twitter

Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memory. Tampilkan semua postingan


Hari berhujan datang lagi. Rika meringkuk di atas tempat tidurnya. Hari-hari yang melelahkan. Proposal skripsinya kembali ditolak untuk yang ketiga kalinya. Di saat-saat begini yang paling nyaman adalah berada di rumah dan bercerita keluh kesah pada Mama. Tapi, Rika tidak bisa melakukannya.


Badannya membolak-balik, resah. Satu persatu bulir bening membasahi bantal. Tidak ada suara. Hanya sunyi. Kamar kos berukuran 4x4m itu begitu sempit. Menambah sesak hati Rika yang menyesakkan. Perlahan matanya menutup, jatuh ke dunia mimpi. Di mana hal-hal baik mungkin terjadi.

~ ~ ~

“Mama..,” tangannya menggapai-gapai udara, berusaha mengejar seseorang di depan. Kaki-kaki kecilnya semakin memburu. Hampir saja terjatuh.

“Iya, sayang.. pelan-pelan jalannya. Mama gandeng tanganmu, ya,” ucap seseorang dengan suara yang lembut.

Hari itu hari Sabtu pagi, jadwal Mama pergi ke pasar. Rika selalu menanti-nantikan hari Sabtu tiba. Bagi Rika kecil, Hari Sabtu berarti seplastik coklat dan permen gula-gula kapas. Tangan mungilnya mengayun-ngayun mengikuti langkah kaki Mama.

“Mama… Rika mau permen kapas ya, itu di sana!” pinta Rika sambil menunjuk sebuah supermarket kecil yang baru buka di dekat pasar. Vokalnya yang masih cadel membuat Mama tersenyum kecil memandang wajah putri sulungnya itu. Mama teringat janjinya pada Rika tentang permen kapas kalau Rika mau membantu mencuci piring tadi pagi.

“Iya, sayang. Mama belikan. Ayo kita ke sana, pelan-pelan ya jalannya,” jawab Mama.

Sesampainya di dalam supermarket, Rika langsung menghambur ke dalam mencari-cari letak permen kapas yang diinginkannya. Serius sekali, seperti seseorang yang sedang menjalankan misi penting. Rak demi rak ia lalui, matanya melirik kesana kemari awas melihat kalau-kalau ada makanan favoritnya di sana yang bergambar koala kecil berwarna pink. Saat berbelok menuju rak lainnya, matanya menangkap benda itu, permen kapas favoritnya. Rika tersenyum lebar. Senang sekali, tangannya yang kecil dengan mudah menggapai permen itu yang berada di rak paling bawah.

“Mama.. ketemu! Permen Rika ketemu, Ma,” seru Rika girang. Ia menengok ke kiri dan ke kanan mencari sosok Mamanya, “Ma..,” Rika berputar-putar. Mama tidak ada di sana, ”Mama di mana?” senyumannya berubah menjadi panik, Rika terisak-isak sambil berjongkok memanggil-manggil Mama.

Tiba-tiba seseorang mengelus lembut kepalanya, “Rika… ini Mama, sayang,”

Ia mendongakkan kepalanya, tangisnya makin menjadi, “Mamaaaa!, hiks.. hiks.. hiks…”

Tangan lembut itu sekali lagi mengelus kepala Rika, “Iya, iya, Mama di sini. Lain kali jangan jauh-jauh dari Mama, ya. Jalannya pelan-pelan,” ucap Mama yang kini pandangannya sejajar dengan Rika kecil. Rika kecil tersenyum lebar mengangguk dengan sesengukan. Begitupun Mama sambil menyeka ingus dan airmata di wajah anak kesayangannya.

~ ~ ~

Hari beranjak sore, Rika kecil telah tumbuh menjadi siswa kelas enam SD yang pandai. Langkahnya gontai, napasnya mengeluh berkali-kali. Amplop putih di tangan kanannya tidak setebal seperti milik teman-teman lainnya di kelas.

Pagi tadi pengumuman penerimaan siswa baru hasil seleksi kota sudah dibagikan. Rika begitu tidak sabar membayangkan serunya mengikuti ekskul karate di SMP idamannya. Tapi wajahnya berubah pucat ketika melihat tulisan dua kata tercetak tebal di dalam amplop miliknya. “TIDAK LULUS”. Entah bagaimana Rika akan menceritakan ini kepada Mama. Di antara semuanya, Mama yang paling berharap banyak dari putri sulung kesayangannya itu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Rika ketika memasuki pintu rumah.

“Wa’alaikumussalam, Rika, kok sudah sore baru pulang? Gimana hasilnya?” tanya Mama sambil mengelap tangannya yang basah sehabis mencuci piring.

Rika menggeleng pelan. Mama yang tidak mengerti maksud putrinya itu, bertanya lagi, “Kamu lulus kan, Nak?”. Pertanyaan yang dijawab linangan airmata di pelupuk mata Rika. Tidak sebiasa biasanya, Mama sangat terkejut. Putrinya yang pandai gagal masuk ujian SMP Negeri. Tanpa bicara sepatah katapun, Mama berlalu pergi ke arah dapur. Rika sendirian di ruang tamu, menangis terisak.

Papa yang mendapati anak sulungnya menangis, langsung menggenggam tangan Rika dan menaikkannya ke atas motor. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran sekolah tingkat SMP. Papa membawa Rika pergi ke salah satu SMP swasta di kotanya. Pasrah, Rika mengikuti langkah-langkah Papa sambil tertunduk dalam. 

Dalam hatinya, Rika mengucap doa. Ia berjanji ini adalah kali terakhir baginya mengecewakan harapan Mama. Di sekolah ini, Rika berjanji dalam hatinya akan menjadi yang terbaik, dan membuat Mama bangga.

flashback...
Mama.. doain aku ya, nanti kalau Rika lulus ke SMPN 2, Rika mau kasih Mama hadiah,” ucap Rika sambil memakan cemilan kue beras yang dibelikan Mama walau harganya cukup mahal ,
“Iya, udah, belajar dulu. Mama tunggu Rika di luar sampai selesai ya. Jangan lupa baca Bismillah,” jawab Mama tersenyum seraya mengambil bungkus cemilan itu dan menyeka serpihan remah-remah di wajah putrinya ,
“Iya, Ma,”. Rika menghilang di balik daun pintu kelas ruang ujiannya.

~ ~ ~

Siang terik yang menyengat di bulan Juni. Rika menyejajari Mama yang berdiri di sampingnya yang sedang melihat pengumuman seleksi SMA. Rika berhasil lulus dari SMP dengan predikat siswa dengan prestasi terbaik. Mama mewakili Rika saat pengambilan ijazah dan hadiah kelulusan di sekolah tempo hari. Wajah Mama saat itu tidak akan pernah Rika lupakan. Wajah Mama yang tersenyum penuh syukur. Senyuman paling indah di seluruh dunia.

“Rika, kamu mau melanjutkan sekolah di SMA mana?” tanya Mama. Mereka sedang berada di aula SMAN 1, SMA terfavorit di kota, yang memajang berkas-berkas penerimaan siswa baru.

“Rika mau ke SMAN 3, Ma. Rika mau pakai seragam jilbab panjang kayak kakak-kakak itu,” tunjuk Rika ke arah beberapa siswi berpakaian muslim di seberang jalan dengan pin berbentuk segitiga sebagai identitas sekolah.

“Ayo, kita ke SMAN 3 sekarang. Mumpung masih siang,” ajak Mama. Tanpa pikir panjang Mama menyetop angkot yang lewat di depan mereka setelah sebelumnya menanyakan lokasi sekolah tersebut ke satpam yang menjaga gerbang sekolah.

Jika dulu, Rika akan dengan manja menempel pada Mama dan bercerita tentang apapun yang terlintas di pikirannya. Tapi Rika kecil telah menjelma menjadi seorang remaja yang malu bila terus menempel pada Mama. Mendadak Rika berhenti bercerita bebas kepada Mama. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolahnya. Sibuk dengan kegiatan ekskul di sekolah yang menyita hampir semua waktu luang yang dulu ia habiskan bersama Mama.

~ ~ ~

Waktu berlalu bagai memburu. Pagi-pagi betul, Rika dan Mama menumpang bus patas AC menuju universitas negeri di Jakarta. Matahari masih enggan bersinar ketika bus mulai melaju di kelengangan jalan tol dalam kota. Perlahan sinar matahari yang lembut menyapu wajah Rika yang menempel di jendela bus. Mama yang duduk di sebelahnya sibuk membolak-balik memastikan tidak ada berkas yang tertinggal.   

Seminggu yang lalu Rika dinyatakan lulus masuk ke perguruan tinggi negeri di Jakarta tanpa tes. Bukan main senangnya hati Rika. Terlebih lagi Mama. Mama yang paling semangat sejak pagi buta. Menyiapkan segalanya sementara Rika masih malas-malas meringkuk di balik selimutnya. Jadwal daftar ulang dan wawancara yang lumayan pagi membuat mereka yang tinggal di luar Jakarta harus ekstra segalanya.

Rika lahir dari keluarga yang sederhana. Mama dan Papa berjualan bandeng masak ke warung-warung dan katering. Di antara keluarganya, ia satu-satunya yang berhasil melanjutkan ke universitas. Mama yang begitu bersemangat tidak ingin melewatkan kesempatan mengantar putrinya memasuki gerbang kuliah yang selalu menjadi mimpinya sejak dulu tapi harus ditepisnya jauh-jauh ketika kondisi ekonomi keluarganya tidak sebaik sekarang.

Meski harus mengajukan permohonan beasiswa, Mama akan melakukan apapun agar putrinya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik dari dirinya. Tapi dalam rumit dan lelahnya segala proses administrasi itu, Mama masih tersenyum. Rika yang sudah mengeluh berkali-kali seperti mendapat setruman ajaib setiap kali ia melihat wajah Mama. Walau akhirnya berkas pengajuan itu ditolak, Mama mengenggam tangan Rika erat. Mengalirkan harapan kepadanya bahwa jalan keluar pasti ada di suatu tempat di sana.

~ ~ ~

Sudah satu tahun Rika tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya untuk menjaga nenek yang sudah lanjut usia. Meski jarak rumah mereka tidak begitu jauh, tapi Mama memang tidak bisa terus menemani ibunya setiap hari karena kesibukan berdagang dan menjaga rumah. Rika dengan senang hati menggantikan Mama untuk itu.

Setiap akhir pekan, Rika akan pulang ke rumahnya untuk melepas rasa kangen dengan Mama dan Papa walaupun kadang harus ditutup dengan pertengkaran kecil antara ia dan adiknya.

Saat itu Rika kuliah semester dua. Akhir pekan ini ia tidak bisa pulang karena ada acara organisasi kampus di luar kota. Rika sangat enggan untuk pergi, tapi tidak bisa tanpanya karena ia sudah mendaftar menjadi peserta kegiatan. Setelah berpamitan, Rika pun pergi.

Sepulangnya dari sana, Rika begitu terkejut mendapat kabar Mama mendapat musibah kecelakaan dini hari saat mengantarkan pesanan ikan untuk katering langganan. Seketika itu juga, tubuh Rika lemas. Tidak ada orang di rumah yang berani memberitahunya karena khawatir Rika cemas dan akan memaksa pulang dari kegiatan organisasinya di luar kota.

Melihat keadaan Mama yang lebam di sana-sini, Rika menahan sesak di kerongkongannya. Beberapa gigi Mama patah, dan lidahnya membiru karena tergigit. Rika hanya bisa melihat Mama dari jauh yang sedang diobati oleh Nenek.

Dalam keheningan malam, Rika terbangun terisak. Ia bersimpuh memohon kesembuhan untuk Mama.

~ ~ ~

Detak detik di jam dinding seperti membeku. Tidak bergerak sedikitpun. Pukul dua malam, Rika terbangun dari tidur. Memandang ke sekeliling kamar kosnya. Ada perasaan aneh di sana. Seperti kembali ke masa lalu saat Mama yang selalu ada untuk Rika. Setia mengantarkan di setiap jenjang pendidikannya.

Rika bangun dan mengambil air wudhu. Ia teringat Mama, yang sering dilihatnya ketika terbangun di tengah malam, bangun di sepertiga malamNya dan menegakkan qiyamul lail.

Melesat dalam ingatannya, Mama yang mengajarkan bacaan niat berpuasa dalam bahasa arab dengan perlahan di atas meja makan ketika Rika kecil pertama kali berpuasa full. Mama yang terbangun dan menyelimuti Rika yang sedang tidur seraya menghalau nyamuk-nyamuk yang menganggu tidurnya, sambil terkantuk-kantuk. Mama yang sedang memasak di dapur untuk menyiapkan dagangan esok hari walau luka-luka di tubuhnya karena kecelakaan belum sembuh benar karena harus membayar kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Sambil bersimpuh, Rika teringat ketika Mama menyuruhnya makan dengan membiarkan diri sendiri tidak makan dengan berdalih sedang berdiet karena lauk-pauk yang ada tidak cukup untuk semuanya.

Mama yang selama tiga tahun ini berjuang sendirian untuk putri sulung yang dicintainya selepas berpisah dengan Papa. Walau Mama tidak pernah mengucapkan rasa sayang secara langsung, tapi Rika bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang darinya.

Ada hari di mana Rika mencuri pandang ke arah Mama yang memunggunginya. Hatinya terenyuh ketika memperhatikan tubuh Mama yang tidak lagi muda. Wajahnya yang tidak lagi sesegar dulu. Rambutnya yang sudah mulai memutih, bahkan ketika Mama menyuruhnya untuk mencabut uban di kepala, Rika tertegun melihat begitu banyak rambut putih di sana hingga ia sendiri bingung harus mulai mencabut darimana.

Hari itu, Mama begitu sibuk menanyakan jadwal wisuda Rika. Sibuk menyiapkan baju apa yang akan dipakai Rika di hari kelulusannya nanti. Alih-alih senang, Rika justru membentak Mama dan pergi keluar rumah. Rika tak sanggup menjelaskan kesulitannya pada Mama hingga meluap emosinya. Hari itu Rika tidak pulang dan memutuskan untuk tinggal jauh dari Mama. 

Mengingat itu semua, Rika menghapus airmatanya yang keluar tanpa henti. Ia telah mengecewakan Mama. Harapan Mama untuk dapat melihat putri sulung yang disayanginya lulus kuliah tepat waktu.

Ya Allah, ijinkan aku untuk membahagiakan Mama. Ijinkan Mama untuk dapat bersamaku hingga aku dapat membahagiakannya. Aku ingin melihatnya tersenyum penuh syukur seperti dulu. Semoga Engkau selalu menjaga dan menyayanginya ketika penjagaanku tidak sampai, “ lirih Rika berdoa.

Di sepertiga malam itu, semesta ikut mengaminkan doanya.

~ ~ ~

Pagi hari di udara yang hangat di pertengahan Oktober. Kicau burung terdengar begitu nyaring. Di salah satu aula yang terdapat di gedung pertemuan ini, sebuah kampus tengah menyelenggarakan acara wisuda untuk mahasiswanya yang telah berhasil menyelesaikan studi. Rika ada di sana. Mengenakan baju toga dengan bangga. Menghadap Mama dan Papa.

Seluruh keluarga datang menemani. Asyik mengambil foto bersama Rika. Adiknya yang jahil, iseng menarik-narik topi toganya yang dibalas jawilan oleh Rika sambil memakaikan topi itu ke atas kepala adiknya yang dua tahun lagi juga akan di wisuda. Waktu berlalu begitu cepat.

Tiba saatnya Rika akan berfoto dengan keluarganya. 

Sebelum itu, Rika mengamit tangan Mama yang sudah berkeriput, tanda kerja keras dan baktinya pada keluarga ini. Rika mencium tangan itu dan memeluk Mama. Sambil berkata, “Mama, ini (wisuda kelulusan) untuk Mama. Terimakasih untuk selama ini. Maafkan kesalahan yang pernah Rika buat. Rika sayang Mama,” Rika menghapus airmata di pipinya. Ini kali pertama baginya memeluk erat Mama sejak ia tumbuh dewasa.

“Mama juga sayang Rika. Makasih, sayang,”

Hari itu, Rika menemukan kembali senyuman yang paling disukainya. Senyuman Mama yang penuh kesyukuran.
~ ~ ~


Dan catatan ini kembali. Tanpa perlu kutuliskan, sebenarnya aku hampir bisa mengingat semuanya. Tapi karena ingin mengenang semua waktu itulah aku kembali ke masa lalu. Juga karena kejadian tidak terduga yang hadir mengisi lembaran hidupku beberapa menit yang lalu.

Arisan Vol. 7 ...

Arisan Vol. 8 at Bundo hos, kota yang ada di bumi, Tangerang. Kesanku begitu mendalam pada momen itu. Masakan bule bundo dan begitu lezat.. hmm... juga tentang rimbunnya pepohonan ceri liar yang ada di depan rumahnya. Meski jarak rumah bundo yang paling jauh di antara semuanya, tapi potongan kenangan yang ada di sana sangat sepadan untuk membayar semua rasa lelah dan penat. foto yang kami ambil di bawah pohon ceri itu, sesuatu sekali ^^. Jika saja bukan karena jarak rumah bundo yang terlampau jauh, aku dan teman-teman mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi. Mungkin hingga adzan magrib berkumandang. Ketika udara siang yang panas digantikan oleh udara petang yang sejuk dan langit kemerahan.
Sungguh, bertemu dengan mereka di persimpangan jalan ini adalah hal besar yang ku syukuri. Orang yang asing bisa terasa begitu dekat.

Arisan Vol. 9 at Indah hos, Bekasi
Aku benar-benar curiga. Pasti ada takdir benang merah yang terus saja mengikat Mr. A dengan Mr. I. Bahkan hingga aku meninggalkan keduanya pun, mereka masih tetap membayang. Dan ketika perpisahan dengan Mr. I datang, aku tetap harus memilih antara dua. Walaupun berat, hingga aku merasa bersalah karena masih saja memikirkan mereka yang tidak ada di sana. Pantai dan arakan awan di kejauhan pun tak mampu menepis rindu. Sungguh sudah lama sekali aku ingin bertemu dengan crew sepenuh hati. Tapi akupun sudah terlanjur berjanji dengan "keluarga". Sambil memandangi rona matahari senja yang perlahan tenggelam di garis horison, aku membayangkan wajah mereka yang mungkin di sana sedang tertawa. membincangkan hal-hal tidak penting seperti biasanya. Ini adalah momen pertama dengan Mr.A yang kulewatkan. Jika saja, deburan ombak mampu membawa salam ku untuk mereka. 

Arisan Vol. 10 at Ridho hos, seberang kampus ^^
Dan kupikir ini untuk kedua kalinya aku absen. Sebenarnya tidak terkatakan lagi sedihnya hati karena tidak dapat pergi. Tapi juga ada sedikit rasa tidak ingin pergi. Semua alasan yang berputar hebat di kepala. Sampai-sampai membuat terjaga semalam sebelumnya, berharap hari berlalu secepat tiupan angin. Atau berharap ada keajaiban yang tidak berani untuk kupikirkan.

Siapa sangka? Aku tidak bertemu dengan mereka, tapi mereka sendiri yang datang menemuiku. Kunjungan tak terduga dari crew sepenuh hati.
Langkah kaki yang memburu untuk segera pulang begitu mendapat pesan singkat yang rasanya seperti mimpi. Ini seharusnya jadi arisan yang menyenangkan di rumah Ridho, tapi entah kenapa kini jadi membaginya denganku. Jikalau bisa, pasti wajahku akan terus tersenyum sepanjang waktu tadi. Tapi pasti akan terlihat aneh.

Aku begitu rindu dengan mereka. Perbincangan nostalgia yang keluar, tawa yang sudah lama tidak kudengar, cerita menyenangkan yang sudah lama tidak mengisi hari. 

Masing-masing masih menjadi seseorang yang kukenal. Hanya saja kini mereka sudah melangkah jauh pergi, sementara aku masih berjalan setapak demi setapak. Aku ingin juga segera menyusul mereka, menyejajari langkahnya. Entah apa yang akan terjadi di depan sana. Aku tidak peduli. Waktu yang kulewati saat ini bersama mereka lebih berharga dari apapun.

Sesuatu yang nyata kadang ada pada hal yang luput dari perhatian. Mungkin saja kita pernah merasa tidak pernah memiliki sesiapapun di dunia ini yang perhatian, namun bersediakah kau mendengar lebih banyak. Ketika kau berhenti sejenak dan menengok ke sebelahmu, mereka, sahabat, akan selalu ada di sana. Memberikan dorongan dengan cara-cara yang mungkin tidak dapat kau pahami.

Arisan vol. terakhir. Apakah kita akan bisa menyaksikan terbenamnya pantai di bagian tengah Indonesia? Ataukah kita akan merangkul ransel di pundak dan bertualang laiknya yang sering kita lakukan di waktu-waktu yang lalu? Ataukah kita akan menikmati sajian istimewa yang tersaji di meja panjang? Ataukah hanya sekedar berbagi cerita sambil menikmati sisi lain ibukota?

Aku masih belum tahu. Kisah ini mungkin masih akan berlanjut. Entahlah.




Tanpa judul.
Aku benci ditinggalkan.. Aku benci perpisahan.. Sebelum Aku mendengarnya maka kuputuskan lebih baik aku-lah yang meninggalkan dan berpisah dengannya. Apapun itu.
~~~

Grown up things
Ketika beranjak dewasa, beberapa orang akan membuang segala hal kekanak-kanakan dari dirinya.
Beberapa lagi menyimpan sebagian kecil darinya sebagai memori.
Sedikit dari mereka yang tetap memutuskan mengenggam semua hal kekanak-kanakan itu dalam dirinya.
Dan sepertinya aku masuk ke dalam yang sedikit itu. Segala hal tentang kekanak-kanakan telah membentuk aku yang sekarang.
Aku tidak bisa membuang potongan diriku yang satu itu.
Buruknya adalah, ketika kau hanya mengenali mereka -orang yang kau kenal baik- di masa kanak-kanak dan tersentak kaget, terjerembab ketika berhadapan dengan realita yang ada.
Dunia tentang “menjadi dewasa” tidak pernah seindah dongeng dalam dunia kanak-kanak.
~~~

Just,
JIka ada pembagian jenis sahabat.. Noisy friend dengan silent friend..
Mungkin aku termasuk jenis yang kedua. Menyayangi dalam diam adalah keahlianku. ^_^
~~~

I’m in love with you
Hari pertemuan semakin dekat. Apakah aku masih bisa menjadi aku yang mereka kenal dahulu? Apakah kini aku sudah berubah? Ataukah ini semua hanya pikiranku saja? Karena aku merasa mulai tidak mengenali diriku sendiri.
Semoga perjalanan perjalanan dan pertemuan nanti bisa membawaku kembali.
Itulah yang aku pikirkan saat akan memenuhi undangan dari ‘keluarga’. Ya, aku memang terlalu banyak berpikir. Dan ketika semuanya sudah selesai, yang tertinggal adalah sebuah cerita.
Ukhuwah ini begitu indah’, begitu ucap seorang adik sebelum kepulangan kami dari tempat menakjubkan itu.
Tempat di manapun sama, hanya saja yang menjadikannya istimewa adalah orang-orang yang ikut serta hadir di sana.
Masih tergambar jelas dalam ingat, semburat kemerahan matahari terbenam sore itu. Dan deburan ombak yang menggulung lembut di dekat kakiku. Suara alam. Menghilangkan semua penat. Ikut menenggelamkan semua rasa sesal yang sempat terpikir. Inilah harga yang pantas. Tak dapat dinilai oleh nominal uang yang fana.
Bersama keluarga, momen sepersekian detik itu kami nikmati bersama. Asyik menjepret sana sini mengabadikan momen yang ada. Bagiku, selembar foto itu juga fana. Yang abadi ada di dalam sini (hati).
Senyuman mereka, canda tawa, sudah berpisah memang. Semua sudah bertukar/berganti posisi. Tapi bagiku, bagi kami, semuanya masih tetap sama. Karena sejatinya slogan itu bukan hanya sekedar merek, tapi sudah terukir dalam kalbu. Merekalah keluarga. Yang dipersaudarakan oleh islam.
‘‘Dalam kamus apapun, keluarga, tidak ada kosakata mantan adik atau mantan kakak.’’ ini ucapan seorang adik luarbiasa yang sudah melanjutkan tongkat estafet dakwah ini ^_^.
Meski hanya sendirian (satu-satunya akhwat ‘golongan tua’ yang datang, hehe) tapi ternyata kehadiran mereka membuat yang asing terasa begitu dekat. Ada untungnya juga. Seperti kembali ‘muda’. Apapun itu, aku menikmatinya. Menikmati semua momen yang terjadi di tiga hari dua malam saat itu.
Aku selalu mengingat kata-kata ini, “Seorang kakak yang baik tidak akan pernah mengecewakan adiknya tersayang. Ia akan selalu berusaha menjadi ‘yang terbaik’ di mata adiknya”. Dan itulah yang terjadi padaku. Seorang aku, memasak? XD Jika bisa diibaratkan ini seperti mimpi buruk. Apakah mereka tahu? Jangan, desakku. Biar bagaimanapun aku pernah mencoba posisi sebagai konsumsi beberapa kali. Jadi seharusnya semua tidak ada masalah. Semua tenaga dan pengetahuan yang kudapatkan secara otodidak tentang memasak, kukerahkan (Yosh!). Dan hasilnya… hm.. aku bisa sedikit tersenyum. ^_^ Tidak terlalu buruk, tapi juga tidak bisa dibilang sangat baik. Cukuplah, hhe.
Terimakasih, adik-adikku. Satu lagi kejutan dari mereka. sebuah pigura dengan foto-foto kebersamaan kami dan satu kata dari setiap orang tentang aku (peluk cium kalian >_<)
Aku tidak mungkin berekspresi berlebihan di hadapan mereka ketika mendapatkan hadiah itu. Tapi dalam hati aku melonjak kegirangan. Ada rasa haru di sana. Keluarga jilid 2. I’m in love with you. (^_<)    
~~~

Kontemplasi drama
Orang yang selalu membiarkan dirinya terluka untuk dapat membuat orang lain bahagia. Orang yang rela pecah berantakan agar dapat membuat orang yang disayanginya tetap menjadi utuh.
Aku benci orang seperti itu. Karena aku melihat dirinya dalam cermin pantulan diriku.
Tapi kurasa mungkin ini yang memang seharusnya terjadi. Kehidupan yang sempurna. Lalu pecah berantakan. Kalau bisa memilih, ia ingin menjadi pohon di kehidupan berikutnya. Takdir yang ada di antara mereka begitu rumit. Setelah berputar jauh menjauhi masa lalu, akhirnya kembali bertemu di titik di mana semuanya dimulai.
Lagi, orang yang sama yang harus berkorban. Parahnya lagi, tak cukup hanya sampai di sana. Penyakit yang dideritanya semakin hari semakin memburuk. Cerita ini lebih malang dari kisah Cinderella. Meskipun kisah seperti ini mungkin hanyalah picisan, dalam semu. Tapi aku bahagia untuknya. Akhir yang ‘pantas’ untuk seseorang sepertinya yang selalu berkorban untuk kebahagiaan orang lain. “Akhirnya kami bersama” itu yang diucapkannya di akhir cerita.
Pergi dalam tenang dan kebahagiaan karena berlimpah kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya.
Kisah cinta seperti ini memang tidak akan punya akhir dan tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun. Sudah bisa tebak ini kisah siapa? Kisah yang diawali dengan gugurnya dedaunan, dan diakhiri dengan bergugurannya daun maple merah yang ditiup angin.
~~~

Perasaan yang menyenangkan… ^o^
Aku selalu memimpikan hal ini.
Bisa menatap langit setiap hari.
Setiap saat yang kumau.
Menatap langit membuatku mengagumi kebesaranNya.
Bisa menatap langit membuatku mengerti arti kata ‘cukup’ dan bersyukur.
Dengan menatap langit, aku tersadar bahwa aku ini begitu kecil. Benda langit yang menjadi bagian dari semesta yang begitu besar.
Seperti malam ini, saat langit membentuk bayangan sempurna diriku.  




Chapter 3: Hana-Tomodachi// Insiden Pita. Just Side story…
Tik..tik..tik..tik… Hoahm…tik..tik.tik…..
^_^
Kertas usang ini. Mau bagaimana lagi, mungkin bagi sebagian orang secarik kertas nggak akan bernilai. Karena toh cuma secarik kertas. Tapi bagi seseorang, terkadang secarik kertas telah membuatnya teringat, terkenang dengan sebuah memori yang sudah lama ia lupakan.
^_^
Sebuah pita ini telah mengantarkan Aiko dan kawan-kawan memulai hari orientasi pertama mereka di sekolah baru yang akan mereka tempati tiga tahun mendatang.
Hrggh.. tidak terbayangkan rasanya kalau rambutku yang indah ini akan dikuncir sana-sini mirip ikatan benang kusut. Setidaknya itu masih belum apa-apa dibandingkan dengan jepitan jemuran yang bertengger indah di rambutku, hiks,” gumam Aiko sambil melihat bayangan dirinya di depan pantulan kaca jendela kelas.
Dan tentu saja Aiko tidak sendirian. Semua siswa baru diperlakukan sama. Termasuk Kuniko, Hana, Sakurako, Nishi, dan Yumiko. Hihihi.. kalau mereka berenam disandingkan, akan mirip pajangan boneka manekin rusak di toko kelontong seberang jalan. Kacau sekali ^^
Berakhirnya hari orientasi bukan berarti berakhir semuanya, masih ada satu PR lagi. Apalagi kalau bukan membebaskan rambut mereka yang malang dari terkaman jepitan jemuran Ibu, hiks.. Lucunya lagi Ku-Chan, hehe.. Dia tidak bisa melepaskan ikatan pita di rambutnya yang diikat sangat kuat. Ditambah lagi rambut Kuniko yang ikal panjang menambah kerumitan melepas ikatan pita itu. Selesai dengan bagiannya, Aiko membantu Kuniko untuk melepaskan ikatan pita milik Kuniko. Hrgghh.. susah banget, Aiko membatin. Yumiko pun muncul sebagai penolong, dan dengan akhir yang tak terduga, ikatan pita itu justru semakin kuat mengikat di kepala Kuniko. Sakurako yang sedang berjalan pulang, menghampiri teman-temannya yang ada di belakang sebuah minibus yang terparkir di luar halaman sekolah. Ia pun ikut turun tangan.
“Biarkan tanganku yang sangat lincah dan berbakat ini membantu, oke,” ucap Sakurako pada Kuniko yang tampak pasrah.
Melihat kesusahan teman-temannya, Hana turut membantu. Ia menyingsikan tangannya lebih dulu,
“Ya, dengan ketelitian dan perhitungan metematikan serta peluang yang tepat, kita pasti bisa melepas ikatan pita yang terjalin, bla..bla..bla..,” jelas Hana yang penuh percaya diri. Dibalik kacamata perseginya yang berkilat-kilat, Hana-Chan tersenyum menyeringai penuh ambisi untuk membebaskan Kuniko dari pita yang ‘jahat’. ^^ Ternyata untuk membuka ikatan pita, diperlukan rumus juga ya? ^_^);
Dan tanpa disadari, kini rambut Kuniko-Chan semakin tidak teratur. Tidak heran, sampai detik ini sudah ada 4 orang dan 10 jari dikali 4 pasang tangan! sudah mengambil alih urusan pita memita ini. Sementara Kuniko hanya bisa pasrah dan tertunduk lesu. Disamping tidak bisa pulang dengan keadaan seperti itu, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. ‘Ngorek-ngorek tanah’ mode on. :D
Lalu tiba-tiba Nishi-Chan datang membawa sebuah gunting tajam yang berkilat-kilat diterpa sinar mentari siang hari di tangan kanannya. Ia menggerak-gerakkan gunting itu dengan ayunan meyakinkan dan dengan pasti, berjalan mendekati Kuniko-Chan yang sudah tidak berdaya.
“Nishi-Chan, jangan ya, jangan gitu, sayang kan rambutnya,” pinta Hana yang melihat Nishi sedang mengayun-ngayunkan gunting ke arah rambut Kuniko, “Eh, tunggu-tunggu jangan gegabah.. Kita masih bisa melepaskan ikatan pitanya dengan beberapa perhitungan lagi, kok,” sambung Hana yang menyangka Nishi akan menggunting seluruh rambut Kuniko yang kusut.
Nishi semakin mendekati Kuniko…
“Nishi, biarkanlah seperti air mengalir. Kita pasti bisa melakukannya,” yang ini perumpaan milik Sakurako-Chan yang selalu aneh, hehe.. Apa hubungannya air mengalir dengan ikatan pita rambut? -_-“
“Wo..Nishi.. hihi.. hai.. Ki-kita bisa kok mengatasi ikatannya. Kita nggak boleh putus semangat. harus kuat! Ganbatte! kayak Naruto!” seru Yumiko-Chan yang makin membuat rambut Kuniko kusut dengan jari-jarinya. Naruto beraksi! ^^
Dan di saat seperti ini, Aiko menyela bertanya, “Hai, Nishi-Chan, em.. guntingnya buat apa ya?”
GUBRAK!!!
Semua mata tertuju pada pertanyaan Aiko yang satu ini, duuh.. kalau mau curious, lihat-lihat waktu dong, batin semuanya, dan yang terjadi kemudian adalah…
Cekrek! Kres! Kres! Krek!
Mendengar suara yang aneh tadi, semuanya berpaling pada Nishi dan gunting di tangannya,
“Hem.. Beres! Cuma pita!” ucap Nishi singkat dan mengibaskan kedua tangannya. Ia pun berlalu pergi sambil membawa potongan-potongan pita dan membuangnya ke tempat sampah. Dari kejauhan terdengar suara tawa dari teman-temannya yang mengiringi langkah kaki Nishi. ckckckck.. Gitu aja kok repot, hehehe ^^
^_^
Masa ospek SMA yang penuh kenangan. Waktu cepat sekali berlalu, kawan...