twitter



Aku ingin mencari kembali serpihan-serpihan itu..
Serpihan mimpi yang dulu tergambar indah di atas sebuah kertas,
 yang kini,
kertas itu sudah berganti menjadi serpih-serpih.
 Tanpa kusadari, mimpi telah lama pergi.
Entah di mana, pasti akan kucari.
 Aku ingin bisa terbang seperti dahulu,
ingin bisa berlari selepas dahulu,
ingin bisa tersenyum setulus dahulu.
Dahulu, saat mimpi-mimpi itu masih tergambar rapih di genggam.
 Aku rindu.
010113


“Kubahagia, ku tlah terlahir di dunia.. Dengan radarku, ku bisa menemukanmu,,” –Perahu Kertas.
Used to, I have read this book in senior high school. Its always bring a strange feeling to me… Give me some mysterious energy, that there is something missing inside me, then I want to search it, I want to find it.

A couple days ago, I have been dreaming about something. Something like story. And it feels so real, with all my friends that I known. They shadows feels real, like I can touch them. And the ‘sound’ is in  there too. I have no idea, why I can dreamed something like that. While in that dream, there is a beautiful scenery. Where I can run free with my back and no worry to fall down. I hope it’s just  a dream, coz if its not, it will take my all energy to started let the sound go from the beginning again.
Its all about: Boat, water, run, shoes, lost, wave, sound, friend, and story.

#Happy Birthday's Notes


050712
“…Ini tentang Orang yang berjalan cepat dan orang yang berjalan lambat. Jika kisahnya hanya sampai di sini, maka kamu mungkin adalah Nairi. Tapi kisahmu masih panjang. ^_^ Orang yang berjalan cepat dan lambat, Mari kita lihat sisi positifnya. Tentunya orang yang berjalan lambat adalah orang yang paling dapat melihat banyak dan menikmatinya” “Mungkin seperti itulah jalan hidupku.” -Go Hye Mi-

“Jika kau tidak bisa berjalan cepat.. Maka berjalanlah lebih lambat. Jika dibandingkan keduanya, orang yang berjalan lambatlah yang tumbuh lebih banyak”.
#Penghiburan untuk hati yang hampir putus asa saat melihat yang lain sudah berlari jauh, sementara aku masih akan memulai langkah. Dari garis start ini, Aku akan memulai kisahku. ^o^/


 
100712
Hari ini sahabatku, Av milad. Hm.. rasanya sudah asing. Percakapan ringan dan akrab yang dulu mungkin..
Ah, tidak.. mungkin itu hanya karena jarang bersua. Tapi memang ada yang berbeda. Bagiku waktu seperti membeku. Masa saat itu seperti tak pernah bergerak dalam benak. Tapi pada nyata semua sudah jauh berubah. Yang kukira sama, tapi sekarang tidak sama lagi.

------
Bayangnya sudah jauh pergi. Kini terasa ringan. Melepaskan memang adalah yang terbaik.. Hari-hariku kembali. Maafkan aku denting. Tak pernah bermaksud untuk membuangmu. Hanya saja jika kau datang di waktu, saat, dan seorang yang tepat, Aku berjanji tidak akan melepaskanmu lagi. Denting yang akan kujaga karena-Nya.

100812
Orang-orang mulai berubah. Waktu melesat begitu cepat bagai roket yang melekat di angkasa. Aku mulai menyadarinya. Tapi di sini semua tetap sama. Aku tidak berubah. Sama..
Aku dengan angan-anganku dan tentangku. Lalu siapa yang salah? tenggelam aku dalam tanyaku.
Sempat terpikir apa aku yang salah? seorang yang terjebak dalam masa lalu. Yang lain telah berubah jauh pergi, sementara aku masih tetap di sini memeluk anganku sendiri dan kenangan-kenangan bersamanya. Semuanya tak pernah menjadi sama seperti masa itu.. 

Roda yang akan terus berputar. Perjalanan yang masih akan jauh.. Hanya bertanya-tanya kapan aku atau mereka akan sampai ke tujuan. Bertanya, apakah? dimanakah? simpang jalan mana yang mungkin membawa kenangan itu kembali, utuh seperti kemarin. Hari-hari yang telah terlewati.. Aku tetap di sini.

011212
Malam sebelum “bintang” ku  bersinar. Aku berlari bersama bulan dan bintang yang menjadi teman sejati Sang Bulan. Ah.. Rasanya menyenangkan sekali ditemani mereka. Bintang itu akan selalu ada di samping Sang Dewi Malam. Walau bintang-bintang yang lain enggan untuk muncul. Ia bersinar tak mau kalah dengan Sang Rembulan, setia menemani.
Dengan Cinta aku ingin seperti itu.
 Tak sabar untuk meihatnya kembali.

041212
Menangis  bersama hujan, rasanya melegakan. Tak dihalang oleh lengkungan plastik kecil di atas kepala. Bebas.. walau tak ada airmata, tapi hujan sudah mewakilinya. Mewakili perasaan sedih dan gembira menjadi satu. Tapi ada seorang sahabat yang mengingatkanku. Tidak pernah ada hal yang sia-sia di dunia ini. Bahkan niat pun sudah terhitung sebagai sesuatu. rasanya, semua sesal menjadi buih di lautan, hilang di telan ombak.
Terimakasih, Engkau berikan teman terbaik di sisi…

051212
Kemarin, baru pertama kurasakan. Betapa indahnya waktu senja itu. Rona langit oranye kemerahan.
Sapaan akrab langit kelabu, tiba-tiba saja lenyap sore itu. Subhanallah.. Sungguh indah. Langit Jakarta saat senja.
Begitu takjubnya aku karena sudah lupa bagaimana nikmatnya bersama senja. Kuharap hari-hari akan selalu dihiasi senja yang indah. Rasanya seperti sebuah hadiah..
Senja yang senja.

061212
Tak terkatakan betapa besar keinginanku untuk berada bersama mereka hari ini. Berbagi peluh, berbagi canda, berbagi luka dan perih. Tapi aku tak bisa. Desakku pada langit berharap ada keajaiban. Mungkin bagi mereka, aku NOL-pikirku-. Tapi jauh di lubuk, akupun sama-sama inginnya berada bersama mereka. Semoga mereka mengerti. Langit, doaku.. Semoga Engkau menjaga mereka dan menyayangi mereka.
 

 




#Akhir musim semi tahun 2007(Mei)
Bagi kebanyakan orang, asrama adalah tempat yang membosankan dan tidak “cool”. Apalagi tata ruangnya yang kaku dan terkadang kita harus berbagi kamar dengan tiga sampai lima orang. Tapi hari ini ada seseorang yang amat senang karena impiannya sejak kecil terkabul. Tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan dan perlindungan orang tua adalah impian terbesarnya.

Selesai mendaftar sebagai siswa baru, Kepala asrama memberinya sebuah kunci kamar bernomor 308. Dengan langkah mantap, ia menaiki tangga asrama satu per satu. Tak disangka, anak tangganya banyak sekali. Lantai 4 tujuannya. Fiuh.. Ia menghela napas. Maklum saja, ia termasuk pendaftar bontot, terpaksa dapat kamar yang paling tidak strategis.

Hatiku berdebar-debar saat ia memutar kuncinya. Akhirnya, setelah sekian lama, aku memiliki teman. Namanya Aiko Konoe. Hmm.. Aiko melihat berkeliling. Dua buah tempat tidur bertingkat dan dua buah tempat tidur kecil ukuran single. Di ujung ruangan terdapat jendela besar yang tersambung ke beranda kamar. Biasanya di sanalah para siswa menjemur pakaiannya. Di dekat pintu masuk, sebuah kitchen set mini tertata apik dan dan dibatasi lantai terpisah yang agak tinggi. Di antara kedua tempat tidur tingkat, jendela yang agak kecil tegak kokoh dihiasi gordyn berwarna soft  yang jika ditarik di luarnya akan terlihat pohon rindang hijau yang tinggi menjulang. Sementara itu, Aiko meletakkan bawaaannya ke atas meja yang berfungsi sebagai meja belajar. Ia memilih meja yang agak menjorok ke jendela kamar yang mendampingi jendela besar yang menuju beranda. 

“Sepi..” Batinnya saat melewati tempat tidur yang kosong. Di tengah ruangan, permadani besar membentang dan di atasnya ada sebuah meja kecil berpenghangat yang dilengkapi dengan tatami (bantal kecil tipis untuk alas duduk.red), Aiko pun merebahkan tubuhnya di atas permadani itu. Ia belum menyadari satu keajaiban kecil yang aku miliki sampai Ia menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar. Di atas pintu kamar ada beranda kecil (mezzanine.red) yang memiliki jendela kecil dan tangga tunggal menuju ke atap.

Sebenarnya tempat ini dulunya adalah loteng dan sempat menjadi perpustakaan asrama. Tapi karena jumlah siswa yang terus bertambah, akhirnya aku difungsikan sebagai kamar asrama.
“Jadi ini sebabnya atap kamar ini berbentuk kerucut. Wah.. “ ucap Aiko kagum.
Aiko langsung menaiki tangga yang menuju ke langit-langit atap. Saat membuka kaca yang membatasinya, betapa takjubnya ia melihat hamparan awan dan kotak bangunan di bawahnya. Angin semilir menyibakkan rambutnya yang hitam panjang sebahu. Katanya, “Aku seperti berada di puncak dunia, woouw…!!!!”

-HT-

“Hrrgh.. lelah sekali! Seharusnya aku pesan kamar dari awal. Dengan begitu aku tak perlu berkeringat seperti ini,” keluhnya saat memutar kunci kamar dan membanting pintuku. Awas kau ya!
Koper beserta tas ransel yang dibawanya dilemparkannya ke lantai dan ia lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur single di bawah tangga. Dan ia pun tertidur lelap.

-HT-

Baru kulihat sekali ini seseorang melihat setiap pintu tapi tak pernah memutar kunci pintunya.
                “Aduh.. di mana ya? Kok nggak ketemu-ketemu. Kamar 803. Dimana ya?”
Orang ini pun sudah melewatiku empat kali. Mungkin pikirnya ada lantai lain setelah lantaiku. Firasatku benar, setalah berputar-putar kurang lebih tujuh kali. Ia menyerah. Kulihat ia duduk di pintu seberangku sambil mendekap erat sesuatu yang terlihat seperti boneka. Dasar anak aneh!

-HT-

                “Kamar 308” kata Kepala asrama sambil menyerahkan sebuah kunci pada siswa baru berkacamata dan berpenampilan sempurna di hadapannya.
Siswa itu pun berkata,”308 sebelah mana?” tanyanya sambil bersiap mengangkat koper.
Kepala asrama melihat dari balik kacamata bulatnya, “kalau kau beruntung, setelah menaiki tangga itu kau akan bertemu siswa lainnya yang punya kunci sama denganmu,” jawabnya cepat dan kembali sibuk dengan sesuatu.
Arigatou gozaimasu!” jawab gadis berkacamata itu seraya menyandingkan tas berlengan satu di pundaknya.

Sementara itu di anak tangga lain tak jauh darinya, ada seorang siswa sedang menaiki tangga dengan santai tanpa terbebani dengan satu ransel besar mirip tas carrier untuk naik gunung yang menempel di punggung. Tangga menuju ke lantai atas dibangun seperti berputar mirip menara di bangunan kastil tua. Sesekali ia menekan tombol shutter di kameranya untuk mengambil gambar. Dan tiba-tiba, ia mengambil tempat di salah satu anak tangga dan duduk di sana.
“Hmm.. interiornya memang menarik. Tapi merepotkan! seandainya tangga-tangga ini dapat bergerak layaknya eskalator swalayan. Krreeshh..” ucapnya sambil memasukkan segenggam keripik kentang ke mulutnya.
“Ide yang bagus,”jawab seseorang. Penikmat keripik kentang kaget dan mencari asal suara itu, mengira hanya imajinasinya ketika ada suara lainnya,
“Kamar 308 juga?”kata suara itu lagi. Orang di tangga itu mengangguk pelan dan lekas berdiri sambil mengulurkan tangannya,“Aku Nishi Heike, senang berkenalan!”ucapnya penuh senyum bersahabat.

Gadis berkacamata itu membalas senyumannya dan menyambut jabat hangat perkenalan Nishi dan mengenalkan diri sebagai Hana Sanjo.
 “Hai Hana chan, kamu telat juga ya?” Tanya Nishi. Kakinya terus menaiki anak tangga.
Hana agak kesulitan membawa kopernya. Benar juga pemikiran anak itu, seandainya ada eskalator, pastinya, kujamin banyak orang yang menjadi temanku.
“Hari sudah senja. Jauh-jauh dari desa tak kusangka kendaraan di sini banyak yang terlambat dari jadwal,” ucap Hana sambil terengah-engah.
“Mau keripik?” tawar Nishi. Ia pun segera menyambar koper dari tangan Hana dan membawa koper itu dengan mudahnya, “kamu bawakan keripik-ku ya!”ucapnya lagi.
“Arigatou! daijoobu desu ka?”
“Sudah hampir sampai,” sambung Nishi.

-HT-

Horizon di ufuk barat hampir tenggelam. Aiko pun bergegas menuruni tangga untuk menyalakan lampu ruangan. Meski cahaya bulan cukup terang malam ini, tapi tetap menakutkan jika membiarkan ruangan gelap. Apalagi Aiko sendirian, pikirnya.

Saat akan menuruni tangga, ia melihat sesosok bayangan hitam di atas tempat tidur di bawah mezzanine. Ditambah lagi ia tidak mendengar ada seseorang masuk.
“Jangan-jangan ada pencuri,” batin Aiko,”Pencuri di kamar asrama? lucu juga,” khayalnya.

Ketika lampu kamar dinyalakan, Aiko sangat terkejut mendapati sosok hitam itu adalah seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya.
“Mungkin dia teman sekamarku! Kukira aku akan tetap menjadi true loner[1], yei!” ucapnya pelan sambil berjingkrak-jingkrak. Tanpa ingin membuat teman barunya terbangun, Aiko membereskan ruangan setenang mungkin.

Di luar pintu kamar, Nishi dan Hana hampir mencapai pintuku.
“Nishi, kamu lihat itu tidak?”
“Lihat apa?” Tanya Nishi balik. Lorong asrama ini memang lumayan gelap meskipun ada lampu tempel kecil di sepanjang koridor.
“Kukira itu seperti seseorang? ya tidak?”ucap Hana.
“Biar kulihat,”Nishi mendekatinya. Dan dari sana, orang itu bergerak seperti panik sambil melihat ke kiri dan kanan mencari arah, meraba-raba.
Nishi pun terdiam dan memasang kuda-kudanya,“Siapa?! tunjukkan diri kalau berani!”tantangnya.

Yang diajak bicara semakin celingukan. Nyawanya belum semua terkumpul, hehe..
Tiba-tiba seberkas cahaya putih terang menyilaukan mata mengagetkan Nishi, Hana, dan orang aneh itu, terlebih lagi Aiko yang langsung tersentak saat melihat orang-orang di depannya.
“Uups.. Maaf, kalian siapa ya? tersesat?” Tanya Aiko sambil menenteng teko air besar di tangan kanannya. Maksud hati sih ingin mengambil air di kamar mandi bawah karena air di kamarku belum dinyalakan.
Orang yang kini nyawanya sudah terkumpul 100% itu cepat menjawab lantang, “Kalau yang kau maksud tersesat, aku TERSESAT!” teriaknya,”Yumiko Shimizudani, murid baru tahun ajaran ini. Mohon bantuannya!”  ia membungkukkan badannya dengan cepat dan dalam.
“A-Aiko Konoe,” jawab Aiko terkejut.
Hana lantas menyela dan menunjukkan kunci di tangannya,”308?”
“em!” jawab Aiko.

Hana langsung masuk membawa kopernya dan Nishi segera menyusulnya setelah sebelumnya mengulurkan tangan pada Yumiko dan ikut mengajaknya masuk.
Aiko tampak sangat bingung, “e-em.. begini, aku mengambil air dulu. Kalian masuk,,” ucapnya. Sebelum selesai berkata, tiga orang asing itu sudah masuk duluan,”ya, terserah kalian saja, hehe..” kakinya lalu membawanya pergi menuruni tangga ke lantai bawah.

-HT-

Selesai mengambil seteko air dan meminta agar aliran air di kamarnya dinyalakan, Aiko bermaksud kembali ke kamar 308. Aula asrama ini sungguh besar. Aiko menyempatkan diri bersantai sejenak di bangku aula seperti menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang ditunggunya.

“Kamu Aiko Konoe, kamar 308?” Tanya Kepala asrama dari meja front office yang elegan.
“Ya, Saya,” jawab Aiko.
“Air dikamarmu sudah menyala?”Tanya Kepala asrama lagi. Sebelum sempat Aiko menganggukkan kepalanya, Kepala asrama melanjutkan,”kurasa semestinya sudah,” “Kulihat teman-teman sekamarmu sangat menyenangkan. Kamu senang dengan kamarnya?”
“Sangaat! Apa ibu tahu di atas kamar itu ada lotengnya?”
“Tentu aku tahu. Bukan tanpa alasan aku memberimu kunci kamar itu. Oh ya, ada seorang lagi yang belum datang. Dia datang lebih awal darimu. Mungkin sebentar lagi kalian akan bertemu,” jelas Ibu Kepala asrama.
“Siapa?”
Beliau tersenyum dan berkata,”kau pasti akan senang. Kamarmu tidak akan terasa hambar,” ucapnya sambil berlalu ke arah pantry untuk menyeduh teh.

Beberapa menit kemudian dari arah halaman asrama, seseorang datang dan terlihat kerepotan membawa barang bawaannya. Tangan kanannya menenteng tas belanjaan besar, tangan kirinya menjepit sebuah kantung kertas belanja yang tak kalah besar dan wajahnya tertutup kantung lainnya yang juga sangat besar.
“Marram Bu kweparra,” suaranya terdengar samar.
Ibu Kepala asrama lantas mengerling pada Aiko. Seakan mengerti, Aiko menghampiri orang itu dan menawarkan tangannya yang tidak sedang menjinjing teko penuh air untuk membawakan barang bawaan.

-HT-

“Mm.. habis belanja?” Tanya Aiko sambil meraba-raba kantong roknya untuk mengambil kunci kamar. Orang kerepotan itu melihat sekilas padanya dan menjawab,”untuk persediaan. Hai, aku Sakurako Nakamura,” kenalnya. Kini bungkusan di mulutnya sudah dipindahkan ke salah satu tangannya. 
 Mereka telah tiba di depan pintu kamarku. Ketika kunci diputar, cahaya lampu di dalam menyinari lorong asrama yang remang-remang.
Ruangan kamar yang tadinya begitu sepi, tiba-tiba saja menjadi begitu ramai. Di tengah ruangan, Nishi dan Hana sedang duduk santai sambil menyeruput teh dari gelas di hadapannya. Yumiko yang tersesat, terlihat sedang mengingat kalau-kalau kamar yang dicarinya pernah dilewatinya. Terlihat dari tingkahnya mondar-mandir kesana-kemari. Sampai pusing aku melihatnya. Aiko meletakkan teko penuh air di atas kitchen set di samping pintu masuk disusul Sakurako yang melepaskan bawaan belanjaannya di sana.

Meski sekarang di kamarku ada banyak orang tapi suasananya sangat aneh dan canggung. Hrrgh.. tidak bisakah kalian salig mengobrol? gerutuku.
“Hei, aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian. Kau tahu, makanan adalah bahasa universal,”ucap Sakurako. Tangannya terampil sekali mengolah bahan-bahan makanan itu.
“Bisakah Aiko membantu?” Tanya Aiko malu-malu.
“Tentu!” jawab Sakurako secepat mungkin,”jadi kau Aiko. Nama yang indah. Apa Ai diambil dari Ai kanji bahasa mandarin yang artinya cinta?”
“Ehh?” Aiko terdiam beberapa saat, “kurasa,” katanya lagi.

Aroma lezat dari masakan memenuhi ruangan ini. Saat Aiko akan merapikan meja di tengah ruangan, dilihatnya sosok gadis yang tadi tertidur, mengulurkan kedua tangannya menawarkan bantuan membawa hidangan yang lezat itu.
“Sini, biar kubantu. Eh, ngomong-ngomong, kamu orang yang tadi menyalakan lampu ya? selidik gadis itu.
“Apa tadi mengganggumu? maaf ya!” ucap Aiko.
“Tidak. Eh, yang itu taruh di sini saja,” tunjuk si gadis,”salam kenal, aku Kuniko Saionji,”

Nishi dan Hana yang sedari tadi sudah duduk di sana, tersenyum kecil mendengar nama Kuniko. Tanpa pembicaraan, Nishi dibantu Hana menyiapkan peralatan makan malam. Dua orang ini aneh sekali. Bekerja tanpa berbicara. Teman yang aneh.
“Hidangan selesai,” ucap Sakurako. Kakinya bersimpuh mengambil mengambil tempat di atas sebuah tatami di dekatnya.
 Semuanya sudah berkumpul. Tapi rasanya ada yang kurang.
“Hei, mau sampai kapan mondar-mandir,” ucap Nishi sekenanya.
Yang diajak bicara berdiri terdiam dari mondar-mandirnya. Matanya melirik hidangan lezat di meja, “Boleh?”
“Tentu saja, ayo makan sama-sama!” ajak Aiko. Ia menarik lengan Yumiko untuk duduk di sampingnya.
Itadakimasu!”seru Aiko pada semuanya. Kurasa dia terlalu bersemangat.

Di sela-sela acara makan malam itu, suasananya mulai menghangat. Si koki hebat juga. Memang, makanan adalah bahasa universal. Di meja ku ada satu, dua, wah ada enam orang! Kebetulan sekali.
“Jadi kamu tersesat?” Tanya Aiko.
“Ya begitulah. Daritadi aku berkeliling naik turun tangga mencari kamarku. Hiks.., nyam..” jelasnya sambil melahap hidangan.
“Wah hebat betul kamu. Aku saja sudah kelelahan amat sangat menaiki empat lantai ini. Menyesal aku datang telat,” papar Kuniko.
“Oh, jadi karena itu kami tadi tertidur lelap sekali,” ingat Aiko.
“Memangnya kamar berapa yang kamu cari?” Tanya Hana. Akhirnya aku mendengarnya berbicara.
“Entahlah. Mmm… aku kok jadi lupa ya? hehe..”
“Ah, lezatnya. Aku sudah selesai!” ucap Sakurako.
“Wah cepat sekali,” sahut Aiko terpesona,”nama kamu siapa?” Tanya Aiko pada orang tersesat itu.
“Aku Yumiko Shimizudani, yoroshiku onegaishimasu!” ucapnya pada semua orang.
Nishi meletakkan sumpitnya di atas mangkok, “aku Nishi Heike, terimakasih makanannya!”
Hana pun meletakkan sumpitnya,”Aku Hana Sanjo. Kamu pintar memasak. Lain kali kubantu ya!”
“Aku Sakurako Nakamura, terimakasih pujiannya,”ucap Sakurako.
“Dengan aku, Aiko Konoe, semuanya pas 6 orang! kalian tahu, tempat tidur di kamar ini juga berjumlah enam orang. Wah, kebetulan sekali,”Aiko menangkupkan kedua tangannya.
“Mm.. mungkin Cuma lima. Kalian tahu, bukan ini kamar yang kucari,”sela Yumiko. Ia kelihatannya sedih sekali.

Selesai makan, semuanya bergantian mencuci piring dan membereskan meja. Koper dan ransel dibiarkan tergeletak. Mungkin mereka kelelahan, kecuali satu. Hana sudah rapi menata pakaian dan barang-barang di dalam lemari pilihannya. Hana mengambil tempat tidur bertingkat dan memilih tingkat atas.
“Hana chan, kamu di atas? boleh aku di tingkat bawah?” Tanya Nishi.
“Boleh saja!” ucap Hana.

Sakurako lebih senang tidur di bagian bawah tempat tidur bertingkat satunya. Katanya sih lebih praktis untuk bersiap menyiapkan makanan. Lain halnya dengan Kuniko yang memilih tempat tidur single di bawah mezzanine tempat ia tadi tertidur lelap. Aiko masih menikmati teh dan membaca buku novel ditangannya ketika tiba-tiba saja, Yumiko memanggul tas ranselnya dan bersiap memakai sepatu.

“Yumiko, kau mau kemana?” Tanya Aiko heran.
“Mm.. mencari kamar kurasa,”ucap Yumiko pelan.
“Tinggallah di sini, sudah malam. Sulit mencarinya di waktu gelap,” sambung Aiko.
Yumiko sudah akan membuka pintu dan membalikkan badannya sambil membungkuk,”minna san, arigatou! kurasa tempatku bukan di sini,”ucap Yumiko ragu. Suaranya terdengar bergetar.
Hei, diam-diam aku juga berharap Yumiko tinggal di kamarku..
“Kata siapa?!”potong seseorang,”tempat tidurnya masih tersisa satu. Ruangan kamar ini pun cukup luas,”ternyata ini suara Nishi.
“Iya, kalau boleh memilih pun, aku tidak ingin kamar yang ini, merepotkan,”sambung Kuniko dari balik selimutnya. Hrrgh.. anak ini! awas ya!
Sakurako pun terduduk di atas tempat tidurnya,”akan kubuatkan makanan lezat kalau kau mau tinggal,”tawarnya.
“Tapi..” ucap Yumiko.
“Hei, cepat tidur. Aku lelah..”lontar Hana.
“Jadi, tinggal ya!” ucap Aiko sambil mengambil tas di tangan Yumiko.
“Terimakasih semuanya!”ucap Yumiko haru. Dia senang sekali bisa tinggal, walau hanya semalam, pikirnya.
“Selamat malam!” ucap Aiko.
“Selamat tidur!” balas yang lain.

Lampu kamarku telah dimatikan. Yumiko yang awalnya bermaksud pergi, kini tertidur pulas di tempat tidur tingkat bagian atas berbagi dengan Sakurako di tingkat bawahnya. Saat akan menutup gordyn di beranda kamar, Aiko melihat sesuatu seperti kunci di genggaman tangan Yumiko. Cahaya bulan menerangi tulisannya.
“308?” bisik Aiko. Tawa kecil menghiasi wajahnya,”dasar anak aneh!”batinnya.

Aiko pun menutup gordyn itu dan bergegas tidur setelah sebelumnya mengintip sebentar ke luar beranda. Bulan malam ini sangat indah, purnama penuh. Aku mendengarnya berbisik pelan,”terimakasih, Tuhan. Terimakasih, Bu Kepala Asrama. Kau benar, kamar ini sangat menyenangkan!”

-HT-


[1] Aiko Konoe dulu dikenal sebagai anak yang suka menyendiri hingga tidak ada seorang pun yang ingin berteman dengannya dan akhirnya dia menjuluki dirinya sendiri sebagai true loner.


Mendekati bulan "winter sonata" rasanya begitu kebas.. Sebenarnya berharap seperti di film-film dimana sang tokoh utamanya lupa dengan hari ulang tahunnya, maka sedari jauh hari menyibukkan diri. Tapi anehnya tetap tidak bisa melupakannya. 011212, kuputuskan acara jalan-jalan ke Bandung cukup menjadi kado bagi diriku sendiri. Membayangkan Sekali lagi, merekam betapa indahnya berdiri dan memandangi kawah Tangkuban Perahu laiknya aku dulu ketika bersama Moza. Tanpa batas, tanpa penghalang. Rasanya tidak sabar meniti setiap detik yang berdetak.  



Akhir semester 7 lalu adalah saat yang paling melegakan sekaligus saat yang paling sedih.. saat untuk bisa menikmati tarikan napas panjang sebelum memulai sesuatu yang baru yang lebih berat di depan sana. Aku kembali menengok ke belakang lagi, kursi itu, papan tulis itu, ruangan kelas itu, itu adalah hari terakhir aku duduk di sini bersama mereka bersama-sama di dalam satu tempat yang sama sebelum nantinya kita akan bertemu di ujung jalan ini, gumamku dalam hati.

"Azalea!!!"
Akupun tersadar dari lamunanku, hei.. sekarang aku sedang berjalan bersama mereka di sini, di puncak!
"Sedang apa?" tanya seorang teman, " lihat deh gunungnya, yang begini gak ada di Jakarta, hehe" jawabku pada teman-teman lain yang sedang berjalan berusaha menyejajari langkah dengan kepayahan. Pagi itu, aku dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar villa. katanya ada curug di atas sana. Daripada hanya menghabiskan waktu menonton tv dan mengobrol di dalam villa, kami sepakat untuk mendaki ke atas.
Sekali lagi menghirup napas dalam-dalam, barisan pegunungan di depan mata sungguh menakjubkan, berkali-kali kata "subhanallah.." mengalir begitu saja mengagumi keindahan sang Maha Pencipta.
Kebanyakan jalanan yang kami daki ini kemiringannya hampir 45 derajat, kadang membuat oleng juga. Tidak jarang baru beberapa meter berjalan, kami sudah beristirahat kembali karena napas yang terengah-engah. Teman yang masih kuat kembali berjalan dan memberi semangat pada yang lain..
"Tenang.. sebentar lagi sampai, hosh.. hosh.." kata seorang teman pada temannya. Tidak lama lagi kami berjalan lalu berhenti kembali. "Ayo semangat, suara curugnya udah kedengeran tuh..!" Seru yang lain. Membatin, jangankan suara curug, pintu masuknya saja belum kelihatan, hehe..
Dan begitu seterusnya, pertanyaan berganti jawaban, keluhan berganti kata-kata semangat. Sepanjang perjalanan menuju pintu masuk curug, semuanya saling berbagi perbekalan. 

Akhirnya kami tiba juga di satu tempat yang aku sebut sebagai pit stop pertama, ^_^ Itu adalah sebuah jalan yang datar yang di atas jalan yang mendaki. Ada batu besar di sana, padang ilalang, kumpulan rumput liar dan bunga liar yang tumbuh saling bersilangan, Bebatuan kerikil, dan di ujung sana ada sebuah saung kecil yang terbuat dari rangkaian bambu. Sang juru foto cekatan menjepret sana dan sini, tempat itu memang bagus dijadikan objek foto. Di dekat sana juga ada curug, tapi itu hanyalah anak curug bukan curug sebenarnya yang kami tuju. Aku tertegun saat melihat salah satu teman kami yang tadi mengatakan tidak ingin ikut karena merasa dirinya tidak akan sanggup sampai puncak, dia memang bertumbuh agak gempal. Tapi lihatlah, di saung, dia sedang duduk sambil kepayahan, keringatnya mengucur deras. Wah, kau hebat! seru teman yang lain bergantian.
Dengan begini tidak ada yang tertinggal kan.. ^_^

Pit stop kedua, setelah melewati jembatan kecil yang di bawahnya mengalir sungai kecil yang cukup deras, kami sampai di pintu masuk curug. Setiap orang dikenai biaya masuk. Aku sempat melihat sebuah banner plastik yang memuat foto curug yang akan kami tuju. Namanya adalah "curug kembar". Setelah kuhitung-hitung, total perjalanan dari villa sampai ke pintu masuk sekitar 1 jam 30 menit. Itu adalah jarak yang dibilang "dekat" oleh penduduk sekitar yang kami temui sepanjang perjalanan saat akan menanyakan arah ke curug kembar, ckck..

Dari sini perjalanan ke curug kembar akan di mulai. dari jalan berumput yang lapang dan besar menyempit menjadi jalan setapak. Petugas penjaga di sana hanya mengantar kami sampai di jalan setapak itu. 
hm.. Dari dulu dan kurasa sampai kapanpun aku akan tetap menyukai perjalanan mendaki gunung. Perjalanan ke curug kembar hari itu menyimpan banyak cerita. Sejatinya, bagiku, mendaki gunung bisa diibaratkan sebagai perjalanan hidup. Jalan menanjak yang menjauhkan, jalan menurun yang mendekatkan. Ini mungkin pengalamanku yang ke sekian kalinya menanjak hutan untuk melihat curug, dengan orang-orang yang berbeda yang selama ini menjadi teman seperjuangan selama 4 tahun. Bersama-sama Mencari jati diri, mencari janji kehidupan yang lebih baik. Di saat-saat seperti inilah, aku jadi dapat mengenal mereka satu per satu dengan lebih baik.

Mereka sesungguhnya asing bagiku, 4 tahun ini, ah.. rasanya cepat sekali. Saat menyebrangi aliran sungai deras dengan berpijak pada susunan batu kali yang diikat kawat, aku hampir terpeleset jatuh, padahal di sebelahku air yang jatuh ke bawah deras sekali bergulung-gulung. Tapi, uluran tangan itu selalu siap membantu. Lalu teriakan-teriakan penyemangat. Bahkan saat kau berteriak mengaduh kesakitan, selalu ada yang bersedia menghentikan langkahnya untuk kemudian menghampirimu dan menawarkan bantuan. 4 tahun kebersamaan.. Saling toleran. Banyak teriakan-teriakan putus asa saat langkah-langkah kaki mulai berat sedang tempat yang dituju belum juga kelihatan ujungnya.

Namun hal itu bukanlah penghalang. Saat kami tersesat, ada seorang yang kami percayakan untuk memandu. Maklum saja, di antara 25 orang yang pergi ke curug hari itu, tidak ada satupun yang mengerti medan pendakian, tidak ada satupun dari kami yang punya pengalaman sebagai pendaki gunung. Aku? yang dulu-dulu aku hanya mengikuti arahan dari pemimpin perjalanan. Dan jangan tanyakan seperti apa persiapan kami saat mendaki, ada yang pakai baju tidur, ada yang memakai rok (aku pelakunya, hehe), ada yang pakai sandal jepit, ada yang pakai sandal cantik, ada yang pakai celana selutut, ckck.. Perbekalan? kami hanya membawa minum beberapa botol. Kami benar-benar tersesat saat perjalanan pulang, jalan yang kami lalui saat berangkat tadi tiba-tiba saja hilang. Medan pendakian itu memang sangat berat. tidak ada penunjuk jalan seperti di curug tujuh yang pernah aku kunjungi. Hutan yang kami lalui juga sepertinya hutan yang perawan karena tidak ada tanda-tanda aktivitas manusia seperti sampah dan sebagainya. Hanya insting dan petunjuk seadanya yang diberikan oleh petugas penjaga tadi. Karena masih termasuk tempat yang baru dan sepi pengunjung, jalan setapak yang ada pun kurang jelas terlihat, jangan tanyakan padaku tentang hewan-hewan yang ada di sana. Tidak ada seorang pun dari kami yang luput dari gigitan pacet, lintah dan sebagainya. Bahkan beberapa ada yang digigit cukup parah. Aku sendiri terkena gigitan di sela jari, hikz.. rasanya perih sekali. Ditambah lagi saat itu kami tersesat. Yang bisa kuucap hanya doa yang tak putus dalam hati, semoga Allah menunjukkan jalan keluarnya, jalan kami untuk kembali. Beberapa dari kami terjatuh, dan memar di sana-sini. Anak laki-laki berusaha untuk menemukan jalan keluarnya, mencoba berbagai jalan yang ada, tak jarang yang kami temui adalah jalan buntu. Aku hanya berpikir, bagaimana jika kami tidak bisa menemukan jalan keluar? dengan alat komunikasi yang tidak berfungsi karena tidak ada sinyal telepon di sana. Bismillah.. aku menguatkan hati untuk berpikir positif. Akhirnya kami kembali ke jalan persimpangan semula. Titik awal kami mulai tersesat. Dan alhamdulillah, tiba-tiba saja kami melihat ada sebuah jalan di sana. Jalan yang mirip dengan keberangkatan tadi. Semua keraguan yang ada ditepis. Mencoba percaya pada teman kami yang memimpin di depan.

Perjalanan hari itu memang menuai banyak hikmah. Rasa saling pengertian, saling memberi semangat.
Ketika menemukan jalan untuk kembali, semuanya buncah oleh perasaan senang, dan tidak terkatakan lagi rasa syukur saat melihat jalanan landai berumput yang kami lalui di awal tadi. Tidak pernah ada perasaan sebahagia ini ketika melihat jalanan berumput, hehe..
Teman yang bertugas mengambil foto memasang tripod dengan cermat dibantu yang lain. Sementara aku dan teman-teman mengatur posisi di depan lensa kamera. 50 foto diabadikan di sana, hatiku dipenuhi perasaan syukur dan haru. Melihat mereka, Memang ada kalanya ada yang merasa letih untuk melanjutkan. Memang untuk beberapa hal kita harus menghentikan langkah. Tapi itulah indahnya sebuah perjalanan. Dan itulah indahnya pertemanan. Selalu ada tempat untuk seorang teman. Selalu. Dan akan selalu ada di sana. Dia adalah teman.  

Di bawah langit malam, berteman suara riuh rendah dari teman-teman yang sedang menerbangkan lampion asa ke udara, aku berbisik padaNya. Semoga Kau akan mengumpulkan kami lagi di tempat yang sama, duduk bersama, di bawah satu atap yang sama. Dengan senyum bahagia mengenakan pakaian toga. Sampai saat itu tiba, aku ingin mengatakan pada kalian, Bersemangatlah! 
Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih sudah membagi kebersamaan ini selama 4 tahun. Terimakasih untuk semua senyuman, tawa, tangis, kecewa, haru, bangga, dan terimakasih Maaf untuk semua keliru yang pernah ada.. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini. Kalian semua istimewa. 

220113.S1AKR9.^_^
 @Bundo, Dini, Indah, Duwi, fajri, Putri, Ary, Oka, Apri, Maria, Ahada, Ami, faisal, Apim, Ginanjar, Nesa, Adzima, Dwi, Esa, Gaby, Hafidz, Handry, Intan, Marsha, Ratih, Safirta, Steffi, Syuaif, Veni, Winny, Tika, Kahfi, Icha, Idris, Arief.