“Selamat
pagi!”ucap Hana yang langsung menuruni tangga dan pergi ke kamar mandi.
“Rajin
sekali dia,” batin Kuniko.
Nishi
mendongakkan kepalanya dan terlihat Aiko sedang membersihkan debu di jari-jari
pagarnya.
“Hei
Aiko, kau ini sebenarnya bangun jam berapa?” Tanya Nishi terheran-heran.
“Jam
5 pagi, kenapa? Eh, tapi sesekali kalian harus mencobanya. Bangun pagi sungguh
menyenangkan!” teriak Aiko. Dan untuk kesekian kalinya dia berteriak, huh.. aku
bersyukur tidak memiliki telinga di kamarku.
“Aku
saja!” jawab Yumiko dari tempat tidurnya. Ia langsung bergegas ke wastafel
untuk mencuci muka dan memakai cardigan yang dikenakannya kemarin malam, “ayo!”
Di kiri dan kanan jendela di antara dua tempat
tidur tingkat, diletakkan lemari milik Nishi dan Sakurako. Sedangkan milik Hana
diletakkan di samping meja belajarnya dekat beranda kamar. Yang paling aneh
punya Yumiko. Lemarinya ada di samping meja belajar Aiko. Punya Aiko sendiri
ada di dekat tempat tidurnya.
Hana yang penyuka bunga, menanami pagar beranda
kamar dengan aneka jenis bunga. Tapi bunga yang paling disukainya adalah bunga
mawar. Wah, tidak sabar rasanya menunggu bunga-bunga itu bermekaran.
Seluruh gordyn yang menghiasi kamarku
diganti oleh Nishi dengan gordyn buatannya. Yumiko juga ikut membuatnya!
Dinding kamarku yang berwarna coklat mahogani tetap dipertahankan.
Dengan sapunya, Kuniko membersihkan seluruh
sudut. Saat dapur akan dibersihkannya, Sakurako menolak. Hehe.. Tidak bisa
diganggu gugat bahwa sejak pertama kali bertemu, dapur adalah wilayah kekuasaan
Sakurako ^_^. Lantas, Kuniko menaiki tangga mezzanine.
"Hai!" Sapanya singkat pada Aiko yang
sedang mendorong rak buku dengan kepayahan, "Sini, kubantu!" Ucap
Kuniko.
"Wah, terima kasih Ku-Chan.. oh ya, bisa
tolong angkat kursi itu ke sana?" pinta Aiko.
"Ehm.. Kuniko!, Baik kubantu," jawab
Kuniko agak jengkel tapi sepertinya dia menyerah karena yang lain juga ikut
memanggilnya Ku-Chan, hehe..
Lantai kamarku penuh dengan tinta, benang, dan
jarum. Nishi dan Yumiko terlihat bersemangat sekali membuat gordyn.
"Ai, di atas sana butuh hiasan bunga
tidak?" tanya Hana sambil membawa pot bunga mawar yang indah.
"Bagus juga diletakkan di jendela ini. Ke
atas saja, Hana-Chan!" Jawab Aiko.
Sementara yang lain sibuk dengan pekerjaannya,
Sakurako memasak sesuatu yang baunya harum sekali. Dapat kupastikan dapur ini
sudah bersih sempurna, hehe..
Selesai membereskan mezzanine, Aiko
bertanya pada yang lainnya, "ada yang mau ikut aku ke atas?"
tawarnya.
"Ke atas mana?" tanya Hana.
Aiko menunjuk atap kaca di sudut ruangan. pantas
saja kamar ini cukup terang di siang hari, batin Kuniko yang mengikuti arah yang
ditunjuk oleh Aiko.
"Memang ada ruangan di atas?" tanya
Hana lagi.
"Bukan ruangan sih.. hanya teras kecil. Kita
bisa melihat seluruh kota dari atas sana!"Jelas Aiko bersemangat.
Lama baru aku tahu, Aiko sangat senang memandangi
langit dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam menikmatinya. Kebiasaan ini
awalnya memusingkan semua orang karena Aiko sering menghilang tiba-tiba dan
muncul tiba-tiba entah darimana dan membuat yang lain kewalahan mencarinya.
Tapi lama-lama semua jadi terbiasa. Dasar anak aneh!
Hana dan Kuniko mengikuti Aiko menaiki tangga
yang mirip dengan tangga rak perpusatakaan kalau kau ingin mengambil buku di
bagian yang paling tinggi. Jadi kau harus sedikit berhati-hati saat berusaha
mendakinya. Ketika atap kaca itu dibuka, pemandangan menakjubkan menyapa
mereka.
Di atas sini udara bertiup semilir walau matahari
sangat menyengat. Aku sedikit bangga kamarku terletak di lantai 4. Udara yang
bersih, pemandangan indah, dan semilir angin walau musim panas yang panas
sekalipun.
-HT-
Setelah seharian penuh kerja rodi, hehe.. enam
teman baruku ini bersantai di tengah-tengah ruangan. 6 gelas penuh es jeruk dan
semangka merah yang segar tersaji di tengah meja.
Sekarang, kamar ini benar-benar bersih. Aku
bahkan bisa melihat atapku yang indah tanpa dihalangi oleh jaring laba-laba.
Kuniko dan Aiko benar-benar bekerja keras. Meskipun mereka sempat bertengkar
beberapa kali karena Aiko agak takut dengan jaring laba-laba.
Nishi dan Yumiko juga berjuang. Tangan mereka
dipenuhi oleh cat yang sulit hilang dan wajah mereka sedikit coreng moreng di
sana-sini.
Sekarang mereka semua sudah tertidur lelap karena
kelelahan. Tak dipedulikan lagi cat dan rambut yang berantakan. Bahkan Hana
yang perfeksionis tertidur di atas meja walau di tangannya masih tergenggam
gunting taman dan bajunya yang kotor oleh tanah.
Dan di teras atas, kulihat Aiko sedang duduk
santai meminum es jeruk dan memakan beberapa potong semangka di bawah sebuah
payung besar, memandangi petang yang mulai menjelang.
-HT-
Hari-hari musim panas berlalu dengan berbagai
kegiatan bagi siswa baru seperti mereka. Dan berarti mengerjakan setumpuk tugas
bagi siswa yang telah datang di semester lebih awal seperti Sakurako dan
Yumiko.
Mereka berenam adalah siswa pindahan dari cabang
sekolah tersebut yang ada di daerah. Setelah lulus dari grade 1, mereka akan
dikirim ke sekolah pusat untuk mengikuti grade 2 yang diwajibkan tinggal di
asrama khusus. Grade 2 yang artinya adalah grade penjurusan. Siswa yang memilih
datang di semester lebih awal adalah siswa yang harus mengikuti serangkaian
ujian persiapan karena mereka masuk ke sekolah tersebut dengan jalur beasiswa.
Tes beasiswa tersebut dilakukan pada akhir musim panas. Sementara yang datang
setelahnya hanya harus mengikuti ujian saringan untuk masuk ke jurusan yang diminati.
Sakurako memilih kelas memasak sebagai
jurusannya. Aku yakin ia akan bisa lulus dari sana dengan baik. Lalu Yumiko
memilih kelas desain animasi bersama-sama Nishi. Bedanya Nishi memilih dua
jurusan sekaligus yaitu kelas science dan kelas desain. Untuk itu
sepertinya Nishi harus berjuang keras, tapi kalau kulihat dia terlihat santai
saja ^_^.
Sedang Aiko juga memilih dua jurusan, ekonomi dan
kelas sastra. Kuniko di desain grafis dan Hana menentukan langkahnya di kelas
ilmu statistik. Ilmu statistik adalah kelas yang paling berat dan paling
dihindari oleh para siswa. Hanya sedikit saja orang yang dapat lulus tes
saringan awalnya.
Siang yang panas. Sekarang kamar ini lebih baik
dari sebelumnya. Seluruh penghuni kamar sibuk dengan urusannya masing-masing.
Hana menekuri diri di meja belajarnya. Kalau melihat tumpukan buku tebal di
hadapannya, tidak heran dia memakai kacamata tebal. Kuniko dan Nishi dengan
komputernya seperti adu mengetik siapa yang lebih cepat. Bau harum masakan yang
tercium.. Ini pasti dari Sakurako. Penguji memberinya tugas musim panas membuat
10 resep baru yang unik untuk diikutsertakan dalam kompetisi sebagai bagian
dari ujiannya, di mana resep sang pemenang akan dipilih menjadi salah satu menu
masakan di restoran terkenal di Jepang.
Di bagian atas tempat tidur tingkat, Yumiko asyik
menggoreskan tintanya membuat pola-pola desain animasi. Kusarankan untuk tidak
melihat betapa berantakkannya tempat tidur itu sekarang. Tangan kirinya
memegang komik, tangan lainnya dengan cekatan membuat gambar. Orang ini memang
Naruto holic sejati. Lihat saja dindingnya, penuh dengan poster dan gambar
Naruto. Belum meja belajarnya yang penuh dengan action figure, kaset
video dan banyak komik Naruto. Sampai-sampai tidak ada tempat untuk meletakkan
buku dan belajar di sana.
Aiko juga sama. Meski belum mendapatkan tugas
sebagai bahan ujian, tapi ada beberapa persiapan materi yang harus selesai
sebelum musim panas berakhir untuk kelas broadcasting-nya. Oia, aku lupa
bilang padamu, Aiko juga mengambil kelas pilihan Broadcasting sebagai
kegiatan ekstrakurikulernya.
Aiko lebih memilih beranda kamar untuk
mengerjakan materinya. Di sana udaranya memang lebih sejuk. Sambil memakan es
krim di tangannya, Aiko takjim memandangi lembaran-lembaran kertas di depannya.
Hanya terdengar suara jangkrik di kejauhan dan alunan samar-samar dari MP3
player milik Aiko yang disetel volume 3. Cukup membuat seluruh ruangan
mendengar lagu itu di tengah-tengah suasana yang sunyi begini.
"Hei Ai, lagunya bagus.. apa judulnya?"
tanya Kuniko. Ia menghampiri Aiko di beranda sambil membawa laptopnya.
"Oh itu, OST full house, i think.
Drama korea terkenal," jawab Aiko bersemangat. Nishi ikut menyusul Aiko.
Nishi memakai headset di kepalanya, terlihat keren, "Eh, mau coba
dengar yang ini?" tawarnya sambil menyerahkan headset yang
dikenakannya kepada Aiko.
"Boleh, lagu apa?"
"Anime, kalau kamu suka," jawab Nishi.
"Tentu aku suka! Tahu tidak, sebenarnya aku
juga ingin mengambil kelas desain animasi, tapi karena aku sadar dengan
kemampuanku.. ya, aku memilih menikmati karyanya saja, hehe," kenang Aiko.
"Aiko, kalau mau, aku bisa meminjamkan
komik-komikku," tawar Yumiko dari dalam ruangan kamar.
"Iya baik! Yu-Chan sedang mengerjakan
apa?" tanya Ai. Yang ditanya menunjuk kertas-kertas penuh gambar dari atas
tempat tidurnya.
"Dia sedang membuat pola desain untuk
membuat film animasi pendek," jelas Nishi.
"Wow hebat!" kagum Aiko. Aiko melirik
jendela dan terlihat Hana yang sedang diam termenung melihat langit di luar,
"Hana!" panggil Aiko,"Keluarlah! Di sini udaranya sejuk!"
Hana terkejut bukan main sampai-sampai wajahnya
pucat dan pensil yang sedang dipegangnya terjatuh.
"Eh, maaf.. Aku melamun ya? fiuh.. soal-soal
ini cukup sulit,"
"Mungkin kami bisa membantu?" kata Aiko
sambil melirik Nishi dan Kuniko.
Hana terlihat membereskan bukunya, Dari balik
pintu beranda ia muncul dan membawa sebuah buku dan pensil,"kalian tahu
jawaban soal ini?" tanya Hana.
Jelas saja ketiganya menggeleng serempak, hehe..
"Mungkin Nishi bisa. Kamu kelas science kan?" ucap Aiko.
Mukanya pucat melihat rumus-rumus statistik yang menari-nari di hadapannya.
Sementara itu, Kuniko membantu memakan es krim Aiko di kotak box yang mulai
mencair, "Ehm.. kubantu lewat internet ya. Mungkin ada orang yang
mencantumkan soal itu di sini,"Ucap Kuniko dengan mulut penuh es krim.
"Hrggh.. Ku-Chan!Dasar! Mau bantu Hana atau
bantu aku menghabiskan es krimku?"ucap Aiko saat melihat es krimnya
tinggal separuh.
Hari pun beranjak petang..
"Eh, tidak terasa ya sebentar lagi musim
panas berakhir," ucap Aiko.
"Syukurlah," ucap Kuniko, "
hari-hari berkeringat akan berakhir!"
"Wah, sudah waktunya ya!" teriak
Yumiko.
"Apa??! tanya yang lain.
"itu,, em.. bukannya setiap musim panas
berakhir itu artinya matsuri!!!" Jawab Yumiko yang berteriak kegirangan
sambil buru-buru menghampiri teman-temannya di beranda.
"Wah, matsuri!" sambung Aiko.
"Itu artinya memakai yukata juga kan?"
ucap Nishi pelan tapi bersemangat.
"Aku tidak membawa yukata-ku ke sini,"
ucap Kuniko.
"Eh, kalian tahu apa yang kupikirkan?"
ucap Yu-Chan dengan senyum penuh arti.
"Apa??" jawab yang lain penasaran.
Nishi meliriknya sekilas,"kita bisa
membuatnya." jelas Nishi.
"Wah.. aku beruntung sekali sekamar dengan
orang-orang ini!!!" kata Aiko yang tambah bersemangat.
"orang-orang ini???" Kuniko membalas
jahil, "kau kira aku ini..."
"Bukan..," sela Aiko," maksudku
Nishi dan Yu-Chan bisa membuatkan desainnya. Untuk Ai, Ku-Chan, Hana, dan
Sa-Chan. Pasti akan menyenangkan!"
"Seru sekali!" timpal Sakurako sambil
membawa sebungkus snack kue beras, "punya ide untuk makan malam di
beranda?" tanyanya.
"Makan malam?" ucap Hana bingung. Tapi
ketika ia melihat langit, gelap mulai datang menyapa dan kerlip bintang mulai
bermunculan menyadarkan ia dan semuanya bahwa hari telah beranjak malam.
"Ide bagus! langitnya cerah!" kata
Nishi sambil menutup aplikasi di laptopnya.
"Tidak sadar. sampai-sampai sudah malam
ya?" kata Aiko.
Meja di ruang tengah ruangan dipindahkan ke
beranda. Menu makan malam hari ini adalah masakan Sakurako yang telah dibuatnya
sepanjang hari untuk membuat resep baru yang ditugaskan oleh penguji. Sakurako
meminta pendapat teman-temannya tentang masakannya dan mencatat hal-hal yang
dikatakan oleh mereka. Aku yakin, Sakurako akan menjadi koki yang hebat di masa
depan nanti.
Hari yang melelahkan ini pun berakhir.
Itadakimasu!
-HT-
Setelah obrolan beberapa pekan lalu, semuanya
sangat bersemangat menunggu matsuri tiba. Tapi, tugas menggunung yang belum
terlihat berkurang mendesak untuk diselesaikan karena musim panas hampir
berakhir. Pelan tapi pasti, masing-masing dari mereka sudah tenggelam kembali
dalam aktivitasnya masing-masing. Di hari-hari terakhir musim panas yang amat
melelahkan, Aiko terlihat sangat jenuh. Di wajahnya seperti ada angka jutaan
yang berputar-putar.
Aiko memanjat tangga di mezzanine. Kurasa
tak ada seorang pun yang memerhatikannya. Bahkan, jahitan yukata yang sudah
jadi dan sudah dikirim tempo hari dibiarkan saja tergeletak di ruang tengah. Di
atas sana lebih baik bagi Aiko untuk melepas kejenuhan.
"hh.. lelahnya. Di sini sangat indah. Andai
yang lain juga bisa melihatnya," Aiko melirik ke bawah lewat atap kaca dan
matanya bertemu dengan siluet teman-temannya, "tampaknya mereka sibuk
sekali," ucap Aiko dalam kesendiriannya. Harapan untuk melewati matsuri
bersama-sama tampaknya akan gagal, batin Aiko. Malampun datang. Dia masih di
atas. Sementara itu di bawah, lampu ruangan yang tadinya menyala terang kini
sudah digantikan dengan lampu yang lebih redup untuk tidur. Masih di atas atap,
Aiko menyantap makan malamnya dengan perasaan kecewa meski masakan Sakurako
sangat lezat. Sakura sudah menyelesaikan 9 dari 10 resep tugasnya.
Kamarku sekarang benar-benar berantakan. Buku
bertebaran di mana-mana, robekan kertas di sana-sini, tumpukan panci dan piring
kotor, dan komputer yang menyala dibiarkan saja. Musim panas yang erat bagi
para siswa.
Aiko bersenandung pelan, sampai tiba-tiba saja
dari kejauhan, di langit, bintang berdentum-dentum, dan terdengar samar-samar
sorak tepuk tangan banyak orang, "Hanabi!!!" Pesta kembang
api!!!!" teriak Aiko melihat lebih teliti dan tampak sangat kegirangan.
Senyum lebar menghiasi wajahnya dan ikut bersorak riang. Tanpa pikir panjang
Aiko bergegas menuruni tangga sambil berteriak dan menyalakan lampu dengan
bersemangat,
"Hanabi!!! Ayolah bangun!! Kembang api
dimana-mana!" Seru Aiko membangunkan semua temannya.
Hana terbangun dan memakai kacamatanya,
"kembang api?" tanyanya masih setengah sadar.
"Matsuri!!??" sambung Yumiko penuh
semangat, langsung turun dari tempat tidurnya.
"Apa?! ada api!!?" Kaget Sakurako
sambil berlari menuju dapur.
"Bukan,, Hanabi! Pesat kembang api!"
Seru Aiko lagi.
"Sudah mulai?"tanya Nishi.
"iya, ayo ke atas!" ajak Aiko. Ia
langsung memanjat kembali ke atas diikuti Hana, Yu-Chan, dan Sakura, "Eh,
tunggu aku!!!" kata Kuniko sambil mematikan komputernya yang ternyata
masih menyala dan lupa dimatikan.
Di atas, semuanya terkagum-kagum. Tidak ada yang
berkata-kata. Semuanya takjim memandangi keindahan yang ada di atas langit
berpendar-pendar saling bersahutan dan bergantian. Semua beban seperti menguap
bersama ratusan kembang api yang dilemparkan ke udara. Warnanya indah dan
bentuknya bermacam-macam. Ada yang seperti komidi putar, seperti bunga mawar,
dan banyak lagi. Aku ikut senang melihat temanku bisa bergembira dan tersenyum
lepas lagi.
Tapi, di bawah Nishi justru sedang membuka
beranda kamar lebar-lebar. Dan dia seperti mencari sesuatu di antara tumpukan
barang-barang. Yang dicarinya ternyata ada di bawah meja di ruang tengah. Enam
potong yukata indah tersimpan rapi di dalam kotak, hampir berdebu. Senyum
simpul mengembang di wajahnya.
"Hei teman-teman!!" Teriak Nishi,
"Turunlah sebentar!"
Yumiko menoleh ke bawah. Nishi sedang menunjukkan
yukata hasil desain mereka berdua, Yu-Chan mengangguk senang.
"Mm.. kalian mau menjadi bagian dari kerumunan
orang beruntung di sana?" tunjuk Yumiko. Ia mendahului teman-temannya
turun ke bawah, disusul yang lain. Yu-Chan mengambil kotak yukata yang
bertuliskan nama dirinya. Nishi memberikan kotak milik Aiko, Hana, dan
Sakurako. Setelah dicari ternyata kotak yukata Kuniko ada di atas skateboard
milik Nishi.
Ada enam bunga cantik di kamarku sekarang. Aku
hampir tidak mengenali mereka. Aiko pusing tujuh keliling memakai yukatanya
yang berwarna kuning lembut. Hana terlihat seperti bunga yang sedang mekar dengan
yukata berwarna putih bermotifkan bunga krisan putih. Kuniko yang pemarah
sekejab berubah menjadi anggun bak seorang putri dengan balutan yukata berwarna
merah. Dengan terampil Sakurako membantu merapikan rambut teman-temannya. Dia
sudah lebih dulu selesai, kain yukata berwarna biru laut sempurna menghiasi
dirinya. Nishi dan Yu-Chan saling berpandangan dan ber-tos ria satu sama lain.
Senyum bangga dan puas menghiasi wajah mereka.
Dari kejauhan (setelah mendapat ijin dari Bu
Kepala Asrama), aku melihat tawa lebar teman-temanku di festival matsuri itu.
Tak dipedulikan lagi piring dan panci kotor ataupun tumpukan tugas di meja
belajar. Semuanya tampak gembira. Dan di sini, aku sendiri, berteman kilauan
kembang api yang berdentum bersahut-sahutan. Rasanya aku ingin ikut menari bon
odori bersama mereka dari sini di bawah terang bulan purnama sempurna.
contd.. AKI..