twitter


Siang hari ini, saat aku pulang aku tidak menemukan nenek. Yang ada hanya pintu rumah yang terbuka lebar seperti biasanya dan aki yang senantiasa duduk di kursi favoritnya di dekat pintu masuk rumah. Selesai mengucap salam keras keras, deruman suara perut yang sudah tidak tertahankan lagi menuntun kakiku melangkah cepat ke dapur. Tapi sedari awal tadi memang ada bau aneh menyengat yang tercium dari dalam rumah. Mirip sesuatu yang dibakar. Dan benar saja, di tempat cucian piring ada dandang nasi yang berisi sisa nasi berkerak hitam pun bawah dandangnya tidak kalah hitamnya, hihi.. sudah pasti nenek lupa sedang memasak nasi dan lupa mematikan kompornya. Fiuh.. melihat sekeliling syukurlah selain dandang itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hal seperti ini kadang memang membuat kelucuan tapi rasa khawatir juga. Kalau sudah begini hanya bisa berharap hal yang buruk tidak akan terjadi.
Esok paginya saat bangun pagi, aku menemukan sebuah kertas putih ditempel di atas kasa dapur dengan tulisan di atasnya. Nenek, gumamku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


Dari radio kayu tua, mengalun merdu lagu yang dulu kami nikmati bersama. Padang hijau, langit berbintang, terbit matahari, semua bersamanya. Aku penasaran, apakah ia juga melihat yang kini kulihat? Bulan keemasan yang bersinar terang dan satu bintang kecil yang selalu menemaninya. Suatu waktu, saat bersama, kutuliskan sebuah surat untuknya. Lagu di hati yang akan terus berulang. Menyanyikan bait-bait lagu yang sama. Lagu yang kusuka. Lagu yang mengingatkanku kepadanya. Lagu yang ku senandungkan dengan perlahan dan rahasia. Senyumannya terbayang saat chorus tiba. Satu lagu yang kusuka. Ketika kulupa tentangnya, lagu yang kusuka akan membawa kembali memori tentangnya. Surat yang pernah kutuliskan untuknya. Selamanya, mungkin ia tak akan membacanya. Surat yang suatu hari nanti ingin kutunjukkan padanya. Tentang sempurnanya saat-saat bersama. Tentang mimpinya, tentang dirinya. Suatu hari nanti.. (Inspired by song, LiSA-itsuka no tegami)


Tetaplah bersikap seperti biasanya. Tak perlu ada yang berubah. Aku sudah nyaman dengan itu. Tak perlu berubah perhatian bila biasanya tidak. Tak perlu bertanya bagaimana kabar bila biasanya menyapa pun tak pernah. Tak perlu memaksa berubah untuk peduli bila sebelumnya acuh. Tetaplah seperti biasanya. Seperti sebiasanya dirimu. Karena perubahan itu tidak cocok untukmu. Aku muak melihatnya. Biar saja seperti biasa. Acuh, tak ada basa basi, sibuk dengan masing2. Karena aku sudah terbiasa. Dan itu terasa lebih nyaman. Menangis sendiri, mengadu sendiri. Terjatuh sendiri, bangkit sendiri. Terluka sendiri, mengobati sendiri. Tak perlu khawatir, karena aku sudah terbiasa. Pun bila suatu hari aku tidak mengetuk pintumu lagi, tak perlu panik, khawatir hanya sia-sia. Karena aku tidak mau menjadi beban siapapun terutama dirimu. Jika ada malam dimana aku tidak kembali, jangan mencariku. Pikirkan saja aku berada di tempat yang baik dan nyaman. Pun bila akhirnya aku tidak pernah kembali, jangan bersedih. Berharap saja yang terbaik, meski itu akan merepotkanku. Atau anggap saja aku sebagai angin lalu. Bersikap saja seperti biasanya. Aku akan baik-baik saja. Mungkin saat itu keadaan aku jauh lebih baik dari dirimu. Tidak perlu menangis, karena aku benci mereka yang menangis untukku. Sudah, lupakan saja. Lanjutkan esok. Aku baik-baik saja.


Bilamana hatimu selalu mencelos setiap saat kau melihat bagian dari dirinya.
Bilamana pijakan kakimu selalu goyah setiap saat kau berpapasan dengannya. Hanya dengan melihat potongan dari namanya, degup jantungmu selalu memburu. Dan sekelebat wajah yang mirip dengannya selalu berhasil membuatmu tercekat, lupa bagaimana caranya bernapas. Cinta itu gila. Bagaimanapun ia selalu berhasil membuatmu menjadi "orang gila"


Menghadapi diri sendiri itu jauh lebih berat daripada menghadapi orang lain. Karena ketika kau menghadapi orang lain, ada sosok lain yang berdiri di hadapanmu, dan itu jauh lebih mudah. Tapi ketika harus menghadapi diri sendiri  kau hanya akan melihat pantulan dirimu sendiri di cermin. Tidak ada orang lain. Tiada sesiapapun. Ketika kau membenci orang lain, kau bebas mengatakan yang tidak kau sukai padanya. Tapi ketika kau membenci diri sendiri. Kau berbicara hal-hal yang tidak kau sukai pada pantulan dirimu sendiri, dan itu jauh lebih sulit karena ia tidak memberikan jawaban selain pantulan sempurna dirimu yang saat itu sedang berbicara. Dan yang paling sulit adalah ketika kau bertarung dengan dirimu sendiri. Saat kau meyakini apa yang kau yakini, tapi bagian dari dirimu mengatakan untuk tidak meyakininya, bahwa itu semua sia-sia, bahwa yang kau yakini semua omong kosong. Itu jauh menyulitkan. Karena bertarung dengan diri sendiri butuh keberanian besar, dan itu adalah hal yang semua orang lakukan.