twitter



06 Desember 2011, 17:56


Gema Adzan maghrib sudah terdengar samar-samar dari dalam bus. Hari sudah beranjak sore saat aku memutuskan untuk pulang dari bandara. Gerimis mulai turun perlahan.
“Vi telepon kok ga ada suaranya, Zi? Sekarang Vivi baru aja sampai di bandara Lampung. Maaf, ini takdirNya kita belum bisa ketemu saat ini. Semoga bisa lain kali ya..”
Air mata sudah tidak sanggup lagi kutahan. Hari itu, aku menangis sejadi-jadinya ketika membaca pesan singkat yang terpampang di layar handphone-ku. Air mata yang berusaha kutahan sejak keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
~ ~ ~

Juni 2006, Perpisahan SMP

Pagi itu aku dan teman-teman begitu sibuk mempersiapkan diri untuk penampilan persembahan kami dalam upacara perpisahan. Masing-masing mengenakan busana terbaiknya, tak ketinggalan empat sahabat baikku, Nadin, Dian, Ana, dan Eha pun terlihat begitu cantik. Aku melihat ke sekeliling, sahabat yang paling dekat denganku, Vivi, belum kunjung datang. Ini sudah hampir pukul sepuluh pagi. Sebentar lagi upacara akan dimulai. Vivi kemana? batinku.

“Zi, lagi cari siapa?” Nadin bertanya sambil menepuk pundakku.
“Aku sedang menunggu Vivi, Na,” aku terus menengok ke sana dan kemari, “Vivi kok belum sampai ya, Na? Sebentar lagi mau mulai,” mataku bertemu dengan mata Nadin.
Raut wajah Nadin tiba-tiba menjadi aneh, “Zi, Vivi gak akan datang,” ucapannya barusan benar-benar membuatku tersentak dan meminta penjelasan dari Nadin,
“Maksudmu?” desakku meminta jawaban.
Nadin menghela napasnya dengan berat, “Semalam, Vivi sekeluarga sudah bertolak ke Jogjakarta, Zi. Vivi pindah dan melanjutkan sekolah ke sana. Dia tidak sempat memberitahumu karena handphonemu semalam tidak bisa dihubungi,”

Hatiku serasa mencelos, sesak sekali tenggorokan ini menahan rasa ingin menangis. Aku ingin sekali marah, alih-alih kedua mataku justru membentuk bendungan air yang sangat sulit untuk kutahan. Satu dua airmata pun turun. Nadin menepuk-nepuk pundakku. “Zi, kamu tidak apa-apa?”
Aku hanya menggeleng pelan. Sebentar lagi aku harus membawakan pidato perpisahan sebagai perwakilan dari angkatan kami. Sekuat tenaga aku berusaha untuk menenangkan diri. Tapi bayanganku terus tertuju pada Vivi, memutar semua kenangan yang pernah kami lalui bersama selama tiga tahun ini.

Beberapa menit kemudian, pembawa acara memintaku untuk naik ke atas panggung dan menyampaikan pidato. Tanganku bergetar hebat. Kucoba untuk menarik napas panjang-panjang sebelum aku memulai rangkaian kata-kata perpisahan itu.

“…, Terimakasih untuk Bapak dan Ibu guru yang telah mendampingi kami selama tiga tahun ini. Kalian yang tidak pernah lelah untuk mengingatkan kami kepada hal yang baik. Melihat kami bertumbuh. Mohon maaf atas semua kesalahan dan kenakalan yang pernah kami lakukan. Jasa-jasamu tidak akan pernah kami lupakan. Untuk segenap teman-teman, terimakasih untuk kebersamaannya selama tiga tahun ini. Semoga kelak silaturahim di antara kita tetap terjaga,”

Aku mengakhiri pidato lalu turun dari panggung dan bergabung kembali bersama teman-teman. Suara tepukan tangan mengiringi usainya pembacaan pidato tersebut. Suara bahagia dari semua orang di sana tidak sanggup untuk menghilangkan rasa sedih yang menggantung ini.

“Berikutnya kita akan memanggil satu per satu dari lulusan sekolah kita yang mendapatkan penghargaan 1,2,3 sebagai siswa terbaik di kelasnya dan di angkatan. Silahkan maju ke atas panggung bagi yang namanya disebut,” umum pembawa acara.

Berturut-turut para siswa yang dipanggil maju ke depan. Aku dan Nadin, ikut maju ke atas panggung. Terakhir nama Vivi juga disebut. Dalam hati aku masih berharap Vivi akan muncul dan bergabung di atas bersama kami. Tapi nihil. 

Pembawa acara yang adalah guru perpustakaan kami memanggil-manggil nama Vivi untuk menerima hadiah. Nadin pun mendekati Guru yang akrab disapa Bu Ika dan mengatakan bahwa Vivi tidak datang ke acara. Bu Ika pun mempersilahkan Nadin untuk menerima hadiah tersebut mewakili Vivi. Tapi Nadin langsung mendorongku dan memintaku untuk menerimanya dan menyimpan hadiah tersebut untuk Vivi.

“Vi, jika kau ada di sini, maka semuanya akan baik-baik saja,” gumamku dalam hati saat menerima hadiah milik Vivi.

Acara perpisahan pun ditutup dengan lagu persembahan dari angkatan kami. Satu bulan yang lalu kami berlatih lagu itu di sana, Vivi juga ada bersama kami. Lagu yang kami latih bersama, tapi hari ini Vivi tidak ada untuk menyanyikannya bersama kami.
~ ~ ~

06 Desember 2011, 18.00

Ketika harapan membumbung begitu tinggi untuk bisa bertemu dengan sahabat yang berharga. Seseorang yang sudah tidak bertemu enam tahun lamanya denganmu. Dan selama enam tahun itu kau terus menyimpan keinginan untuk sekedar melepas kerinduan dengannya. Tapi hari pertemuan yang dinantikan justru berubah menjadi kenyataan yang pahit. Akhirnya pun hari terbaik yang dulu sama-sama kami percayai bukanlah hari itu. Aku kembali percaya, mungkin ada suatu hari yang sudah ditakdirkan untuk kami bertemu. Entah kapan.

Bagaimana jika umurku tidak sampai ketika hari terbaik itu tiba? Pahit karena jarak kami hanya terpisah beberapa meter. Aku sudah menunggu dengan penuh harap sejak pukul dua siang. Meninggalkan semua rutinitasku sesaat, membongkar uang tabungan yang seyogyanya kupakai untuk membeli buku kuliah semester depan. Semua itu kulakukan agar aku dapat bertemu dengan sahabat lama, yang sangat istimewa.

Hadiah istimewa yang sudah kusiapkan untuknya sudah tidak berarti lagi. Sejak pukul dua siang aku menunggu di terminal A kedatangan dalam negeri. Ini pengalaman pertama bagiku pergi ke bandara seorang diri. Aku khawatir tidak dapat menemukan Vivi karena salah tempat dan sebagainya. Berputar dan berjalan tak tentu arah memastikan bahwa itu terminal yang tepat. Terus tak sabar melihat detak detik jam di dinding. Terus memerhatikan jadwal landing pesawat dari Jogjakarta. 

Sesekali bolak-balik ke toilet bandara sekedar untuk merapihkan penampilan karena ingin terlihat sempurna di depan sahabat lama. Bermacam orang berseliweran di sekitarku. Para pramugari dari salah satu maskapai penerbangan swasta tampak cantik dan anggun dengan seragam yang dikenakannya. Tak jauh dari sana terlihat beberapa pria dengan seragam khas pilot sedang membincangkan sesuatu dengan bahasa yang hanya dapat dipahami antara mereka saja.

Pukul 15.30, seharusnya pesawat yang membawa Vivi dari Jogjakarta sudah tiba. Tapi belum ada tanda-tanda kedatangannya. Baterai ponselku juga hampir lemah. Aku khawatir kalau-kalau tidak dapat mengangkat telepon darinya untuk bertemu. Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang, saat perpisahan SMP dulu. Ketika Vivi tidak bisa berpamitan kepadaku hanya karena baterai handphone-ku yang sedang lemah. Tidak untuk kali ini. 

Waktu berlalu bagai memburu, aku mencoba mengusir rasa lapar dengan sebungkus roti isi coklat dan sebotol air mineral dari minimarket di dekat lorong yang menuju ruang terbatas yang hanya dapat dimasuki oleh yang berkepentingan. Dimana Vivi, gumamku pada diri sendiri. Tidak ada yang bisa aku ajak bicara di sana. Sebuah novel yang kubawa sebagai pembunuh penat juga tidak banyak membantu karena pikiranku lebih tertuju pada Vivi. 

Namun, akhirnya aku hanya membawa pulang kekecewaan. Sampai pukul 17.00 Vivi tak kunjung datang ataupun menghubungiku. Sementara jadwal yang sedari tadi kupandangi sudah tidak memuat lagi waktu kedatangan pesawat dari Jogjakarta. Kutelan bulat-bulat rasa itu. Berpikir positif dan kembali berharap. Pikiran kalutku saat itu membuatku hanya bisa menangis tersedu sedan.
~ ~ ~

06 Desember 2011, 19.15

Butiran bening itu tumpah ruah di dalam bus DAMRI yang kutumpangi. Tak kupedulikan lagi orang-orang di sekeliling yang mungkin sedang menatap aneh ke arahku saat ini. Inilah yang sejak awal selalu membuatku takut. Takut bila angan itu terlalu indah untuk menjadi nyata.

Aku sengaja memilih tempat duduk dekat jendela di sisi sebelah kanan dengan maksud agar aku bisa menatap keluar dan menumpahkan kesedihanku tanpa disadari oleh siapapun. Pendar cahaya dari sorot lampu mobil-mobil yang berada di samping bus terlihat buram karena kaca jendela yang basah oleh hujan. Sejak kepulanganku dari bandara setengah jam yang lalu, hujan mengguyur deras kota Jakarta. Aku sudah tidak memedulikan lagi bagaimana cuaca di luar, karena di dalam hatiku tak ubahnya seperti hujan ini. Sesak sekali rasanya.

Sekali dua kali ku usap airmata yang menetes di pipi. Ketika bus memasuki jalan tol dalam kota yang padat merayap, kondektur bus mulai berkeliling untuk meminta uang tiket dari para penumpang. Satu per satu hingga tiba di barisan kursiku. Orang yang duduk di sebelahku memberikan selembar uang 20.000 kepada sang kondektur, dan akupun melakukan hal yang sama dengan menyodorkan uang berwarna hijau itu. Tanganku yang gemetar tidak dapat kusembunyikan.

Untuk sesaat pandanganku bertemu dengan orang yang duduk di sebelah. Dia seorang laki-laki, berpakaian ala eksekutif muda. Mungkin habis melakukan perjalanan bisnis, berbeda sekali denganku yang mengenakan baju kasual ala mahasiswa. Aku sebenarnya sungguh berharap tiada sesiapapun yang menempati tempat duduk kosong di sebelahku. Padahal kursi di barisan depan dan belakang masih banyak yang kosong, batinku.

Di dalam bus aku kembali teringat dengan surat pertama yang dikirimkan oleh Vivi satu tahun setelah acara kelulusan SMP kami. Tidak terkatakan betapa buncahnya bahagiaku saat itu. Setelah hampir satu tahun tidak pernah menerima kabar darinya. Aku membuka amplop surat itu dengan perlahan agar tidak merobek bagian dalam surat. Kata-kata dalam suratnya tidak terlalu kuingat. Namun aku selalu menyimpan dalam hati tulisan Vivi, bahwa suatu saat kita pasti akan bertemu. Di hari terbaik yang sudah dijanjikan Tuhan untuk pertemuan itu. Dan hari itu pasti akan datang.

Sejenak aku menghela napas, hari itu bukanlah hari ini.

Di antara kami berenam, Vivi-lah yang paling dekat denganku. Sejak sekolah dasar aku tidak pernah punya sahabat dekat. Aku cenderung pendiam dan menutup diri dari orang lain. Aku sering duduk sendiri di kelas, tak ada teman sebangku. Setiap jam pelajaran berakhir yang kulakukan adalah cepat-cepat memacu langkah agar sampai di rumah.

Sampai di kelas dua SMP saat aku berada di satu regu “Paskibra Angsa Emas” SMP kami. Saat itu aku ditugaskan sebagai pembawa baki di upacara karena salah satu dari tiga “dewi” pengarak bendera tidak masuk sekolah sebab sakit. Dalam latihan yang berat dan panas matahari yang begitu terik, tiba-tiba saja pandanganku menjadi kabur dan tidak sadarkan diri. Ketika tersadar aku melihat Nadin juga Vivi sedang menjagaku di ruang UKS (Unit Kesehatan sekolah). Itulah kali pertama aku berteman baik dengan Vivi yang adalah teman sebangku Nadin di kelas 2.3. Kelas yang sama dengan kelasku.

Aku tidak pernah lupa bagaimana kami selalu menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah. Menjadi “penunggu” sekolah hingga sepi dan adzan maghrib berkumandang dari masjid besar yang terletak di dalam kompleks sekolah. Basecamp favorit kami adalah bagian belakang masjid yang tertutup oleh pembatas kain berwarna hijau. Di sana kami bisa menceritakan apapun dan tidak pernah kehabisan topik pembicaraan. Sampai sekarang jika sekali waktu aku berkunjung ke masjid itu, aku masih bisa membayangkan dengan jelas bayangan teman-teman di sana.

Sesekali Dian, Ana, dan Eha bergabung bersama kami. Kami berenam dikenal sebagai satu “geng”. Di masa itu, hal semacam “geng” adalah biasa. Tapi “geng” ini terbentuk karena ketidaksengajaan. Dian dan Ana adalah temanku di kelas satu. Selepas kelas dua, pertemanan kami semakin akrab dan akupun berkenalan dengan teman sebangku Dian yaitu Eha. Begitulah persahabatan ini terjalin. Tapi aku tidak suka bila kami dipanggil sebagai “geng” karena persahabatan sejati lebih dari itu.
~ ~ ~

06 Desember 2011, 20.00

Kepalaku terasa berat dan pusing. Bus DAMRI ini belum juga tiba di terminal tujuan Pasar Minggu. Dari Pasar Minggu aku bermaksud melanjutkan perjalanan dengan kereta api sampai ke Depok. Ia tertahan dalam kemacetan di seputar Patung Pancoran. Suara klakson dari mobil dan motor saling bertautan. Hm.. menambah sakit kepala saja, batinku.

Saat melihat jam di tangan kanan, barulah tersadar kalau aku sempat tertidur selepas memberikan uang tiket tadi. Orang berpakaian eksmud (eksekutif muda.red) di sampingku sudah tidak ada, mungkin dia sudah turun di perempatan jalan di bawah flyover Pancoran. Sekilas, aku teringat suara gaduh Pak kondektur mengingatkan para penumpang yang ingin turun di sana. Ya, ini lebih baik. Setidaknya sekarang kursi ini milikku seorang.

Sambil bertopang dagu dengan tangan kanan, aku menghapus embun hujan yang ada di kaca bus. Sejenak mata ini terpaku pada gelang manik-manik dengan untaian warna hitam, merah, dan sebuah manik besar warna kuning di tengahnya yang terpasang ajeg di tangan kananku.

Sudah berapa tahun ya gelang itu ada di sana? Kira-kira sudah  empat tahun gelang itu terpasang di pergelangan tanganku. Waktu duduk di kelas 3 SMA, gelang itu sempat rusak dan putus. Aku begitu panik karena khawatir tidak bisa memperbaikinya, Syukurlah, akhirnya gelang itu bisa kembali seperti semula. Hanya saja kini gelang itu terikat simpul mati yang sulit untuk dibuka. Jadilah gelang itu menemaniku melewati semua momen dalam tahun-tahun kehidupanku sampai sekarang. Seakan Vivi masih ada di sini menemaniku. Menjalani hari seperti apa yang sering Vivi katakan padaku dalam surat-suratnya, “Bersemangatlah pada apa yang baik dan bermanfaat bagimu, Zi”.

Kadang bila aku membutuhkan teman untuk diajak bicara tapi tidak ada siapapun di sana, aku akan berbicara pada gelang ini. Gelang ini menyimpan banyak arti untukku. Aku berpikir tidak akan pernah melepaskannya sampai nanti aku bertemu dengan Vivi kembali. Dia selalu mengatakan kalau aku ini seorang yang ceroboh karena selalu saja menghilangkan barang-barang atau merusakkannya. Aku ingin menunjukkan gelang ini padanya, agar ia tahu bahwa aku menjaga hadiah darinya dengan baik.

Vivi, sedang apa ya dia di sana? Apakah dia sudah sampai? ucapku pada udara di sekitar.

Vivi adalah sahabat yang unik. Di antara kami berenam, Vivi yang paling tinggi. Sampai-sampai ada beberapa dari pintu di ruang kelas yang harus dilewatinya dengan sedikit menunduk. Ukuran sepatunya juga raksasa. Tapi di antara kami, Vivi memang seorang “Bunga”. Tinggi semampai dengan wajah yang cantik.

Ia juga satu-satunya sahabat yang selalu setia mendengarkan ocehanku tentang cerita-cerita fantasi yang sering aku karang sebelum menuliskannya di atas kertas, lantas meminta pendapatnya tentang cerita itu. Setiap ada kesempatan untuk menginap di salah satu rumah dari kami, Vivi akan langsung memintaku untuk melanjutkan cerita atau mengisahkan padanya cerita yang baru. Ia selalu senang aku ceritakan bagian di mana Vivi menjadi tokoh utamanya. Hingga detik ini, hanya Vivi seorang yang menjadi pendengar dan pembaca setia semua ceritaku.

Sekali waktu, sepulangnya dari acara studi wisata sekolah, aku, Nadin, dan Dian berkumpul bersama di rumah Nadin. Di sana juga ada Vivi. ia tidak bisa ikut di acara tersebut karena kondisi ekonomi keluarganya yang kurang baik. Aku belum menyadarinya saat itu. Aku baru sadar setelah kami berpisah dan lulus dari SMP dan menyadari bahwa Vivi memang tidak pernah ikut serta dalam acara-acara semacam itu.

Aku memberinya oleh-oleh sebuah boneka beruang berwarna kuning. Dengan candaan khasnya Vivi justru berkata, “Zi, apa benar kau membayangkan aku ketika membeli boneka ini? Wajahnya tidak secantik aku dan dia berwarna kuning. Ini lebih cocok untukmu, hehe…” ucap Vivi sembari memeluk boneka bulu itu. Lalu ia melanjutkan, “tapi terimakasih ya, karena kamu masih mengingatku di sana,” Vivi mengatakan itu dengan senyum.

Banyak waktu yang kami lewati bersama. Seperti saat berkunjung ke rumah Nadin. Di sana kami sering mengadakan sesi “curhat” dadakan. Sehabis menyantap makan siang sederhana dengan gado-gado, aku memutar stasiun radio yang jadi favorit kami bertiga. Sembari menunggu Nadin menyelesaikan piket harian rumahnya, aku menggambar sebuah karakter di atas sketch book sementara Vivi asyik menyimak celotehan penyiar radio dan sesekali membolak-balik buku tugas yang seharusnya kami kerjakan.

Di tengah-tengah siaran, sebuah lagu diputar sebagai request. Lagu itu berjudul “Hadiah untuk mama”. Tanpa kusadari airmataku menetes saat mendengarnya. Vivi panik dan menepuk-nepuk pundakku untuk menenangkanku. Ia lalu bersedia mendengarkan keluh kesah dan rasa kangenku pada Ayah dan Ibu yang sudah lama tidak kutemui. Vivi selalu ada saat aku butuhkan.

Waktu menunjukkan pukul 21.00. Bus yang aku tumpangi sudah menepikan kendaraannya ke sisi kiri jalan. Karena malam sudah larut, Bus tidak berhenti di terminal dan langsung pulang ke Pool Bus segera setelah menurunkan penumpang terakhirnya.

Udara malam itu lumayan menusuk kulit, udara setelah hujan. Aku bergegas menuju stasiun kereta api Pasar Minggu. Tapi semua jadwal keberangkatan kereta kacau karena ada kereta ekonomi yang mogok di stasiun Universitas Pancasila. Mau tidak mau aku terpaksa memilih alternatif kendaraan lain. Tapi di jam itu angkutan kota (angkot.red) 04 jurusan Depok sudah jarang dan sekalinya ada, pasti sudah penuh ketika sampai di halte pemberhentian Pasar Minggu.

Hal ini mulai membuatku frustasi. Setelah kejadian di bandara dan sekarang keadaan ini membuatku merasa ini adalah skenario yang sangat sempurna untuk menjadi penutup segala kemalanganku di hari itu. Sambil sesekali menyeka airmata di pelupuk, aku berjalan melawan arah untuk menemukan angkot yang belum terlalu penuh.
~ ~ ~

10 Desember 2011, 23.00

Empat hari sudah terlewati, tapi yang kurasakan kesedihan itu seperti sudah berlalu sangat lama, seperti sudah lewat berminggu-minggu yang lalu. Rasa sedih yang perlahan terlupakan dengan obat paling mujarab sedunia, tidur yang panjang. Aku seperti seseorang yang terkena amnesia. Aku tidak bisa mengingat kembali dengan jelas apa yang sudah kulewati empat hari ke belakang. Bagaimana bisa? Tak ada jawaban.

Aku melihat kembali surat-surat yang dikirimkan Vivi untukku. Semarah apapun aku padanya, aku tetap tidak bisa membencinya karena ia sahabatku. Kenangan saat kami sama-sama menari dan bernyanyi bak superstar lewat radio tape yang memutar lagu favorit. Atau ketika kami saling berlomba mengirimkan lagu request dan menebak siapa yang lagunya lebih dulu diputar. Semua itu selalu dapat membuat senyum dan tawa kecil terbentuk di wajahku.

Dalam salah satu suratnya Vivi menulis,
“… Dulu kamu satu-satunya teman yang ngelarang keras aku buat nyontek. Atau buang sampah sembarangan. Atau makan sambil jalan-jalan. Bahkan hanya tanya 1 terjemahan kata saja dalam bahasa inggris kamu bukannya nyodorin jawaban tapi malah nyodorin kamus. Dulu aku pikir kamu itu pelit banget sih dan cerewet, hehe.. jangan marah ya, Zi. Tapi ternyata semua hal itulah yang terbaik, hingga aku bisa seperti sekarang. Maaf ya untuk semuanya…
… Walaupun aku gabisa di dekat kamu lagi untuk menjadi sahabat yang baik buat kamu. Tapi di depan masih ada waktu yang penuh harapan. Aku ingin kamu bisa mendapat teman yang bisa mewujudkan keinginanku. Aku ingin dia lebih baik dari aku yang dulu. Semoga Allah memudahkan. Tapi kamu harus ingat, aku tetap jadi sahabat kamu,”
~ ~ ~

07 Desember 2011, tiga hari sebelumnya.

Message received from Vivi, 05:47:46,
“Apa kabar Zi? Apa kamu masih marah? Mungkin sekarang tidak berguna lagi apa yang mau aku katakan. Tapi mungkin ini bisa menghilangkan kesalahfahaman kita. Sesuai jadwal, pesawat yang aku tumpangi transit di Jakarta selama 2 jam. Tapi ternyata kami baru tinggal landas dari Jogja jam 15:30 (mundur). Sampai sana langsung urus semua administrasi untuk ke Lampung. Setelah beres semua urusan, ini takdirNya, selang 15 menit kemudian kami langsung dipanggil ke pesawat. Dalam waktu singkat itu aku sudah minta izin suami untuk bertemu denganmu. Tapi kata suami sudah tidak sempat. Yang bisa masuk ke sini hanya yang memiliki tiket dan waktu keberangkatan pun tinggal sedikit lagi. Aku sendiri tidak begitu paham tentang hal itu karena ini penerbangan pertamaku. Aku juga sudah siapkan hadiah kecil untukmu. Tapi ini sudah takdirNya, Allah belum mempertemukan kita. Jujur, selama di pesawat ke Lampung aku merasa bersalah sekali. Semoga Allah mengampuni diri ini yang sudah membuat sahabat baiknya kecewa. Maafkan aku, Zi…”
~ ~ ~

14 Desember 2011, seminggu setelah janji pertemuan itu berlalu.

Pada akhirnya aku tahu, alasan yang membuat Vivi tidak bisa menemuiku. Dan aku juga paham, setelah ini mungkin akan sangat sulit berkomunikasi dengannya. Itu karena segalanya telah berbeda sekarang. Vivi memiliki kehidupan baru yang jauh berbeda denganku serta tanggung jawab yang lebih besar.

Entah kapan, hari di mana aku bisa bertemu dengannya. Sampai kita bertemu kembali. Hari di mana aku bisa menyerahkan secara langsung hadiah untuknya saat perpisahan SMP dulu yang hingga kini masih aku simpan dengan baik. Dan menunjukkan gelang pemberian darinya yang telah aku jaga dengan sepenuh hatiku. Aku akan meyakini hal ini dengan segenap hatiku.

Setidaknya, salah satu mimpiku untuk bisa pergi ke bandara dengan menumpang Bus DAMRI sudah terwujud. Tapi pengalaman pertama berkunjung ke sana kenapa harus meninggalkan rasa sedih ini? Benar kata orang, bandara itu selalu bisa menggoreskan banyak kisah. Kisah tentang pertemuan, kisah tentang cinta, kisah tentang penyesalan, kisah tentang perpisahan. Sayangnya kali ini aku mengalami yang terakhir itu.

Semoga suatu hari nanti, di tempat yang sama pula, aku bisa membawa pulang sebuah senyuman.
~ ~ ~

PS: Untuk sahabat kecilku, di manapun ia berada kini. Darinya aku memahami kehangatan sebuah persahabatan. (Salam dari Lizzie untuk ferreira)


Semasa berlalu, aku melanjutkan hidupku. Berputar, berjalan selangkah demi selangkah.

Bahkan sebelum ada bayanganmu, dalam keyakinan aku telah mengagumimu sekian lama. Dan kini aku akhirnya menemukanmu pada simpang jalan itu.
Seseorang yang memegang benang merah yang sama. Setipis apapun ia, tetap akan menimbulkan getaran tanpa harus diumbar oleh kisah roman picisan masa kini.

Karena jalan yang sudah ditetapkan dalam Sunnahnya jauh lebih indah dari sekedar kisah roman picisan.

Kata-kata ini kusimpan hanya untukmu. Berharap suatu hari nanti aku punya kesempatan untuk mengatakannya:
"Maukah kau selamanya menjadikanku sebagai lagu di hatimu?", "Izinkan aku menjadi 'jalan pulang' untukmu. Maukah kau menjadi pendamping dalam hidupku? Menapaki jalan berliku di depan bersama-sama, berharap keridhoanNya. Membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah?"
 

~ ~ ~
Kini seseorang yang menyimpan salah satu potongan mozaik ukhuwah ini telah menemukan 'jalan pulang'nya. Doa terbaik akan selalu mengiringinya dalam perjalanan yang baru. Semoga mozaik lain dalam hidupnya akan mewujud menjadi lukisan indah berikutnya. Hingga rambut memutih, hingga ajal menjelang. ^_^
This song dedicated to a gift from someone.
~ ~ ~


Song by: Demi Lovato, Gift of A friend

Sometimes you think you'll be fine by yourself
Cause a dream is a wish that you make all alone
It's easy to feel like you don't need help
But it's harder to walk on your own

You'll change inside
When you realize

[Chorus:]
The world comes to life
And everything's bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are, when you open your heart
And believe in
The Gift of a Friend

The Gift of a Friend...

Someone who knows when you're lost,
And you're scared
There through the highs and the lows
Someone to count on, someone who cares
Beside you wherever you go

You'll change inside
When you realize

[Chorus:]
The world comes to life
And everything's bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are, when you open your heart
And believe in
The Gift of a Friend...

And when your hope crashes down
Shattering to the ground
You, you feel all alone
When you don't know which way to go
And there's no signs leading you home
You're not alone

[Chorus:]
The world comes to life
And everythings bright
From beginning to end
When you have a friend
By your side
That helps you to find
The beauty you are, when you open your heart!
And believe in
When you believe in!
When you believe in...
The Gift of a friend...
Ooh...
(Sumber: http://www.lyricsmode.com/lyrics/d/demi_lovato/gift_of_a_friend.html)

Just suddenly, my eyes tearing when i hear and read this song's lyric. And i remember this note: 

Seseorang yang tidak meninggalkanmu walaupun kau sudah menjalani pilihan yang salah.
Seseorang itu justru datang dengan tangan terbuka dan mengulurkan kedua tangannya untuk mengeluarkanmu dari pilihan yang salah sebelum kau benar-benar menyesal dan sudah terlambat.

Masihkah kau ingin berpaling? Masihkah berpikir dunia akan baik-baik saja bila kau berjalan sendiri? Masihkah ego bahwa kau tidak butuh bantuan dari siapapun?
Dapatkah kau menahan semua rasa dan beban selama itu nanti?
Tidakkah sebaiknya kau segera mengakhirinya dan menyambut uluran tangan seseorang itu?

Ini mungkin kesempatan terakhirmu. Seseorang itu begitu menyayangimu lebih dari dirimu sendiri.
Seseorang itu adalah dia yang kau sebut sebagai teman/sahabat.
Seseorang itu adalah Hadiah yang dikirimkan dariNya di dalam hidupmu...

~ ~ ~

Maka tidak heran bila kita mendengar banyak catatan dalam risalah, bagaimana arti seorang teman dan sahabat. Jika kau ingin mengenal seseorang lebih baik, kenalilah siapa kawannya.

Bahagia bagi mereka yang telah menemukan teman/sahabat baik dalam hidupnya. Jangan pernah menyia-nyiakan hadiah itu karena kelak tak akan kau dapati lagi seseorang sepertinya.

Mulailah berkirim sapa dan salam padanya jika kau sempat tak acuh padanya karena sibuk dengan duniamu sendiri.
"Kehilangan teman begitu menyakitkan, baik itu karena kesibukan masing-masing ataupun karena jarak yang memisahkan" (bang Tere lije).

Kau baru akan menyadari hal itu ketika kau ingin berbicara dengan seseorang namun tak ada satupun kontak di ponselmu yang bisa kau tekan tombolnya.

Menjalin hubungan (silaturahim.red) dengan orang lain memang merepotkan, tapi di dunia ini kau tidak bisa hidup sendiri.



Natsu/Musim Panas (Juni, Juli, Agustus)


Siang itu udara terik sekali. Rasaanya kamarku ini seperti dalam oven saja. Satu bulan telah lewat, Kuniko masih sibuk dengan kelas pelajaran tambahan yang harus diikutinya. Kasihan juga meliharnya, ck..ck.., Ku-Chan, Ku-Chan.

Sudah lewat satu bulan ini pun, Sakurako belum kembali ke asrama. Semua sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, kecuali satu orang yang sedang asyik di teras atas tempat favoritnya. Siang itu Aiko memang sedang tidak ada kerjaan, tugas-tugas makalah dari guru baru rampung setengah dikerjakannya. Di atas sana, seperti biasa Aiko tengah mendinginkan kepala. Buku catatan di hadapannya sudah penuh dengan dengan coretan ide-ide finishing makalah. Hanya tinggal menunggu pinjaman laptop Nishi, batin Aiko. Sayang sekali di saat seperti ini komputer desktop di lantai mezzanine kamarku yang biasa dipakai oleh Aiko sedang dalam masa perawatan rutinnya.

Untuk urusan laptop. Nishi memang paling cerewet. Laptop milik Nishi tidak ada bedanya dengan laptop baru yang terpajang di etalase toko. Masih mulus sekali, hehe.. Nishi memang sangat telaten pada barang-barangnya, terutama laptop kesayangannya. 

Sebenarnya Aiko bisa saja meminjam laptop Kuniko, tapi gara-gara nilainya jeblok di ujian grade kemarin, guru pembimbingnya menyita laptop Kuniko selama masa perbaikan nilai. Walhasil, mau tidak mau Kuniko harus menebus latopnya dengan belajar sungguh-sungguh. 

Dan kalau meminjam laptop milik Yumiko, dijamin Aiko pasti pusing sendiri. Karena laptop Yu-Chan sudah penuh menjadi korban praktek aplikasi dan software desain animasi buatannya. Semua file dan program menjadi ikon anime Naruto dan semuanya berbahasa aneh yang hanya Yu-Chan yang mengerti. Kebayang kan, mungkin untuk mengetik satu paragraf saja butuh waktu berjam-jam bagi Aiko yang lebih senang menulis di atas kertas ketimbang mengetik di layar monitor.

Tiba-tiba mata Aiko tertuju pada bayangan seseorang di jalan yang sangat dikenalnya. Dengan panggilan khasnya, Aiko berteriak,
“Ku-Chaan!!” Panggil Aiko sambil melambai-lambaikan tangannya.

Kuniko menengadahkan wajahnya ke atas bangunan asrama. Hanya titik hitam yang terlihat di sana. mata minusnya tidak begitu jelas melihat benda-benda yang jauh tanpa kacamata. Tapi dari suara itu, Kuniko langsung tahu, itu pasti si usil Aiko. Hari itu Kuniko baru mengikuti pre test pertama dari masa tiga bulan kelas tambahan di musim panas untuk perbaikan nilainya. Dari wajahnya, sepertinya hasil ujian kali ini tidak terlalu baik.

“fiuh..” hela napas Kuniko saat merebahkan tubuh di atas kasur empuknya.

(Suara hentakan kaki menuruni tangga)
Derap-derap langkah terdengar menuruni tangga mezzanine.
“Hai, Ku-Chan! Gimana hasilnya???” Tanya Aiko penuh semangat.

Tadi pagi sebelum berangkat, Kuniko meminta “restu” pada teman-temannya untuk ujian pre test hari ini. Namun tidak ada jawaban darinya. Aiko langsung tahu, pasti tidak terlalu baik.
“Hei, Ku-Chan.. Pernah dengar cerita si Einstein penemu bola lampu itu gak?” Tanya Aiko. Tidak ada jawaban lagi, Aiko pun melanjutkan ceritanya, “ Dulu Pak Einstein tua sering di ejek oleh teman-temannya karena tidak pernah berhasil dalam percobaan yang dianggap ide konyol oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi, Ku-Chan tahu gak apa yang diucapkannya saat dibilang bahwa ia tidak akan pernah berhasil? Dia berkata, sungguh sebenarnya aku tidak pernah gagal. Aku justru telah berhasil menemukan 9.999 cara yang telah membuat percobaan ini gagal dan untuk itu aku bisa mencari cara lainnya agar tidak gagal lagi,” Aiko bercerita sambil menirukan suara berat bapak-bapak, hehe..
Sambungnya, “Dan pada percobaannya yang ke 10.000, akhirnya Pak tua yang dianggap aneh itu berhasil menemukan bola lampu. Eh, Ku-Chan.. kalau waktu itu Pak Einstein berhenti mencoba, pasti sekarang mungkin dunia masih gelap gulita ya, hehe..” tutup Aiko sambil terkekeh, geli sendiri dengan ceritanya.

Kuniko lantas terduduk di atas tempat tidurnya, “Hm.. si penemu itu pernah gagal juga ya. Ngomong-ngomong, penemu bola lampu itu bukannya Isaac Newton ya?” ucap Kuniko dengan wajah kemenangan karena berhasil menjahili Aiko.
Aiko langsung teringat, “ Oh iya ya, hihi.. Ya, pokoknya nobody’s perfect deh, ya ‘kan? Mau coklat?” sodor Aiko.

(Terdengar suara pintu dibuka)
“Aku pulang!!” Sapa Yumiko, “ Waah.. Coklat.. Mm.. pasti punya Ai ya?” ucap Yumiko saat melihat coklat di tangan Kuniko.
“Ini untuk Ku-Chan, Ini untuk Yu-Chan,” kata Aiko samil mematah-matahkan batang coklat kesukaannya, “ Nishi-Chan tidak pulang bareng Yu-Chan?”
“Mm.. Nishi sedang ada dateline di klub jurnalistiknya. Karena sebentar lagi kegiatan belajar akan usai dan tahun ajaran baru, dia dan klubnya sedang mempersiapkan majalah edisi akhir tahun. Tadi aku baru saja dari sana. Mm.. dia kelihatan sibuk sekali,”
“Aku jadi ingin tahu, kalau Nishi sedang serius seperti apa ya??” Kuniko mereka-reka. Hh.. dasar ^^

“Jadi ingat, biasanya sakurako yang memberikan coklat ini kalau kita sedang bosan atau sedih. Mm.. Aku jadi kangen. Apa sakit Ibunya kali ini sangat buruk, ya?” ucap yumiko.
“Kuharap tidak. Ayo kita semua berharap yang terbaik! Untuk kesembuhan Ibunya Sa-Chan, untuk kelancaran dateline majalah Nishi, untuk kemudahan Ku-Chan di kelas tambahannya dan untuk keberhasilan Hana di ujiannya kali ini,” ucap Aiko, “oh iya lupa, buat Yu-Chan juga. Semoga mimpi Yu-Chan sebagai komikus terwujud dan impianku untuk keliling dunia juga,” Aiko optimis.
“Aamiin…” Ku-Chan dan Yu-Chan menjawab kompak.

-HT-

Musim panas tahun itu sudah mencapai puncaknya. Di tengah suhu panas yang menyergap, teman-temanku –Aiko, Nishi, Hana, Kuniko, dan Yumiko- berjibaku mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk perguruan tinggi. Begitu juga dengan Sakurako. Tapi bahkan satu bulan berlalu, ia belum juga menampakkan dirinya. 

Kalender di dinding dapurku penuh dengan coretan-coretan dan di sana ada satu tanggal yang dilingkari dengan gambar kue tart. Itu hari ulang tahun Sakurako, tepatnya tanggal 10 Juni. Dan hari ini sudah lewat satu bulan sejak hari ulang tahunnya.

Di sudut ruanganku, di atas meja belajar Hana, ada satu hari di kalender miliknya yang dilingkari dengan spidol warna merah muda, warna kesukaannya. Di sana tertulis, “masa depanku”. Hari pengumuman hasil ujian masuk Sekolah Tinggi Statistik yang diikuti Hana satu bulan lalu. Dan hari pengumuman itu adalah hari ini. Pagi-pagi sekali sebelum semuanya terbangun, Hana sudah melangkah pergi ke tempat pengumuman. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Hana selama kurang lebih enam tahun terakhir hidupnya. Menjadi mahasiswa di sana adalah mimpi besarnya. Itu sebabnya ia memilih jurusan ilmu stastistik dan itulah alasan Hana belajar tekun setiap harinya, untuk satu hari itu dan hari yang dinantikannya telah tiba.

Dan sejak sekembalinya Hana dari sana, sedikitpun dia tidak bergerak dari meja belajarnya. Aku melihatnya seperti itu, dan aku ingin menghiburnya. Tapi tak ada daya pada diriku. Hana terlihat sedih sekali. Kedua matanya terlihat sembab. hari masih siang saat Hana pulang, sehingga yang lainnya masih berada di luar sana dengan kegiatannya masing-masing.

-HT-

“Hana…” ucap Aiko sambil merangkul bahu Hana.

Keadaan Hana masih sama, Hana tampak terpukul sekali dengan apa yang dialaminya. Setelah Nishi mencoba keras untuk mencari tahu lewat internet dan sumber lainnya, barulah ia, Kuniko, Yu-Chan, dan Aiko paham apa yang sebenarnya terjadi. Karena berkali-kali pun mereka bertanya pada Hana apa yang terjadi, Hana tak pernah mau membuka suaranya. 

Hana tidak terdaftar dalam daftar nama calon mahasiswa yang diterima di Sekolah Tinggi Statistika itu. Dan hal ini telah membuat suasana kamarku bagaikan digantungi awan gelap. Siapapun tahu, tidak ada hal yang lebih diinginkan Hana selain menjadi mahasiswa di sana.

Namun, hari-hari kelabu itu tampaknya tak ingin menggantung lama. Bagai pelangi yang muncul setelah hujan, dua hari kemudian Hana terlihat kembali bersemangat. Ia bahkan bangun lebih pagi dari teman-temannya. Saat Aiko membuka mata pagi ini, wangi bunga krisan kering yang diseduh menjadi teh, memenuhi ruangan kamar asrama. Hana telah bangkit kembali, ya, itulah Hana yang kukenal. Ruangan kamarku kembali dipenuhi warna-warni hiasan bunga yang setia mekar di musim panas.

(Suara kamera diputar, blitz!)
Tiba-tiba kilatan lampu blitz kamera menghadang Hana yang sedang membawa sarapan pagi ke meja tengah.
“Pagi, Hana!” sapa Nishi yang iseng.
“Nishi, mengagetkanku saja. Wajahku pasti terlihat jelek di kamera!” ucap Hana.
“Hehe.. Cuma mau tes kamera kok. Hm.. ngomong-ngomong ada acara apa hari ini? Pagi-pagi sudah begitu bersemangat?” kata Nishi tersenyum.
“Tidak ada. Aku hanya merasa senang hari ini. Ayo semuanya, sarapan!” seru Hana. Melihat Hana, Nishi tahu kalau kesedihannya pasti sudah berlalu. Waktu memang obat terbaik untuk menyembuhkan segala luka.

Yumiko, Kuniko, dan Aiko segera ke meja tengah begitu mendengar seruan sarapan Hana. Hari itu mereka libur, libur musim panas tepatnya. Namun bukan liburan yang tenang, mengingat musim dingin nanti ujian perguruan tinggi akan di gelar.

Tiba-tiba suara deringan telepon menghentikan tawa mereka pagi itu. Aiko bergegas bangkit dan sigap mengangkat telepon.  
“Halo? Aiko?” suara di ujung telepon.
Sangat akrab dengan suara satu itu, Aiko sontak berseru, “ Sa-Chan!!!”

Lalu mereka yang tadinya asyik menikmati sarapan, langsung mengerubungi Aiko dengan teleponnya. Walau aku tahu suara di telepon itu mustahil terdengar, tapi Hana, Nishi, Yumiko, dan Kuniko, takjim berdiri di sana.

Hubungan telepon pun diputus. Dengan wajah sumringah, Aiko mencoba mengatakan yang didengarnya dengan perlahan dan jelas.
“Sa-Chan, akan pulang malam ini!!!” seru Aiko.

Tanpa dikomandoi, mereka semua ikut berseru riang. Kepulangan Sa-Chan entah bagaimana seperti menggenapi sesuatu yang hilang. Apalagi kepulangannya bertepatan dengan momen ulangtahun Sakurako yang belum mereka rayakan. Berbagai ide penyambutan menari-nari di atas kepala mereka. Senangnya… ^^

-HT-

Langit berbintang merambah angkasa. Jika saja dengan menghitung bintang waktu dapat bergulir lebih perlahan, sudah tentu akan kulakukan untuk membuatku dapat lebih lama lagi menikmati kebersamaan dengan mereka.
“Hei, Naruto-holic, setelah lulus nanti kamu akan lanjut kemana?” Tanya Kuniko sambil mengigit kue kering buatan Hana di atas meja.

Yumiko bercerita, keinginannya sejak dulu adalah menjadi pengarang komik dan bisa berbagi ide-ide dan semangat lewat komik yang dibuatnya. Dan aku tahu hal itu sangat mungkin dilakukannya.
“Mm.. Tapi, aku tidak percaya diri,” ungkap Yumiko, “ Cita-citaku ini tampaknya terlalu banyak berkhayal. Karena itu aku mencoba untuk mengikuti ujian nanti. siapa tahu aku bisa masuk ke salah satu jurusan yang mungkin aku bisa nikmati,” ucap Yumiko.
“Tapi kalau begitu, itu sama saja Yu-Chan telah membuang mimpi, kan?” Aiko berucap, “ Yu-Chan yang aku kenal adalah Yu-Chan yang berani dan selalu yakin dengan apa yang dijalaninya,” Aiko mengakhiri kalimatnya dengan mengenggam erat tangan Yu-Chan.

Saat itu juga sesuatu terasa hangat mengalir dari pelupuk mata Yumiko.

“Awalnya, aku juga merasa demikian, Putus asa lebih tepatnya saat aku tidak diterima di Sekolah Statistik yang menjadi keinginanku sejak dulu. Tadinya aku kira untuk itulah aku berada di sini. tapi hal itu justru menyadarkanku, bahwa akulah yang telah membatasi tujuan hidupku. Ternyata keinginanku yang sesungguhnya berada sangat dekat dengan diriku,” Hana bercerita dengan penuh ketegaran, sambil menatap kerlip bintang di angkasa.

Nishi lantas bertanya apa rencana Hana selanjutnya. Secara mengejutkan Hana menjawab tidak akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
“kamu yakin, Hana?” Tanya Sakurako.
“sangat yakin! Aku akan mengikuti pendidikan menjadi seorang florist. Setelah itu, akan kubuka toko florist-ku sendiri,” jawab Hana dengan mantap, “Kalau Sakurako pasti juga begitu kan? Menjadi seorang chef terkenal,” ucap Hana seraya menyeruput segelas sirup leci.

Sakurako hanya tersenyum mendengarnya. satu lagi yang mengagetkanku, Sakurako berkata ia akan ikut ujian perguruan tinggi dan memilih fakultas MIPA -di salah satu universitas luar daerah dekat rumahnya- sebagai tujuannya.
“Sayang sekali keahlian memasakmu, Sakura,” seloroh Nishi.
“Aku juga berpikir hal yang sama. Tapi keluargaku menginginkanku menjadi ‘somebody’ di masa depan. Di keluargaku, hampir semua anggota keluarga kami menjadi guru. Ibupun ingin agar kelak aku menjadi guru sama seperti beliau. Kalau dipikir-pikir tidak beda jauh ‘kan, memasak dengan guru MIPA?” Ucap Sakurako membenarkan diri.

Yang lainnya hanya terdiam. Jelas beda kan, masak dan MIPA, hehe.. gumamku tanpa bisa bersuara. sakurako memang ahlinya membuat padanan kata tak serasi, hehe..

GIliran Sakurako yang berbicara, “Gimana rasanya ikut pelajaran tambahan, Kuniko?” canda sakurako. Yang ditanya justru tertawa sendiri.
“Kalian tahu, karena pelajaran tambahan ini aku jadi menemukan cita-cita ku yang sebenarnya. Sepertinya desain grafis bukan duniaku. Sekarang aku justru ingin menjadi seorang penerbit,” ucap Kuniko.
“Penerbit??” Aiko heran sekali dengan Ku-Chan. Kenapa ingin jadi penerbit?
“Hebat kan penerbit itu, dicari-cari orang. Bisa jadi bos dan bisa menerbitkan buku yang penuh dengan ilmu. Setali tiga uang kan?” Kuniko sungguh ambisius dengan cita-citanya.
“Ku-Chan, Ku-Chan.. Kalau begitu nanti terbitin buku-buku yang aku tulis ya, hehe..” timpal Aiko.

Aiko geli sendiri melihat Kuniko yang begitu sederhana dan polos dalam mimpinya tapi penuh dengan hasrat. Aiko jadi berpikir tentang mimpi dan cita-citanya. Tidak pernah ia merasakan kerinduan yang amat sangat untuk memiliki mimpi dan berusaha untuk meraihnya. Aiko memandang kagum pada Nishi yang punya sejuta talenta. Nishi pasti tidak kesulitan meraih apa yang diinginkannya. Dan pikirannya benar,

“Aku ingin menjadi seorang peneliti. Bisa menemukan hal-hal baru yang bisa membantu kehidupan banyak orang,” ungkap Nishi singkat.
“Kukira Nishi ingin menjadi seorang animator dan desainer grafis. Karena itu kan kamu memilih kelas desain animasi?” tanya Kuniko. Nishi memang sangat jago dalam bidang satu itu.
“Hanya iseng,” jawab Nishi singkat, lagi-lagi. Sahabatku yang satu ini memang eksentrik. Iseng dipilihnya karena memang hanya iseng ingin mencoba-coba.
“Hidup itu kan sementara, waktu yang kita punya juga sama, 24 jam kan. Karena itu mumpung ada kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi, kenapa tidak?” ucap Nishi menjawab kebingungan sahabat-sahabatnya.
Ucapan Nishi membuyarkan lamunan Aiko.

“Ai, apa cita-citamu?” Tanya Hana.
“Mm.. Iya nih Ai-Chan, aku juga ingin tahu,” ucap Yumiko yang kembali bersemangat lagi.

Nishi, Kuniko, dan Sakurako menatap Aiko, menunggu jawaban darinya. Tiba-tiba Aiko berdiri dan  berbalik menghadap wajah sahabat-sahabatnya.
“Begini saja. Sabar menunggu beberapa waktu lagi, ya. Akan kukirimkan cita-citaku pada kalian nanti, ok!” Seru Aiko.
“Dikirimkan? Apa maksudnya?” Kuniko bertanya-tanya.
“Ah, sudahlah. ‘Kan kubilang beberapa waktu lagi, oke!” Aiko kembali membelakangi mereka dan memandang langit di kejauhan, “Sekarang, 5..4..-“

Aiko melirik jam ditangannya sembari menghitung mundur. Dan pada hitungan terakhir, sontak langit musim panas yang tadinya berwarna hitam, dipenuhi oleh tembakan kembang api yang menari-nari, datang dan pergi. Perayaan festival matsuri telah dimulai!
“Yei!!! Ganbatte ne!!!” Teriak Aiko. Mereka semua pun hanyut dalam kemeriahan malam itu.

Di atas atap kamar asramaku, mereka mendirikan tenda sederhana. Ada kue kering buatan Hana dan es sirup leci yang tersaji. Tak lupa kue tart ulangtahun Sakurako yang dibuat bersama-sama oleh Hana, Nishi, Aiko, Yumiko, dan Kuniko, juga ada di atas meja kecil di depan tenda.

Ini adalah matsuri kedua yang aku lalui bersama mereka. Dan mungkin akan menjadi matsuri terakhirku bersama mereka, sahabatku.

-HT-