twitter

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Suatu pagi, Seorang guru tiba-tiba saja memberikan sepucuk surat kepada semua muridnya dan mengatakan itu sebagai pesan terakhir darinya karena umurnya tidak akan lama lagi, paling lama 3 bulan. Eh?? Adegan apa ini? Pikirku mula-mula, dan begitu juga pikiran semua murid di kelasnya.
Maeda sensei selama ini dikenal sebagai wali kelas yang dingin, terkesan tidak peduli dengan muridnya apalagi berbincang dengan murid-muridnya. Sang ketua kelas, Takamina merasa sia-sia saja, dan mengabaikan surat itu pun teman-teman yang lain. Tapi satu per satu dari mereka mulai mengerti maksud dari isi surat tersebut yang ternyata sangat personal dan menggambarkan diri mereka, keadaan yang sedang mereka hadapi. Tanpa mereka sadari, sebenarnya Maeda sensei tidak pernah sekalipun mengabaikan mereka. Ia mengamati dari jauh, memerhatikan dengan caranya sendiri karena ada masa lalu yang pahit yang membuatnya menjaga jarak dalam berinteraksi dengan murid.
Sesaat setelah Maeda sensei memberikan surat-surat tersebut, ia segera menjalani perawatan di rumah sakit. Tepatnya menunggu waktu "ajalnya", karena selain rumah sakit Maeda sensei merasa tidak punya (rumah) tempat untuk dituju. Nah dari sanalah perlahan misteri surat itu terungkap, hihi. Walau tidak runut, melompat dari satu potongan cerita ke potongan cerita murid yang satu dan yang lain, tapi pada akhirnya ada benang merah dan itu yang membuat film ini menarik untuk diikuti karena alurnya yang tidak membosankan.
Maeda Sensei punya satu kebiasaan unik yang selalu ditanyakan oleh muridnya. Ia selalu telaten mengurus dan merawat sebuah pohon sakura yang ditanam di halaman sekolah semenjak sekolah itu berdiri sebagai lambang Sakura gakuen, tidak pernah sekalipun pohon sakura itu berbunga. Seakan maeda sensei lebih peduli mengurus pohon dibanding mengurus muridnya. Kalau aku jadi muridnya pasti juga merasa jealous kan.. Masa pohon aja diperhatiin sampai segitunya, hehe...
Tapi Maeda sensei punya alasan khusus yang baru akan terungkap di akhir episode. Yang sebenarnya, Maeda sensei merasa bersalah karena tidak bisa memerhatikan dan memberikan perhatian yang selayaknya pada murid-murid yang sangat ia sayangi. Sebagai ganti dan rasa permintaan maafnya, ia ingin saat murid-muridnya lulus tiga bulan dari sekarang, mereka akan dapat melihat pohon sakura dengan bunga-bunganya yang indah bermekaran mengantar mereka di hari kelulusan saat dirinya tidak bisa berada di sana untuk menemani mereka di momen terpenting itu.
Pas Takamina dkk tahu alasan yang sebenarnya, itu sedih banget momennya. Hikz... Dan beramai-ramai mereka menghentikan petugas yang diutus sekolah untuk menebang pohon sakura yang sangat berarti bagi sensei mereka. Mereka berjanji akan menyerah jika pada hari kelulusan pohon sakura itu tidak juga berbunga. Dan sekolah boleh menebang pohon tersebut. Duh... Mariko sama keren banget di adegan ini,  berperan sebagai sensei pengganti yang cakap dan berpihak pada muridnya.
Singkat cerita, sampai hari kelulusan, walaupun sudah mencoba berbagai cara, pohon sakura itu tidak juga berbunga. Tapi Takamina dkk tidak kehabisan akal. Sebagai ganti bunga sakura, mereka membuat bunga-bunga replika dari kertas krep dan hiasan yang isinya ucapan terimakasih untuk Maeda sensei. Kalau boleh jujur, pohonnya jadi lebih indah, hehe... Dibanding yang asli. Aku terharu sekali waktu lihat hasil akhir pohon sakura ala mereka.
Takamina dan Yuko sebelumnya berusaha untuk menemukan anak perempuan Maeda sensei yang bernama Atsuko san, Acchan... >o<. Jadi usut punya usut, dulu ada seorang murid yang mengalami kesulitan dan Maeda sensei sebagai wali kelas, as usual, membantunya. Tapi karena kesalahpahaman, hal tersebut membuat Atsuko san jadi salah pengertian dan menganggap ayahnya tidak ada saat anaknya sendiri membutuhkannya sementara Atsuko tidak punya sesiapa lagi selain ayahnya karena ibunya sudah meninggal. Dari yang aku tangkap si kayaknya Atsuko san ini di sekolahnya sering di bully oleh teman-temannya. Sampai akhirnya Atsuko san kecewa dengan sikap ayahnya dan memutuskan untuk keluar dari rumah dan hidup mandiri. Bahkan memutus kontak dengan sang ayah.
Dari semua hal, inilah yang paling disesali oleh Maeda sensei. Hingga ia trauma dan mulai menjaga jarak dengan para muridnya. Jadi udah tahu kan alasannya kenapa Maeda sensei bersikap superzz dingin. Karena ia tidak ingin mengecewakan anak perempuannya lagi.  Namun sampai saat terakhir hidupnya, hal yang sangat ingin ia lakukan adalah melihat senyum Atsuko san kembali seperti dulu belum terpenuhi. Takamina meminta Maeda sensei juga menulis surat untuk anaknya Atsuko san. Jika surat dari sensei saja bisa mengubah kami, maka aku yakin hal yang sama juga akan bisa menggerakkan hati Atsuko san, begitu ucap Takamina. Aih.. Ketua kelas yang mengagumkan ya, hihi. No wonder because she is the AKB48 general manager ^_^.
Nah, Takamina dan Yuko berhasil menemui Atsuko dan memberikan surat tersebut. Awalnya Atsuko tentu aja menolak, tapi melihat kesungguhan mereka berdua, Atsuko yang selama ini bekerja di sebuah toko bunga pun, hatinya meleleh dan ia menemui ayahnya untuk meminta maaf untuk semua hal yang pernah terjadi. Begitu pula dengan Maeda sensei. Well, its a happy ending story.
Di hari kelulusan, mereka semua berkumpul di lapangan pohon sakura dan mengundang Maeda sensei ditemani Atsuko san. Atsuko san menyampaikan rasa terimakasihnya karena mereka telah membuatnya sadar hal paling berharga yang ia lupakan. Murid-murid berbaris rapi dan suara dentingan piano mulai terdengar. Itu adalah alunan dari lagu "sakura no ki ni narou" (salah satu lagu andalan akb48 yang berhasil masuk tangga chart oricon, yei...) yang ditulis Maeda sensei long ago untuk dinyanyikan muridnya dulu saat upacara kelulusan.
Maeda sensei terharu.
Ketika lagu hampir habis, mereka semua berkumpul mengelilingi Maeda sensei yang duduk di kursi roda dan menyanyikan potongan reff bersama. Lalu entah darimana tiba-tiba ada kelopak-kelopak bunga sakura yang berguguran. Sambil memandang ke arah pohon sakura, mereka semua tersenyum bahagia.

After a few years past by, mereka kembali bertemu di lapangan sekolah sakura gakuin. Tentu saja Maeda sensei tidak lagi bersama mereka. Beberapa waktu setelah pertemuan di hari kelulusan, Maeda sensei menghembuskan napas terakhirnya. And i'm pretty sure, he is gone peacefully :).
Setelah bertahun-tahun, akhirnya pohon sakura itu berbunga. Dan hari di mana sakura itu bermekaran, mereka semua kembali ke sana untuk mengenang kenangan indah yang tersimpan abadi bersama kokohnya pohon sakura. Sakura kara no tegami (sepucuk surat dari bunga sakura).

~~Eien no sakura no ki ni narou...


Aku jadi ingat. Dulu, saat aku harus berhemat dengan tidak makan ke kantin saat istirahat. Sesuatu yang terus kulakukan sejak SD, SMP, bahkan SMA. Bagiku kantin sekolah adalah tempat yang asing. Pun ketika kuliah. Jarang sekali aku mampir ke sana kalau tidak sedang diajak teman atau apa. Waktu SMP dulu cukup bekal dari rumah yang kusantap. Kalau tidak sempat membuat bekal, maka aku akan "puasa" makan siang dan mengisi waktu dengan pergi ke masjid, perpus, atau sekedar membaca buku pelajaran di kelas. Saat itu, bagiku bisa pergi ke kantin adalah sebuah kemewahan. Tak jarang aku harus menabung untuk bisa sekadar jajan di kantin. Lucu sendiri mengingatnya.
Waktu SMA sampai lulus, aku selalu membayangkan lezatnya soto mang acil atau lembut dan gurihnya bubur mang ade tanpa sekalipun pernah mencobanya. Sampai aku sudah kuliah dan bisa punya uang sendiri, keinginan itu teringat kembali. Tapi sayang saat ke sana lagi, kantin sma nya sudah berubah, hehe...
Aku baru tahu nikmatnya bisa jajan di kantin waktu kuliah karena sudah ada uang sendiri dari kerja part time ngajar privat. Pergi ke kantin dan icip2. Walau hanya berbilang jari kunjunganku ke sana, tetap saja terasa menyenangkan.
Sesederhana itu. Pun jika terkadang aku teringat dengan semua hal itu, aku bersyukur karena pernah mengalaminya. Masa-masa yang penuh kesederhanaan. Saat sepotong roti coklat pemberian teman ketika perut lapar terasa sangat berharga melebihi sepotong emas.


Pagi ini aku mendapat pesan singkat dari kakak kelasku di kampus. Bukan kakak kelas biasa, tapi ia istimewa. Kami dulu sudah seperti saudara kandung. Kuharap akan tetap begitu.
Selepas kereta jurusan Jakarta yang kunaiki melaju, aku teringat dengan pesan singkat yang belum kubaca. Awalnya aku tidak tahu siapa yang mengirimkan. Lalu kemudian, airmata ini hampir meleleh.. Begini bunyi pesannya: Hari ini ku teringat padamu gadis kereta..
iya kamu..yang selalu memilih kereta daripada bis,
yang lebih memilih menahan lapar dengan alasan sudah sarapan pagi,
yang darimu kutemukan arti kesederhanaan,kesahajaan n kesabaran yang penuh..
Ah..Gadis kereta,apa kau masih ingat padaku?. Tanpa kusadari aku menjawab dalam hati. Tentu saja, Ka. Tentu saja aku ingat.


Ni modeun sungan, nayeoseumyeon. Every moment of you. 
Setiap kali aku melihat sekitar, aku selalu berharap ada wajahmu di sana. 
Dulu aku baik-baik saja menikmati waktu. 
Tapi kini semua waktuku terbagi sebelum dan setelah mengenalmu.

Setiap melihat kau melintas di sampingku, degup jantungku berdebum 
dan napasku tercekat hingga aku merasa sulit untuk bernapas.
Tapi kau terlihat baik baik saja, sementara aku tidak. 
Tidakkah kau mendengar suara hatiku yang memanggil namamu?

Jika akan semenyakitkan ini ketika berpisah denganmu, 
lalu kenapa kau harus muncul di hadapanku. 
Tahukah kau, rasanya sulit sekali menjalani hari setelah aku mengenal dirimu 
dan mengenal perasaan ini. 
Seperti musim semi yang tetiba datang di tengah musim panas yang melelahkan. 

Lalu kau pergi, dan duniaku menjadi musim dingin berkepanjangan. 
Tak bisakah kau kembali datang dan membawa kehangatan seperti yang kau lakukan dulu. 
Meski hanya dengan senyuman, meski hanya dengan senyuman.

Tahukah dirimu?
Kini aku tidak bisa menikmati waktu, 
karena bayanganmu selalu ada di manapun aku menghadapkan wajahku. 
Berharap dan terus berharap entah bagaimana kau akan muncul tetiba di hadapanku.
Bisakah?

Untuk semua waktu yang kulewatkan bersama kehadiranmu, 
seluruhnya, terima kasih. Walau menyakitkan, terimakasih. 
Karena untuk sesaat aku tahu bagaimana indahnya musim semi. 
Musim semi yang akan aku simpan, selamanya.


Kadang aku merasa perlu untuk menyendiri. Siapa yang tidak pernah?
Menutup diri dari hiruk pikuk dunia. Berusaha tidak mendengar, melihat, atau mengomentari apapun. Aku hanya ingin sendiri.

Awalnya dunia tidak membiarkanku begitu saja. Terus berusaha untuk mengusikku sampai akhirnya dunia pun menyerah. Lalu berlalu pergi tanpa pernah menggubrisku lagi.

Tapi ketika dunia benar-benar telah pergi, aku mulai mencari. Merasakan ada sesuatu yang salah.
Kini begitu sunyi. Aku merasa terlalu sepi. Aku merasa telah menjadi terlupakan.

Hingga aku berada pada titik, aku ingin dunia kembali. Karena ternyata aku tidak baik-baik saja tanpa nya. Sudah cukup untuk menyendiri. Dunia, kau menang.

Aku pun mulai membuka semua indra. Untuk mendengar, melihat, dan merasakan. Juga membuka pintu hatiku yang sudah lama tertutup dan berdebu. Tapi sepertinya sudah terlambat

Duniaku sudah benar-benar sunyi. Aku sudah dilupakan.
Sekecil apapun kesempatan agar dunia mau kembali, aku akan melakukannya. Apapun itu.

Asal aku mendapatkan duniaku kembali.


Kemarin Aku melihat  bayangan dirimu di sana. Tapi  begitu kuhampiri, aku tak dapat meraihmu. Hanya kosong.
 
Dulu mendengar suaramu, degup hatiku  bekerja  beribu kali lipat. Pun hanya mendengar namamu disebut, entah  berapa kali hatiku mencelos dan kepalaku pening dibuatnya. Waktu milikku seakan terhenti. Dan itu bermula sejak kali pertama takdir mempertemukanku denganmu. Hari itu, jam itu, detik itu.

Kini namamu kembali disebut. Suaramu kembali kudengar, dan sosokmu begitu nyata di hadapanku. Degup jantungku tidak lagi berdebar dengan debaran yang sama. Semua yang pernah kurasakan untukmu seakan tidak pernah kurasakan/ terjadi. Hari ini, Waktu milikku pun  berputar kembali.

Sekarang, dengan perasaan yang lega, dengan ringan dapat kukatakan, “selamat jalan, denting.”

Terimakasih untuk perasaan luar biasa yang hadir empat tahun ini ketika kau ada di sisi. Untuk semua cerita indah yang tercipta karenamu.

Dari seseorang yang selalu mengagumimu dan kau tidak pernah tahu tentang itu.


Memiliki kenangan adalah hal yang berharga, tapi tidak jika kenangan itu menjadi bayang dalam kehidupan. Hidup dalam kenangan, menyenangkan tapi itu bukanlah hidup, ia hanya semu.

Merindukannya seperti napas yang kau hirup setiap hari. Tanpanya detik yang berputar tak mampu untuk dilewati, memikirkan hidup tanpanya sedetik saja sudah membuat seluruh tubuh mati rasa. Aku terjebak. Tak dapat kembali juga tak dapat melangkah.

Tersenyum, tapi hanya sendiri. Karena ia mungkin tidak mengingatnya, hanya diri ini yang menggenggam kenangan itu. Segala hal yang mengingatkanku tentangnya tak bisa kulepaskan.  Kumpulan gambar yang terbeku dalam pigura usang di sudut meja. Senyuman itu, tawa itu. Aku rindu. Aku mulai gila, mencari di setiap sudut serpihan-serpihan yang bisa mengingatkanku tentangnya. Karena bayang yang ada semakin memudar. Aku mulai melupakannya. Dan itu terasa sakit. Di sini terasa hampa bila ia tidak ada. Kenangan tentangnya. Mungkin aku memang sudah benar-benar gila.


Mungkin saja, ia bahkan tidak mengingatku, tidak sama sekali. 


Aku rindu padamu. Kau yang ada di sana. Apa kabar? Kabarku tak pernah baik-baik saja tanpamu. 


Angin berhembus lembut. Pagi ini matahari tidak bersinar sempurna. Tapi aku tetap dapat menikmati hari dengan segelas coklat panas dan iringan musik lembut yang mengalun dalam earphone yang kugunakan. Mulai membayangi tentang semua hal. Yang sudah berlalu empat bulan ini. Pahit, manis. Tapi entah bagaimana, yang lebih banyak tersimpan adalah kenangan manis. Aku bersyukur tentang hal itu.

Bulan lalu aku bertemu dengan sahabat lama. Tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan yang sering kulalui, dan mungkin juga jalan yang sering dilaluinya. Aku hanya sempat bertukar senyum lantas melangkah pergi, menatap ke langit yang kelabu seperti hari ini karena khawatir hujan deras akan segera turun. Jika bukan karena aku dan dia berbeda,mungkin aku sudah memberikan salam yang hangat padanya dan mengobrol ringan tentang segala hal yang terlewati saat tidak berjumpa. Tapi, senyuman saja sudah cukup.

Dan juga bulan yang lalu lagi, Wajah yang kukenal melemparkan senyumnya yang bersahabat. Kali itu, aku tidak sempat membalasnya karena langkah kakiku yang memburu waktu. Ada sedikit perasaan menyesal. Tapi aku tersenyum saat kami sudah saling berselisih jalan. Yang mungkin tidak akan disadarinya. Ingin rasanya menoleh ke belakang, tanpa alasan yang jelas. Namun ketika teringat dengan cerita kawan yang kukenal dan hal lucu yang menyertainya, kuurungkan niat tak jelas itu.

Dulu sekali, kawan yang kukenal juga mengalami pertemuan seperti ini. Bedanya saat sudah berselisih jalan, ia menyempatkan untuk menengok kembali ke belakang. Dan di saat yang bersamaan, orang yang tadi berpapasan dengannya juga menoleh ke belakang, dan tanpa disengaja mereka sudah saling bertatapan satu sama lain. Karena saling berbeda, kawanku cepat-cepat memutar pandang dan berjalan secepat yang ia bisa sambil menahan rasa malu yang sulit disembunyikan dari wajahnya yang merona merah. Dalam ceritaku, aku tak ingin pertemuan tak disengaja ini juga berakhir seperti ceritanya.

Bagaimana caranya aku selalu berpapasan dengannya di waktu yang selalu tidak tepat. Pertanyaan menggelitik berikutnya adalah, bagaimana hal aku selalu bertemu dengannya di waktu seperti ini. Semua pertanyaan tanpa jawaban itu terus berputar sepanjang kakiku melangkah ke tempat tujuan. Sebentar memasang wajah bingung, sebentar memasang wajah bahagia. Sebentar memasang wajah bersungut karena memikirkan hal tak penting, sebentar menatap langit kebiruan dan merasakan sesuatu berdesir, perasaan mencelos aneh seperti kau jatuh ke dalam jurang yang dalam.

Di suatu pagi yang tidak terlalu kuingat kapan, aku kembali berpapasan dengan sahabat lama. Yang bisa kuingat dari hari itu hanyalah perasaanku di pagi hari yang tidak terlalu baik. Tidak ada lagu, tidak ada harapan-harapan yang ingin kuwujudkan hari itu. Perasaaan menyebalkan seperti kau ingin cepat-cepat hari berakhir. Dan di saat hatiku sedang menggumamkan kekesalan pada dunia, tiba-tiba saja aku mendengar sebuah salam terucap. Spontan aku menghentikan langkah dan cepat-cepat menoleh ke belakang. Tapi kali ini aku tidak sempat bertemu sosoknya yang terlebih dulu menghilang di persimpangan jalan di belakangku. Sayang sekali. Aku tidak begitu yakin apakah ia orang yang sama, intuisiku mengatakan itu adalah dia, sahabat lama. Tapi, entah bagaimana, ada sebuah lagu yang mengalun indah dalam hati. Hari itu, laguku kembali berputar dan berharap hari yang indah tidak akan cepat berakhir.


Sayangnya, itu adalah hari terakhir aku menemukan sosoknya. Esok, dan lusa, juga hari setelahnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Anehnya ada perasaan sedih, meski hanya sedikit. Kejutan kecil menyenangkan itu telah usai dan hilang keajaibannya. Tapi setiap kali aku teringat dengan potongan bagian dari kenangan itu, dan melewati jalan yang biasa aku lewati ketika berpapasan dengannya, aku selalu dapat tersenyum. Pun hingga detik ini.  




Aku merindukan bayang.
Bayang yang mengingatkanku tentangmu. Tentang seulas senyuman.
Tentang sebaris kata penyemangat. Tentang kisah ambisi masa muda.
Bayanganmu yang menutupi bayanganku. Senja sore itu.
Malam-malam yang dipenuhi bunga tidur. Semua tentang bayang.
Bolehkah aku membuat pinta?
Bayang tak perlu lagi ada dalam pandang. Biarkan aku pergi, meninggalkanmu.
Karena kau tidak sejati.
Kau hanyalah bayang.



Hari berhujan datang lagi. Rika meringkuk di atas tempat tidurnya. Hari-hari yang melelahkan. Proposal skripsinya kembali ditolak untuk yang ketiga kalinya. Di saat-saat begini yang paling nyaman adalah berada di rumah dan bercerita keluh kesah pada Mama. Tapi, Rika tidak bisa melakukannya.


Badannya membolak-balik, resah. Satu persatu bulir bening membasahi bantal. Tidak ada suara. Hanya sunyi. Kamar kos berukuran 4x4m itu begitu sempit. Menambah sesak hati Rika yang menyesakkan. Perlahan matanya menutup, jatuh ke dunia mimpi. Di mana hal-hal baik mungkin terjadi.

~ ~ ~

“Mama..,” tangannya menggapai-gapai udara, berusaha mengejar seseorang di depan. Kaki-kaki kecilnya semakin memburu. Hampir saja terjatuh.

“Iya, sayang.. pelan-pelan jalannya. Mama gandeng tanganmu, ya,” ucap seseorang dengan suara yang lembut.

Hari itu hari Sabtu pagi, jadwal Mama pergi ke pasar. Rika selalu menanti-nantikan hari Sabtu tiba. Bagi Rika kecil, Hari Sabtu berarti seplastik coklat dan permen gula-gula kapas. Tangan mungilnya mengayun-ngayun mengikuti langkah kaki Mama.

“Mama… Rika mau permen kapas ya, itu di sana!” pinta Rika sambil menunjuk sebuah supermarket kecil yang baru buka di dekat pasar. Vokalnya yang masih cadel membuat Mama tersenyum kecil memandang wajah putri sulungnya itu. Mama teringat janjinya pada Rika tentang permen kapas kalau Rika mau membantu mencuci piring tadi pagi.

“Iya, sayang. Mama belikan. Ayo kita ke sana, pelan-pelan ya jalannya,” jawab Mama.

Sesampainya di dalam supermarket, Rika langsung menghambur ke dalam mencari-cari letak permen kapas yang diinginkannya. Serius sekali, seperti seseorang yang sedang menjalankan misi penting. Rak demi rak ia lalui, matanya melirik kesana kemari awas melihat kalau-kalau ada makanan favoritnya di sana yang bergambar koala kecil berwarna pink. Saat berbelok menuju rak lainnya, matanya menangkap benda itu, permen kapas favoritnya. Rika tersenyum lebar. Senang sekali, tangannya yang kecil dengan mudah menggapai permen itu yang berada di rak paling bawah.

“Mama.. ketemu! Permen Rika ketemu, Ma,” seru Rika girang. Ia menengok ke kiri dan ke kanan mencari sosok Mamanya, “Ma..,” Rika berputar-putar. Mama tidak ada di sana, ”Mama di mana?” senyumannya berubah menjadi panik, Rika terisak-isak sambil berjongkok memanggil-manggil Mama.

Tiba-tiba seseorang mengelus lembut kepalanya, “Rika… ini Mama, sayang,”

Ia mendongakkan kepalanya, tangisnya makin menjadi, “Mamaaaa!, hiks.. hiks.. hiks…”

Tangan lembut itu sekali lagi mengelus kepala Rika, “Iya, iya, Mama di sini. Lain kali jangan jauh-jauh dari Mama, ya. Jalannya pelan-pelan,” ucap Mama yang kini pandangannya sejajar dengan Rika kecil. Rika kecil tersenyum lebar mengangguk dengan sesengukan. Begitupun Mama sambil menyeka ingus dan airmata di wajah anak kesayangannya.

~ ~ ~

Hari beranjak sore, Rika kecil telah tumbuh menjadi siswa kelas enam SD yang pandai. Langkahnya gontai, napasnya mengeluh berkali-kali. Amplop putih di tangan kanannya tidak setebal seperti milik teman-teman lainnya di kelas.

Pagi tadi pengumuman penerimaan siswa baru hasil seleksi kota sudah dibagikan. Rika begitu tidak sabar membayangkan serunya mengikuti ekskul karate di SMP idamannya. Tapi wajahnya berubah pucat ketika melihat tulisan dua kata tercetak tebal di dalam amplop miliknya. “TIDAK LULUS”. Entah bagaimana Rika akan menceritakan ini kepada Mama. Di antara semuanya, Mama yang paling berharap banyak dari putri sulung kesayangannya itu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Rika ketika memasuki pintu rumah.

“Wa’alaikumussalam, Rika, kok sudah sore baru pulang? Gimana hasilnya?” tanya Mama sambil mengelap tangannya yang basah sehabis mencuci piring.

Rika menggeleng pelan. Mama yang tidak mengerti maksud putrinya itu, bertanya lagi, “Kamu lulus kan, Nak?”. Pertanyaan yang dijawab linangan airmata di pelupuk mata Rika. Tidak sebiasa biasanya, Mama sangat terkejut. Putrinya yang pandai gagal masuk ujian SMP Negeri. Tanpa bicara sepatah katapun, Mama berlalu pergi ke arah dapur. Rika sendirian di ruang tamu, menangis terisak.

Papa yang mendapati anak sulungnya menangis, langsung menggenggam tangan Rika dan menaikkannya ke atas motor. Hari itu adalah hari terakhir pendaftaran sekolah tingkat SMP. Papa membawa Rika pergi ke salah satu SMP swasta di kotanya. Pasrah, Rika mengikuti langkah-langkah Papa sambil tertunduk dalam. 

Dalam hatinya, Rika mengucap doa. Ia berjanji ini adalah kali terakhir baginya mengecewakan harapan Mama. Di sekolah ini, Rika berjanji dalam hatinya akan menjadi yang terbaik, dan membuat Mama bangga.

flashback...
Mama.. doain aku ya, nanti kalau Rika lulus ke SMPN 2, Rika mau kasih Mama hadiah,” ucap Rika sambil memakan cemilan kue beras yang dibelikan Mama walau harganya cukup mahal ,
“Iya, udah, belajar dulu. Mama tunggu Rika di luar sampai selesai ya. Jangan lupa baca Bismillah,” jawab Mama tersenyum seraya mengambil bungkus cemilan itu dan menyeka serpihan remah-remah di wajah putrinya ,
“Iya, Ma,”. Rika menghilang di balik daun pintu kelas ruang ujiannya.

~ ~ ~

Siang terik yang menyengat di bulan Juni. Rika menyejajari Mama yang berdiri di sampingnya yang sedang melihat pengumuman seleksi SMA. Rika berhasil lulus dari SMP dengan predikat siswa dengan prestasi terbaik. Mama mewakili Rika saat pengambilan ijazah dan hadiah kelulusan di sekolah tempo hari. Wajah Mama saat itu tidak akan pernah Rika lupakan. Wajah Mama yang tersenyum penuh syukur. Senyuman paling indah di seluruh dunia.

“Rika, kamu mau melanjutkan sekolah di SMA mana?” tanya Mama. Mereka sedang berada di aula SMAN 1, SMA terfavorit di kota, yang memajang berkas-berkas penerimaan siswa baru.

“Rika mau ke SMAN 3, Ma. Rika mau pakai seragam jilbab panjang kayak kakak-kakak itu,” tunjuk Rika ke arah beberapa siswi berpakaian muslim di seberang jalan dengan pin berbentuk segitiga sebagai identitas sekolah.

“Ayo, kita ke SMAN 3 sekarang. Mumpung masih siang,” ajak Mama. Tanpa pikir panjang Mama menyetop angkot yang lewat di depan mereka setelah sebelumnya menanyakan lokasi sekolah tersebut ke satpam yang menjaga gerbang sekolah.

Jika dulu, Rika akan dengan manja menempel pada Mama dan bercerita tentang apapun yang terlintas di pikirannya. Tapi Rika kecil telah menjelma menjadi seorang remaja yang malu bila terus menempel pada Mama. Mendadak Rika berhenti bercerita bebas kepada Mama. Ia lebih sering menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolahnya. Sibuk dengan kegiatan ekskul di sekolah yang menyita hampir semua waktu luang yang dulu ia habiskan bersama Mama.

~ ~ ~

Waktu berlalu bagai memburu. Pagi-pagi betul, Rika dan Mama menumpang bus patas AC menuju universitas negeri di Jakarta. Matahari masih enggan bersinar ketika bus mulai melaju di kelengangan jalan tol dalam kota. Perlahan sinar matahari yang lembut menyapu wajah Rika yang menempel di jendela bus. Mama yang duduk di sebelahnya sibuk membolak-balik memastikan tidak ada berkas yang tertinggal.   

Seminggu yang lalu Rika dinyatakan lulus masuk ke perguruan tinggi negeri di Jakarta tanpa tes. Bukan main senangnya hati Rika. Terlebih lagi Mama. Mama yang paling semangat sejak pagi buta. Menyiapkan segalanya sementara Rika masih malas-malas meringkuk di balik selimutnya. Jadwal daftar ulang dan wawancara yang lumayan pagi membuat mereka yang tinggal di luar Jakarta harus ekstra segalanya.

Rika lahir dari keluarga yang sederhana. Mama dan Papa berjualan bandeng masak ke warung-warung dan katering. Di antara keluarganya, ia satu-satunya yang berhasil melanjutkan ke universitas. Mama yang begitu bersemangat tidak ingin melewatkan kesempatan mengantar putrinya memasuki gerbang kuliah yang selalu menjadi mimpinya sejak dulu tapi harus ditepisnya jauh-jauh ketika kondisi ekonomi keluarganya tidak sebaik sekarang.

Meski harus mengajukan permohonan beasiswa, Mama akan melakukan apapun agar putrinya dapat mengenyam pendidikan yang lebih baik dari dirinya. Tapi dalam rumit dan lelahnya segala proses administrasi itu, Mama masih tersenyum. Rika yang sudah mengeluh berkali-kali seperti mendapat setruman ajaib setiap kali ia melihat wajah Mama. Walau akhirnya berkas pengajuan itu ditolak, Mama mengenggam tangan Rika erat. Mengalirkan harapan kepadanya bahwa jalan keluar pasti ada di suatu tempat di sana.

~ ~ ~

Sudah satu tahun Rika tinggal terpisah dengan kedua orangtuanya untuk menjaga nenek yang sudah lanjut usia. Meski jarak rumah mereka tidak begitu jauh, tapi Mama memang tidak bisa terus menemani ibunya setiap hari karena kesibukan berdagang dan menjaga rumah. Rika dengan senang hati menggantikan Mama untuk itu.

Setiap akhir pekan, Rika akan pulang ke rumahnya untuk melepas rasa kangen dengan Mama dan Papa walaupun kadang harus ditutup dengan pertengkaran kecil antara ia dan adiknya.

Saat itu Rika kuliah semester dua. Akhir pekan ini ia tidak bisa pulang karena ada acara organisasi kampus di luar kota. Rika sangat enggan untuk pergi, tapi tidak bisa tanpanya karena ia sudah mendaftar menjadi peserta kegiatan. Setelah berpamitan, Rika pun pergi.

Sepulangnya dari sana, Rika begitu terkejut mendapat kabar Mama mendapat musibah kecelakaan dini hari saat mengantarkan pesanan ikan untuk katering langganan. Seketika itu juga, tubuh Rika lemas. Tidak ada orang di rumah yang berani memberitahunya karena khawatir Rika cemas dan akan memaksa pulang dari kegiatan organisasinya di luar kota.

Melihat keadaan Mama yang lebam di sana-sini, Rika menahan sesak di kerongkongannya. Beberapa gigi Mama patah, dan lidahnya membiru karena tergigit. Rika hanya bisa melihat Mama dari jauh yang sedang diobati oleh Nenek.

Dalam keheningan malam, Rika terbangun terisak. Ia bersimpuh memohon kesembuhan untuk Mama.

~ ~ ~

Detak detik di jam dinding seperti membeku. Tidak bergerak sedikitpun. Pukul dua malam, Rika terbangun dari tidur. Memandang ke sekeliling kamar kosnya. Ada perasaan aneh di sana. Seperti kembali ke masa lalu saat Mama yang selalu ada untuk Rika. Setia mengantarkan di setiap jenjang pendidikannya.

Rika bangun dan mengambil air wudhu. Ia teringat Mama, yang sering dilihatnya ketika terbangun di tengah malam, bangun di sepertiga malamNya dan menegakkan qiyamul lail.

Melesat dalam ingatannya, Mama yang mengajarkan bacaan niat berpuasa dalam bahasa arab dengan perlahan di atas meja makan ketika Rika kecil pertama kali berpuasa full. Mama yang terbangun dan menyelimuti Rika yang sedang tidur seraya menghalau nyamuk-nyamuk yang menganggu tidurnya, sambil terkantuk-kantuk. Mama yang sedang memasak di dapur untuk menyiapkan dagangan esok hari walau luka-luka di tubuhnya karena kecelakaan belum sembuh benar karena harus membayar kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

Sambil bersimpuh, Rika teringat ketika Mama menyuruhnya makan dengan membiarkan diri sendiri tidak makan dengan berdalih sedang berdiet karena lauk-pauk yang ada tidak cukup untuk semuanya.

Mama yang selama tiga tahun ini berjuang sendirian untuk putri sulung yang dicintainya selepas berpisah dengan Papa. Walau Mama tidak pernah mengucapkan rasa sayang secara langsung, tapi Rika bisa merasakan ketulusan dan kasih sayang darinya.

Ada hari di mana Rika mencuri pandang ke arah Mama yang memunggunginya. Hatinya terenyuh ketika memperhatikan tubuh Mama yang tidak lagi muda. Wajahnya yang tidak lagi sesegar dulu. Rambutnya yang sudah mulai memutih, bahkan ketika Mama menyuruhnya untuk mencabut uban di kepala, Rika tertegun melihat begitu banyak rambut putih di sana hingga ia sendiri bingung harus mulai mencabut darimana.

Hari itu, Mama begitu sibuk menanyakan jadwal wisuda Rika. Sibuk menyiapkan baju apa yang akan dipakai Rika di hari kelulusannya nanti. Alih-alih senang, Rika justru membentak Mama dan pergi keluar rumah. Rika tak sanggup menjelaskan kesulitannya pada Mama hingga meluap emosinya. Hari itu Rika tidak pulang dan memutuskan untuk tinggal jauh dari Mama. 

Mengingat itu semua, Rika menghapus airmatanya yang keluar tanpa henti. Ia telah mengecewakan Mama. Harapan Mama untuk dapat melihat putri sulung yang disayanginya lulus kuliah tepat waktu.

Ya Allah, ijinkan aku untuk membahagiakan Mama. Ijinkan Mama untuk dapat bersamaku hingga aku dapat membahagiakannya. Aku ingin melihatnya tersenyum penuh syukur seperti dulu. Semoga Engkau selalu menjaga dan menyayanginya ketika penjagaanku tidak sampai, “ lirih Rika berdoa.

Di sepertiga malam itu, semesta ikut mengaminkan doanya.

~ ~ ~

Pagi hari di udara yang hangat di pertengahan Oktober. Kicau burung terdengar begitu nyaring. Di salah satu aula yang terdapat di gedung pertemuan ini, sebuah kampus tengah menyelenggarakan acara wisuda untuk mahasiswanya yang telah berhasil menyelesaikan studi. Rika ada di sana. Mengenakan baju toga dengan bangga. Menghadap Mama dan Papa.

Seluruh keluarga datang menemani. Asyik mengambil foto bersama Rika. Adiknya yang jahil, iseng menarik-narik topi toganya yang dibalas jawilan oleh Rika sambil memakaikan topi itu ke atas kepala adiknya yang dua tahun lagi juga akan di wisuda. Waktu berlalu begitu cepat.

Tiba saatnya Rika akan berfoto dengan keluarganya. 

Sebelum itu, Rika mengamit tangan Mama yang sudah berkeriput, tanda kerja keras dan baktinya pada keluarga ini. Rika mencium tangan itu dan memeluk Mama. Sambil berkata, “Mama, ini (wisuda kelulusan) untuk Mama. Terimakasih untuk selama ini. Maafkan kesalahan yang pernah Rika buat. Rika sayang Mama,” Rika menghapus airmata di pipinya. Ini kali pertama baginya memeluk erat Mama sejak ia tumbuh dewasa.

“Mama juga sayang Rika. Makasih, sayang,”

Hari itu, Rika menemukan kembali senyuman yang paling disukainya. Senyuman Mama yang penuh kesyukuran.
~ ~ ~