twitter


Tetaplah bersikap seperti biasanya. Tak perlu ada yang berubah. Aku sudah nyaman dengan itu. Tak perlu berubah perhatian bila biasanya tidak. Tak perlu bertanya bagaimana kabar bila biasanya menyapa pun tak pernah. Tak perlu memaksa berubah untuk peduli bila sebelumnya acuh. Tetaplah seperti biasanya. Seperti sebiasanya dirimu. Karena perubahan itu tidak cocok untukmu. Aku muak melihatnya. Biar saja seperti biasa. Acuh, tak ada basa basi, sibuk dengan masing2. Karena aku sudah terbiasa. Dan itu terasa lebih nyaman. Menangis sendiri, mengadu sendiri. Terjatuh sendiri, bangkit sendiri. Terluka sendiri, mengobati sendiri. Tak perlu khawatir, karena aku sudah terbiasa. Pun bila suatu hari aku tidak mengetuk pintumu lagi, tak perlu panik, khawatir hanya sia-sia. Karena aku tidak mau menjadi beban siapapun terutama dirimu. Jika ada malam dimana aku tidak kembali, jangan mencariku. Pikirkan saja aku berada di tempat yang baik dan nyaman. Pun bila akhirnya aku tidak pernah kembali, jangan bersedih. Berharap saja yang terbaik, meski itu akan merepotkanku. Atau anggap saja aku sebagai angin lalu. Bersikap saja seperti biasanya. Aku akan baik-baik saja. Mungkin saat itu keadaan aku jauh lebih baik dari dirimu. Tidak perlu menangis, karena aku benci mereka yang menangis untukku. Sudah, lupakan saja. Lanjutkan esok. Aku baik-baik saja.


Bilamana hatimu selalu mencelos setiap saat kau melihat bagian dari dirinya.
Bilamana pijakan kakimu selalu goyah setiap saat kau berpapasan dengannya. Hanya dengan melihat potongan dari namanya, degup jantungmu selalu memburu. Dan sekelebat wajah yang mirip dengannya selalu berhasil membuatmu tercekat, lupa bagaimana caranya bernapas. Cinta itu gila. Bagaimanapun ia selalu berhasil membuatmu menjadi "orang gila"


Menghadapi diri sendiri itu jauh lebih berat daripada menghadapi orang lain. Karena ketika kau menghadapi orang lain, ada sosok lain yang berdiri di hadapanmu, dan itu jauh lebih mudah. Tapi ketika harus menghadapi diri sendiri  kau hanya akan melihat pantulan dirimu sendiri di cermin. Tidak ada orang lain. Tiada sesiapapun. Ketika kau membenci orang lain, kau bebas mengatakan yang tidak kau sukai padanya. Tapi ketika kau membenci diri sendiri. Kau berbicara hal-hal yang tidak kau sukai pada pantulan dirimu sendiri, dan itu jauh lebih sulit karena ia tidak memberikan jawaban selain pantulan sempurna dirimu yang saat itu sedang berbicara. Dan yang paling sulit adalah ketika kau bertarung dengan dirimu sendiri. Saat kau meyakini apa yang kau yakini, tapi bagian dari dirimu mengatakan untuk tidak meyakininya, bahwa itu semua sia-sia, bahwa yang kau yakini semua omong kosong. Itu jauh menyulitkan. Karena bertarung dengan diri sendiri butuh keberanian besar, dan itu adalah hal yang semua orang lakukan.


Pasti menyenangkan memiliki tempat persembunyian pribadi di mana tak ada seorang pun yang bisa menemukanmu. Pasti menyenangkan. Kadang aku membayangkan hal itu. Di tempat itu, kau bebas menjadi dirimu. Di tempat itu kau bebas mengekspresikan semua rasa, dan tak ada pandangan sinis, menyelidik, dari orang lain. Mereka terlalu banyak ingin tahu segala hal. Dan aku tak pernah bisa menjawab semua pertanyaan itu. Pada akhirnya, aku menutup pintu rapat-rapat. Pintu hatiku. Eodi ga? Di mana pintu itu berada? Jika ia memang benar ada, aku ingin sekali masuk ke dalamnya. Itu yang egoku sering katakan. Di tempat itu aku tak perlu mendengar pernyataan siapapun tentang diriku. Entah benar atau tidak. Suatu kali aku melintas di atas sebuah jembatan. Mungkinkah jika aku melangkah ke bawah sana, aku akan mampu menemukan tempat itu? Sesaat itu terlihat seperti solusi yang "terbaik". Menuliskannya sesaat membuatku merinding. Betapa ego begitu mengerikan. Lalu, setelah aku menemukannya, apa yang akan aku lakukan di sana? Mungkin untuk bersembunyi selamanya. Bersembunyi dari kenyataan. Bersembunyi dari realita. Itu hal menyenangkan, tapi juga pengecut. Aku menyadarinya. Sesekali, tempat seperti itu dibutuhkan. Tapi tidak untuk selamanya. Kau tahu? Bagaimanapun, saat ini, aku hidup bersama kenyataan. Sesuatu yang harus diperjuangkan. Walau ia terasa amat berat untuk dihidupi. Karena aku hanya punya satu kehidupan sebelum kehidupan lainnya. Yang abadi.


Kupikir, di waktu yang seperti ini tidak adil rasanya jika aku tidak menulis sesuatu. Tiba-tiba saja datang kepadaku.
Semalaman suntuk aku mengulang kembali film yang pernah aku tonton. Film yang aneh, karena selalu menimbulkan perasaan aneh yang hangat saat melihatnya. Pernahkah kalian merasakan hal yang sama? Seolah seluruh bagian dari cerita di dalamnya merasup ke setiap bagian dalam hati dan pikiranmu. Dan untuk beberapa waktu ke depan kau tidak dapat melepaskan diri dari daya tariknya yang besar seperti benda yang tidak bisa mengelak jatuh ke bawah karena gaya tarik gravitasi bumi. Hm.. Pernah dengar kisah serigala dan domba? Ia menceritakan segalanya. Mewakili bagaimana kisah dalam film ini mengalir. Karakter tokoh utama pria dan wanitanya begitu kuat. Ketika kau berbohong tentang perasaanmu yang sesungguhnya, maka hatimu yang akan memberikan jawaban lewat rasa sakit.