twitter



Akhir Musim Gugur/Aki 2008 (November)


Hari perpisahan…
Langit musim gugur sudah menggantung pasti. Nishi, Sakurako, Yumiko, Hana, Kuniko, dan Aiko berhasil melawati ujian kelulusan grade 3 mereka dengan baik.

Hari itu di kamarku terlihat pemandangan berbeda. Tumpukan koper dan ransel besar tersusun rapi di tengah ruangan. Entah bagaimana aku mengatakannya, tapi hari ini aku akan berpisah dengan mereka, sahabat-sahabatku.

Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan pula waktu yang lama. Mereka berenam berkumpul bersama di meja tengah sambil asyik menyantap makan siang terakhir di kamar asramaku.
“Mm.. Aku pasti akan kangen sekali dengan masakan buatan Sakurako,” ucap Yumiko sedih.
“Apalagi teh hijau buatan Nishi, ngangenin,” sambung Aiko.
“Tidak terasa ya, Sekarang kita harus berpisah. Kalian harus ingat saling berkirim kabar, ya,” kata Hana.
“Iya, gak terasa juga pelajaran tambahanku sudah tamat. Akhirnya aku bisa memegang laptop ku lagi setelah sekian lama, hehe..” Canda Kuniko sambil merogoh sesuatu dari kantong tas ranselnya.

Sakurako mengambil sesuatu dari tas kecil di sampingnya. Dari dalamnya, enam batang coklat bertuliskan “Ganbatte, ne!” dibagikan satu-satu ke sahabat-sahabatnya,
“Ini coklat yang kubuat sendiri. Semoga semangat yang kutuliskan di sana selalu menyertai langkah kalian menggapai cita, ya,” ucap Sakurako. Rasanya sayang sekali memakan coklat buatan Sakurako itu.

“Sakura, ini untukmu,” ucap Kuniko sambil memberikan buku setebal 400 halaman tentang biografi seorang chef ternama di dunia, “Tetap jadi apa yang Sakura inginkan, ya!”

Sakurako sungguh terharu dengan pemberian Kuniko. Akhirnya pertengkaran-pertengkaran mereka berakhir dengan persahabatan yang indah. ^^
“Ehm..” Nishi berdeham lumayan keras. Lalu di atas meja tengah itu, satu per satu dari mereka disodorkan sebuah buku dengan cover yang unik bertuliskan “The Dormitory Story’s file”

Tak disangka, ternyata buku itu berisi kumpulan foto snapshot yang Nishi kumpulkan. Mengabadikan setiap momen dari yang aneh, lucu, marah-marahan, kesedihan hingga semua kebahagiaan yang mereka lalui bersama.
“Oh.. jadi ini ya alasan kenapa aku suka tiba-tiba merasa ada kilatan cahaya, hehe.. Nishi-Nishi,” ucap Aiko sambil melihat isi buku tersebut dan melempar wajah penuh senyum pada Nishi. .
“Mm.. wah.. Nishi, keren..” Kagum Yumiko melihat foto-foto yang begitu apik ditata.

Mereka jadi tertawa sendiri mengenang semua kekonyolan, pertengkaran, juga kebosanan yang mereka alami bersama di asrama ini, di kamar ini.

Tanpa mereka, aku mungkin hanyalah sebuah kamar loteng berdebu yang tidak ada artinya. Tapi kehadiran mereka, membuatku punya sebuah kisah menarik untukku ceritakan pada kalian tentang arti sebuah persahabatan, mimpi, cita-cita, asa, dan cinta. Kamar 308, di sinilah semua kisah itu bermula.

-HT-

Waktu kepulangan dari asrama sudah tiba, mereka berenam bergegas membawa barang masing-masing. Pintu kamar loteng itupun dibuka, berturut-turut mereka keluar kamar bergantian. Yu-Chan, Hana-Chan, disusul Nishi-Chan, Kuniko-Chan, Sakura-Chan, dan yang terakhir Ai-Chan.
“Terimakasih kamu telah menjadi teman baik kami selama ini,” Aiko melihat ke sekeliling ruangan kamar. Angin semilir yang berhembus dari beranda menerbangkan anak-anak rambutnya, 
“Terimakasih untuk kamar yang indah ini,” Aiko memegang meja ruang tengah yang penuh kenangan dengan sahabatnya, 
“Juga terimakasih untuk teras atasmu yang sangat mengagumkan yang selalu menemaniku dua tahun ini,” dipandanginya atap kaca teras atas dengan pandangan tidak rela untuk berpisah, 
“Sekali lagi, terimakasih untuk semuanya. Semoga kamupun akan menemukan pemilik kamar lainnya yang menyenangkan, Doomo arigatou, ne!” bisik Aiko pelan sambil menyentuh dinding kamar loteng itu.


Pintu kamar loteng itupun, tertutup kembali.
 おわり.
-HT-
 
Special thanks to Yang Maha Memiliki Jiwa, dan untuk teman-temanku yang telah menginspirasiku.
(Anda As Nishi                         Wen Wen As Sakurako   )
(Nana As Kuniko                     Indri As Hana                )
(Mayang As Yumiko
*Mereka semua tengah mengejar mimpi mereka masing-masing. Lalu bagaimana denganmu? ^^ 
(sumber: pribadi)


Haru/Musim Semi (Maret, April, Mei)

Simfoni musim semi sudah terlukis di langit hari ini. Akhirnya festival ohanami yang telah lama ditunggu tiba juga. Nishi, Aiko, Hana, Kuniko, dan Sakurako sangat bersemangat. Apalagi Yu-Chan. Pagi-pagi sekali Aiko membuka tirai beranda kamar dan menghirup dalam-dalam udara musim semi yang hangat. Yang lainnya pun tidak mau kalah untuk bangun pagi-pagi sekali. 

Acara pembukaan hari ini membuat hati  semuanya berdebar-debar. Yu-Chan berkali-kali menghapal naskah pidato sambutan yang akan disampaikannya. Hidangan sarapan buatan Sakurako pun sudah tersaji di meja makan. Hana menyempatkan diri menyirami tanaman yang ditanaminya. Bunga-bunga sudah bermekaran. Dari semua bunga, yang paling kusukai adalah bunga sedap malam yang ditanamnya. Wanginya sampai memenuhi ruangan pada malam hari.

Nishi pergi kesana kemari dengan skateboard-nya di dalam gedung asrama untuk membagikan tanda panitia yang telah rampung dibuatnya. Tanda panitia itu berupa baju. Kelihatan keren kalau dipakai bersama-sama dengan semua panitia. Ada gambar wajah tersenyum di sisi depan baju, dan di bagian belakangnya ada bentuk kepala (yang dilihat dari sisi belakang). Kalau kata Aiko, gambar itu mirip wajah pembuatnya, Nishi-Chan, hehe…

Selesai sarapan dan mengenakan baju panitia itu dengan bangga, mereka berenam pergi meningalkan kamarku. Untuk sementara waktu aku akan merasa kesepian. Tapi tidak lagi kalau melihat wajah bersemangat mereka. Tak lupa Kuniko membawa serta laptop kesayangannya. Gara-gara itu, ia tertinggal dari teman-temannya. Ketika menuruni tangga dan sampai di aula asrama, ia berpapasan dengan Bu Kepala Asrama.

“Ibu Kepala Asrama, selamat pagi!” sapa Kuniko sambil menjinjing laptop di tangannya.
“Pagi,” jawab Ibu Kepala Asrama penuh senyum, “Kesempatan terakhir menjadi panitia ya, bersenang-senanglah!” ucapnya lagi.
“Terima kasih! Saya berangkat dulu!” ucap Kuniko.

Dari tempatku, aku melihat Kuniko dan teman-teman yang menunggunya, melangkah menuju  tempat festival ohanami. Warna merah muda samar kulihat dari kejauhan. Aku merasa pohon sakura yang mekar pertama di sekolah kami tahun ini, adalah yang terindah yang pernah kulihat.

-HT-
“Hana, serius sekali belajarnya,” ucap Aiko waktu makan malam di hari pertama festival ohanami.
“Mau bagaimana lagi, seminggu setelah festival nanti akan diadakan ujian kenaikan tingkat kan?” jawab Hana.
Aiko terkejut bukan main, “Haah! Yang benar?!”
“Iya, di blogku semuanya penuh dengan pembicaraan ini, fiuh” sambung Kuniko sambil sibuk dengan laptopnya.
“Kapan pemberitahuannya? Aku kok tidak tahu?” Tanya Aiko.
“Di buletin sekolah hari ini. Dibagikan saat festival tadi. Ai-Chan tidak dapat?” ucap Sakurako sambil meletakkan pudding buah di atas meja di ruang tengah.
“Tidak.. tadi aku..”
“Ini untukmu,” ucap Nishi sambil menyodorkan buletin sekolah hasil liputannya di pers sekolah, “sisa tadi”.

Aiko lalu membolak-balik halamannya.
“Mm.. padahal aku sudah memohon pada Kepala Sekolah agar diundur sedikit lagi karena acara festival ini, tapi susah sekali,” keluh Yu-Chan, “Maaf ya teman-teman,”
Nishi menimpali,”Nol besar kalau meminta kepsek mengubah keputusannya. Tapi dari yang aku tahu, ini semua untuk mengejar ujian perguruan tinggi yang jadwalnya dimajukan,”
“Hehe.. bagaimana ini? Aku bahkan belum ada persiapan,” ucap Aiko lesu.
“Anggap saja seperti mengerjakan tugas biasa,” ucap Nishi sambil menggigit keripik kentang kesukaannya.
“Tenang saja. Kalau bagiku, semangkuk latihan, sepiring doa yang tak henti, dan sebatang coklat yang manis adalah resep keberuntungan yang lezat,” sambung Sakurako. 

Benar-benar miss koki sejati! (Sakurako suka sekali mengaitkan kehidupan dengan masakan, hehe..)

“Oh ya, festival ohanami besok, mohon bantuannya lagi ya!” ucap Yu-Chan.
“Kuniko, besok mohon bantuannya untuk konsumsi ya!” ucap Hana.
“Em! Akan kuusahakan,” jawab Kuniko dari balik laptopnya.
“Kuusahakan yang bagaimana itu? Bahkan seharian ini saja kamu hanya berkutat di depan laptop itu,” seloroh Sakurako.
“Memangnya kenapa? Aku tidak merasa menganggu siapapun,” jawab Kuniko spontan.
“Bagiku itu sangat mengganggu,” balas Sakurako kesal.
“Kalau begitu jangan menghiraukanku,” ucap Kuniko dengan santainya.

Sakurako lantas bangkit dari tatami. Dari raut wajahnya ia kelihatan sangat kesal,
“Aku mau ambil roti dan susu di bawah,” ucapnya saat ia membuka pintu kamarku dan menutupnya. Suasana di kamar tiba-tiba menjadi begitu hening.
“Mm.. Roti dan susu?” Tanya Yu-Chan heran. Setahuku sekarang masih malam, kan? gumam Yu-Chan dalam hati.
“Apa Sa-Chan marah?” bisik Aiko pada Hana yang didengar oleh Nishi, Yu-Chan, dan Kuniko. Atau aku ralat saja kata “bisik” itu ya, hehe..
“Aku akan melihatnya sebentar,” ucap Hana yang langsung menyusul Sakurako.
Aiko memandang Kuniko dari laptopya, “ Ku-Chan…”
“Aku mau tidur,” potong Kuniko sebelum Aiko sempat melanjutkan kalimatnya.
Aiko menghela napas panjang.
“Sudahlah. Karena tinggal kita bertiga, berarti tugas kita untuk menghabiskan pudding buah dan semua makanan ini,” ucap Nishi. Aiko dan Yu-Chan pun tertawa mendengarnya. Malam hari ini pun ditutup dengan tidak menyenangkan.  

-HT-

Seperti kemarin, pagi-pagi sekali mereka sudah keluar kamar untuk briefing panitia dan persiapan lainnya. Hari kedua dari lima hari festival ohanami. Berbagai perlombaan diselenggarakan. Tapi yang paling ditunggu adalah hari puncak festival nanti. Selain Yu-Chan, sekarang Aiko-lah yang paling sering berada di luar. Tugasnya yang bertanggung jawab bagian pertunjukkan acara puncak nanti, cukup membuatnya sibuk kesana kemari seperti Nishi yang selalu berkelana meliput dan mengabadikan setiap momen dalam festival dengan kamera yang tergantung di lehernya.
“Mm.. Wah, makan malam! Hm..” seru Yumiko sesampainya di kamarku.

Di meja ruang tengah tersaji beberapa makanan konsumsi yang tersisa di festival hari ini, beberapa lauk buatan Sakurako, dan teh hijau racikan Nishi.
“Sakura, maaf ya selalu merepotkanmu setiap makan malam,” ucap Nishi sungkan.

Benar saja, setiap mereka pulang dari kegiatan festival ketika hari sudah gelap, Sakurako pasti sudah menyiapkan makan malam untuk mereka. Padahal ia juga panitia di festival.
“Tidak perlu sungkan. Aku melakukannya dengan senang hati kok. Hitung-hitung sekalian latihan untuk ujian kenaikan tingkat,” jawab Sakurako penuh senyum, “Aiko mana?” Tanya Sakurako yang justru melihat ke arah tempat tidur Kuniko yang juga belum sampai.
“Sebentar,, Ehm..” Hana menarik napas panjang, “ Aiko!!! Ayo Turun!!! Makan malam!!!” teriak Hana. Sesudahnya ia kembali menyumpit makanan ke dalam mulutnya sambil membaca buku tebal di samping lengannya. ^^
(Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga)

Yang dipanggil terlihat menuruni tangga dari arah teras atap dengan binder note di tangan kanannya. Dasar Aiko!

“Aku pulang!” teriak seseorang yang ternyata Kuniko.
“Kemana saja, jam segini baru sampai,” ucap Sakurako. Ia merasa kesal sekaligus lega karena sahabatnya yang satu itu sudah pulang.
Kuniko lantas menghampiri meja ruang tengah, “ dari sekolah,” jawabnya sambil mengambil tempat di atas tatami.
“Sekolah yang mana? Dari tadi aku dan Hana mencarimu kemana-mana,” sambung Sakurako lagi.
“Mm.. Kuniko ayo makan malam dulu,” tawar Yu-Chan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Eh, Hana, kamu ini. Nikmati saja makanannya. Setelah itu baru berkawan dengan buku itu lagi,” kata Nishi, “ Buku itu gak akan pergi kemana-mana, tenang saja,” canda Nishi.
“Iya, aku tahu,” jawab Hana.
“Memang kapan ujiannya?” Tanya Aiko dengan mulut penuh es krim coklat.
“Musim panas ini. Ujiannya memang lebih cepat dari perguruan tinggi lainnya, karena musim dingin berikutnya pendidikan sudah dimulai. Kalau mengingat hal itu, aku jadi gugup. Tidak ada waktu untuk bersantai,” jelas Hana sambil menghela napas.
“Mm.. aku yakin, Hana-Chan pasti bisa!” hibur Yumiko berapi-api.
“Iya, semangat!” timpal Aiko.

(Terdengar suara tuts keyboard yang diketik)
 “Kuniko! Bisa tidak kau matikan laptop itu dulu waktu makan malam?” tegur Sakurako.
“Kamu ini kenapa sih?” celetuk Kuniko dengan santainya.
“Hh.. kalau saja kamu seperti Hana, pasti nilai tugasmu musim panas kemarin tidak akan mendapat teguran,” ucap Sakurako.
“Bukan urusanmu, kukira,” Kuniko semakin cepat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Wajahnya yang biasa terlihat santai kini terlihat sangat kesal, “ Aku selesai, terimakasih makan malamnya,” ucap Kuniko.

Ia pun tanpa menoleh lagi, menuju meja belajar dan kembali tenggelam dalam laptopnya. Terlihat jelas bagiku, Sakurako berusaha menahan tangis. Seandainya aku adalah “nyata”, aku sangat ingin menghiburnya saat ini.   

-HT-

Ujian grade 3 bukanlah ujian yang mudah dilewati bahkan bagi siswa terpandai sekalipun. Ujian tahun ini sedikit berat bagi Aiko dan yang lainnya yang musim dingin kemarin sibuk mempersiapkan acara festival ohanami. Aku tahu ini berat, pikiran mereka semua terbagi dua antara belajar dan mnegurus festival juga memastikan tidak ada satupun dari dua hal itu yang terlupakan.

Musim dingin kemarin di kamarku benar-benar berantakan. Buku, kertas berserakan di mana-mana. Rasanya lebih mirip disebut gudang, hehe.. Tapi saat salju mulai meleleh dan udara hangat serta hijau pepohonan dan birunya langit terlihat, membuat kamar ini telah kembali seperti semula.

festival ohanami kemarin berjalan dengan sangat sukses. Itulah yang bisa kulihat dari ramainya pengunjung di kejauhan dan wajah sumringah keenam sahabatku.

Kini mereka telah menjadi siswi grade 3. Walau pengecualian bagi Kuniko yang terpaksa mengambil kelas tambahan di musim panas nanti untuk memperbaiki nilai ujiannya. Semuanya berawal saat Kuniko mulai sering menghabiskan waktu di depan laptop. Di waktu luang musim dingin kemarin dan ketika awal musim semi, saat yang lain sibuk belajar Kuniko justru asyik berselancar di dunia maya.

Puncak kekesalan Sakurako pada Kuniko saat festival ohanami hari kelima. Hari itu adalah rangkaian terakhir dari seluruh festival ohanami. Semua orang lebih sangat sibuk dari hari festival sebelumnya. Dan hari itu kamarku sangat lengang. Hanya ada Kuniko yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Tapi bukankah dia seharusnya ada di festival.
“Hari ini sangat, sangat, sangat melelahkan sekali,” ucap Aiko saat memasuki kamar asrama.

Segera Aiko mengambil buku notes di meja belajarnya. Sementara itu Sakurako yang ikut dengannya mengambil tumpukan karton kotak makan yang dipesan Hana karena persediaan di festival sudah menipis.
“Eh, Sa-Chan, sini biar kubantu,” tawar Aiko.
“Makasih Ai,” Sa-Chan sedikit menghela napasnya, “Aku tidak habis pikir, apa sih hal penting yang sedang dikerjakan oleh Kuniko sampai ia tidak ada di saat sepenting ini?!” ungkap Sa-Chan.

Ketika itu Aiko sempat melihat sekeliling karena mendengar suara yang aneh. Dan saat ia menemukan asal suara itu dari Kuniko yang sedang mengetik di laptopnya, tidak sengaja Aiko menyerukan nama Ku-Chan dan Sakurako pun mendengar. Ia lekas menghampiri Kuniko,
“Sedang apa kamu di sini? Mengerjakan tugasmu sebagai panitia konsumsi?” Tanya Sa-Chan dengan nada kesal.
“Sakurako? Maaf, aku…”
“Ah, aku tahu. Kamu pasti sedang belajar. Iya kan?! Karena nilai buruk di semester kemarin,” lanjut Sa-Chan.
“Bukan, aku hanya sedang-”
“Aku mengerti,” potong Sakura, “ Hal ini kan yang lebih penting bagimu? Kau tidak tahu sulitnya tugas kami di festival. Kita kekurangan personil, kami sangat mengharapkanmu. Bahkan kau tahu, saat ini Hana sedang menunggumu berharap kau akan datang untuk membantu karena kau sudah berjanji padanya. Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Bersantai di depan laptopmu sementara yang lainnya kelela-“
“Cukup!!” teriak Kuniko, “ Kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan? Aku minta maaf karena-“

Sakurako segera pergi meninggalkan mereka, keluar kamar dengan tumpukan karton di tangannya. Sekilas, kulihat butiran air mata meleleh dari kedua matanya.

Dan hari berikutnya, Sakurako tidak terlihat sedang sibuk memasak di dapur kesayangannya, bahkan tidak juga terdengar suaranya yang selalu mengajak semua untuk sarapan. Di hari terakhir festival, Sakurako, lagi, mendapat kabar kalau ibunya jatuh sakit. Kali ini sepertinya sakit Ibu Sakurako lebih parah dari sebelumnya, karena ia langsung pergi tanpa berpamitan dengan yang lain dan hanya meninggalkan secarik kertas yang ditempelkan di kulkas,
“Maaf, aku pergi tanpa pamit pada kalian. Ibuku jatuh sakit lagi. Kuharap kalian mengerti. NB: Jangan lupakan sarapan, yup! ^o^” –Sakurako-

-HT-

“Hana-Chan, aku bosan…” ucap Aiko sambil menutupi wajah dengan buku teori ekonomi tebalnya. Alunan lagu terdengar samar dari pemutar Mp3 yang ada di meja Aiko. Ia memang suka belajar sambil mendengar lagu seperti itu.

Hari ini cuaca mulai terasa panas, tanda musim semi akan segera berakhir. Grade 3 bukanlah tempat untuk bersenang-senang karena siswa grade 3 hanya punya setengah tahun untuk menyelesaikan studinya. Setengah tahun sisanya dihabiskan untuk persiapan ujian perguruan tinggi dan persiapan lainnya. Benar-benar tahun yang berat untuk mereka. Aku jadi kasihan melihatnya.

Hana terlihat sangat serius. Kalender di depannya penuh dengan jadwal-jadwal kelas bimbingan dan minggu depan, satu hari yang dilingkari spidol merah di sana adalah hari ujian masuk Sekolah Tinggi Statistik impiannya.

Di meja tengah, Nishi asyik berselancar di dunia maya sambil mendengarkan lagu dengan headset. Makhluk satu ini memang makhluk paling santai di dunia. Aiko memutuskan untuk membuang wajah jauh-jauh dari buku di depannya. Kepalanya sudah penat dan kedua alisnya jadi bertemu satu sama lain.
“Rasanya aku jadi mirip Adam Smith, bahkan mimpi pun aku melihat rumus-rumus elastisitas dan kurva ekonomi yang meliuk-liuk kesana kemari, hii.. Nishi-Chan.. jangan-jangan rambutku juga mulai botak seperti Adam Smith…” kata Aiko sambil memandangi wajahnya di cermin.

Ia menghampiri Nishi di meja ruang tengah dan meninggalkan meja belajarnya yang berantakan.
“Hei, Ai.. kuharap si,  juga begitu,” canda Nishi sambil memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.
“Huuh.. dasar! fiuh.. kamu santai sekali Nishi-Chan. Coba lihat, Hana serius sekali. Aku jadi malu sendiri. Aku yakin dia pasti bisa lolos seleksi bahkan mengerjakan soal pun tinggal memejamkan mata,” ucap Aiko dengan suara pelan.
Nishi melirik sebentar ke arah Hana, “Dia belajar terlalu keras,”

Aiko tanpa sadar mengiyakan ucapan Nishi, Hana memang terlalu memaksakan diri. Aiko memandang Hana dari belakang. Bagi Aiko, melihat Hana yang seperti itu, ia melihat sosok dirinya di masa lalu. Aiko mengenang masa lalunya yang berat yang terlalu ambisius dan terlalu memaksakan diri. Menuntut diri untuk selalu sempurna, hingga ia harus kehilangan dirinya yang sebenarnya.

Dulu Aiko adalah seorang bintang prestasi di sekolah semasa Junior High School. Suatu hari saat prestasinya mendadak turun drastis dikarenakan keegoan dan kesombongannya, Aiko sempat tidak ingin melanjutkan sekolah. Akhirnya takdir mempertemukan Aiko dengan sekolah ini dan tinggal di kamar asramaku juga bertemu dengan sahabat yang baik.
“Hana…” gumam Aiko pada dirinya sendiri.

-HT-




Perlahan sepeda roda dua tenaga manusia itu pergi berlalu, pun orang dengan gerobak penuh es yang menyegarkan kerongkongan milik kedai teh poci di ujung jalan juga sudah lama pergi meninggalkannya. Suara tawa bincang-bincang tentang gossip terhangat di jurusan entah apa itu di sampingnya telah berganti dengan gerutuan dua remaja yang sedang melampiaskan kekesalan pada dosen yang mengawas UTS mereka karena ketahuan menyontek. Terlihat mereka sangat bersemangat menyuapkan dan melumat mie ayam di hadapan mereka seakan-akan tengah melumat kejadian tak menyenangkan hari itu. Di ujung sana yang masih bisa terlihat oleh pandangannya, ada sekelompok remaja lain yang sedang menyanyikan lagu ultah, rupanya salah satu sahabat mereka merayakan ulang tahun hari itu, pantas dari tadi ribut terus, batinnya. Yang sedang berulang tahun tampak mengenakan baju muslimah berwarna putih dengan wajah penuh colekan kue tart ulah sahabat-sahabatnya. Di sisi yang lain, ada tiga sampai empat orang sedang serius membahas sesuatu, dari jaket yang mereka kenakan tampak badge salah satu UKM eksekuti kampus itu. Memang tidak jarang organisasi menggelar rapat dadakan di tempat begini, lebih santai dan mencari suasana baru.

Gelas di hadapannya sudah ¾ kosong. Es teh manis kesukaannya yang selalu ia pesan saat berkunjung ke tempat ini. Meja di dekat pagar dan pohon bambu itu sudah seperti singgasananya ketika pergi ke sana, ditemani tiga bangku kosong yang ia jaga baik-baik sampai-sampai ia sempat  bertengkar dengan salah satu pengunjung saat ingin mengambil bangku tersebut. Aku tahu, kalian (bangku) sebentar lagi akan ada pemiliknya, bisiknya mencoba menghibur “bangku-bangku” tersebut. Sementara itu,  Peluh sudah lama menghilang dari wajahnya. Sedari tadi sibuk menggerakkan sedotan di gelas, mencari sesuatu. Alasan, alasan untuk tetap disini. Jarum pendek, panjang, dan jarum detik saling berkejaran di atas jam tangan kulit miliknya. Seperti tak mau berkompromi, padahal sudah setengah memohon pada mereka untuk tidak cepat berlalu, untuk pelan-pelan saja.

Ingatannya kembali melayang ke waktu dua jam yang lalu. Masjid kampus itu sudah mulai ramai dengan pemuda dan bapak-bapak yang akan melaksanakan shalat jumat. Tema pertemuan kali ini adalah “ukhuwah”, begitu kata dia mantap sebagai prolog sebelum memasuki bagian materi. Sudah menjadi pemandangan biasa di kampus itu, setiap hari jumat akan banyak terlihat orang berkumpul membentuk limgkaran-lingkaran kecil majelis ta’lim bernama mentoring.  Dan hari ini, dia salah satunya, yang menjadi mentor. Adik-adik dua tingkat di bawahnya takjim mendengarkan penuturannya yang khas dengan dibumbui sedikit humor sehingga tak jarang mereka akan tersenyum atau tertawa saat mendengar materi yang di sampaikan. Hingga lisannya tiba pada cerita teladan tentang ukhuwah indah yang dimiliki oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.  Kerongkongannya terasa tercekat ketika kata-kata keluar dari mulutnya. Lisannya bercerita, pikirnya melayang jauh pada masa 3 tahun silam saat ia pun juga dipertemukan oleh ukhuwah indah yang Allah berikan untuknya, ukhuwah yang terjalin di jalan kebaikan.  Tes..

Satu, dua bulir airmata mulai mengalir membasahi pipinya yang memerah. Napasnya tertahan, menahan airmata untuk tidak tumpah. Bilamanalah ini, batinnya. Adik-adik yang serius mendengarkannya juga ikut terdiam melihat kakak mentornya itu tergugu dan menangis. “kakak gapapa ko, de, hehe..” ucapnya menenangkan saat mereka memberondonginya dengan pertanyaan.

Terdengar helaan napas yang berat darinya. Baginya aneh ia bisa sampai menangis seperti itu. Sedotan di hadapannya dipandanginya lagi. Matanya mulai melihat jam tangan di lengan kirinya. Dua jam sudah pergi, tak mungkin kembali. Ia jadi ingat bagaimana ia tadi berlari-lari menuruni tangga shelter busway dan sepanjang jalan menuju tempat ini agar tidak membuat pemilik bangku itu menunggu. Ia pun telah dengan sengaja membatalkan semua agendanya dua jam ke depan untuk sang pemilik bangku. Napas memburu dan keringat berpeluh yang membasahi bajunya dua jam lalu tidak ia pedulikan. Yang terpikirkan hanya bagaimana ia bisa sampai sesegera mungkin dan memberikan senyuman serta sapa jabat hangat terbaiknya untuk sang pemilik bangku.  Wajahnya melukiskan sebuah senyuman.

Hanya sang pemilik bangku itu yang mampu membuat ia menangis seperti tadi ketika membawakan materi mentoring. Teringat akan uluran tangan erat yang membantunya berdiri saat ia terjatuh di perjalanan menjelajah alam yang menguatkan iman, ia pergi lagi ke masa itu. Saat ia mencicipi ukhuwah indah yang Allah hadiahkan untuknya. Pelukan hangat yang diberikan untuk teman, sahabat, sekaligus saudarinya yang ia amat cintai karena Allah meski baju penuh dengan lumpur hitam berbau tak menyenangkan. Ya, sang pemilik bangku itu adalah sahabat-sahabat seperjuangannya. Yang tetap dapat membuat ia berdiri ketika jatuh, yang menguatkan ketika ia lemah, yang menggotongnya saat ia terjatuh karena kelelahan di medan juang, yang selalu mengingatkan ketika ia lupa dan malas, yang selalu rela tertawa walaupun guyonannya tidak lucu, yang rela untuk pecah berantakan demi untuk membuatnya tetap utuh. Dan merekalah salah satu alasan dia bisa setegar sekarang. Setegar karang yang dihantam derasnya debur ombak perjuangan. Namun masa-masa ukhuwah itu telah lama memudar warnanya, pudar oleh kesibukan, pudar oleh keegoan masing-masing. Wajahnya berubah sedih.

Bip!
Getar telepon seluler pertanda sms masuk mengembalikannya ke masa sekarang. Di sana tertulis “moza”. Ini dia! serunya dalam hati. Rasa bahagia membuncah tak sabar akan pertemuan hari itu. Pertemuan yang ia harapkan bisa menjadi api semangat baru baginya. Atau untuk sekedar melepas kerinduan pada sahabatnya, pada saudarinya. Baris pertama dibacanya, tangannya terkulai lemas. lalu baris kedua dan seterusnya...Dari wajahnya terpancar kekecewaan.
---
Es teh manis di dalam Gelas di meja dekat pagar dan pohon bambu itu sudah tak bersisa. Tertinggal sebuah sedotan yang sendiri ditemani oleh empat bangku kosong tanpa tuan.