twitter

Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

 
 (Sumber gambar: ceritacerita-nabi.blogspot.com) 

Tulisan diambil dari buletin "selembar madani" SALAM UI dengan judul yang sama oleh Ust. Gene Netto.

"Dan Tuhanmu berfirman, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyambah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS Ghafir: 60)

Orang muslim berdoa setiap hari kepada Allah SWT dan merasa doa mereka akan didengarkan, tapi tidak selalu memikirkan bagaimana caranya mereka berdoa. Sesudah sholat kebanyakan orang membaca doa dalam bahasa arab, tetapi karena mereka adalah orang indonesia, mereka seringkali "tidak tahu" apa yang mereka ucapkan dan sebatas mengucapkan kata-kata yang diajarkan ke mereka dulu atau sebatas mengucapkan "amin" sebagai makmun, lalu pergi saja.  

Berdoa dalam bahasa arab bukan "salah" karena memang harus dilestarikan. Tetapi ada cara lain untuk mendapatkan hubungan kuat dengan Allah, yaitu berdoa dalam bahasa yang kita pahami, seperti bahasa indonesia, atau bahasa yang lain. Seharusnya bahasa ibu kita menjadi bagian yang utama dalam komunikasi kita dengan Allah. Seharusnya kita mencintai Allah dan mau dicintai. Tetapi bagaimana kita bisa mencintai dan dicintai Allah, kalau tidak paham bahasa yang digunakan di dalam interaksi kita?

Bahasa ibu tersebut bukanlah sebagai "pengganti" doa dalam bahasa arab, tetapi sebagai pelengkapnya.

Setelah kita merasa nyaman berdoa kepada Allah dalam bahasa ibu kita, maka akan menjadi sangat mudah bagi kita untuk berdoa di setiap saat. Kita tidak perlu bertanya paada ustadz "apa doa bahasa arabnya untuk dapat meja makan kosong di food court?" pada saat pergi ke mall, karena kita bisa minta bantuan kepada Allah dalam bahasa indonesia. Ketika kita merasa ada suatu masalah dan dibutuhkan pertolongan Allah, cukup kita berdoa langsung dalam bahasa kita saja. 

Allah adalah "sahabat saya yang paling dekat" yang selalu siap bantu saya 24 jam. Katanya kalau butuh bantuan apa saja, sekecil apapun, langsung minta kepada Allah, dan jangan takut minta terus. Allah Maha Kuasa, Allah Maha Mengatur. Tidak pernah libur, tidak pernah sibuk, dan tidak pernah tidur. Dan kalau ada hamba-Nya yang minta tolong dapat sesuatu, kenapa Allah tidak diperbolehkan membantu?

Setelah bertahun-tahun berdoa seperti itu, saya menemukan suatu fenomena yang aneh. Banyak orang muslim yang dari lahir mengeluh bahwa doa mereka tidak dikabulkan. Saya bingung. Rasanya 80% dari doa saya dikabulkan, kok mereka tidak? Ternyata, masalahnya ada dua. Pertama, mereka hanya berdoa dalam bahasa arab, sesudah shalat, tanpa dipahami, dan setelah itu tidak ada hubungan dengan Allah lagi sampai waktu shalat berikutnya. Kedua, mereka berdoa untuk urusan "besar" seperti rezeki, kesehatan, umur panjang, dan sebagainya, dan tidak berdoa untuk hal-hal kecil, mungkin karena merasa bisa mengurusnya sendiri.

Kalau mau coba sendiri, mungkin yang akan terjadi nanti akan seperti hal "ajaib" yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kapanpun, di manapun, keika butuh bantuan dalam hal apapun, berdoa kepada Allah dan minta bantuan. Berdoa setiap sepuluh menit tidak menajdi masalah bagi Allah. Dia malah senang.

Dalam satu minggu, kita bisa berdoa dalam bahasa arab untuk minta 10 hal-hal besar (rezeki, kesehatan, dll). Lalu dari hal besar itu, mungkin kita dapat 1 atau 2 yang cepat dikabulkan. Tapi bagaimana kalau kita minta bantuan dengan hal-hal "kecil" juga dan minta 1000 kali dalam satu minggu, bukan 10 saja? Misalnya, kita minta bantuan untuk dapat ojek, dapat parkiran, ketemu pensil, beli buah, ambil jemuran sebelum hujan, dapat jalan kosong, dsb. Setiap kali kita merasa akan lebih enak kalau dapat suatu hasil, maka kita bisa minta tolong kepada Allah untuk membantu kita mendapatkan hasil tersebut.

Tapi sering yang terjadi adalah kita mengeluh ke teman, menjadi kesal, dan kadang juga marah karena tidak dapat apa yang diinginkan. Padahal kita sendiri yang tidak melibatkan Allah dalam kegiatan kita. Jadi siapa yang salah? Kita, karena tidak minta bantuan, atau Allah, karena tidak membantu?

Rasulullah SAW bersabda, "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin diterima dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai." (HR Tirmidzi)

Kita harus berdoa dan merasa yakin bahwa Allah selalu siap untuk membantu kita. Tapi kalau kita tidak berdoa, kita tidak akan dapat apa yang diinginkan, dan karena itu menjadi tidak yakin akan dibantu di lain waktu, lalu hasilnya adalah doa kita menjadi sedikit. Sebaliknya, kalau kita berdoa terus setiap hari, dan minta bantuan dengan semua hal kecil juga, dan banyak dari doa itu dikabulkan, maka kita akan terdorong berdoa lebih banyak. Dan kita akan merasakan keajaiban doa secara langsung.

(Just wanna share, pas dapat buletin ini dan baca isinya, benar-benar dapat asupan baru. Semoga juga bisa bermanfaat buat pembaca lainnya ya, ^^)


http://catatan-maul.blogspot.com/2013/12/dengan-siapa-kita-menikah_9.html
Jadi ingat salah satu judul buku yang ada di toko buku pas baca post ini ^_^
"teman dalam penantian"


"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempun-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik" (QS Ali Imran: 14)

itulah sepenggal ayat yang menyatakan bagaimana kehidupan dunia dijadikan terasa indah dalam benak manusia. Ini mengawali ceramah yang disampaikan oleh ustadzah Rani sore itu. Beliau menyampaikan, seorang wanita, dari depan maupun dari belakang, syaitan akan menjadikannya tampak indah di pandangan laki-laki mukmin sekalipun apalagi laki-laki yang tidak beriman. Bisa dibayangkan ga? Apa yang dipikirkan oleh para laki-laki yang bukan muhrim kita bila melihat kita tidak berpakaian dalam ketaatan kepada Allah dengan menutup aurat? Na'udzubillahi min dzalik.

"Seorang lelaki banci masuk menemui istri-istri nabi, mereka menganggap lelaki banci itu termasuk 'lelaki yang tidak punya keinginan kepada kaum wanita' yang tersebut dalam ayat. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam lalu datang menemui kami sementara lelaki banci itu tengah menceritakan lekuk tubuh seorang wanita, katanya jika wanita itu dilihat dari depan akan tampak empat lekukan, jika dari belakang akan tampak delapan lekukan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Aku lihat lelaki ini tahu apa yang ada di dalam sini, janganlah ia dibiarkan masuk menemui kalian!" Merekapun berhijab darinya.
(H.R Abu Dawud dan lainnya) (sumber:http://www.islam-qa.com/id/2198)

Makna tabarruj adalah perilaku wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki. Nah, yang dimaksud perhiasan di sini bukanlah gelang berjuntai-juntai yang wanita kenakan, atau berkarat-karat cincin dan kalung yang melingkar tapi perhiasan wanita itu adalah seluruh bentuk tubuhnya. Karena itu Allah SWT memuliakan wanita dengan perintah untuk menutup aurat kecuali wajah dan kedua tapak tangan.

Sempet makjleb juga ketika mendengar ustadzah Rani bilang, "coba pikirkan, memangnya siapa yang membuat gelang, kalung, cincin, dan anting itu? bukan wanita kan yang membuatnya. Tapi para pria yang membuatnya. Mereka membuat kalung agar dapat melihat leher jenjang dan bagian dada wanita, mereka membuat gelang untuk melihat tangan dan kaki indah para wanita. Pun mereka membuat anting agar dapat melihat lekukan telinga wanita. Hiiy.. serem banget. Merinding dengernya. :(

Hal ini juga termasuk "memamerkan" keindahan baju yang kita kenakan. Atau memakai baju yang menarik perhatian laki-laki bukan mahram kita untuk melihatnya. Untuk ukhti-ukhti cantik yang sudah mengenakan jilbab pun tetap harus waspada. Untuk selalu memperbaiki cara berpakaiannya. Jilbab yang tidak transparan, baju yang tidak ketat atau ngepas di badan hingga menonjolkan lekuk tubuh. Juga panjang kain uluran jilbab yang harus mampu menutupi dada. Berpakaian dengan padu padan sangat boleh, bahkan diharuskan sebagai bagian dari dakwah. Tapi berpakaianlah dengan kebersahajaan. Itu kuncinya.

Satu lagi yang disoroti Ustadzah Rani di sini, mengenai perhiasan "suara". Ada banyak pendapat dan polemik mengenai suara wanita adalah aurat. Beliau pernah bertanya pada salah satu ulama, bagaimana itu yang termasuk suara wanita yang bukan aurat? seperti apa batas-batasnya? dan ini jawabannya. Suara yang datar, tidak meliuk-liuk, tidak mendayu, dan tidak mendesah. Ketika ditanya siapa contohnya, beliau mengungkapkan, seperti cara berbicara Irene Handono. Datar dan tegas. Tidak akan menimbulkan lelaki lain yang bukan mahram untuk tergoda/tertarik.

Ustadzah Rani menyampaikan, bila ada ungkapan yang mengatakan "tetap terlihat cantik dengan berhijab" ungkapan tersebut salah. Justru dengan hijab para wanita seyogyanya menutupi kecantikan natural dari dirinya, yang kemudian dijaga dan disimpan untuk seseorang yang kelak berhak atas kecantikan tersebut. Hm... pikir-pikir lagi jadinya. Harus banyak-banyak tholabul ilmi ya.

Renungkan ayat berikut: "(33) Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dulu, dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan RasulNya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya,
(35) Sungguh, laki-laki dan perempuan muslin, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-aki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahal yang besar" (QS Al Ahzab: 33 dan 35)

Ada pula istilah tabarruj jahiliyah yakni kondisi dimana wanita-wanita yang berkumpul dengan laki-laki dan bersolek, ini adalah hal yang dilakukan oleh orang-orang di jaman jahiliyah dulu saat cahaya Islam belum datang kepadanya. Selain itu terdapat pula dikisahkan, Para perempuannya mengenakan kerudung/penutup kepala tapi masih terlihat bagian dadanya. Sungguh ironi ya, betapa banyak kita masih dapat menemukan fenomena seperti ini di dalam masyarakat kita. :(

Berikutnya tentang ikhtilat. Ikhtilat adalah bercampurnya perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim dalam sebuah momen atau forum yang tidak dibenarkan oleh islam. Hati-hati dengan yang satu ini juga. Bisa-bisa karena sering ngumpul bareng, jalan bareng dengan embel-embel "kebersamaan" jadi membuat tumbuhnya perasaan yang tidak seharusnya ada di antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim.

Well, sekali lagi, memiliki perasaan menyukai seseorang itu adalah fitrah manusia. Nah, Al quran dan sunnah serta keimanan kitalah yang menjadi benteng atas semua tarikan yang menggoda itu. Sampai nanti tiba saatnya, dimana semuanya menjadi halal dengan orang yang sudah dipilihkan Allah untuk menjadi pendamping hidup kita. Romantis khan??? (^_<)

Dalam melakukan aktivitas yang mengharuskan pertemuan antara laki-laki dan perempuan ini sebaiknya dibatasi dengan tabir di antara keduanya. Atau bila tidak ada maka dipisahkan dengan jarak dan penataan tempat duduk. Memang sedikit merepotkan ya, tapi ini semua untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan kalian para muslimah ^_^



Ini beberapa bahaya bila ber-tabarruj dan ikhtilat:
1. Tabarruj dan ikhtilat adalah maksiat kepada Allah dan RasulNya.
2. Termasuk dosa besar. Hal ini disejajarkan dengan membunuh anak sendiri, berbohong, mencuri, berzina, terdapat dalam salah satu hadits Rasulullah. Sebab pintu-pintu zina adalah tabarruj dan ikhtilat. ya kan?
3. Mendatangkan laknat Allah SWT.
4. Tabarruj termasuk sifat penghuni neraka.
5. Ia adalah bentuk kemunafikan dan akan mendatangkan azab Allah SWT
6. Tabarruj dan ikhtilat sunnah Iblis. "Wahai anak cucu Adam! janganlah sampai kamu tertipu oleh- setan-setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan pakaian keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS Al A'raf: 27).
7. Tabarruj dan ikhtilat mengundang siksaan Allah SWT.

Semoga kita tetap dapat istiqomah menjalankan perintah Allah dan RasulNya. Semua aturan serta batas-batas yang dibuat olehNya tidak untuk menyusahkan manusia. Justru semua itu dibuat untuk memuliakan dan menjaga kehormatan manusia. :)


1. Hari Senin dan Kamis
Apa saja keistimewaannya?
- Hari diperiksanya amal manusia
Dari Abu Hurairah Radhilallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ
Diperiksa amal-amal manusia pada setiap Jumat (baca: setiap pekan) sebanyak dua kali; hari senin dan hari kamis. (HR.  Muslim No. 2565)
- Hari dianjurkannya puasa
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Amal-amal manusia diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya suka ketika amal saya diperiksa saat saya sedang berpuasa. (HR. At Tirmidzi No. 747, katanya: hasan gharib. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 747)
- Hari dibukanya pintu-pintu surga dan diampunkannya hamba
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka saat itu akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim No. 2565, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 411, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6626)
- Senin adalah hari lahir, hari wafat, dan hari diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menerima wahyu pertama
Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ
Nabi ditanya tentang hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa dia ditanya:
أَيِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ
Hari apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat? Beliau menjawab: “Hari senin.”(HR. Bukhari No. 1387)
- Kamis adalah hari yang nabi sukai untuk bepergian
Dari Ka’ab bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:
ان رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا أراد أن يسافر لم يسافر الا يوم الخميس
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika hendak safar, Beliau tidak bersafar melainkan pada hari kamis.(HR. Ahmad No. 27178. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27178)
- Kamis adalah hari disebarkannya Ad Dawwab (hewan)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ
Allah membanyakkan Ad Dawwab di bumi pada hari Kamis.(HR. Muslim No. 2789)
2. Hari Jumat
Apa saja keistimewaannya?
-  Dijelaskan dalam riwayat berikut lima keutamaannya:
عَنْ أَبِي لُبَابَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُنْذِرِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيَاحٍ وَلَا جِبَالٍ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا وَهُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ
Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah, dan dia lebih agung di sisi Allah dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri. Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah menciptakan Adam, pada hari itu Allah menurunkan Adam ke bumi, pada hari itu Allah mewafatkan Adam, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu  terjadinya  kiamat. Tidaklah malaikat muqarrabin, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jumat.”(HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279)
- Dianjurkan membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat:
عن ابي سعيد الخدري ان النبي صلى الله عليه وسلم قال مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
Dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jumat, maka dia akan disinari oleh cahaya sejauh di antara dua Jumat.” (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra  No. 5792, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 3392, katanya: shahih. Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6470)
- Dibebaskan dari fitnah kubur bagi yang wafat pada malam Jumat dan hari Jumat  
Dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ
Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jumat atau malam Jumat, melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah kubur. (HR. At Tirmidzi No. 1073, Ahmad No. 6582, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 277)
Syaikh Al Albani Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Dikeluarkan oleh Ahmad (6582-6646) melalui dua jalan dari Abdullah bin Amr, dan oleh At Tirmidzi melalui salah satu dari dua jalur, dan hadits ini memiliki syawahid (beberapa penguat) dari jalur Anas, Jabir bin Abdullah, dan selain keduanya. Maka, hadits ini dengan kumpulan semua jalurnya adalah hasanatau shahih.” (Lihat Ahkamul Jazaiz, Hal. 35)
Selain disebutnya Senin, Kamis, dan Jumat, disebutkan pula oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa semua hari yang tujuh memiliki peristiwanya sendiri.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِي فَقَالَ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ وَخَلَقَ فِيهَا الْجِبَالَ يَوْمَ الْأَحَدِ وَخَلَقَ الشَّجَرَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَلَقَ الْمَكْرُوهَ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ وَبَثَّ فِيهَا الدَّوَابَّ يَوْمَ الْخَمِيسِ وَخَلَقَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَام بَعْدَ الْعَصْرِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فِي آخِرِ الْخَلْقِ فِي آخِرِ سَاعَةٍ مِنْ سَاعَاتِ الْجُمُعَةِ فِيمَا بَيْنَ الْعَصْرِ إِلَى اللَّيْلِ
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang tangku lalu bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu, dan menciptakan padanya gunung-gunung pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan sesuatu yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan melata pada hari Kamis, menciptakan Adam ‘Alaihissalam setelah Ashar pada hari Jumat, di akhir penciptaan pada akhir waktu-waktu Jumat antara Ashar menuju malam. (HR. Muslim No. 2789)
3. Hari ‘Asyura (9 dan 10 Muharram)
Berikut ini keistimewaannya:
Hari diselamatkannya Nabi Musa ‘Alaihissalam dan Bani Israel dari kejaran Fir’aun dan tentaranya
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:
قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة فرأى اليهود تصوم عاشوراء.
فقال: ” ما هذا؟ ” قالوا: يوم صالح، نجى الله فيه موسى وبني السرائيل من عدوهم، فصامه موسى فقال صلى الله عليه وسلم: ” أنا أحق بموسى منكم ” فصامه، وأمر بصيامه
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).”(HR. Muttafaq ‘Alaih)
- Hari dianjurkannya berpuasa
Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
وَصَوْمُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Dan berpuasa ‘Asyura, sesungguhnya saya menduga atas Allah bahwa dihapuskannya dosa setahun sebelumnya.” (HR. Abu Daud  No. 2425, Ibnu Majah No. 1738. Syaikh Al Albani mengatakan shahih dalam Al Irwa, 4/111, katanya: diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Al Bukhari dan At Tirmidzi Shahihul Jami’ No. 3806)
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah –setelah merangkum semua dalil yang ada tentang puasa ‘Asyura:
وعلى هذا فصيام عاشوراء على ثلاث مراتب : أدناها أن يصام وحده ، وفوقه أن يصام التاسع معه ، وفوقه أن يصام التاسع والحادي عشر والله أعلم .
“Oleh karena itu, puasa ‘Asyura terdiri atas tiga tingkatan: 1. Paling rendah yakni berpuasa sehari saja (tanggal 10). 2. Puasa hari ke-9 dan ke-10. 3.  Paling tinggi   puasa hari ke-9, 10, dan ke-11. Wallahu A’lam” (Fathul Bari, 6/280. Lihat juga Fiqhus Sunnah, 1/450)
4. Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15 tiap bulan Hijriyah)
Ayyamul bidh artinya hari-hari yang putih terang, karena saat itu hari di waktu bulan sedang purnama. Ini juga hari-hari istimewa dalam Islam.
Saat itu dianjurkan bagi kita untuk berpuasa
Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:
أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
Kekasihku (Nabi) Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat kepadaku tiga hal: berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dua rakaat ketika Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.(HR. Bukhari No. 1981, Muslim No. 721. Lafaz ini adalah milik Bukhari)
Kapankah tiga hari itu? Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُومَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kami untuk berpuasa dalam satu bulannya sebanyak tiga hari, ayyamul bidh: tanggal 13, 14, dan 15.(HR. An Nasa’i No. 2422, 2423, lihat juga dalam As Sunan Al Kubranya An Nasa’i No. 2730, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3848, Ibnu Hibban No. 943, lihat Mawarid Azh Zham’an. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No.673)
- Nilai puasanya sama seperti puasa Ad Dahr (sepanjang tahun)
Dari Jarir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda:
صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
Berpuasa tiga hari setiap bulannya, adalah puasa sepanjang tahun, dan hari ayyamul bidh yang terang benderang itu adalah pada hari 13, 14, dan 15. (HR. An Nasa’i No. 2420. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam At Ta’liq Ar Raghib, 2/84)
5. Hari Idul Fitri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijah)
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda ketika hari Id:
إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا
“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.”  (HR. Bukhari No. 952, Muslim No. 892)
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:
كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى
“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dia bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya,  yakni hari Fithri dan hari Adha.”  (HR. An Nasa’i No. 1556, lihat juga As Sunan Al Kubra No. 1755)
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan hadits ini sanadnya shahih.   (Fathul Bari, 3/371). Syaikh Al Albani juga menshahihkannya. (Ash Shahihah No.2021)
Dua hari raya inilah hari bagi umat Islam untuk bersenang-senang dan bermain, sebagaimana yang nabi alternatifkan dalam hadits Anas bin Malik di atas.
6. Enam hari di Bulan Syawwal
Pada enam hari di bulan Syawwal kita dianjurkan untuk berpuasa setelah kita menunaikan puasa Ramadhan. Keutamaannya adalah senilai dengan puasa setahun penuh.
Dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.” (HR.  Muslim  No. 1164, At Tirmidzi  No. 759, Abu Daud  No. 2433, Ibnu Majah No. 1716, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2866, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8214, dan As Sunan As Shaghir No. 1119, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 3908, 3909, 3914, 3915, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 228, Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 1945, Al Baghawi dalam Syarhus SunnahNo. 1780)
Kapankah enam hari Syawwal itu? Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:
وَاخْتَارَ ابْنُ الْمُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةَ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ
Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)
Syaikh Sayyid Sabiq -Rahimahullah rahmatan waasi’ah- berkata:
وعند أحمد: أنها تؤدى متتابعة وغير متتابعه، ولا فضل لاحدهما على الاخر. وعند الحنفية، والشافعية، الافضل صومها متتابعة، عقب العيد.
Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)
Syaikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah mengatakan:
وهذا الفضل لمن يصومها فى شوال ، سواء أكان الصيام فى أوله أم فى وسطه أم فى آخره ، وسواء أكانت الأيام متصلة أم متفرقة ، وإن كان الأفضل أن تكون من أول الشهر وأن تكون متصلة . وهى تفوت بفوات شوال .
Keutamaan ini adalah bagi yang berpuasanya di bulan Syawal, sama saja apakah di awalnya, di tengah, atau di akhirnya, dan sama pula apakah dengan hari yang berturut atau dipisah-pisah. Hanya saja lebih utama di awal bulan dan secara bersambung. Anjurannya berakhir jika sudah selesai bulan Syawal.  (Fatawa Darul Ifta Al Mishriyah, 9/261)
7. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah
Disebutkan dalam Al Quran:
وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)
Demi fajar, dan malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr (89): 1-2)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:
والليالي العشر: المراد بها عشر ذي الحجة. كما قاله ابن عباس، وابن الزبير، ومجاهد، وغير واحد من السلف والخلف.
(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)
Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. (Ibid)  yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.
Keutamaannya pun juga disebutkan dalam As Sunnah, bahwa ibadah saat itu senilai dengan mati syahid. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ
“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.” Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?” Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun (mati syahid).”(HR. Bukhari No. 969)
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari “pada hari-hari ini” adalah sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Lihat Syaikh Sayyid Ath Thanthawi, Al Wasith, 1/4497. Mawqi’ At Tafasir)
8. Hari ‘Arafah (9 Dzulhijah), Hari penyembelihan qurban – Idul Adha (10 Dzulhijah), dan hari-hari taysrik (11,12,13 Dzulhijah)
Hari-hari ini dengan tegas oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut sebagai ‘iduna (hari raya kita).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
Hari ‘Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk Islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)
9. Tanggal 17 Ramadhan
Pada tanggal ini ada dua peristiwa istimewa yang terjadi sebagaimana disebutkan dalam Al Quran, yakni perang Badar (disebut dengan yaumul furqaan dan yaumut taqal jam’an – hari bertemunya dua pasukan) dan turunnya Al Quran, disebut dengan wa maa anzalnaa ‘ala ‘abdinaa (dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami).
Allah Ta’ala berfirman
و اعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آَمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Anfal (8): 41)
Imam Ibnu Jarir Rahimahullah meriwayatkan demikian:
قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة “الفرقان يوم التقى الجمعان”، لسبع عشرة من شهر رمضان.
“Berkata Al Hasan bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu: Adalah ‘malam Al Furqan hari di mana bertemunya dua pasukan’ terjadi pada 17 Ramadhan.” (Jami’ Al Bayan, 13/562. Muasasah Ar Risalah)
10. Lailatul Qadar
Malam ini terjadi pada sepuluh malam terakhir, kemungkinannya pada malam-malam ganjil sebagaimana telah diketahui bersama.  Keistimewaan malam ini diterangkan dalam Al Quran:
{ إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنزلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5) }
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr (97): 1-5)
Ada banyak keutamaan Lailatul Qadar, di sini kami sebutkan dua saja:
Pertama, malam turunnya Al Quran. Lalu bagaimana dengan 17 Ramadhan? Bukankah juga waktu diturunkannya Al Quran? Dan bukankah keduanya merupakan waktu yang berbeda?
Maka untuk mentaufiq (kompromi) antara dua keterangan ini (Lailatul Qadar dan 17 Ramadhan), sebagian ulama mengatakan Al Quran diturunkan dua kali tahap. Tahap pertama diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah  di langit dunia pada Lailatul Qadar secara langsung, tahap selanjutnya,  diturunkan dari langit dunia ke kehidupan manusia secara bertahap selama hampir 23 tahun, yang diawali pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Inilah pendapat Ibnu Abbas.  Dengan demikian antara dua ayat ini tidak ada pertentangan sama sekali, justru saling mendukung. Inilah pendapat yang benar.
 Berkata Imam Ibnu Jarir tentang surat Al Qadar ayat 1:
إنا أنزلنا هذا القرآن جملة واحدة إلى السماء الدنيا في ليلة القَدْر
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran ini secara satu kesatuan menuju langit dunia pada Lailatul Qadar.”
Beliau mengutip dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma:
نزل القرآن كله مرة واحدة في ليلة القدر في رمضان إلى السماء الدنيا، فكان الله إذا أراد أن يحدث في الأرض شيئًا أنزله منه حتى جمعه.
“Seluruh Al Quran diturunkan  sekali turun pada  Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan menuju langit dunia, jika Allah hendak ‘berbicara’ sesuatu di bumi Dia menurunkannya sampai semuanya (lengkap).”
Beliau juga mengatakan:
نزل القرآن في ليلة من السماء العليا إلى السماء الدنيا جملة واحدة، ثم فُرِّق في السنين، وتلا ابن عباس هذه الآية:( فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ ) قال: نزل متفرّقا.
“Allah menurunkan Al Quran pada malam (Al Qadar) dari langit paling tinggi menuju langit dunia dalam satu kesatuan, lalu membaginya dalam waktu bertahun-tahun.” Lalu, Ibnu Abbas membaca ayat:   “Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Quran.” Artinya: Al Quran turun secara terbagi-bagi.
Asy Sya’bi Rahiallahu ‘Anhu mengatakan:
نزل أول القرآن في ليلة القدر.
“Allah menurunkan Al Quran pertama kali pada Lailatul Qadar.”
Dari Asy Sya’bi juga:
بلغنا أن القرآن نزل جملة واحدة إلى السماء الدنيا
“Telah sampai kepada kami bahwa Al Quran diturunkan dalam satu kesatuan ke langit dunia. (lihat semua dalam   Jami’ Al Bayan, 24/531-532)
Kedua, nilai Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.
Imam Mujahid Rahimahullah berkata tentang ayat tersebut:
عملها وصيامها وقيامها خير من ألف شهر.
“Amal pada malam itu, puasanya, dan qiyamul lailnya, lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.”
Imam Mujahid juga menjelaskan:
كان في بني إسرائيل رجل يقوم الليل حتى يصبح، ثم يجاهد العدوّ بالنهار حتى يُمْسِيَ، ففعل ذلك ألف شهر، فأنزل الله هذه الآية:( لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ) قيام تلك الليلة خير من عمل ذلك الرجل.
“Dahulu pada Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga pagi hari, kemudian dia pergi jihad melawan musuh pada siang harinya hingga sore, dan dia melakukan itu hingga seribu tahun. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini: (Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan), qiyamul lail pada malam itu lebih baik dibanding amal laki-laki tersebut.” (Ibid)
Sementara Amru bin Qais Al Mala’i Rahimahullah berkata:
عملٌ فيها خير من عمل ألف شهر.
“Amal pada malam itu (nilainya) lebih baik dari amal seribu bulan.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Quran,  24/ 533)



Hari ini dapat dua cerita hikmah tentang "persepsi", check this out...

Pernah membaca atau mendengar kisah tentang Abu Nawas, putranya, dan seekor keledai? Suatu ketika Abu Nawas dan putranya sedang berjalan di pasar dengan keledai yang mereka miliki. Pada Awalnya Abu Nawas-lah yang menaiki keledai tersebut, lalu kumpulan orang pertama yang melewati dan melihat hal itu, mengatakan bahwa Abu Nawas adalah ayah yang buruk karena membiarkan putranya kelelahan menuntun jalan keledai sementara ia sendiri asyik duduk di atas keledai tersebut. Maka turunlah Abu Nawas dan  menyuruh anaknya untuk gantian duduk di atas keledainya. 

Mereka pun meneruskan perjalanan, lalu bertemu kembali dengan kumpulan orang kedua. Mereka mencemooh Putra Abu Nawas karena membiarkan Sang Ayah yang sudah tidak muda lagi berjalan kaki menuntun keledai yang ia naiki. Mendengar hal itu, maka turunlah Sang Putra dan bersama Sang Ayah menuntun keledai tersebut. 

Tiba di suatu tempat, kumpulan orang ketiga yang melihat keledai yang kosong tanpa penghuni itu menertawai Abu Nawas dan putranya karena begitu bodoh tidak menunggangi keledai tersebut yang memang di masa itu diperuntukkan untuk membawa penumpang atau barang-barang. Maka sudah bisa ditebak kan? Lagi-lagi mendengar tertawaan tersebut, Abu Nawas dan Putranya bersama-sama menunggangi keledai tersebut untuk meneruskan perjalanan. 

Namun di tengah jalan, mereka bertemu lagi dengan kumpulan orang keempat yang mencaci maki kedua Ayah dan anak itu habis-habisan karena dianggap tidak ber"peri-kebinatangan" atau ber"peri-kehewanan". Dan mereka berdua pun turun dari atas keledai tersebut. Begitulah seterusnya berulang-ulang. 

Jadi kawan, memantaskan diri dengan "pandangan" atau "standar" atau "nilai" orang lain tidak akan ada habis-habisnya. Selalu terdapat cela di sana dan yang ada jadi capek sendiri kan? kasihan Abu Nawas dan putranya :). Alangkah indah apabila kita memantaskan diri dengan nilai-nilai yang sudah Allah tetapkan melalui tauladan Rasul-Nya, firman-Nya dalam Al-Qur'an, dan petunjuk Rasulullah dalam sunnah.

Kisah hikmah yang kedua...
Alkisah, di suatu tempat sedang ada pembangunan masjid. Seorang anak kecil tengah berlari-larian dan bermain dengan girang di sana. Ketika melihat seorang bapak tukang di dekatnya, ia pun bertanya, "Bapak lagi ngapain?. Sang Bapak yang ditanya pun menjawab, "Bapak sedang mengaduk semen, Dik," Jawaban yang diberikan begitu singkat dan sederhana sesuai dengan apa yang sedang ia kerjakan.

Anak itu pun berlarian lagi dan bertemu dengan bapak tukang yang kedua, "Bapak lagi ngapain?" tanyanya. Bapak yang ditanya menjawab, "Bapak lagi mencari nafkah, Dik, supaya bisa membeli beras dan menyekolahkan anak Bapak". Jawaban yang diberikan Bapak ini lebih panjang dan agak rumit (untuk ukuran seorang anak kecil). 

Mendengar jawaban Bapak yang kedua, Si Anak pun berlalu pergi dan mendekati bapak tukang yang ketiga dan melontarkan pertanyaan yang sama. Bapak tukang ketiga menjawab, "Bapak sedang membangun mesjid, Dik," jawaban yang diucapkan lebih rumit lagi dan luas. 

Dan tibalah Si Anak bertanya kepada bapak tukang yang terakhir, "Bapak lagi ngapain, sih?" Sang Bapak tukang yang ditanya pun menoleh, tersenyum, dan menjawab, "Bapak sedang membangun sebuah tempat yang akan menjadi cikal bakal peradaban islam, Dik,"

Subhanallah, pertanyaan yang sama namun empat jawaban yang berbeda yang menunjukkan sudut pandang orang yang mengartikan pekerjaan yang sedang mereka lakukan. Kelihatannya sepele bukan? cuma ngaduk semen, tapi bapak tukang keempat mampu melihat pekerjaan yang dilakukannya jauh ke depan dan alhasil melakukan pekerjaan tersebut dengan kebanggaan. Jadi gak ada pekerjaan yang remeh temeh kan di dunia ini? semuanya punya peran masing-masing jika kita mampu melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan pemahaman yang utuh.

Petugas pembersih sampah misalnya, jangan menyebut mereka sebagai "tukang sampah" justru merekalah yang memungut dan membersihkan sampah dari para "tukang sampah" sebenarnya, :) Dalam salah satu buku fiksi anak-anak yang pernah saya baca (judulnya "MOMO"), penulis cerita tersebut menuturkan "bahkan jika perlu, sekalipun ia adalah petugas penyapu jalanan, menyapulah laiknya Michael Angelo yang sedang memahat karyanya". 

Indah bukan jika kita mampu mengubah sudut pandang ke visi yang lebih baik ^_^ 


"Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Ia memerintahkan kepada para Rasul. Allah swt. berfirman, 'Hai para Rasul, makanlah segala sesuatu yang baik dan lakukanlah pekerjaan yang baik.' (QS. Al-Mukminun:51) Allah swt. juga berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik dari yang telah Kami rezekikan kepadamu,' (QS. Al-Baqarah:172)
Kemudian Rasulullah bercerita tentang seseorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia menadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, 'Ya Rabb, ya Rabb,' sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan perutnya kenyang dengan barang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan," (HR. Muslim)

Dari hadits di atas, dapat dijelaskan:
1. Sesungguhnya Allah swt. itu Maha Baik, maka hanya menerima yang baik. Di sini termasuk amal perbuatan, dan makanan yang dimakan haruslah halal.

2. Syarat amal perbuatan diterima Allah swt. adalah, :
- Makanan yang dimakan halal, QS Al-Baqarah:172. 
Makanan haram yang dimakan dapat menjadi penggugur amal. Ada testimoni, bahwa menemukan makanan yang halal di luar negeri itu jauh lebih mudah daripada di negeri sendiri. Ini karena di sana sudah ada halal guide dari lembaga sejenis MUI setempat. Kita harus berhati-hati dalam memilih makanan, terutama makanan yang belum ada label sertifikasi "halal" dari MUI dan jenis makanan lain yang ada indikasi atau dikhawatirkan mengandung zat yang haram. Buat  jaga-jaga, bisa gabung di grup atau milis yang membahas tentang makanan halal, seperti halal corner. Dan yang terpenting adalah baca "bismillah" sebelum makan untuk melindungi diri dari hal-hal yang belum kita tahu. Ini untuk jenis makanan kakilima pinggir jalan ya, tapi kalo di tempat makan yang memang jelas/masih ada kekhawatiran tentang kehalalannya jangan lantas menggampangkan dengan membaca bismillah...

3. Makanan yang tidak halal dapat menjadi perusak amal.

4. Seorang muslim berlepas diri dari harta yang haram. 
-  Doa yang dikabulkan Allah swt, adalah:
1) orang yang lama bepergian. Kenapa? hal ini dikarenakan, dalam bepergian sangat mungkin adanya penderitaan ketika melakukan perjalanan. Seperti rasa lelah, dan lapar. Apalagi buat mereka yang harus merantau ke pulau seberang bahkan mungkin ke negeri orang yang berbeda bahasa dan budaya sehingga membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah. Mungkin saja akan terdapat ujian dalam bergaul, dalam ekonomi, dsb. Contoh sederhana dari ini adalah para musafir.
 
2) Dalam pakaiannya, bersikap sederhana (zuhud). Kita cek bareng-bareng yuk apakah pakaian yang kita kenakan dalam berdoa adalah pakaian yang didapat dengan cara yang halal? ataukah ada dari sesuatu yang melekat dari diri kita yang berasal dari sumber atau zat yang haram.

3) Menadahkan tangan ke langit. Ini merupakan salah satu adab dalam berdoa. Sesungguhnya Allah senang dengan seorang mukmin yang berdoa kepadanya, Dan Allah malu apabila ada dari hambaNya yang menadahkan tangan berdoa padanya tapi ia kembali dengan nihil (tidak mendapat apa-apa). Jadi yuk kita berlomba-lomba berdoa pada Allah dengan penuh kekhusyuan ^_^. Berdoa juga menunjukkan bahwa kita tidak memiliki kuasa apapun atas diri kita dan ada Dzat lain yang Maha Kuasa dari kita.

4) Mendesah kepada Allah agar doa dikabulkan. Doa itu seperti "sum-sum" ibadah. Sum-sum itu gimana sih? dia bagian yang paling bergizi kan. Nah, seperti itulah doa. Doa adalah senjatanya orang mukmin. Yuk kita luangkan waktu untuk berdoa padanya, baik di saat sempit maupun di saat lapang.

-Yang menghalangi doa dikabulkan:
1) Makanan dan pakaian yang haram   
Untuk membersihkan diri dari harta, di dalam Al-Qur'an sudah tertera caranya. Yakni dengan berzakat, infak, dan shadaqoh. Berinfaklah dengan harta yang halal. Ketika kita menemukan uang misalnya, jangan langsung diambil. Sedekahkan uang itu bila tidak memungkinkan bagi kita untuk menemukan pemilik dari uang tersebut. Atasnamakan infak itu untuk si pemilik uang yang kehilangan. ^_^ Juga hindari berinfak dengan utang karena akan menimbulkan masalah baru. 

Semoga bermanfaat.. 
(Sumber: Buku Al Wafi', Syarah Hadits Arba'in. Penerbit: Pustaka Al Kautsar)