twitter

Tampilkan postingan dengan label azalea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label azalea. Tampilkan semua postingan

Aih~ akhir akhir ini lagi terbawa perasaan dengan drama korea descendants of the sun (≧ω≦) kalau udah nonton satu episode rasanya sulit banget buat move on dari sihir auranya kapten yoo shi jin dan kisah cintanya dengan dr. kang mo yeon. Dan kisah cinta dari second lead male Sersan mayor yang diperankan sama aktor Jin Goo dan second lead female nya yang diperanin sama aktris Kim Ji Won juga kuat banget. Jarang ada drama korea yang bisa begini. Salut banget buat penulis dramanya. Bisa buat cerita yang begitu menghipnotis. Baca dari beberapa sumber, katanya drama ini diangkat based on novel yang pernah ditulis sama penulis skenarionya. Tapi di novel itu yang menjadi dokternya justru adalah yoo shi jin. Di twist sampai sebegini cerita filmnya benar-benar luar biasa dan rasanya jadi berbeda banget. Dan baru kali ini aku lihat viewers ost drama korea yang masih tayang udah melewati 1M viewers di situs resminya di youtube, daebak!! boleh dibilang semua ost nya ini pas banget dengan jalan ceritanya, kesannya ''ngena''. Dan setiap dengerin, bayangan scene filmnya just showed up di kepala, hihi.. mungkin ini aku yang terlalu berlebihan ya ( *¯ ³¯*) gak percaya? Coba dengerin satu aja lagu ost nya. You are my everything by Gummy. Dijamin meleleh, (^^♪anyway drama ini masih on air. Update setiap Rabu dan Kamis di KBS korea. Semoga endingnya memuaskan (^-^) kalau mau nonton di Indonesia bisa banget kok. Banyak website yang nawarin streaming film ini. Atau di channel kbsworld official yang on air juga ada, tapi ga sesuai jadwal tayangnya, delay. selamat menonton (dan tersihir*upss!)


Wind chime atau furin atau lonceng angin adalah salah satu benda yang ada dalam wishlist-ku. Karena menonton anime aria the series karyanya kozue amano sensei, jadi kepikiran ingin punya furin juga untuk dipasang di depan rumah.
Mendengarkan suara dentingannya saat angin menggoyangkannya pelan. Ah~ membayangkannya saja sudah membuat senang. Tapi bukan hal yang mudah mencari lonceng angin seperti itu. Suara lonceng yang akan mendinginkanmu saat udara panas menyengat. Daaan... setelah penantian panjang, hehe... akhirnya wishlist-ku. terwujud. Dan kutemukan furin ini di convenient store daiso di kota kasablanka.. ヾ(*´∀`*)ノ やった~ akhirnya kesampaian juga. Furin, lonceng angin dengan bahan kaca dan lukisan bunga amarilis di atasnya. Aih.. kawaii banget (//∇//). Berhubung di rumahku tidak ada jendela yang bisa terbuka lebar, furin itu kini menggantung manis di depan pintu kamar, hehe.. lumayan juga sesekali mendengar suara dentingnya pas ada angin kencang yang bikin pintu kamar ikutan kebanting, ups! Oia, furin ini di daiso harganya 25rb saja. Kalau memikirkan sulitnya mendapatkan benda ini, harga segitu akan bisa diterima siapapun, (aku maksudnya.red) hehe.. (´O`)


Siang hari ini, saat aku pulang aku tidak menemukan nenek. Yang ada hanya pintu rumah yang terbuka lebar seperti biasanya dan aki yang senantiasa duduk di kursi favoritnya di dekat pintu masuk rumah. Selesai mengucap salam keras keras, deruman suara perut yang sudah tidak tertahankan lagi menuntun kakiku melangkah cepat ke dapur. Tapi sedari awal tadi memang ada bau aneh menyengat yang tercium dari dalam rumah. Mirip sesuatu yang dibakar. Dan benar saja, di tempat cucian piring ada dandang nasi yang berisi sisa nasi berkerak hitam pun bawah dandangnya tidak kalah hitamnya, hihi.. sudah pasti nenek lupa sedang memasak nasi dan lupa mematikan kompornya. Fiuh.. melihat sekeliling syukurlah selain dandang itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal seperti ini kadang memang membuat kelucuan tapi rasa khawatir juga. Kalau sudah begini hanya bisa berharap hal yang buruk tidak akan terjadi.
Esok paginya saat bangun pagi, aku menemukan sebuah kertas putih ditempel di atas kasa dapur dengan tulisan di atasnya. Nenek, gumamku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


Dari radio kayu tua, mengalun merdu lagu yang dulu kami nikmati bersama. Padang hijau, langit berbintang, terbit matahari, semua bersamanya. Aku penasaran, apakah ia juga melihat yang kini kulihat? Bulan keemasan yang bersinar terang dan satu bintang kecil yang selalu menemaninya. Suatu waktu, saat bersama, kutuliskan sebuah surat untuknya. Lagu di hati yang akan terus berulang. Menyanyikan bait-bait lagu yang sama. Lagu yang kusuka. Lagu yang mengingatkanku kepadanya. Lagu yang ku senandungkan dengan perlahan dan rahasia. Senyumannya terbayang saat chorus tiba. Satu lagu yang kusuka. Ketika kulupa tentangnya, lagu yang kusuka akan membawa kembali memori tentangnya. Surat yang pernah kutuliskan untuknya. Selamanya, mungkin ia tak akan membacanya. Surat yang suatu hari nanti ingin kutunjukkan padanya. Tentang sempurnanya saat-saat bersama. Tentang mimpinya, tentang dirinya. Suatu hari nanti.. (Inspired by song, LiSA-itsuka no tegami)


Tetaplah bersikap seperti biasanya. Tak perlu ada yang berubah. Aku sudah nyaman dengan itu. Tak perlu berubah perhatian bila biasanya tidak. Tak perlu bertanya bagaimana kabar bila biasanya menyapa pun tak pernah. Tak perlu memaksa berubah untuk peduli bila sebelumnya acuh. Tetaplah seperti biasanya. Seperti sebiasanya dirimu. Karena perubahan itu tidak cocok untukmu. Aku muak melihatnya. Biar saja seperti biasa. Acuh, tak ada basa basi, sibuk dengan masing2. Karena aku sudah terbiasa. Dan itu terasa lebih nyaman. Menangis sendiri, mengadu sendiri. Terjatuh sendiri, bangkit sendiri. Terluka sendiri, mengobati sendiri. Tak perlu khawatir, karena aku sudah terbiasa. Pun bila suatu hari aku tidak mengetuk pintumu lagi, tak perlu panik, khawatir hanya sia-sia. Karena aku tidak mau menjadi beban siapapun terutama dirimu. Jika ada malam dimana aku tidak kembali, jangan mencariku. Pikirkan saja aku berada di tempat yang baik dan nyaman. Pun bila akhirnya aku tidak pernah kembali, jangan bersedih. Berharap saja yang terbaik, meski itu akan merepotkanku. Atau anggap saja aku sebagai angin lalu. Bersikap saja seperti biasanya. Aku akan baik-baik saja. Mungkin saat itu keadaan aku jauh lebih baik dari dirimu. Tidak perlu menangis, karena aku benci mereka yang menangis untukku. Sudah, lupakan saja. Lanjutkan esok. Aku baik-baik saja.


Bilamana hatimu selalu mencelos setiap saat kau melihat bagian dari dirinya.
Bilamana pijakan kakimu selalu goyah setiap saat kau berpapasan dengannya. Hanya dengan melihat potongan dari namanya, degup jantungmu selalu memburu. Dan sekelebat wajah yang mirip dengannya selalu berhasil membuatmu tercekat, lupa bagaimana caranya bernapas. Cinta itu gila. Bagaimanapun ia selalu berhasil membuatmu menjadi "orang gila"


Menghadapi diri sendiri itu jauh lebih berat daripada menghadapi orang lain. Karena ketika kau menghadapi orang lain, ada sosok lain yang berdiri di hadapanmu, dan itu jauh lebih mudah. Tapi ketika harus menghadapi diri sendiri  kau hanya akan melihat pantulan dirimu sendiri di cermin. Tidak ada orang lain. Tiada sesiapapun. Ketika kau membenci orang lain, kau bebas mengatakan yang tidak kau sukai padanya. Tapi ketika kau membenci diri sendiri. Kau berbicara hal-hal yang tidak kau sukai pada pantulan dirimu sendiri, dan itu jauh lebih sulit karena ia tidak memberikan jawaban selain pantulan sempurna dirimu yang saat itu sedang berbicara. Dan yang paling sulit adalah ketika kau bertarung dengan dirimu sendiri. Saat kau meyakini apa yang kau yakini, tapi bagian dari dirimu mengatakan untuk tidak meyakininya, bahwa itu semua sia-sia, bahwa yang kau yakini semua omong kosong. Itu jauh menyulitkan. Karena bertarung dengan diri sendiri butuh keberanian besar, dan itu adalah hal yang semua orang lakukan.


Pasti menyenangkan memiliki tempat persembunyian pribadi di mana tak ada seorang pun yang bisa menemukanmu. Pasti menyenangkan. Kadang aku membayangkan hal itu. Di tempat itu, kau bebas menjadi dirimu. Di tempat itu kau bebas mengekspresikan semua rasa, dan tak ada pandangan sinis, menyelidik, dari orang lain. Mereka terlalu banyak ingin tahu segala hal. Dan aku tak pernah bisa menjawab semua pertanyaan itu. Pada akhirnya, aku menutup pintu rapat-rapat. Pintu hatiku. Eodi ga? Di mana pintu itu berada? Jika ia memang benar ada, aku ingin sekali masuk ke dalamnya. Itu yang egoku sering katakan. Di tempat itu aku tak perlu mendengar pernyataan siapapun tentang diriku. Entah benar atau tidak. Suatu kali aku melintas di atas sebuah jembatan. Mungkinkah jika aku melangkah ke bawah sana, aku akan mampu menemukan tempat itu? Sesaat itu terlihat seperti solusi yang "terbaik". Menuliskannya sesaat membuatku merinding. Betapa ego begitu mengerikan. Lalu, setelah aku menemukannya, apa yang akan aku lakukan di sana? Mungkin untuk bersembunyi selamanya. Bersembunyi dari kenyataan. Bersembunyi dari realita. Itu hal menyenangkan, tapi juga pengecut. Aku menyadarinya. Sesekali, tempat seperti itu dibutuhkan. Tapi tidak untuk selamanya. Kau tahu? Bagaimanapun, saat ini, aku hidup bersama kenyataan. Sesuatu yang harus diperjuangkan. Walau ia terasa amat berat untuk dihidupi. Karena aku hanya punya satu kehidupan sebelum kehidupan lainnya. Yang abadi.


Monster-aku, sebuah kata yang digunakan penulis Serdar özkan dalam karyanya "when the life lights up". Kata-kata itu juga yang kupinjam untuk menggambarkan perasaanku saat ini. ego yang menyeret kita ke pusaran terdalam sebuah lembah tak berdasar di dalam diri manusia. Terkadang tanpa disadari ego itu yang membawa kita justru menjauh dari cahaya. Sebetulnya cahaya itu sudah tepat berada di depan. Hanya saja, status quo yang melenakan ini terasa jauh lebih nyaman dibandingkan dengan apa yang harus dilewati untuk mencapai cahaya.
Allah SWT selalu mengikuyi prasangka hambaNya bukan? Itulah kenapa manusia harus selalu berbaik sangka padaNya. Hanya saja, ego ini terus mengatakan hal-hal buruk padaku. Bayangan-bayangan buruk yang berputar menjadi kabut badai tak berkesudahan di dalam kepalaku. Rasa-rasanya sudah keterlaluan. Ego menguasaiku. Aku belum, monster-aku masih belum bisa ditaklukkan. lalu sampai kapan status quo yang melenakan tapi berbahaya ini akan menempel pada hidupku. Aku ingin berubah. Keputusan yang sulit, tidak semudah mengucapkannya. Tapi aku tahu, kalau hari ke depan, ketika aku sudah mengalahkan monster-aku, aku bisa dengan kebanggaan mengatakan, "aku sudah pernah melewatinya. Dan yang kuhadapi tidak sesulit yang kubayangkan".


Aku jadi ingat. Dulu, saat aku harus berhemat dengan tidak makan ke kantin saat istirahat. Sesuatu yang terus kulakukan sejak SD, SMP, bahkan SMA. Bagiku kantin sekolah adalah tempat yang asing. Pun ketika kuliah. Jarang sekali aku mampir ke sana kalau tidak sedang diajak teman atau apa. Waktu SMP dulu cukup bekal dari rumah yang kusantap. Kalau tidak sempat membuat bekal, maka aku akan "puasa" makan siang dan mengisi waktu dengan pergi ke masjid, perpus, atau sekedar membaca buku pelajaran di kelas. Saat itu, bagiku bisa pergi ke kantin adalah sebuah kemewahan. Tak jarang aku harus menabung untuk bisa sekadar jajan di kantin. Lucu sendiri mengingatnya.
Waktu SMA sampai lulus, aku selalu membayangkan lezatnya soto mang acil atau lembut dan gurihnya bubur mang ade tanpa sekalipun pernah mencobanya. Sampai aku sudah kuliah dan bisa punya uang sendiri, keinginan itu teringat kembali. Tapi sayang saat ke sana lagi, kantin sma nya sudah berubah, hehe...
Aku baru tahu nikmatnya bisa jajan di kantin waktu kuliah karena sudah ada uang sendiri dari kerja part time ngajar privat. Pergi ke kantin dan icip2. Walau hanya berbilang jari kunjunganku ke sana, tetap saja terasa menyenangkan.
Sesederhana itu. Pun jika terkadang aku teringat dengan semua hal itu, aku bersyukur karena pernah mengalaminya. Masa-masa yang penuh kesederhanaan. Saat sepotong roti coklat pemberian teman ketika perut lapar terasa sangat berharga melebihi sepotong emas.


Pagi ini aku mendapat pesan singkat dari kakak kelasku di kampus. Bukan kakak kelas biasa, tapi ia istimewa. Kami dulu sudah seperti saudara kandung. Kuharap akan tetap begitu.
Selepas kereta jurusan Jakarta yang kunaiki melaju, aku teringat dengan pesan singkat yang belum kubaca. Awalnya aku tidak tahu siapa yang mengirimkan. Lalu kemudian, airmata ini hampir meleleh.. Begini bunyi pesannya: Hari ini ku teringat padamu gadis kereta..
iya kamu..yang selalu memilih kereta daripada bis,
yang lebih memilih menahan lapar dengan alasan sudah sarapan pagi,
yang darimu kutemukan arti kesederhanaan,kesahajaan n kesabaran yang penuh..
Ah..Gadis kereta,apa kau masih ingat padaku?. Tanpa kusadari aku menjawab dalam hati. Tentu saja, Ka. Tentu saja aku ingat.


Kemarin Aku melihat  bayangan dirimu di sana. Tapi  begitu kuhampiri, aku tak dapat meraihmu. Hanya kosong.
 
Dulu mendengar suaramu, degup hatiku  bekerja  beribu kali lipat. Pun hanya mendengar namamu disebut, entah  berapa kali hatiku mencelos dan kepalaku pening dibuatnya. Waktu milikku seakan terhenti. Dan itu bermula sejak kali pertama takdir mempertemukanku denganmu. Hari itu, jam itu, detik itu.

Kini namamu kembali disebut. Suaramu kembali kudengar, dan sosokmu begitu nyata di hadapanku. Degup jantungku tidak lagi berdebar dengan debaran yang sama. Semua yang pernah kurasakan untukmu seakan tidak pernah kurasakan/ terjadi. Hari ini, Waktu milikku pun  berputar kembali.

Sekarang, dengan perasaan yang lega, dengan ringan dapat kukatakan, “selamat jalan, denting.”

Terimakasih untuk perasaan luar biasa yang hadir empat tahun ini ketika kau ada di sisi. Untuk semua cerita indah yang tercipta karenamu.

Dari seseorang yang selalu mengagumimu dan kau tidak pernah tahu tentang itu.


Memiliki kenangan adalah hal yang berharga, tapi tidak jika kenangan itu menjadi bayang dalam kehidupan. Hidup dalam kenangan, menyenangkan tapi itu bukanlah hidup, ia hanya semu.

Merindukannya seperti napas yang kau hirup setiap hari. Tanpanya detik yang berputar tak mampu untuk dilewati, memikirkan hidup tanpanya sedetik saja sudah membuat seluruh tubuh mati rasa. Aku terjebak. Tak dapat kembali juga tak dapat melangkah.

Tersenyum, tapi hanya sendiri. Karena ia mungkin tidak mengingatnya, hanya diri ini yang menggenggam kenangan itu. Segala hal yang mengingatkanku tentangnya tak bisa kulepaskan.  Kumpulan gambar yang terbeku dalam pigura usang di sudut meja. Senyuman itu, tawa itu. Aku rindu. Aku mulai gila, mencari di setiap sudut serpihan-serpihan yang bisa mengingatkanku tentangnya. Karena bayang yang ada semakin memudar. Aku mulai melupakannya. Dan itu terasa sakit. Di sini terasa hampa bila ia tidak ada. Kenangan tentangnya. Mungkin aku memang sudah benar-benar gila.


Mungkin saja, ia bahkan tidak mengingatku, tidak sama sekali. 


Aku rindu padamu. Kau yang ada di sana. Apa kabar? Kabarku tak pernah baik-baik saja tanpamu. 


Angin berhembus lembut. Pagi ini matahari tidak bersinar sempurna. Tapi aku tetap dapat menikmati hari dengan segelas coklat panas dan iringan musik lembut yang mengalun dalam earphone yang kugunakan. Mulai membayangi tentang semua hal. Yang sudah berlalu empat bulan ini. Pahit, manis. Tapi entah bagaimana, yang lebih banyak tersimpan adalah kenangan manis. Aku bersyukur tentang hal itu.

Bulan lalu aku bertemu dengan sahabat lama. Tidak sengaja berpapasan dengannya di jalan yang sering kulalui, dan mungkin juga jalan yang sering dilaluinya. Aku hanya sempat bertukar senyum lantas melangkah pergi, menatap ke langit yang kelabu seperti hari ini karena khawatir hujan deras akan segera turun. Jika bukan karena aku dan dia berbeda,mungkin aku sudah memberikan salam yang hangat padanya dan mengobrol ringan tentang segala hal yang terlewati saat tidak berjumpa. Tapi, senyuman saja sudah cukup.

Dan juga bulan yang lalu lagi, Wajah yang kukenal melemparkan senyumnya yang bersahabat. Kali itu, aku tidak sempat membalasnya karena langkah kakiku yang memburu waktu. Ada sedikit perasaan menyesal. Tapi aku tersenyum saat kami sudah saling berselisih jalan. Yang mungkin tidak akan disadarinya. Ingin rasanya menoleh ke belakang, tanpa alasan yang jelas. Namun ketika teringat dengan cerita kawan yang kukenal dan hal lucu yang menyertainya, kuurungkan niat tak jelas itu.

Dulu sekali, kawan yang kukenal juga mengalami pertemuan seperti ini. Bedanya saat sudah berselisih jalan, ia menyempatkan untuk menengok kembali ke belakang. Dan di saat yang bersamaan, orang yang tadi berpapasan dengannya juga menoleh ke belakang, dan tanpa disengaja mereka sudah saling bertatapan satu sama lain. Karena saling berbeda, kawanku cepat-cepat memutar pandang dan berjalan secepat yang ia bisa sambil menahan rasa malu yang sulit disembunyikan dari wajahnya yang merona merah. Dalam ceritaku, aku tak ingin pertemuan tak disengaja ini juga berakhir seperti ceritanya.

Bagaimana caranya aku selalu berpapasan dengannya di waktu yang selalu tidak tepat. Pertanyaan menggelitik berikutnya adalah, bagaimana hal aku selalu bertemu dengannya di waktu seperti ini. Semua pertanyaan tanpa jawaban itu terus berputar sepanjang kakiku melangkah ke tempat tujuan. Sebentar memasang wajah bingung, sebentar memasang wajah bahagia. Sebentar memasang wajah bersungut karena memikirkan hal tak penting, sebentar menatap langit kebiruan dan merasakan sesuatu berdesir, perasaan mencelos aneh seperti kau jatuh ke dalam jurang yang dalam.

Di suatu pagi yang tidak terlalu kuingat kapan, aku kembali berpapasan dengan sahabat lama. Yang bisa kuingat dari hari itu hanyalah perasaanku di pagi hari yang tidak terlalu baik. Tidak ada lagu, tidak ada harapan-harapan yang ingin kuwujudkan hari itu. Perasaaan menyebalkan seperti kau ingin cepat-cepat hari berakhir. Dan di saat hatiku sedang menggumamkan kekesalan pada dunia, tiba-tiba saja aku mendengar sebuah salam terucap. Spontan aku menghentikan langkah dan cepat-cepat menoleh ke belakang. Tapi kali ini aku tidak sempat bertemu sosoknya yang terlebih dulu menghilang di persimpangan jalan di belakangku. Sayang sekali. Aku tidak begitu yakin apakah ia orang yang sama, intuisiku mengatakan itu adalah dia, sahabat lama. Tapi, entah bagaimana, ada sebuah lagu yang mengalun indah dalam hati. Hari itu, laguku kembali berputar dan berharap hari yang indah tidak akan cepat berakhir.


Sayangnya, itu adalah hari terakhir aku menemukan sosoknya. Esok, dan lusa, juga hari setelahnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Anehnya ada perasaan sedih, meski hanya sedikit. Kejutan kecil menyenangkan itu telah usai dan hilang keajaibannya. Tapi setiap kali aku teringat dengan potongan bagian dari kenangan itu, dan melewati jalan yang biasa aku lewati ketika berpapasan dengannya, aku selalu dapat tersenyum. Pun hingga detik ini.  


Ia berhenti pada satu titik, dan bertanya pada sendiri. Kenapa ia di sini? Kenapa ia justru memilih jalan yang paling berliku ini? Sambil menatap tanpa daya pada tikungan jalan yang telah berlalu.
"Sekarang, kemana aku harus melangkah? Aku tersesat. Keberanian telah lama pergi meninggalkanku."
Demi mengambil jalan itu, ia kehilangan hampir semua hal berharga dalam hidupnya. Keluarga, sahabat, dan kehidupannya.
Kini ia hanya bisa sendiri, melewati jalan-jalan itu kembali. . Sendirian, seperti masa-masa dulu. Saat mereka yang berharga belum datang menyapa kehidupannya.
Berharap segera menemukan apa yang selama ini ia cari.
Ia rindu mereka. Sangat Rindu...


Fragmen-fragmen kenangan. Tersusun dan berurut. Terus saja mendesak keluar. Satu demi satu.
Kadang tangis. Kadang bahagia.
Aku ingin segera keluar dari jalan berliku ini. Gadis sempurna di masa lalu sudah tidak ada lagi.
Sempurna mewujud menjadi apa yang dipantulkan cermin saat ini. Pantulan yang penuh kebimbangan dan keputusasaan.
Meski kadang impian-impian kecil yang letup itu, menjadi penawar hati yang sedang perih.

Hati tak sejalan dengan raga. Sudah muak, tapi langkah tak juga bergerak. Dan ia pun mulai kehilangan arah. Kemana sebenarnya ujung perjalanan ini?


Menjelajah bumi-Nya. Menjejaki tanah leluhur.
Sesapi udara yang dulu hingga sekarang menggantung sama.
Rindu...
Pergi melintas batas ruang. Menggenggamnya nyata.
Kapankah Aku bisa segera memulainya?
Pengalaman pertamaku, menjelajah ruang bernama dunia.



Allah SWT selalu memberikan jawaban di setiap pertanyaan.
Ia yang mengujimu, PadaNya pula ada penyelesaian terbaik.
Kau hanya perlu meminta, penuh cemas dan harap, juga membuktikan diri kau pantas untuk sesuatu itu.
Hingga Ia akan mengabulkan, dan memercayakan amanah kehidupan ini padamu. 
Untuk kau laksanakan dengan sebaik-baiknya.



Yang kutakutkan ketika malam mulai merambah bumi adalah menunggu pagi yang akan menjelang.
Perasaan itu benar-benar tidak nyaman. Aku ingin malam menjadi selamanya.




Aku merindukan bayang.
Bayang yang mengingatkanku tentangmu. Tentang seulas senyuman.
Tentang sebaris kata penyemangat. Tentang kisah ambisi masa muda.
Bayanganmu yang menutupi bayanganku. Senja sore itu.
Malam-malam yang dipenuhi bunga tidur. Semua tentang bayang.
Bolehkah aku membuat pinta?
Bayang tak perlu lagi ada dalam pandang. Biarkan aku pergi, meninggalkanmu.
Karena kau tidak sejati.
Kau hanyalah bayang.