twitter


Cuaca di luar ruangan hari ini sangat tidak mendukung untuk bepergian. Angin bertiup kencang, petir menyambar-nyambar dan hujan turun dengan lebatnya. Padahal hari ini Azalea harus bergegas ke kantor mengambil beberapa berkas pekerjaannya yang belum selesai. Dan ini hari Minggu. Sudah lama sekali rutinitasnya berjalan seperti ini. Hari Senin-Jumat dia akan berangkat ke kantor pagi buta dan pulang larut malam. Lalu hari Sabtu dan Minggu dia akan menjadi "penjaga" kantor (sampai-sampai ia punya kunci kantor untuknya sendiri, hehe..) karena harus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Kata "harus" itu hanya berlaku baginya. Sebab Azalea memang menaruh tuntutan yang tinggi terhadap dirinya. Selain pekerjaannya dia tidak punya yang lainnya. Ia merasa untuk itulah ia hidup dan lupa bagaimana kehidupannya sebelum ia mendapatkan pekerjaan impian ini.

Azalea memutuskan untuk berdiam di rumah sambil berdoa hujan akan cepat reda sehingga ia bisa menjalankan rencananya seperti semula. Sudah lima tahun Azalea tinggal sendiri terpisah dari orangtuanya. Dia merasa begini lebih baik. Selain bisa lebih mandiri, ia pun bisa lebih bebas melakukan apa yang ia suka. Rumahnya tidak terlalu besar. Hanya ada satu kamar kecil, satu ruang tamu dan dapur. Tapi sudah cukup besar baginya yang tinggal seorang diri. Sambil menunggu, Azalea membuat secangkir coklat panas. Kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak dulu. Saat hari berhujan ia memang paling senang menyeruput secangkir coklat panas.

Lima tahun lalu Azalea lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang memuaskan. Dan ia segera mendapatkan pekerjaan impiannya. Orang lain yang melihatnya akan menganggap hidup Azalea benar-benar sempurna. Tapi selama lima tahun ini pula Azalea merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Sekeras apapun ia mencoba mencarinya, ia tetap tidak bisa menemukan apa itu. Ia pun menenggelamkan diri dalam aktivitas pekerjaan agar tidak ada waktu luang baginya untuk memikirkan hal lain yang menguras tenaga dan pikirannya untuk sesuatu yang abstrak. Dan hari-haripun berlalu melewatinya. 

Kehidupan Azalea memang tampak sempurna di luar, tapi itu hanyalah bungkus yang cantik. Keluarganya tidak seperti keluarga teman-temannya yang lain. Sejak tingkat 2 akhir di perkuliahan, Azalea harus menghadapi kenyataan terpahit dalam hidup seorang anak yakni perceraian kedua orang tuanya. Sebuah mimpi buruk yang membuatnya terjaga dari angan indah masa lalu. Tanpa ia sadari, gelas yang rapuh itu sudah lama retak bahkan saat ia masih kecil. Ayah dan ibunya kerap kali terlibat pertengkaran kecil sampai besar. Tapi Azalea kecil tidak pernah benar-benar mengingatnya. Dan ia baru benar-benar terjaga saat pemahaman itu ditanamkan padanya. Keluarganya tidak akan pernah sama lagi seperti dulu. Tidak akan ada lagi makan malam bersama keluarga yang hangat. Setiap pergi ke rumah temannya yang memiliki keluarga yang lengkap atau , mendengar cerita tentang keluarga temannya yang harmonis, Azalea akan menenggelamkan dirinya, berbohong pada diri sendiri bahwa keluarganya juga sama seperti itu. Membentuk sebuah khayalan yang ia percayai. Siapa yang sangka? Cerita yang selama ini ia yakini hanya ada di cerita picisan sinetron tv ternyata terjadi padanya dengan sangat nyata. Siapa yang berhak disalahkan? Azalea tidak berani menjawab. Ia pun tidak ingin ambil pusing, karena rasa sesak kesedihan itu sangat menguras energi dan pemahamannya. Ia memilih untuk melimpahkan kesedihannya pada kesibukan. Nilai akademisnya memang sempat goyah di tahun-tahun ketiga dan empat tapi ia berusaha untuk bangkit. Setidaknya jika ia tidak memiliki keluarga yang "sukses" ia masih memiliki kehidupan lain yang "sukses" yang berharga untuk diperjuangkan.

Setelah ditunggu hingga pagi beranjak berganti siang, hujan tidak kunjung reda apalagi berhenti. Azalea merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Memandang langit-langit. Sebenarnya ia sangat benci waktu kosong seperti ini karena hanya akan membuatnya berpikir dan mengingat masa lalu yang tidak ingin dikenangnya. Dia pun segera menegakkan tubuhnya. Melihat sekeliling. Mungkin lebih baik jika aku membereskan tempat ini, pikir Azalea. Sudah lama juga kamarnya tidak diubah tata ruangnya. Mungkin hal itu akan membuat mood nya menjadi lebih bagus ke depan. Ia pun segera mengatur barang-barang di dalam rumahnya. Merapikan setumpuk kertas-kertas dan buku-buku di dalam kardus yang tidak pernah ia buka semenjak pindah ke tempat ini. Salah satu kardus itu di atasnya bertuliskan "harta karunku". Azalea mengernyitkan dahi. Seingatnya ia tidak punya hal semacam ini. Atau mungkin ia telah "lupa". Dengan penasaran Azalea membuka kardus yang berukuran lumayan besar itu. Jangan-jangan ini tabungan rahasiaku yang aku lupa, batin Azalea, hehe..

Debu yang ada di atas tutup kardus itu begitu tebal sampai-sampai ia bersin beberapa kali karena menghirup debu tersebut. Di dalamnya ada sebuah plastik yang membungkus beberapa barang dan beberapa kardus kecil serta map-map yang menyimpan sesuatu. Saat mengeluarkan semuanya, Azalea begitu tercengang. Benda-benda itu. Plastik yang membungkus majalah kesukaannya saat SMP dan SMA. Azalea kecil sangat menyukai cerita dalam majalah komik Disney dan ia selalu menyisihkan uang jajannya hingga ia rela berjalan kaki pergi dan pulang sekolah agar dapat membeli majalah itu. Ibunya tidak akan pernah memberikan uang untuknya membeli barang semacam itu maka ia pun harus menabung. Majalah itu sudah berubah kekuningan. Satu per satu ia membuka lembar majalah. Ia sudah lupa bagaimana ceritanya, tapi ia ingat sedikit dengan rasa senang ketika dulu ia membaca cerita tentang persahabatan lima orang gadis penyihir. Azalea yang sekarang tidak percaya dengan hal-hal fantasi tanpa logika seperti itu. Azalea tertawa sendiri. Dulu aku se naif ini ya, pikir Azalea. Lalu ia membuka sebuah kardus kecil yang ada di dalamnya. Ternyata di sana tersimpan buku-buku harian miliknya. Tulisanku jelek sekali waktu dulu, ucap Azalea. Perlahan ia membaca tulisannya, ada rasa rindu yang menyergap seketika. Tulisan-tulisan yang berisi mimpi masa kecilnya, mimpi yang ia tulis saat ia masih mempercayai kekuatan mimpi. Tulisan tentang cinta pertamanya, tulisan tentang sahabat-sahabatnya. Tanpa sadar Azalea meneteskan airmata. Teringat, Betapa dulu ia begitu bersemangat dengan semua hal. Betapa ia sangat menikmati hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Saat ia selalu membawa notes kecil kemanapun ia pergi dan mulai menulis apapun hal menarik yang ditemukannya. Hari-hari saat ia begitu mengagumi langit. Hari saat ia sangat senang ketika hujan turun dan berharap agar hujan turun setiap hari agar ia bisa memakai payung kesukaannya dan berkhayal tentang sesuatu membuat cerita baru.      

Buku-buku cerita yang dikarangnya juga ada di sana. Tiba-tiba Azalea merinding ketika melihat buku itu. Dan membuka setiap lembarnya dengan penuh rasa kasih sayang. Cerita-cerita yang menemani hari-harinya. Saat ia sedih, pun saat ia gembira. Cerita yang berisi keluguan dan kepolosan penulisnya. Ia mengingat semua cerita tersebut saat melihat bagian pertama dari setiap cerita. Sontak saja, seluruh tokoh dalam ceritanya seperti muncul di hadapannya dan menari-nari. Ada rasa rindu yang teramat sangat muncul dari dalam hati Azalea. Lalu matanya tertuju pada benda lainnya, pin kebanggaan saat ia menjadi anggota paskibra di SMP, tanda-tanda kepanitiaan miliknya dari SMP sampai kuliah yang tersusun rapi di dalam sebuah kotak kecil lainnya. Boneka-boneka kecil yang mengingatkannya pada saat pertama ia begitu senang saat mendapat benda tersebut. Map-map plastik yang berisi benda-benda saat ia menjalani masa ospek di awal kuliah, catatan-catatan saat ia menjadi panitia sebuah acara, kertas yang berisi berita beasiswa ke tempat impiannya, peta kehidupan miliknya yang ia buat saat semester 1 di perkuliahan. Buku-buku materi yang ia dapat semasa mentoring. Hadiah dari teman-teman masa kecil yang begitu sayang ia gunakan, komik-komik koleksinya yang ia dapat dari berburu seharian dari book fair satu ke book fair yang lain, dan banyak benda penting lain yang mungkin tidak berarti bagi orang lain tapi sangat berarti bagi Azalea. Lagi, ia meneteskan airmata. Azalea sendiripun tidak tahu apa alasan ia menangis. 

Saat ia melihat sebuah binder note yang tersimpan di bagian paling bawah dari kardus besar tersebut Azalea merasa bingung, binder apa ini?. Awalnya Azalea merasa asing dengan binder itu. Tapi ketika membukanya, semua ingatan akan masa bahagia itu berebut muncul dalam benaknya. Azalea ingat ini adalah binder notes-nya yang pertama yang dibelikan oleh ibunya sebagai hadiah di hari raya. Di masa itu binder notes sedang booming-booming nya dan harganya terbilang mahal. Lalu ia teringat ketika ia pergi ke pasar kaget dengan sang ibu dan merengek ingin membeli poster bergambar tokoh anime kesukaannya yang sudah ada beberapa di rumahnya. Saat ia harus menebalkan muka untuk membeli kipas yang bergambar Sakura Kinomoto di abang-abang yang lewat di depan rumahnya, saat ia membeli stiker bergambar magical doremi di depan sekolah dasar padahal saat itu ia sudah SMA. Masa-masa ketika ia membeli sebuah majalah dan koran hanya karena memuat satu ataupun hanya secuplik ulasan tentang tokoh anime idolanya. Dan saat ia dengan teliti dan tekun membolongi setiap artikel dari anime kesukaannya, menempelkannya satu per satu dengan rapi. Menjilidnya, mengaturnya agar sesuai urutan. Ia pun ingat betapa dulu ia sangat menjaga semua barang-barang itu terutama binder note yeng memuat kliping anime favoritnya. Sampai-sampai ia berikrar jika satu rumah tiba-tiba dilanda kebakaran, hal pertama yang akan dia selamatkan adalah binder note itu baru buku-buku sekolahnya, hehe.. Semua hal itu begitu rumit tapi sangat menyenangkan untuk seorang Azalea di masa itu yang tumbuh dewasa dengan semua khayalan, mimpi dan cerita dari "teman-teman" setianya. 

Azalea menghela napas panjang. Ia sudah hampir terisak dengan semua benda itu. Benda-benda itu menyimpan sebagian dari dirinya yang hilang yang selama ini berusaha ia cari. Tahun-tahun terakhir yang berlalu dalam hidupnya tiba-tiba saja terasa begitu palsu bagi seorang Azalea. Ia hidup selama ini bukan untuk dirinya. Azalea sudah tenggelam dengan hal-hal buruk yang selama ini dipercayainya sebagai penyebab ia memiliki kehidupan semu seperti sekarang dan memaksa Azalea kecil yang penuh dengan mimpi terdiam di sudut ruangan kosong dalam dirinya. Ternyata selama ini ia hanya berlari dari dirinya, berusaha mencari penawar bagi lukanya yang tak kunjung sembuh dari kenangan masa lalu yang menyakitkan tapi justru tidak menjadi dirinya sendiri. Ini memang harta karun miliknya. Azalea bersyukur memiliki "mereka" dalam kehidupannya. Dan Azalea bersyukur ia bisa menemukan harta karunnya kembali. 

Terakhir, sebuah album foto yang tersimpan rapi di sudut lain dari kardus besar tersebut. Senyum mengembang di wajahnya saat melihat wajah-wajah di dalam foto. Teman-teman masa kecilnya yang lain. Apa kabar mereka, ya? Ternyata dulu aku punya kehidupan menyenangkan seperti ini. Ternyata dulu di sekelilingku aku memiliki teman dan sahabat yang baik yang menemaniku, gumam Azalea pada dirinya sendiri. Dia melihat foto dirinya di sana yang tersenyum lebar dan bahagia.

Cuaca di luar berangsur bersahabat, angin kencang sudah tak bertiup. Hujan deras pun sudah berganti rintik-rintik kecil. Azalea menyingkap gordyn dan membuka daun jendela rumah lebar-lebar yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Angin sejuk masuk ke dalam rumahnya. Di kejauhan rona merah pertanda senja terlihat menggantung di langit. Awan menjadi oranye dan sinar matahari pun sama membuat berkas cahaya oranye masuk ke dalam rumahnya, menerpa wajahnya. Jari-jarinya lincah menyentuh tuts-tuts di telepon gengamnya. Sebuah nama kontak dipilih. "Halo, Sizi, apa kabarmu?..."  Seorang sahabat dan sahabat lainnya. 
Azalea mulai merajut asa kembali. Mengembalikan tahun-tahun yang hilang dalam kehidupannya. Menjadi Azalea sepenuhnya, dirinya sendiri.

Dunia ini dan kehidupan adalah "Cinta yang Sederhana" 
Terimakasih, harta karunku. Jika suatu hari nanti aku kembali melupakanmu, maukah kau berbaik hati dan datang kepadaku membawa mimpi-mimpi yang kau simpan? ^_^


Pernahkah kamu mendengar lagu itu? Aku sendiri sudah berkali-kali ^_^
Kenangan ketika aku SMA, di kelas sos 1. Ada 2 kelas sosial dan 4 kelas ipa di sekolahku waktu itu. Kalau sekarang banyak sekali kelasnya, hehe...2 tahun aku bersama dengan mereka saat di kelas xi dan xii.
Waktu itu jam-nya TIK Pak Ardi. Entah apa sebabnya Beliau jarang sekali hadir mengajar di kelas kami.Sebenarnya untuk urusan yang satu ini, kelas kami memang sering kosong tidak ada guru.  

Laboratorium komputer sekolah kami terletak di samping lapangan upacara yang juga difungsikan sebagai lapangan tenis dan badminton. Karena bosan menunggu di koridor depan ruang laboratorium komputer, aku dan yang lainnya memutuskan untuk masuk saja sambil menunggu Pak Ardi datang. Setidaknya lebih baik daripada di luar. Jody bertingkah meniru Pak Ardi, hmm.. tidak terlalu buruk. Sudah hampir 15 menit dan anak-anak sos 1 mulai lengkap berdatangan ke dalam ruang lab. Kelasku memang biasa datang telat ke kelas. Alasannya bermacam-macam ada yang ke kantin dulu, ngerjain tugas dulu, ke kamar mandi dulu, sampai ngopi dan ngerokok dulu, ckck.. kelasku itu memang unik. Jangan dicontoh ya ;) Karena itu kelas ku terkenal ngaretnya.. hehe

Tidak diragukan lagi, Jody memang masternya IT di kelas kami. Bukan cuma sekadar meniru gaya Pak Ardi saat mengajar, tapi dia juga mampu mengoperasikan seperangkat peralatan di ruang lab. komputer! PS: tanpa izin Pak Ardi tentunya, hehe.. Dan yang membuat heran lagi, alih-alih menegur Jody, anak-anak sos 1 justru bersorak kegirangan dan langsung menyalakan komputer di meja masing-masing. (Di masaku dulu, komputer masih merupakan barang yang langka dan mahal. Apalagi internet.) Yap, mungkin ini bisa dihitung sebagai balas dendam atau penyegaran dari pelajaran akuntansi yang menjengkelkan dan membosankan, karena di jam pelajaran akuntansi hari itu kami diajarkan bab baru yang membuat mumet, hehe.. 

Aku sendiri tidak berani menyentuh apapun di depanku (aku termasuk anak yang sangat "patuh" pada peraturan, hehe). Meski komputernya sudah menyala dan agak menggoda juga, sampai teman sebangku ku bilang "hal ini gak apa-apa ko.." Tapi?!? Batinku menolak tentu saja. Lalu Ari tiba-tiba berteriak dari belakang menyuruh Jody melihat keluar kalau-kalau Pak Ardi datang, untuk persiapan. Apalagi sempat ada guru yang masuk dan tanya kemana Pak Ardi? Seraya pergi dengan wajah bingung setelah mendengar jawaban "tidak tahu" dari kami. 

Balik lagi ke aku, hehe.. dengan seluruh keberanian aku membuka website internet yang sudah dilakukan oleh teman-temanku setengah jam yang lalu. Dan waktu lagi asyik berselancar di internet, ada alunan suara yang tidak asing. Yang sering kudengar tapi tak pernah sedikitpun terdengar membosankan begitupun dengan saat ini. Sebuah lagu yang membuatku ingin menghentikan waktu sejenak jika bisa. Sebuah lagu tentang mimpi dan persahabatan.
~"Menarilah dan terus tertawa.. Walau dunia tak seindah surga.. Bersyukurlah pada yang Kuasa.. Cinta kita di dunia, Selamanyaa... "

Jody yang memutar lagu ini lewat pengeras suara yang terpasang di dalam lab. komputer. Aku kangen dengan masa itu. Kangen sos 1. Dan rasa kangen itu kembali datang setiap kali aku mendengar lagu ini. seperti dua hari yang lalu ketika aku mendengar lagu ini diputar di salah satu stasiun tv. Jadi teringat dengan berbagai hal, kejahilan kami dulu, kebersamaan kami waktu itu.


Dua hari yang lalu aku iseng menyalakan televisi dan menekan tombol-tombol remote tv sekenanya. Tak disangka, ternyata channel yang aku pilih sedang menayangkan film Disney yang sudah 3x ku tonton tapi gak pernah tuntas dari awal sampai akhir. Yang pertama cuma kebagian nonton bagian akhirnya pas Lewis diantar ke masa lalu untuk lihat wajah ibunya. Yang kedua kalinya diputar aku cuma bertahan nonton bagian awalnya karena sisanya televisi-lah yang justru menonton aku, hehe... alias ketiduran. Yang ketiga kalinya, udah bela-belain nonton dari bagian awal, tengah, eh.. pas di bagian akhirnya aku justru udah harus berangkat pergi ke suatu acara karena khawatir ketinggalan kereta -_-. Dan untuk yang kali ini, begitu lihat iklannya di tv, aku sampai buat pengingat di HP hari ini jam sekian ada film "Meet The Robinson", lucu sendiri kalau mengingatnya. Tapi itu berhasil. Padahal jujur aku sempat lupa kalau ada film itu di tv, kebetulan jari-jariku justru menekan channel tv yang menayangkan film tersebut. Akhirnya kali ini aku bisa menontonnya dari awal sampai bagian akhir-hir.

Dari pertama kali sampai yang keempat, aku gak pernah sedikitpun gak "tersentak" ketika melihat film ini.
Lewis, seorang yatim piatu sebab ibunya meninggalkan dia yang masih bayi di depan pintu panti asuhan di malam hari berhujan. Sungguh Lewis kecil yang malang. Mungkin kita akan merasa kasihan bila melihatnya. tapi dua belas tahun kemudian, Lewis tumbuh menjadi anak yang cerdas dan aktif dan tidak terikat dengan masa lalunya yang boleh dibilang menyedihkan. Bahkan guru dan teman-teman pun tidak meragukan kemampuannya meskipun ia seringkali "tidak sengaja" meledakkan kelas karena eksperimennya yang gagal. Dia memiliki banyak sekali ide brilian tentang berbagai macam penemuan dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal, hehe...

Di panti, Lewis sekamar dengan seorang anak kecil yang sifatnya jauh berbeda darinya. Namanya Goob. Dia anak yang muram, tapi sangat menyukai olahraga bisbol. Suatu hari untuk kesekian kalinya, Lewis menjalani wawancara adopsi. Untuk menarik perhatian calon orangtua angkatnya, Lewis menunjukkan temuannya yang terbaru yakni alat pembuat roti bakar dengan penyemprot selai berupa topi. Ketika mendemonstrasikannya tidak disangka insiden kecil terjadi. Alat tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya dan menyemprotkan roti beserta selai kacang ke seluruh penjuru ruangan. Dan parahnya lagi, ternyata calon orang tua angkat Lewis tersebut alergi dengan selai kacang, jadi bisa dibayangkan kan gimana kacaunya suasana saat itu. Lewis yang menyesal dan kecewa segera berlari ke atap tempat ia biasa merenung.

Ibu penjaga panti mencoba untuk menghiburnya, Lewis sempat kaget karena mengira calon orang tua angkatnya itu meninggal, hehe.. tapi Ibu panti mengatakan orang itu baik-baik saja dan membujuk Lewis agar tidak putus berharap bahwa suatu hari akan ada orang baik yang mau mengangkatnya sebagai anak. Lewis pun geram dan mengatakan dengan setengah berteriak bahwa,
"ini sudah wawancara adopsi ke 126 (lupa-lupa inget) tapi belum ada satupun yang mau menginginkannya.Tahun depan usiaku sudah 13 tahun dan akan sulit membuat orang mengadopsiku. Satu-satunya orang yang menginginkanku adalah Ibuku! Ya, benar, ibuku pasti menginginkan aku dan aku harus mencarinya!" Seru Lewis.
"Itu tidak mungkin Lewis, kau tidak pernah melihatnya.." ucap Ibu panti.
"Tidak, aku pernah melihatnya, satu kali. Dan yang harus aku lakukan adalah mengingatnya kembali!" kata Lewis dengan penuh semangat.
Dan pencarian itupun dimulai. Lewis bermaksud membuat alat pemanggil ingatan yang bisa menunjukkan kenangan yang ingin ia lihat. Diapun mulai mengumpulkan informasi tentang ingatan, otak, dan sebagainya dari buku-buku tebal di perpustakaan, dari kelas-kelas mata kuliah tentang memori dan cara kerja otak sampai melihat operasi bedah otak untuk menambah pengetahuannya.. (Wah, kalau semua orang melakukan hal yang sama untuk mengejar mimpinya, pasti dunia ini akan menjadi dunia yang indah ya.. ^_^)

Akhirnya penemuan itu berhasil dibuat, dengan sedikit bantuan dari teman sekamarnya Goob yang rela terjaga demi membantu Lewis menyelesaikan temuannya untuk dipamerkan di pekan ilmiah yang direkomendasikan oleh guru kelasnya. Seorang ilmuwan terkenal memberikan penilaian sebagai juri di acara tersebut. Lewis pun menunjukkan karyanya, namun tidak disangka, penjahat bertopi bundar yang datang dari masa depan telah merusak alat tersebut dengan mengendorkan bagian bautnya. Sehingga saat diuji coba, eksperimen itupun mengeluarkan suara aneh dan bagian-bagiannya terlepas ke penjuru ruangan. Sebuah baling-baling menghantam langit-langit, lalu melewati atas maket "gunung vesuvius" yang memicu Ledakan magma terjadi. Lalu menerabas sarang semut api milik salah satu peserta pekan ilmiah, meluncur ke atas dan mendarat di atas kepala guru olahraga yang menjadi salah satu juri. Tidak berhenti di sana, baling-baling dari alat Lewis tersebut menyentuh alat pemadam kebakaran yang ada di langit-langit ruangan, sontak air keluar mengucur deras beserta gemuruh sirine, membuat seluruh acara pekan ilmiah hari itu menjadi mimpi buruk bagi semua orang. Sekali lagi Lewis merasa kecewa. Ia pun dikejutkan dengan kehadiran seorang anak laki-laki berambut hitam yang ditemuinya saat akan masuk ke auditorium tempat pekan ilmiah dilangsungkan yang berkata bahwa ini semua ulah Penjahat Bertopi Bundar. Tanpa sepengetahuan semua orang, Penjahat Bertopi Bundar mengambil alat pemindai kenangan milik Lewis dan membawanya ke sebuah perusahaan bernama Inventco. Orang tersebut tampaknya punya dendam dengan Lewis dan bertekad ingin menghancurkan masa depan Lewis.

Lewis pergi ke atas atap di panti tempat favoritnya. Anak laki-laki aneh itupun mengikutinya. Lewis sangat putus asa karena satu-satunya cara baginya untuk melihat ibunya kembali telah gagal. Anak laki-laki yang bernama Wilbur mengatakan bahwa Lewis harus menyelesaikan penemuannya agar semuanya kembali "seperti semula" (ya, kalau Lewis tidak melakukannya, tentu masa depan akan berubah bukan? ^_^). Dan berjanji mengajak Lewis melihat masa depan agar dia percaya semua yang Wilbur katakan. Singkat cerita, Lewis dan Wilbur pergi ke masa depan. Lewis begitu takjub melihat kemegahan dan kecanggihan teknologi di masa depan. Tidak disangka, saat akan mendarat karena tidak hati-hati pesawat waktu yang mereka kendarai mengalami kecelakaan. Badan pesawat hancur, tapi mereka tidak apa-apa. Wilbur yang panik dibantu Lewis membawa bangkai pesawat tersebut ke bagasi rumah Wilbur dan menyembunyikan Lewis di sana. Wilbur berjanji bila Lewis dapat memperbaiki pesawat tersebut maka ia akan membawa Lewis ke masa lalu untuk menemui ibunya (karena dia kan gak mungkin meminta bantuan ayahnya untuk memperbaikinya, hehe). Walau awalnya sempat ragu, Lewis menyetujuinya dengan berbekal blue print dari pesawat tersebut dan terlihat mulai bersemangat. Tapi usahanya tersebut, lagi, menemui kegagalan.

Sebuah insiden kecil membuat Lewis yang harusnya tersembunyi dari orang-orang di rumah Wilbur justru tersedot ke dalam pipa udara transporter dan telah bertemu dengan hampir seluruh penghuni rumah kecuali ayahnya Wilbur, Tuan Cornelius. Ada seorang kakek yang suka mengenakan baju terbalik sedang menggali sekeliling taman untuk mencari gigi palsunya yang hilang, dua orang paman kembar yang selalu bersembunyi di balik sebuah pot di kiri dan kanan pintu rumah Robinsons menunggu siapapun yang akan memencet bel rumah, Gurita raksasa yang adalah pelayan di rumah keluarga Robinsons, seorang nenek yang sedang menari disko, seorang wanita muda yang sedang bermain kereta mainan yang ukurannya seukuran dengan kereta asli di dalam rumah, seorang paman lainnya yang mengenakan baju seperti pahlawan berjubah dengan meriam bakso di tangannya, serta seorang wanita dewasa yang sedang memandu orkestra katak, yang ternyata gigi palsu kakek dipakai oleh salah seorang musisi katak itu, hehe.. dan disambut tepukan meriah oleh seisi anggota rumah ketika kakek berhasil menemukan gigi palsunya yang hilang.

Lewis yang "dipaksa" mengenakan topi buah untuk menyamarkan wajahnya, disambut dengan hangat oleh seluruh anggota keluarga Robinsons dalam sebuah makan malam yang menyenangkan. Mesin pembuat roti bakar keluarga Robinsons yang mirip dengan alat pembuat roti bakar dan selai milik Lewis yang gagal dulu, tiba-tiba macet. Atas permintaan semua orang, Lewis yang awalnya sempat kehilangan kepercayaan diri mencoba untuk memperbaiki mesin bertopi tersebut. Namun saat dicoba mesin tersebut justru menumpahkan isinya kemana-mana dan mengotori seisi ruangan. Well, seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tidak ada hal benar yang dilakukannya. Tapi reaksi dari semua orang yang berada di meja makan itu justru sangat mengejutkan Lewis. Mereka merayakan "keberhasilan yang tertunda" milik Lewis dan memberikan selamat padanya, hehe.. seraya berkata,
"Kau hebat, Nak!"
Ibu Wilbur pun berkata, "Suamiku selalu mengatakan, Teruslah maju (keep moving forward.red). Jangan sedih dengan kegagalan yang kau alami."
Perlahan, kepercayaan diri Lewis tumbuh lagi. Dia sangat nyaman dengan keluarga Robinsons.

Tapi kebahagiaan kecil di tengah acara makan malam itu dirusak oleh ulah Penjahat Bertopi Bundar. Dia menyerang rumah keluarga Robinsons dengan bantuan topi bundar di atas kepalanya yang bernama Doris. Singkat cerita, usaha Sang Penjahat Bertopi Bundar itupun gagal. Akhirnya baru diketahui bahwa Penjahat Bertopi Bundar itu sebenarnya adalah Goob, teman sekamar Lewis saat di panti. Karena kelelahan dan mengantuk saat pertandingan bisbol, ia pun kehilangan kesempatan untuk memenangkan pertandingan dan menjadi bual-bualan semua orang. Sejak saat itu, setiap melakukan wawancara adopsi, Goob hanya bercerita soal kegagalannya dan makiannya tentang pertandingan bisbol yang seharusnya bisa ia menangkan dengan penuh amarah dan membuat semua Calon orang tua angkatnya ketakutan. Tahun berganti, Lewis sudah pergi dengan keluarga barunya, sementara Goob masih di panti, masih di kamar yang sama hingga panti itu ditutup, Goob masih berada di sana, sendirian. Di luar dunia berubah, tapi Goob masih terperangkap dengan dirinya. Mengutuki nasib, meratapi diri sendiri, dan mulai menyalahkan orang lain untuk semua hal malang yang terjadi pada dirinya. Menyalahkan Lewis bahwa bila ia tidak mengantuk di hari pertandingan itu karena malam sebelumnya membantu Lewis dengan penemuannya, pasti Goob tidak akan menjadi seperti ini. Lambat laun kebencian itu semakin besar dan berubah menjadi dendam yang mengerikan. Goob dewasa mulai membuat rencana-rencana di sebuah notes untuk menghancurkan hidup Lewis. Seperti melempari rumah Lewsi dengan telur, memencet bel rumah Lewis lalu pergi kabur, (hehe.. cara balas dendam yang "polos" dan "baik hati" ya..). Hingga Goob yang malang bertemu dengan Doris, yang tak lain adalah alat temuan Lewis dewasa, yang gagal dan terpaksa dimuseumkan karena dianggap produk gagal dan berbahaya bagi manusia. Karena kesamaan latarbelakang dendam, mereka pun bekerjasama dan memutuskan untuk membuat rencana menghancurkan kehidupan Lewis yang dimulai dengan pergi ke masa lalu, bagaimanapun Doris tetap membutuhkan Goob yang tidak terlalu banyak memiliki ide untuk melaksanakan rencananya itu.

Namun ternyata Doris hanya memanfaatkan Goob untuk menguasai dunia. Saat Goob dan Doris berhasil mengubah masa depan dengan membawa alat pemindai milik Lewis untuk dijual kepada perusahaan Inventco, Masa depan dalam sekejap berubah mengerikan dengan pabrik mekanik pembuatan topi seperti Doris untuk memperalat manusia. Wilbur pun menghilang, karena tanpa alat itu, tidak ada masa depan yang sekarang dengan keluarga Robinsons. Keluarga Robinsons berubah menjadi seperti robot-robot dan berusaha menyerang Lewis. Lewis yang terpojok kemudian terjerembab masuk ke dalam mesin waktu yang gagal ia perbaiki. Karena didesak oleh keadaan, Lewsis mencoba sekali lagi untuk memperbaikinya dan dia pun melesat pergi menembus waktu. Bertemu dengan Doris sesaat sebelum perjanjian dengan Inventco disetujui dan mengubah keadaan dengan berteriak pada Doris bahwa ia tidak akan pernah menciptakan Doris di masa depan. Doris pun menghilang dari sejarah dan masa depan kembali seperti semula.

Goob yang tersadar merasa menyesal akan perbuatannya dan menangis terisak. Dia tidak bermaksud untuk mengubah dan menghancurkan dunia. Dia hanya ingin Lewis membayar apa yang telah dia lakukan pada dirinya.(Lewis pun mengatakan sesuatu yang aku suka banget ^_^):
"Goob, jangan hanya terpaku pada hal buruk yang menimpamu di masa lalu. Lalu mengasihani diri sendiri atas kemalangan yang terjadi. Kau harus mampu untuk bangkit dan bergerak maju!"

Akhir cerita, Lewis kecil bertemu dengan Lewis dewasa, Tuan Cornelius. Cornelius menunjukkan sebuah ruangan menakjubkan yang berisi berbagai eksperimennya.
"Kau tahu mana bagian yang paling kubanggakan dari semua hal di sini?"
Lewis kecil lalu menuju sebuah alat raksasa, tapi Cornelius mengatakan, bukan itu Lewis. Tapi itu... (dia menunjuk sebuah alat kecil yang tertutup kain putih. Dan ternyata alat itu adalah Alat pemindai ingatan milik Lewis kecil di pekan ilmiah).
"Itulah yang mengawali semua hal hebat di sini, Lewis. Tapi bagaimana jadinya masa depan itu, tergantung pada dirimu yang sekarang. Masa depan mungkin saja berubah, tapi teruslah bergerak maju untuk meraih apa yang kamu inginkan, sekarang pergilah ke tempat kau seharusnya berada." ucap Cornelius pada Lewis.
Lewis pun mengangguk mantap.

Wilbur mengantar "sang ayah" kembali ke masa lalu. "Sampai jumpa di masa depan, Lewis" ucap Cornelius pada "dirinya". "Kita akan segera bertemu disana," ucap neneknya Wilbur. Ibunya Wilbur juga menitip pesan pada Lewis kecil, "Tolong ingat ini, percayalah padaku. Aku selalu benar. Walaupun aku salah, aku benar." Lewis kecil yang tidak paham menengok ke arah Cornelius meminta penjelasan dan Cornelius menjawab sambil mengerling, "kalau aku jadi kau, aku akan mempercayainya".
Pesawat yang membawa mereka berdua pun menghilang di angkasa.

Waktu: 12 tahun lalu. Wilbur menepati janjinya untuk mengantar Lewis pergi melihat ibunya di masa lalu. Dari belakang Lewis mengamati sosok ibunya yang berjubah dengan tatapan rindu. Saat mendekatinya dan akan memanggilnya, langkah Lewis terhenti di anak tangga. Dia pun lalu berbalik perlahan mencoba bersembunyi dan tanpa disadarinya ia membuat sebuah suara kecil yang mengejutkan ibunya yang bergegas pergi setelah memeluk Lewis bayi dengan penuh kasih sayang meninggalkannya di depan pintu panti. Lewis kecil mengetuk pintu lantas bersembunyi di balik tangga. Ibu panti keluar dari balik pintu dan menemukan seorang bayi yang tengah tertidur dengan tenang dan menyunggingkan senyumnya yang polos.

Wilbur yang tidak mengerti alasan "ayahnya" tersebut lantas bertanya, "kenapa kau tidak memanggilnya (Ibu Lewis)?"
Dengan tersenyum Lewis menjawab, "karena aku sudah mempunyai keluarga"

Masa saat ini: Lewis bergegas ke Pekan Ilmiahnya. Di perjalanan ia menyempatkan mampir ke lapangan tempat Goob sedang bertanding bisbol. Lewis berseru untuk membangunkan Goob yang tertidur, Goob terbangun dan berhasil menangkap bola di inning terakhir yang membawa kemenangan bagi timnya. Hal itu mngantarkan Goob pada wawancara adopsi yang membuat dirinya mendapatkan sebuah keluarga dan mengubah hidupnya.
Lewis kembali ke auditorium Pekan Ilmiah dan bertemu dengan pak guru serta para juri yang belum meninggalkan ruangan yang kacau balau tersebut, hehe... Lewis meyakinkan semuanya untuk melihat karyanya sekali lagi. Pak guru dan murid-murid lainnya bersiap di balik tameng meja dan melindungi kepalanya dengan semacam helm (helm nya dapat darimana ya?? hhe..)
Dengan berdebar-debar, Lewis menunjukkan alat tersebut pada salah satu juri wanita yang adalah ilmuwan terkenal. Lewis meminta sang ilmuwan mencoba alatnya dan menyebutkan kenangan apa yang ingin ia ingat. Dan alat tersebut akhirnya berhasil! Sang ilmuwan melihat kenangan masa lalunya ketika pernikahan. Pernikahan yang indah dengan seorang pria yang senang berguyon dengan memakai baju terbalik (yang notabene adalah kakeknya Wilbur di masa depan, hhe..). Lewis dinobatkan sebagai pemenang dari Pekan Ilmiah tersebut. Seorang gadis cilik mendekatinya dan berkata, "apa kau percaya? katak-katak memiliki kemampuan musikalisasi yang lebih hebat dari musisi manapun di dunia ini. Mereka tidak mempercayainya. Apa kau juga menganggapku gila??" tanya si gadis tersebut dengan mata yang tajam. Seperti mengerti akan suatu hal, dengan menatap Lewis menjawab, "Ya, aku percaya" ^_^ (Gadis itu yang menjadi istrinya Lewis di masa depan, yang juga adalah ibunya Wilbur)

Ilmuwan itu dan suaminya memutuskan untuk mengangkat Lewis sebagai anak mereka. Dan membawa Lewis tinggal di sebuah yang indah. Ayah dan Ibu angkat Lewis menunjukkan padanya sebuah ruangan yang terletak di loteng atas rumah sebagai tempat untuk Lewis bisa mengerjakan eksperimennya (tempat yang ditunjukkan Cornelius kepada Lewis kecil di masa depan). Lewis begitu senang dan memeluk kedua orang tua barunya. Dia pun mulai mengerjakan, menulis, mencoret, dan melakukan berbagai hal di ruangan itu. Dari satu meja, menjadi tiga meja. Dari satu alat menjadi banyak alat, sampai ruangan itu seperti masa depannya.
Dan akhirnya berdirilah perusahaan Robinsons, dengan motonya "Teruslah Bergerak Maju (keep moving forward)"

Dan di akhir cerita, dengan background hitam muncul qoutes yang jadi ciri khas di setiap film Disney:
"Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things… and curiosity keeps leading us down new paths.”  (Walt Disney)
 ...
"Dan di sini, bagaimanapun, kita tidak terpaku ke masa lalu terlalu lama. Kita terus bergerak maju, membuka lebih banyak pintu baru dan melakukan hal-hal yang baru.. dan rasa keingintahuan itulah yang membuat kita tetap berada di jalan ini" (Walt Disney)

Qoutes yang sangat menggetarkan hati ini. Membuat aku yang sedang menatap layar tv terdiam, merinding, dan meneropong ke berbagai hal yang sudah terjadi. Mungkin memang sudah saatnya bagiku untuk tidak terpaku pada masa lalu dan mulai melukis mimpi yang baru...
Azalea, Teruslah Bergerak Maju! ^_^


Saya tipe kepribadian: Idealis Pemimpi

Tipe Idealis Pemimpi sangat berhati-hati dan oleh karenanya tampak pemalu dan pendiam bagi orang lain. Mereka berbagi kehidupan emosional mereka yang kaya serta pendapat-pendapat kuat mereka dengan sedikit sekali orang. Namun orang sering keliru menilai mereka dingin dan pendiam. Mereka memiliki sistem nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang murni dan mulia yang menonjol di dalam diri mereka yang demi hal-hal itu mereka bersedia mengorbankan banyak hal. Joan of Arc atau Sir Galahad adalah contoh tipe kepribadian ini. Tipe Idealis Pemimpi selalu berusaha keras memperbaiki dunia. Mereka dapat sangat memikirkan orang lain dan melakukan banyak hal untuk mendukung mereka dan membela mereka. Mereka tertarik dengan sesama mereka, penuh perhatian dan murah hati terhadap mereka. Begitu antusiasme mereka akan suatu hal atau orang bangkit, mereka dapat menjadi pejuang yang tak kenal lelah.

Bagi tipe Idealis Pemimpi, hal-hal praktis tidak benar-benar penting. Mereka hanya menyibukkan diri dengan tuntutan-tuntutan harian yang duniawi saat benar-benar perlu. Mereka cenderung hidup sesuai dengan semboyan „yang jenius mengendalikan kekacauan“ – yang biasanya memang demikian sehingga biasanya mereka memiliki karir akademik yang gemilang. Mereka kurang tertarik dengan detail; mereka lebih suka melihat sesuatu secara keseluruhan. Ini artinya mereka masih memiliki pandangan menyeluruh yang baik ketika sesuatu mulai menjadi rumit. Namun demikian, sebagai akibatnya, sesekali dapat terjadi tipe Idealis Pemimpi melewatkan sesuatu yang penting. Karena mereka menyukai kedamaian, mereka cenderung tidak terang-terangan menunjukkan ketidakpuasan atau kejengkelan mereka melainkan memendamnya. Ketegasan bukan salah satu kekuatan mereka; mereka membenci konflik dan persaingan. Tipe Idealis Pemimpi lebih suka memotivasi orang lain dengan sifat ramah dan antusias mereka. Barangsiapa mendapatkan mereka sebagai atasan tidak akan pernah mengeluh kekurangan pujian.

Di tempat kerja, tipe Idealis Pemimpi adalah teman dan pasangan yang suka menolong dan setia, orang-orang yang memiliki integritas. Kewajiban sangat sakral bagi mereka. Perasaan orang lain penting bagi mereka dan mereka senang membuat orang lain bahagia. Mereka puas hanya dengan lingkaran kecil pertemanan; kebutuhan mereka akan kontak sosial tidak begitu menonjol karena mereka juga butuh banyak waktu untuk diri sendiri. Basa-basi kecil bukan keahlian mereka. Jika seseorang berharap berteman dengan mereka atau memiliki hubungan dengan mereka, orang itu harus mau berbagi dunia pemikiran mereka dan bersedia berpartisipasi dalam perbincangan mendalam. Jika Anda berhasil melakukan itu Anda akan dianugerahi dengan kemitraan yang luar biasa intensif dan kaya. Karena tuntutan-tuntutan mereka yang tinggi terhadap diri sendiri dan orang lain, tipe kepribadian ini kadang-kadang menjejali hubungan dengan gagasan-gagasan romantis dan idealis hingga tingkat tertentu sehingga membuat pasangan merasa terbebani atau minder. Tipe Idealis Pemimpi tidak jatuh cinta dengan mabuk kepayang namun ketika mereka jatuh cinta mereka menginginkannya menjadi cinta sejati yang tak berkesudahan.

(Sumber: ipersonic.net)

^_^



Tadi pagi Aku melewati pigura foto yang terpajang di atas sebuah lemari di ruang tengah rumahku. Hari yang sudah-sudah, setiap melewatinya, Aku merasa biasa saja. Tapi pagi tadi ketika melewatinya langkahku seperti tertahan. Tanganku spontan mengambil pigura itu, Enam orang sahabat seperjalanan tersenyum manis kepadaku. Aku rindu. Di sini (sekret) aku kembali datang. Waktupun kembali berputar, tempat yang sama tapi orang yang berbeda. Aku melihat bayangan mereka di tempat ini yang sedang bergurau, bercanda, dan tertawa satu sama lain. Lalu terlintas dalam benakku sebuah pertanyaan: "Apa kabar kalian?". Nanti Saat kita bertemu dan berpapasan lagi di tempat dan waktu yang berbeda, akankah aku akan mengenalimu? jika tidak, maukah kau menyapaku terlebih dahulu?

"Lukisan adalah Kenangan yang Kau Rindukan.."
Dan Aku rindu kalian, ^_^