kulepaskan. Apakah hal yang sama akan terjadi juga pada ceritaku kali ini? jawabanku, entahlah. Aku hanya ingin membiarkan ini seperti air yang mengalir.

Pertama datang, dialog pertama hanyalah jawaban “Hai!” sekuat tenaga aku berusaha menjelaskan siapa aku? darimana aku datang? apa peranku di sini?. Ya, hal-hal seperti itulah yang bisa membuatku memulai pembicaraan dengan orang lain di tempat asing ini. Hm.. sebenarnya Bukan tempat yang terlalu asing juga, pernah ada jodoh antara aku dan tempat ini untuk beberapa episode dalam scene ku bersama Mr. A. Sebut saja begitu. Mr. A untuk tempat ku dulu, dan MR. I untuk tempatku yang sekarang. Untuk selanjutnya kita setuju memakai penyebutan itu saja ya.

Sebagai pemeran pendukung, aku ingin sekali bisa membuat sesuatu. Lebih tepatnya, aku ingin membuat keberadaanku disana memiliki arti bagi seseorang. Ya, setidaknya seseorang. Itu sudah cukup bagiku. Tak pernah berani bermimpi untuk semuanya karena aku tahu itu mustahil dan sangat berat. Sehingga ketika suatu saat aku harus pergi lagi dan memulai cerita yang baru, ada seseorang yang mengingat bahwa aku pernah ada di sana. Dan agar lebih mudah untuk melepaskannya bila aku sudah terlalu nyaman bersamanya.
Kalau kau tanya bagaimana tempat itu, tempat yang hangat kukira. Semua orang yang masuk ke tempat ini, semuanya tersenyum tak lupa jabat tangan hangat dan pelukan penyemangat dengan lantunan doa-doa terindah yang diucapkan oleh saudara. Dan pun dibalas dengan indah pula, wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.  Selalu begitu, dari dulu, hingga sekarang dan sampai kapanpun. Itu adalah warna pelangi pertama yang kudapat di sini. Bukankah pelangi memiliki tujuh warna? akan kukisahkan padamu pelangi milikku untuk Mr. I.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu selalu berjalan setia seperti itu. Tak pernah terlewat sedikit pun, selalu presisi. Di bulan kedua aku berperan di sana, kurasakan ukhuwah di antara mereka begitu erat. Hingga mau tidak mau aku juga ikut merasakannya. Syuro pertama dengan BPH Kadeptbir, di rumah salah satu kabir BM, menyenangkan sekali. Semuanya berkumpul, saling mengenal satu sama lain. Apa yang di suka, bagaimana karakternya, sampai nomor sepatu, ckck.. apakah ada yang akan memberikan hadiah sepatu untuk salah satu dari kami? Gurauan pemecah kekakuan terlontar silih berganti, ya, sambil membicarakan rencana program kerja ke depan dan musyawarah kerja, saat di mana kami akan menerima pemain-pemain baru yang akan bergabung bersama “keluarga”. Kata yang hangat bukan? “keluarga” sebuah brand yang menyatukan hati-hati kami. Selaiknya keluarga, kami turut berjanji akan bekerjasama dan membimbing adik-adik kami menjadi seseorang yang istimewa.

Bulan ketiga, kulihat wajah-wajah penuh harapan. Mereka generasi baru, yang akan bergabung berjuang di sini bersama pemain lainnya dalam “keluarga”. Kudengar ambisi dan mimpi-mimpi yang ingin mereka ukir di tempat ini. Aku pun ikut tersentak. Mimpi seperti apa yang kupunya untukmu, MR.I? Aku bahkan belum memikirkannya, yang kutahu hanya menyelesaikan skenario yang dipersiapkan untukku. Dan sejak hari itu, aku mulai mencari dan merangkai mimpi. Meski kurasakan sedikit rasa takut, tapi aku tahu “keluarga” tidak akan pergi meninggalkanmu kan?

Semburat warna pelangi kedua. Seorang kakak akan selalu melakukan yang terbaik untuk adik-adiknya. Seorang kakak pantang terlihat lemah di hadapan adiknya. Seorang kakak ingin selalu terlihat kuat di depan adik kesayangannya. Itulah yang kurasakan, saat program kerja akbar pertama kami terselenggara. Jabat tangan hangat penyemangat. Keluhan tertahan yang berubah menjadi senyuman tersembunyi di balik wajah-wajah lelah itu. Semua orang mengerjakan posnya masing-masing, saling bertanya apakah kamu butuh bantuanku? apakah ada yang bisa dibantu? mana yang belum selesai? Tidak ada pemain senior dan junior di sini. Tidak ada tempat untuk itu. Yang ada hanyalah kebersamaan.  Akupun mendapatkan pengalaman yang berharga di sini. Seorang adik datang menghampiriku. Tanpa rasa sungkan, mengalirlah cerita-cerita darinya tentang perjuangannya untuk mempertahankan tempatnya di Mr. I. Akupun terdiam. Dia begitu berkeras meluangkan waktu di sini, sementara aku justru ingin cepat pergi. Saat itu hatiku tersentuh, kesempatan menjalani peran semacam ini kutahu tak kan datang dua kali. Sekali lagi aku mendapat warna pelangi di sini. Perasaan dipercaya dan mempercayai. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan sukses. Lagi, senyuman lega, pelukan hangat dari orang-orang di sekitarmu. Tapi sayang, sekarang adik itu sudah tidak lagi bersama kami. Walau begitu, aku dapat mengerti perasaannya. Dan untuknya aku akan menggunakan waktuku yang masih tersisa di sini untuk berbuat yang terbaik, setidaknya menggantikanmu, adikku.

Setiap berkumpul dengan orang-orang hebat itu, para BPHkadeptbir, perasaanku selalu meluap-luap. Senang bisa bersama dengan mereka. 9 orang yang mengemban tugas yang mungkin jauh lebih berat dariku. Tidak ada yang karakternya sama, semua punya keunikannya masing-masing. Ada yang bertipe koleris dan keras kepala, ada yang cinta damai, ada yang sanguinis dan selalu menghadirkan tawa dan gurau, ada yang seperti air mengalir, ada yang berperangai lembut dan menyukai hobi yang tidak biasa, ada yang senang bercerita, ada calon hafiz, ada yang berjiwa pemimpin, ada juga yang memiliki segudang ide, kalau aku? aku tidak berani mendeskripsikan diriku di antara mereka, mereka sangat istimewa. Setidaknya momen-momen seperti ini, yang membuat diriku kadang tersenyum sendiri ketika merasakan penat dan kesendirian yang seketika datang menyergap saat aku merindukan Mr. A. Warna pelangi ketiga yang kudapat di sini.

Kebersamaan itu lebih banyak dibangun dari seringnya “keluarga” bersama, mengunjungi satu tempat. Sampai-sampai ada julukan yang begitu melekat pada kabinet tahun ini. Yaitu kabinet jalan-jalan, J. Dari kesemua perjalanan aku hanya sempat mencicipi beberapa. Lagi, aku kembali harus memilih. Kejadian sama berulang tapi dengan setting cerita dan waktu yang berbeda. Di masa itu yang harus kupilih adalah pilihan yang teramat sulit. Dulu pernah ada waktu ketika aku menjadi bagian dari cerita Mr. K (Mr.K adalah sebutanku untuk sebuah tempat yang berukuran hampir sama dengan Mr.A yang letaknya berhadapan dengan Mr. I). Mungkin lain kali akan kukisahkan. Untuk yang sekarang, bukan pilihan yang sulit sebenarnya waktu itu, saat rasa sayangku pada Mr. I belum terlalu besar. Dengan mudah aku memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman dari skenarioku sebelumnya di Mr. A. Sampai sekarang aku tidak pernah menyesali pilihanku saat itu. Namun, saat melepas kepergian “keluarga” ke kota kembang, rasanya ada ruang kosong yang menelusup ke dalam hati ketika melihat deru bus kampus membawa mereka pergi. Napas tertahan kuhembuskan perlahan, hati-hati di jalan, doaku dalam hati. Pun ketika tiba-tiba saja, banyak sms masuk yang berebutan mencuri perhatianku untuk membacanya. Kebanyakan dari mereka adalah nomor-nomor yang tidak kukenal. Selidik punya selidik ternyata itu adalah “keluarga” yang menghiburku dan mengatakan bahwa kehadiranku memberi arti di antara mereka dan mereka berharap saat itu aku ada di tengah-tengah mereka. Desh… hatiku mencelos. Rasanya belum pernah aku mendapat perhatian seperti ini. Sesaat konsentrasiku buyar, sepersekian detik kemudian aku berharap hari itu aku bisa bersama dengan mereka, mengenal “keluarga” dengan lebih dekat. Karena sesedih apapun, selama ada orang yang kau sayangi, maka semua sedih itu akan seperti buih di lautan, hilang ditelan udara seperti uap air. Langit malam hari itu benar-benar istimewa. Dan Perhatian itu, Warna pelangi keempat yang diberikan Mr. I untukku.

Sceneku di sini memasuki bulan keempat. Scene itu adalah scene di mana BPHkadeptbir “keluarga” harus berpisah sementara dengan kebersamaan yang ditawarkan oleh Mr. I. Berat sebenarnya melepas mereka pergi selama satu hingga dua bulan. Meski berbagai konsolidasi telah digelar, tapi tetap ada rasa getir juga membayangkan tinggal aku sendiri yang menyandang gelar angkatan senior dengan adik-adik yang masih memiliki banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Saat itu aku menghadapi gejolak yang luarbiasa. Aku tahu mereka yang pergi tidak akan sepenuhnya meninggalkan Mr. I, tapi mereka juga tidak akan sepenuhnya berada di waktu-waktu yang genting, bukan. Di sana aku. Kemandirian itu memang latihan yang butuh ketulusan dan kemauan juga pengertian yang tidak habis-habis.

Warna pelangi kelima. Di antara sekian banyak peran, aku lebih memilih menjadi kru belakang layar. Agar tidak terlalu terlihat, tapi setidaknya aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka. Itu yang kupikir sejak awal bahkan sampai saat ini. Meskipun keputusanku itu kadang menimbulkan sakit yang lukanya tidak kunjung sembuh hingga sekarang. Dari kesempatan ini, aku mulai mengenal pejuang-pejuang kecil dengan banyak mimpi itu lebih dekat. Sifat mereka, keunikan mereka, apa yang mereka suka. Kalau tidak ada masa seperti ini, mungkin selamanya aku tidak akan pernah tahu seperti apa mereka. Beberapa ada yang ku kenal amat dekat. bahkan kami saling bertukar cerita. Saling memberi semangat dan saran. Ada kalanya, juga sering berkirim pesan yang tidak perlu tujuan dan tema atau pertanyaan. Karena yang dibutuhkan hanyalah hati untuk mengerti. Mungkin ini adalah berkah yang Allah kirimkan untukku, tentang keberadaanku di sana. Menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain adalah sangat berharga. Pun menjadi seseorang yang keberadaannya tidak bisa digantikan oleh apapun juga sangat berharga. Aku mulai menginginkan lebih. Tapi seperti permintaanku di awal, sebenarnya begini saja sudah cukup.

Skenario dari sutradara langit sudah hampir selesai. Memasuki scene-scene terakhir. Entahlah, samar-samar aku mengingatnya. Mungkin karena dialog-dialog itu terlalu indah atau mungkin terlalu menyakitkan. Hari-hari penantian berakhirnya masa bakti tugas, aku lebih banyak ditemani dengan kesendirian Mr. I. Mencoba mengumpulkan serpih-serpih. Ah ya, aku ingat, bulan Desember itu. Setelah kejadian yang sama berulang (Kau pasti tahu alasannya, ya, karena Mr.A) ketika aku tidak bisa bersama bepergian dengan “keluarga” ke kota kembang untuk kedua kalinya, sekarang aku berkesempatan untuk bisa merasakan kebersamaan itu yang mungkin aku sudah tertinggal jauh. Tapi tak bisa berharap banyak, karena tidak semua kru “keluarga” bergabung bersamaku di acara kali ini. Sedih. Tapi bulan Desember selalu istimewa. Setidaknya bagiku, melewatkan waktu kelahiranku bersama “keluarga” adalah hal yang membahagiakan. Sebuah kado kecil yang tidak akan kulupa, tidak peduli apakah mereka mengingat hari itu, tapi aku akan selalu mengingatnya. Di dalam bus bersama mereka, berbagi cerita, melalui barisan pepohonan dan pegunungan serta udara malam yang berasap. Desember itu, berhasil melukis pelangi ke enam bersama Mr. I.

Tibalah saatnya aku harus mengisahkan padamu tentang guratan warna pelangi terakhir. Guratan itu, aku tidak pernah tahu dari apa ia terbentuk. Seperti hati yang tidak ada yang tahu seperti apa isinya. Airmata yang jatuh karenamu, senyuman yang ada karenamu, amarah yang meluap juga karenamu, dan rasa bahagia yang kau hadirkan untukku. Cerita ini, dialog-dialog kebersamaan kita, aku tidak pernah bisa mengingat semuanya dengan jelas lagi, Tapi aku berjanji akan mengenggam hal yang penting tentangmu. Tentang pelangi ini. Meski di akhir, luka itu harus merekah kembali, meski akhirnya aku harus meneteskan airmata karenamu lagi, tapi terimakasih untuk sebentuk pelangi ini. Dan aku juga tidak akan pernah menyalahkan sang sutradara langit yang telah membuatku bisa berjalan bersama denganmu di sepanjang jalan ini sebelum akhirnya aku tiba di persimpangan jalan lainnya. Karena semua yang terjadi adalah istimewa. Warna pelangi terakhir, aku tidak tahu seperti apa. Apakah aku sudah melukisnya? atau mungkin selamanya aku tidak akan pernah tahu.

Simpang jalan sudah di depan mata, selamat tinggal Mr. I. Aku akan pergi menjemput peranku yang lain yang sudah menunggu. Seperti sebelumnya, aku tidak pernah tahu skenario macam apa dan cerita seperti apa yang harus kujalani. Tapi dalam setiap awal persimpangan ini, aku selalu berdo’a. Semoga, semoga aku juga bisa melukis pelangi di sana. Sama seperti ketika aku melukis pelangi bersamamu. Yang awalnya asing akan tetap asing. Dan akan berakhir dengan asing pula.

Sebentuk Pelangi Untuk Iqtishodi “Keluarga” dan kau menjawabnya “Karena Kita Bersaudara”.    


Selasa, 25 Desember 2012.. Hari yang paling enak untuk tidur sebenarnya. Tapi hari ini banyak amanah yang harus ditunaikan. Begitu bangun pagi, entah kenapa langsung terbersit untuk menggunakan apa yang kusebut sebagai "baju darurat" ^_^ rasanya akan menyenangkan memakai baju itu, pikirku.
Kulangkahkan kaki dengan mantap. membeli barang2 yang harus kubeli, dan naik bus ac dengan kecepatan luarbiasa, 45 menit aku sudah tiba dikampus.
Entahlah, sebenarnya aku tidak pernah tahu pasti dimana aku tahun depan akan melepaskan jangkarku dan melabuhkannya di suatu tempat, yang mungkin asing atau sebaliknya. Tapi kucoba untuk selalu melakukan yang terbaik yang aku bisa agar nantinya tidak menyesal.Seperti saai ini, di antara mereka, sungguh asing.. Awalnya sudah asing, akhirnya pun akan kembali asing. Apapun itu, setidaknya sudah memberi warna dalam kehidupanku.
Kembali lagi ke tanggal yang kumaksud, selesai semua urusan, kupacu langkah memenuhi janji lainnya. Bertemu sahabat lama, ya, sahabat lama. Di tempat yang sama dimana aku punya sepotong cerita di sana, saat kami masih bersama, berpeluh bersama, tertawa bersama, mencari dana untuk kegiatan besar yang waktu itu akan berlangsung. Sungguh, putaran ingatan itu seperti sebuah movie yang sempurna me-rewind di benak. Dengan angkutan kebanggaan ibukota aku beranjak ke tempat tujuan, Monas. Tidak sengaja bertemu dengan salah satu kru, senangnya, setidaknya aku punya teman yang sama2 datang terlambat, hehe... Janjian jam 10, baru datang jam 11, ckck..
Agak sulit mencari mereka yang sudah datang terlebih dahulu di tengah lautan manusia, aku tidak bisa menemukan mereka, beruntung temanku itu dengan cepat mengenali mereka. Dan kami pun bergabung dengannya. Sang kepala suku, sungguh berniat keras mengadakan acara yang boleh dibilang reunian ini, lihat saja, tikar untuk alas duduk pun sengaja dipersiapkannya dari rumah! Sesuatu yang tidak terjadi saat beliau masih merangkai kisah bersama di tahun yang lalu.
Cerita-cerita nostalgia menjadi penyambung silaturahim dan obrolan yang menyenangkan. Sesi bertanya kabar pun tak luput dari lisan. Begitu lama kami sudah pergi meninggalkan tempat itu, dan dia terus merangkai kisahnya sendiri. Adik2 kami pun kini sudah tiba di penghujung tahun. Waktu2 yang terasa amat berat bagi kami dahulu untuk melepaskan semua cerita bersama. Namun, karena sudah akhir itulah, kami menjadi sedih. Kisah mereka mungkin tidak seindah kisah yang kami dulu rangkai, ya, mungkin tidak semua kisah kami indah tapi kesudahan kami rasakan menjadi pelan-pelan indah. Ukhuwah kami subur bagai bunga dan indah bagai pelangi. Tapi kami begitu sedih. Berbagai kabar angin, ternyata kisah yang mereka lalui begitu berkerikil. Mungkin menggoreskan luka bagi mereka, entahlah aku tidak tahu. Aku ingin mendengarnya langsung dari mereka, adik2ku. Itulah alasan sebenarnya dari pertemuan ini. Kepala suku "sepenuh hati" yang mengusulkannya, dan kami langsung setuju karena kami masih amat menyayangi mereka.
Setelah SMS aneh yang cukup menggelitik, Mengalirlah kisah2 yang bagiku adalah kisah2 sedih seperti hujan yang memilukan (yang turun saat kau sedang merasa nestapa), membuka luka yang pernah ada.Kebersamaan mereka tak seindah dulu yang pernah kami cicipi. Aku tidak tahu. Mungkin ada bagian dari takdirku di kisah mereka, mungkin ada takdir kesalahanku yang turut merangkai cerita untuk mereka. Seharusnya pertemuan ini terjadi sejak awal mereka mulai menapakkan kaki di tempat itu. Bukan saat akhir ketika mereka akan menuliskan tanda titik di kisah mereka.
Aku merasa sangat bertanggung jawab untuk apa yang terjadi. Sungguh, dan perasaan seperti ini benar2 tidak menyenangkan. Adikku, aku sadar dulu tidak cukup memperhatikanmu, mungkin aku yang tidak peka. Mungkin aku yang jarang memberi sandaran bagimu, kekuatan seorang sahabat yang menguatkan kala kamu bersedih, meskipun aku tahu, hanya Allah yang bisa melakukan semua hal luarbiasa itu dengan cara2 yang terbaik. Yang pernah menjadi kebanggaanku mungkin hanyalah ego semu semata, keangkuhan yang tidak berdasar. Tapi di akhir kisahmu ini, bolehkan aku berharap. Bahwa ada takdir kebermaafanmu untukku, untuk kami.Semoga, hanya kisah bahagiamu bersama tempat itu yang akan tinggal dalam ingatan.
Baru teringat saai itu, ada satu janjiku yang belum kupenuhi bersama mereka. Aku sungguh rindu kalian. Rindu senyuman lepas kalian. 

Di bawah pohon rindang, menjadi saksi. Harapan ke depan, akan terbit cerita yang membahagiakan bagi mereka. Kisah "laskar siaga" pun akan segera tiba di chapter akhir, sebagaimana kisah "sepenuh hati" milik kami dahulu. Tapi kawan, tak ada kata akhir bagi sebuah kisah "persahabatan". Itulah doaku..  

Mendung mulai menggantung di langit Jakarta. Kami memutuskan untuk beranjak ke tempat berikutnya karena panggilan alam, alias rasa lapar yang datang menyergap, hehe...
Ramen dan teman2nya ludes kami santap.. hm.... akhirnya kesampaian juga nyobain kuliner khas negeri sakura ini. Adik yang selalu menerbitkan tawa untukku, dia sungguh luarbiasa. Di balik sikapnya yang terkesan santai, tidak peka, mungkin dialah yang memiliki hati yang paling lembut. Dia juga salah satu alasan hari ini. Semoga kau bisa menghadirkan apa yang kau ingin lukiskan di dalam kisah milikmu. Jangan pernah putus asa.
Tingkah mereka yang ngangenin, Bujukan mereka yang berhasil membuat 3 orang dari kami kru sepenuh hati, merogoh kocek untuk mentraktir kami, hehe.. maaf. Lain waktu biar kami yang mengambil bagian itu. ^_^ 
Semua kisah di hari ini, menyisakan potongan cerita yang berharga, lainnya. Air dari langit turun sebagai berkah dariNya mengantar kepulangan kami. Suaranya bagaikan simfoni persahabatan untukku. Semoga, hingga nanti, kisah ini akan terus ada. Tali silaturahim ini, semoga tidak lekang ditelan waktu.


Perasaan apa ini? Hari ini, aku banyak mempertanyakan tentang arti hidup dan kehidupanku. Sudah tiba di masa ketika aku sudah sangat lelah dengan semua. Tapi teringat, masih banyak mimpi yang harus kukejar. Mengingatnya dan melihat diriku di depan cermin beberapa detik masa yang lalu, ada rasa putus asa, dan pesimis.
"Apakah Aku akan bisa meraih semua mimpi-mimpi itu?"
Lama, aku tak bergelora seperti dulu saat semangat itu begitu meletup-letup dalam jiwa. Tapi hari ini, Dia memberikanku jawaban. Aku tak pernah merencanakannya. Hanya spontanitas. Dan inilah yang ku butuhkan. Sebuah sulutan penyemangat. 5 Cm. Tentang arti sebenarnya mimpi. Karena seperti kata Zafran, aku tak ingin hanya menjadi seonggok daging yang mempunyai nama. Aku tidak ingin dikenal seperti "orang kebanyakan" menjadi bagian dari sebuah titik hitam dari selembar kertas berwarna hitam.
Aku ingin menjadi "Seseorang" -Somebody- bukan -Nobody-
--Yang perlu dilakukan seorang manusia terhadap mimpi-mimpinya adalah mereka hanya tinggal MEMPERCAYAI-nya--

Ya Rabb, izinkan Aku dan ridhoilah Aku dalam menggapai semua mimpi-mimpiku. Biarkan Aku untuk selalu menyertakanMu dalam setiap langkahku. Waktuku memang mungkin tidak banyak, tapi aku ingin berbuat sesuatu untuk Agama ini, untuk Indonesiaku, untuk Keluargaku, dan untuk Diriku. Kabulkanlah pintaku, Ya Allah..

Sebuah quotes yang ingin kuukir dalam hati:
"Semua keyakinan, keinginan, mimpi, cita2,harapan kamu, dan apapun itu,
"Taruh di sini...," di depan keningmu.
Kamu taruh di sini.. Jangan menempel di kening.
Biarkan.. Dia.. Menggantung.. Mengambang..5 Centimeter.. di depan kening kamu. Jadi dy ga akan pernah lepas dari mata kamu.
Dan.. Sehabis itu yang kamu perlu.. cuma..
"Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
Mata yang kan menatap lebih lama dari biasanya,
Leher yang kan lebih sering melihat ke atas.
Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja..
Dan hati yang kan bekerja lebih keras dari biasanya.
Serta mulut yang akan selalu berdoa..."
5 CM.     

Aku tahu, AKU PASTI BISA! Untuk raih semua mimpi ^_^

*Satu hal lagi, masih jelas dalam ingatanku pada waktu "nobar Negeri 5 Menara bareng Kru Sepenuh Hati".
Cerita dengan genre yang kurang lebih sama, waktu yang kurang lebih sama, dan tempat dudukku yang juga persis sama. Ada apa ini? ^_^ 
hm.. kan kuanggap sebagai hadiah dari-Nya. 
Menara milik kami-N5W
Hanya tinggal ku Percayai-5 Cm.
Kebetulan yang indah. Skenario Milik-Nya slalu sungguh luar biasa. 
131212



Pagi ini selesai belajar bahasa jepang, aku tiba-tiba teringat dengan sebuah notes yang pernah dihadiahkan teman-teman untukku. Aku mencari di tempat yang salah ternyata.. Tapi sungguh di luar dugaan. Aku justru menemukan harta karun yang sangat berharga. Time Capsule. . sebut saja begitu, walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah kotak bekas sepatu yang berdebu. Kumpulan Kenangan dari masa lalu yang telah terlupakan. Sontak saja, semua memori di masa itu berebut hadir dalam benak.. Kenangan yang lama,, sangat lama. Jika bukan karena hobiku yang suka mengumpulkan barang-barang aneh dan tidak tega membuang sesuatu barang, aku pasti tidak akan ingat bagaimana indahnya pelangi yang pernah kumiliki dahulu.. Semua mimpi yang pernah ku genggam dengan sangat erat. Di tengah masa transisi seperti saat ini, mengenang masa lalu adalah sebuah pemberhentian yang menyenangkan..


 
 Ada sebuah buku berwarna kuning. Aku ingat sekali, dulu waktu jaman SD-SMA aku suka membeli buku bukan dari fungsinya tapi dari cover dan bentuknya,, hehe.. Dan waktu aku menemukan buku berwarna kuning ini di dalam satu paket buku yang dibeli oleh mama, aku langsung buru-buru “mengamankannya” dari adikku.. Tidak hanya istimewa, aku menunggu saat yang tepat untuk menggunakannya. Memikirkan tulisan seperti apa yang akan kutulis di dalamnya. Di covernya tertulis tulisan yang indah:
“Friendship are forever”
Friendship are amazing people
who accept each other
with unconditional love and care.
They recognize each other’s
talents and respect each other’s differences.
They trust and believe each other
that they’ve opened up their hearts
to share their dreams, thoughts, and fears.
They laugh together in happiness and
 share each other’s tears.
Friends are blessing to treasure forever.


Akhirnya kuputuskan, buku berwarna kuning itu akan menjadi buku ceritaku.. buku-buku mimpi..
Ini adalah ceritaku, ada cerita yang full, ada juga cerita yang berhenti di tengah jalan. Hanya untuk bernostalgia ^_^ check this out..

CHAPTER 1 “Balada HTTP://www.Hana-tomodachi.com//php
Tik.. tik.. tik.. hahaha! ….. tik.. tik.. tik…… hahaha!!!
        Lambat laun hanya suara itu yang terdengar dari sebuah warnet di ujung jalan yang hanya terletak beberapa meter dari sekolah. Saking asyiknya, mereka sampai tidak sadar kalau hanya tinggal mereka yang menghuni warnet itu. Tawa dan canda tidak henti-hentinya mengalir.
“Eh-eh.. tunggu dulu tan itu belum di save!” kata Aiko.
“Udah tunggu dulu, yang penting isi dulu!” sela Kuniko.
Save dulu!”
“Ntar dulu!”
“Hrrggghhh…..”
Semuanya tiba-tiba terdiam…
“Kenapa, Yumi?” Tanya Aiko hati-hati.
“Ah, eh, em,eng, ang, enggak kok! Cuma… bisa gak ya kalian bantuin aku isi profile ini?” jawab Yumi.
“hehe… maaf Yumi. Nah yang itu ini aja isinya,” jawab Kuniko sambil mengucapkan sesuatu.
Tik.. tik.. tik… mmmm.. tik…tik…tik…
“Ngomong-ngomong sebelah kamu masih lega gak Yumi?” Tanya Kuniko.
“Oh, masih-masih,” jawab Yumi sambil menggeser tempat duduknya ke samping kiri.
Aiko yang duduk di tengah buru-buru merenggangkan kakinya yang terlalu lama ditekuk sambil menarik napas lega. Maklum saja, di samping tempatnya yang sempit, mereka juga cuma menyewa satu komputer (saat itu harga untuk menyewa satu komputer di warnet masih terbilang cukup mahal untuk ukuran siswa SMA). Jadilah sempit-sempitan. ^_^
“Kira-kira yang lain lagi ngapain ya? Wah aku gak sabar nih kasih tahu mereka soal blog ini!” kata Yumi penuh semangat.
“Hh.. syukurlah! Yumi yang ngetik (Yumi terkenal bisa mengetik dengan sangat cepat). Aku jadi bisa tenang. Apalagi dia member di sini. Hmh.. berarti kita sudah berhemat $%#@*^&$ rupiah, hahaha!” celetuk Aiko dengan mata berbinar-binar.
Kedua temannya yang mendengarkan menatap aneh pada Aiko tanpa dipedulikan olehnya.
“Otak orang ekonomi emang gak bisa jauh-jauh dari prinsip ekonomi,” gurau Kuniko disusul gelak tawa Yumi.(Di antara keenam teman baik itu, hanya Aiko yang ingin masuk ke jurusan IPS di tingkat dua nanti, sementara yang lainnya ingin masuk ke jurusan IPA)
Aiko melirik tajam ke arah Kuniko,”hh.. dasar kukuninikoko!” balasnya.
“Waaaaaaaa!!!!! Narutoooooooo!” teriak Yumi penuh semangat karena berhasil menemukan website Naruto setelah sekian lama pencariannya.(Yumi terkenal juga sebagai fans berat Naruto. Koleksi komiknya? jangan ditanya lagi. Games? jelas dia punya. Lengkap! J)
“Ckckck… mulai lagi deh..” desau Kuniko.
Tik..tik..tik.. ????.... tuk..tik..tik…
“Em.. ang.. mm.. yang ini gimana cara buat background nya ya??” Tanya Yumi dengan sekelumit kerutan di dahinya. Mungkin kalau ini di komik akan terlihat seperti ini (-_-“) hehe..
“Oh.. yang itu kali,” tunjuk Aiko dengan penuh percaya diri ke arah monitor..
Tiba-tiba, ZZZZZZZZZ…
“AUW!! monitor ini nyetrum ya??” rintih Aiko sambil meniup-niup telunjuknya.
“Heeh!” jawab Kuniko singkat  sambil terus sibuk dengan keyboard nya.
“Yah.. yah..! yah..yah! kok nge-hang gini sih?!” kata Yumi lemas.
Lalu sejenak Yumi mengalihkan pandang ke arah jam di komputer..
“Waaaaa!!!!” Seru Yumi, mengagetkan.
“Kenapa?” Tanya Aiko.
“Naruto lagi?” Tanya Kuniko sambil terus memandangi monitor.
“Tinggal 2 menit lagi, waaa.. waa.. wa!” kata Yumi yang lansung terlihat kelabakan setelah melihat jam di billing monitor yang menunjukkan angka 58.18.12.
“Lho.. emangnya kenapa kalau tinggal dua menit lagi?” Tanya Aiko dan Kuniko berbarengan tidak mengerti.
“Kujelaskan nanti,” jelas Yumi sambil tergesa-gesa menutup semua program aplikasi, “fiuh..!” katanya lega.
“Heran.. kok aku bisa ya punya teman seaneh ini?” celetuk Kuniko.
“Gini loh.. kalo pas satu jam lebih billing  nya gak di stop, nanti bayarnya jadi kaya yang regular. Kan rugi dong!” jelas Yumi sambil membuka kembali program aplikasinya dengan menunjuk tombol start di layar monitor.
“Waduh..waduh.. gini nih kalo jadi bendahara,” canda Kuniko.(Di kelas X5, Yumiko dipercaya sebagai bendahara kelas J)
Tak lama kemudian, website yang mereka buat selama dua jam di warnet, rampung sudah. Dengan berbagai variasi yang dibuat, dibumbui oleh canda tawa, beserta isinya yang dilandasi rasa kasih sayang dan persahabatan. Mereka tak pernah tahu, bahwa suatu saat nanti ketika semuanya telah berubah, tak sama lagi seperti detik itu, website itulah yang akan mempertemukan mereka. Mempersatukan mereka melalui benang-benang persahabatan melampaui dunia maya yang tanpa batas.
Sebuah website, “Hana-Tomodachi”, yang akan dan telah menjadi bunga persahabatan yang menghiasi perjalanan mereka.  

20 Juni 2007
20.20 WIB

*CATATAN PENULIS:
Membaca cerita ini, aku jadi teringat dengan website itu. Bagaimanakah kabarnya? Kangen… Apakah kalian juga mengingatnya, wahai Hana-Tomodachi-ers? J (Memanggil Kuniko, Hana, Sakurako, Yumiko, dan Nishi) 5 tahun setelah berpisah.. 10 Desember 2012.

      contd. chapter 2.