twitter




Setiap pertanyaan punya jawabannya masing-masing. Ini seperti mendapatkan sebuah jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul dari kalbu. Jawaban itu datang dengan sendirinya, sementara pertanyaan atas jawaban muncul dari kealpaan dan kehilangan yang menjadi nyata.

Kuperkenalkan kepadamu tokoh cerita ini, dialah Azalea. Potongan kehidupan yang Azalea miliki ini seperti puzzle berbentuk hati yang sering diibaratkan menjadi lambang dari cinta. Tadinya ia hanyalah potongan-potongan kecil, lalu menjelma menjadi sebuah gambar hati merah sempurna. Setiap orang dalam cerita memegang potongannya sendiri. Azalea memegang satu bagian. Mereka yang lainnya. Tak pernah ada yang meminta siapa akan disatukan dengan siapa. Semua sudah ada tempatnya tersendiri di sini.

Dan mengalirlah cerita tentang Azalea dan mereka. Ini tentang Pesan-pesan singkat yang selalu dapat menjadi jawaban atas setiap pertanyaan. Kecemburuan, kegembiraan, kesalahpahaman, kesedihan, kealpaan, juga kebersamaan yang sederhana..

Kau begitu berharga. Maka biarlah di sekat-sekat masalah, di sela-sela ujian, di batas-batas kelemahan, menempamu di ruang-ruang malam penghambaan kepada zat yang menjadikan mu berharga. Selamat beristirahat kawan, selepas weekend ini pasti kita akan sedikit melupakan istirahat. Jangan mempersulit diri, ayo apa harapanmu di sini. Kita kerja sama ya, bukannya sama-sama kerja ;) 02:43:38 23/03/2013” ucap sang jenderal cinta. 
Azalea baru saja pulang, baru saja merebahkan diri di atas sofa kesayangan saat menerima pesan singkat ini. Ya benar, kita harus bekerjasama, batinnya. Semangat!! ^o^/ Kelelahan yang menyergap Azalea selepas acara rapat kerja 3 hari yang lalu tiba-tiba saja menguap entah kemana seperti juga uap air yang hilang ke udara saat dipanaskan. Dipertemukan oleh orang-orang asing seperti mereka, Azalea merasa canggung tapi juga menarik. Jalan cerita ini belum tahu akan bagaimana ujungnya.

Seiring berjalannya waktu, pertemuan-pertemuan di antara mereka telah membangun sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang akan kau temukan jika kau sering bertemu dengan orang-orang yang sama dengan minat yang sama. Azalea dan kesembilan orang lainnya sama sekali tidak ada kesamaan jurusan ataupun disiplin ilmu. Tapi kecintaan dengan dunia pendidikan lah yang menyatukan hati-hati mereka. Seperti jargon yang selama tiga bulan terakhir itu selalu mereka serukan, “karena mendidik adalah cinta”. Tidak peduli latarbelakang, kesamaan itulah yang akhirnya menyatukan mereka.

Tapi hukum alam selalu mengambil bagiannya di saat-saat terlemah. Siapapun tidak dapat memungkiri, tidak selamanya putaran rantai roda berada di atas. Kejenuhan akan selalu datang di saat lemahnya iman. Dan akan bertambah-tambah ketika satu per satu dari teman mu pergi meninggalkan tanpa alasan yang pasti. Seperti yang terjadi pada Azalea. Tanpa bermaksud meninggalkan, nyatanya lembaran miliknya berhenti di tengah jalan, dunia berbicara. Keangkuhan akan materi mengambil alih kendali. Untuk sesaat, Azalea ‘terpaksa’ meninggalkan cinta-nya.

Dan bukan hanya ia yang pergi tanpa pamit, yang lainnya pun demikian. Sembilu rasanya hati sang Panglima cinta. ditinggalkan prajurit-prajurit terbaiknya di medan perang. Di saat pedang dan langkah kaki harusnya memburu, tapi hanya sedikit yang bertahan tinggal di sisi.

20:37:52 23/04/2013, sang panglima berbicara, “Hanya ingin menyampaikan kalianlah yang terbaik. Menetesnya airmata (mungkin) penyembuh perih hati. Bersegeralah kepompongnya menjadi kupu-kupu dan berharap bunga itu akan segera mekar. Mudah-mudahan bisa bersua kembali. Untukmu keluarga. Para pencinta pendidikan”. Bahkan sebenarnya sang panglima bisa saja berteriak, menegur tegas jundinya yang mundur teratur dalam medan perang. Tapi ia tahu, tegas tak selamanya harus berarti kata-kata tajam dan ‘ringan tangan’. Hati adalah bagian yang paling rapuh sekaligus yang paling kuat.
Butuh waktu memang, tapi satu demi satu teman-temannya kembali. Azalea merasa yang paling bersalah. Tidak hanya dia, setiap orang dari mereka pun merasakan hal yang sama. Saatnya kembali dan menjalankan mimpi yang telah mereka lambungkan dahulu. Tak ada yang bertanya masa lalu, alasan kepergian. Air muka bisa menjelaskan segalanya yang tak bisa dijelaskan oleh lisan. Sang panglima telah menemukan kembali prajuritnya.

Spedometer semangat telah kembali ke jalurnya. Kebersamaan itu kembali menyapa. Beruntung sekali Azalea ditakdirkan menjalani jalan ini dengan orang-orang yang luarbiasa. Yang selalu dapat menjadi alarm ketika ia lengah.

Azalea memegang puzzle miliknya. Potongan itu laksana tenang serupa guguran daun yang jatuh di aliran sungai. Seseorang yang masih berjalan dengan kompas tergenggam erat di tangan. Karena itu tak jarang ia sering tertinggal dari teman-temannya. Tapi kesedihan akan itu sirna ketika sang jenderal cinta mengatakan padanya bahwa bersama tak harus selalu sama.

Tokoh berikutnya pemilik puzzle ini adalah sang bunda cinta. Ialah yang memegang alarm pengingat bagi semuanya. Tak jarang ia harus berjuang sendirian ketika yang lainnya kelelahan. Tak jarang juga ia berkorban lebih saat yang lainnya terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Tapi senyum dan canda tak pernah hilang dari wajahnya. Saat yang lain berbalik, ia selalu ada di belakang mereka untuk meminjamkan waktunya mendengarkan keluh dan kesah. Tapi tak pernah sekalipun dari mereka yang pernah melihatnya berkeluh kesah atau menampakkan kegundahan. Semua punya dapurnya masing-masing, itu yang sering diucapkannya. Mungkin dapur miliknya hanyalah kepada Sang Penggengam Jiwa.

Beberapa dari pesan-pesannya, “Semoga percikan air wudhu pagi tadi selalu mengingatkan kita atas amanah yang ada. Kepercayan adalah harapan, tinggal bagaimana kita mau mengemasnya dengan ikhtiar sungguh-sungguh,05:36:09” “Jika popularitas jadi parameter diri di hadapan manusia, maka biarlah diam dalam kerja nyata dan mujahadah jadi pemantas kualitas ketaqwaan diri kita di hadapan Allah. Ayolah semangat! Kepercayaan adalah harapan, 06:19:28 07/05/2013

Hiduplah untuk umur kita hari ini karena memang inilah umur kita yang nyata. Dengannya kita selalu teringat untuk menciptakan keindahan, berbuat baik, dan bermanfaat. Sebab dalam hati kita selalu ada kekhawatiran atas pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak ^^, 08:43:59 22/05/2013

Ukhuwah dan amanah beum sempurna tertunaikan. Semoga peluh suka duka yang ada, semata harapkan ridhoNya. Bila nanti kita jauh berpisah, jadikan rabithah pengikatnya, jadikan doa ekspresi rindu.. Semoga kita bersua di surga. ^Terimakasih telah membuat keping-keping indah di hati. 21:32:14 24/05/2013

Semakin mengenali manusia yang makin akrab bagi kita pastilah aib-aibnya. Sedang mengenali Allah pasti membuat kita mengakrabi kesempurnaanNya. 21:46:08 28/05/2013
Pesan-pesannya seperti oase di tengah gurun yang kering. Tanpa bermaksud menghakimi tapi caranya adalah dengan pengingatan yang ‘cantik’. Melihat ke dalam diri sendiri. Sang Bunda cinta memang selalu begitu. Mewarnai semua orang tapi tidak banyak terwarnai. Dia idola semua orang! ^_^

Setiap kesulitan jika disikapi dengan senyuman sungguh menjadi kekuatan. Akan ku ukir pelangi hidup dalam lembar baru. Kuncinya adalah ukhuwah karena Allah. Karena Allah-lah yang mengikat hati manusia.21:16:25 16/05/2013
Pesan di atas datang dari seorang pemilik potongan puzzle yang tak pernah kehabisan asa dan semangatnya untuk pendidikan. Dialah sang pemimpi. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya begitu. Dia memang memiliki banyak mimpi yang selalu berusaha untuk diwujudkannya. Setiap mendengarnya bercerita membagikan asa miliknya, kesembilan pemilik potongan puzzle yang lain akan tersetrum oleh virus semangat sang pemimpi. Seakan tak ada hal yang mustahil untuk dilakukan. Semuanya mungkin jika berazzam dengan sebenarnya. Satu menit saja orang yang kehilangan harapan hidup bila duduk di dekatnya akan langsung lupa alasan mengapa ia bisa kehilangan harapan dan selanjutnya kembali bangkit melanjutkan hidup yang memang tentang masalah dan masalah.

Prinsipnya satu, sang pemimpi tidak suka jika hanya menghabiskan waktu berkutat dengan konsep palsu tanpa kerja nyata. Ia selalu ingin menyentuh objek yang membutuhkan sentuhan cinta dari pendidikan. Tidak perlu beretorika dengannya, karena kau pasti akan kalah.  Sekali waktu uzur mungkin menyapanya, ketika kehilangan harapan menggebu tentang cita-cita besar pendidikan. Ia padam, yang lainnya pun seakan ikut padam. Seolah sulit untuk percaya, orang sepertinya juga bisa merasakan kelelahan. Ini adalah tanggungjawab semua orang. Bukan hanya satu atau dua orang. Kenapa ia bisa kelelahan? karena teman-temannya meninggalkan ia sendiri. Azalea kembali merenung. Selama ini ia berada di mana. Tapi sang pemimpi tidak pernah ambil pusing dan perhitungan. Mimpi yang ia lambungkan mungkin saja terlalu tinggi untuk dicapai, butuh waktu dan kerja keras.

Yang paling terampil mengendalikan hati/perasaan dan pikirannya adalah orang yang paling mudah bahagia. Mari, terima dengan lapang hati, ridho dengan episode yang harus dijalani, berbaik sangkalah kepada Allah, niscaya akan lega hati ini. Bukankah kita sedang menjalankan skenario Allah? ;-) Bersemangatlah kawan! Semoga Allah menguatkan.., 15:54:35 22/05/2013” pesan ini dikirim untuk saudara seperjuangannya yang selalu yakin bahwa mendidik adalah cinta. Seyogyanya, pesan tersebut juga ditujukan untuk dirinya sendiri, sang pemimpi.

Kawan, terkadang kita lupa untuk berhenti sejenak. Melihat ke sisi siapa yang masih membersamai kita. Melihat ke belakang siapa yang sedang kelelahan tak kuat melanjutkan perjalanan. Urusan mundur teratur di medan juang ternyata meninggalkan luka tak terlihat di hati sang bungsu cinta. Asanya yang mengangkasa, tiba-tiba saja dirundung kecewa ketika kakak-kakak yang disayanginya perlahan pergi tanpa penjelasan. Meninggalkan ia bermain sendiri memegang puzzle miliknya. Derai air mata tidak tertahan justru jatuh di atas pundak seorang yang asing. Kemana orang-orang dekatnya? Dalam kesibukan masing-masing, sebuah pesan singkat masuk. Pendek, tapi menjelaskan panjang kata yang tidak terucap.

Terkadang kita butuh jarak, agar memahami rasa sebenarnya. Seperti kata-kata yang butuh spasi, agar sanggup terbaca dengan baik, 19:33:46 27/05/2013
Sejatinya ia kesepian. Hanya ditinggalkan begitu saja bersama bayang-bayang kesepian. Ketika ditanya tentang keluarganya, orang-orang yang dipertemukan dengannya untuk mengemban amanah di dunia pendidikan ini, sang bungsu hanya bisa menggeleng dan menangis.

Jarak yang ada sudah begitu jauh, mereka pun tersadar. Kembali merapat dalam barisan. Azalea dan lainnya. Meski luka mungkin akan meninggalkan bekas, namun biar bagaimanapun kata maaf itu meluncur dan berusaha untuk menebus kesalahan. 6 bulan sudah terlewati.

Kita berjalan bersisian kali ini. Tapi entah bagaimana, harapan terasa melarung, jauh. –persimpangan, silang hati- 18:26:23 06/07/2013
 Tak pernah ada yang sempurna dalam semua hal. Kecuali Dzat yang Maha Sempurna itu sendiri.

Sang Panglima cinta, sang jenderal cinta, sang bunda cinta, sang pemimpi, Azalea, sang bungsu, enam puzzle sudah terkumpul. Empat lainnya akan segera menyusul membuat sebuah paragraf baru dari cerita yang belum diketahui bagaimana akhirnya ini.
> Sang professor, sang penggerak, sang penetral, sang bayang,




Tanpa judul.
Aku benci ditinggalkan.. Aku benci perpisahan.. Sebelum Aku mendengarnya maka kuputuskan lebih baik aku-lah yang meninggalkan dan berpisah dengannya. Apapun itu.
~~~

Grown up things
Ketika beranjak dewasa, beberapa orang akan membuang segala hal kekanak-kanakan dari dirinya.
Beberapa lagi menyimpan sebagian kecil darinya sebagai memori.
Sedikit dari mereka yang tetap memutuskan mengenggam semua hal kekanak-kanakan itu dalam dirinya.
Dan sepertinya aku masuk ke dalam yang sedikit itu. Segala hal tentang kekanak-kanakan telah membentuk aku yang sekarang.
Aku tidak bisa membuang potongan diriku yang satu itu.
Buruknya adalah, ketika kau hanya mengenali mereka -orang yang kau kenal baik- di masa kanak-kanak dan tersentak kaget, terjerembab ketika berhadapan dengan realita yang ada.
Dunia tentang “menjadi dewasa” tidak pernah seindah dongeng dalam dunia kanak-kanak.
~~~

Just,
JIka ada pembagian jenis sahabat.. Noisy friend dengan silent friend..
Mungkin aku termasuk jenis yang kedua. Menyayangi dalam diam adalah keahlianku. ^_^
~~~

I’m in love with you
Hari pertemuan semakin dekat. Apakah aku masih bisa menjadi aku yang mereka kenal dahulu? Apakah kini aku sudah berubah? Ataukah ini semua hanya pikiranku saja? Karena aku merasa mulai tidak mengenali diriku sendiri.
Semoga perjalanan perjalanan dan pertemuan nanti bisa membawaku kembali.
Itulah yang aku pikirkan saat akan memenuhi undangan dari ‘keluarga’. Ya, aku memang terlalu banyak berpikir. Dan ketika semuanya sudah selesai, yang tertinggal adalah sebuah cerita.
Ukhuwah ini begitu indah’, begitu ucap seorang adik sebelum kepulangan kami dari tempat menakjubkan itu.
Tempat di manapun sama, hanya saja yang menjadikannya istimewa adalah orang-orang yang ikut serta hadir di sana.
Masih tergambar jelas dalam ingat, semburat kemerahan matahari terbenam sore itu. Dan deburan ombak yang menggulung lembut di dekat kakiku. Suara alam. Menghilangkan semua penat. Ikut menenggelamkan semua rasa sesal yang sempat terpikir. Inilah harga yang pantas. Tak dapat dinilai oleh nominal uang yang fana.
Bersama keluarga, momen sepersekian detik itu kami nikmati bersama. Asyik menjepret sana sini mengabadikan momen yang ada. Bagiku, selembar foto itu juga fana. Yang abadi ada di dalam sini (hati).
Senyuman mereka, canda tawa, sudah berpisah memang. Semua sudah bertukar/berganti posisi. Tapi bagiku, bagi kami, semuanya masih tetap sama. Karena sejatinya slogan itu bukan hanya sekedar merek, tapi sudah terukir dalam kalbu. Merekalah keluarga. Yang dipersaudarakan oleh islam.
‘‘Dalam kamus apapun, keluarga, tidak ada kosakata mantan adik atau mantan kakak.’’ ini ucapan seorang adik luarbiasa yang sudah melanjutkan tongkat estafet dakwah ini ^_^.
Meski hanya sendirian (satu-satunya akhwat ‘golongan tua’ yang datang, hehe) tapi ternyata kehadiran mereka membuat yang asing terasa begitu dekat. Ada untungnya juga. Seperti kembali ‘muda’. Apapun itu, aku menikmatinya. Menikmati semua momen yang terjadi di tiga hari dua malam saat itu.
Aku selalu mengingat kata-kata ini, “Seorang kakak yang baik tidak akan pernah mengecewakan adiknya tersayang. Ia akan selalu berusaha menjadi ‘yang terbaik’ di mata adiknya”. Dan itulah yang terjadi padaku. Seorang aku, memasak? XD Jika bisa diibaratkan ini seperti mimpi buruk. Apakah mereka tahu? Jangan, desakku. Biar bagaimanapun aku pernah mencoba posisi sebagai konsumsi beberapa kali. Jadi seharusnya semua tidak ada masalah. Semua tenaga dan pengetahuan yang kudapatkan secara otodidak tentang memasak, kukerahkan (Yosh!). Dan hasilnya… hm.. aku bisa sedikit tersenyum. ^_^ Tidak terlalu buruk, tapi juga tidak bisa dibilang sangat baik. Cukuplah, hhe.
Terimakasih, adik-adikku. Satu lagi kejutan dari mereka. sebuah pigura dengan foto-foto kebersamaan kami dan satu kata dari setiap orang tentang aku (peluk cium kalian >_<)
Aku tidak mungkin berekspresi berlebihan di hadapan mereka ketika mendapatkan hadiah itu. Tapi dalam hati aku melonjak kegirangan. Ada rasa haru di sana. Keluarga jilid 2. I’m in love with you. (^_<)    
~~~

Kontemplasi drama
Orang yang selalu membiarkan dirinya terluka untuk dapat membuat orang lain bahagia. Orang yang rela pecah berantakan agar dapat membuat orang yang disayanginya tetap menjadi utuh.
Aku benci orang seperti itu. Karena aku melihat dirinya dalam cermin pantulan diriku.
Tapi kurasa mungkin ini yang memang seharusnya terjadi. Kehidupan yang sempurna. Lalu pecah berantakan. Kalau bisa memilih, ia ingin menjadi pohon di kehidupan berikutnya. Takdir yang ada di antara mereka begitu rumit. Setelah berputar jauh menjauhi masa lalu, akhirnya kembali bertemu di titik di mana semuanya dimulai.
Lagi, orang yang sama yang harus berkorban. Parahnya lagi, tak cukup hanya sampai di sana. Penyakit yang dideritanya semakin hari semakin memburuk. Cerita ini lebih malang dari kisah Cinderella. Meskipun kisah seperti ini mungkin hanyalah picisan, dalam semu. Tapi aku bahagia untuknya. Akhir yang ‘pantas’ untuk seseorang sepertinya yang selalu berkorban untuk kebahagiaan orang lain. “Akhirnya kami bersama” itu yang diucapkannya di akhir cerita.
Pergi dalam tenang dan kebahagiaan karena berlimpah kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya.
Kisah cinta seperti ini memang tidak akan punya akhir dan tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun. Sudah bisa tebak ini kisah siapa? Kisah yang diawali dengan gugurnya dedaunan, dan diakhiri dengan bergugurannya daun maple merah yang ditiup angin.
~~~

Perasaan yang menyenangkan… ^o^
Aku selalu memimpikan hal ini.
Bisa menatap langit setiap hari.
Setiap saat yang kumau.
Menatap langit membuatku mengagumi kebesaranNya.
Bisa menatap langit membuatku mengerti arti kata ‘cukup’ dan bersyukur.
Dengan menatap langit, aku tersadar bahwa aku ini begitu kecil. Benda langit yang menjadi bagian dari semesta yang begitu besar.
Seperti malam ini, saat langit membentuk bayangan sempurna diriku.  




Dengan adanya ketidaksempurnaan itulah maka semuanya menjadi terlihat sempurna. Karena terkadang, kesempurnaan yang ditampilkan itu sangat membuat lelah luarbiasa. Ini semua berlaku bagi siapapun, terkecuali bagi-Nya. Sang Pemilik kesempurnaan sejati. >Just think, when listen to one of the best song vocal group today.




Dunia baru, lingkungan baru, orang-orang yang baru. Seperti yang sudah-sudah, aku harus beradaptasi dengan sekelilingku. Hal itu selalu membuat hatiku getir dan seluruh tubuhku berkeringat dingin. Sepanjang ingatanku, aku bukan orang yang mudah bergaul. Label pendiam sudah melekat kuat pada diriku betatapun aku berusaha kuat untuk menghapusnya. dan aku memang mengakui bahwa aku sangat menikmati kesendirian itu. Tapi adakalanya hal tersebut terasa menakutkan bagiku.
Dunia baru ini tidak pernah kuniatkan ingin kujalani. Walaupun mungkin dulu sempat terbersit dalam khayalanku menjalani kehidupanku di tempat ini. Kukira itu hanyalah angan angin lalu. Ada sedikit rasa kecewa di sana, tapi aku berusaha untuk bertahan dan memantapkan diri menerima semua kehendak-Nya. Mau marah-marah, atau mogok makan sekalipun, tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku adalah bagian dari tempat ini sekarang. Bagiku itu cuma buang-buang tenaga.
Tempat ini, ah.. lebih tepatnya kampus ini adalah satu-satunya kampus PTN di ibukota negaraku. Kota metropolitan dengan segudang cerita perjuangan hidup di dalamnya. Nama kampus ini tertera besar-besar di tugu gerbang pintu masuknya.
Di sana tertulis almamater ku sekarang. Kampus yang terkenal telah menetaskan beribu-ribu lulusan potensial sebagai sumbangan bagi dunia pendidikan. Maka, orang-orang pun heran tiap kali menanyakan jurusan yang kupilih., Akuntansi murni tanpa embel-embel kependidikan. Dengan tanpa gelar SPd. tentunya bila aku lulus nanti.
Jurusan yang kuimpikan akan kudapatkan di PTN paling mahsyur di bumiku, kini ‘terpaksa’ kudapatkan di tempat ini. Aku –Azalea.
***
Hatiku berdegup kencang saat jemariku meng-klik pointer mouse di laman yang tiba-tiba jadi popular bila musim ujian masuk perguruan tinggi di mulai. Akibatnya membutuhkan kesabaran ekstra tinggi untuk menunggu halamannya terbuka.
Tapi tak apa, aku akan menunggu selama yang dibutuhkan. Aku sering membayangkan diriku mengenakan almamater PTN terfavorit se-negaraku tercinta. Dan aku selalu berharap dan berdoa mendapatkan jurusan impianku, yang selalu kutuliskan di semua daftar mimpiku. Yang selalu kubagikan kepada orang-orang di sekitarku ketika mereka bertanya jurusan apa yang akan kuambil selepas SMA. Dengan mantap kukatakan “Jurusan Komunikasi”. Dan aku sudah mempersiapkan diriku dengan mengoleksi semua buku komunikasi yang mungkin akan kubutuhkan saat memulai studiku nanti. Semuanya sempurna.
Akhirnya halaman laman terbuka. Namaku tertera di sana. Sedikit menggulung ke bawah untuk dapat melihat hasil ujiannya. Debaran jantungku semakin cepat dan tanganku menjadi gemetaran. Sejenak aku tutup kedua mataku, menarik napas panjang seraya mengucapkan lafadz bismillahirrohmanirrohim.
Kubuka mataku kembali. Dan di depanku ada sebuah tulisan. Sebuah tulisan asing yang tak ada dalam kamus pikiranku saat ini. Tulisan itu aneh atau mungkin salah ketik. Ah.. atau mungkin aku sedang bermimpi saat ini, gumamku sambil mencubit pipi kanan yang ternyata terasa sakit. Mungkinkah…
Tapi saat ku gerak-gerakkan pointer mouse, tidak ada yang berubah. Namaku tertera di sana, begitupun dengan tulisan aneh itu.
Seperti mimpi, mimpi buruk tepatnya. Seluruh tubuhku terpaku. Tiba-tiba aku tidak tahu harus melakukan apa. Dan tanpa aku sadari, ada tetesan air hangat membasahi pipiku. Lewat linangan airmata itu sekali lagi kuberanikan diri melihat tulisan aneh tersebut. Samar-samar tertulis “Selamat Anda diterima sebagai calon mahasiswa pilihan ke 2. Akuntansi (Non Kependidikan)-U**”. Hebatnya, sekeras apapun aku berusaha mengubah fokus mataku, tulisan itu tak berubah satu huruf pun.
Ya Robbi, inikah jawaban-Mu atas semua doa-doaku?. Aku-Zahra.
***
Waktu terus berjalan, tanpa bisa menengok lagi ke belakang. Bagi Azalea, dua sampai tiga kali dia mendatangi tempat itu tetap terasa asing. Selalu ada perasaan aneh yang menyelimuti hatinya. Seluruh tubuhnya terus berkeringat dingin melihat berkas-berkas di tangannya yang baru ia dapatkan dari dalam kaca kecil yang kaku dan tanpa perasaan di gedung administrasi kampusnya. Dua, tiga kali pula ia selalu pulang ke rumah dengan membawa perasaan tidak nyaman di hatinya. Satu-satunya hal yang menjadi penghiburannya adalah sambutan hangat dan bersahabat dari kakak-kakak kelas-panitia penyambutan calon mahasiswa baru-yang selalu dapat membuat perasaannya sedikit lebih baik. 
Dua sisi cermin yang berseberangan, kiri menjadi kanan, kanan menjadi kiri. Itulah yang dapat menggambarkan Azalea dan Zahra. Lain cerita, kedatangan Zahra di gedung administrasi itu justru telah menimbulkan lebih banyak kenangan menyenangkan baginya. Entah kebetulan atau memang takdir, di sana ia bertemu dengan kawan pertama yang dikenalnya. Kawan itu bernama Yusuf. Dan entah bagaimana caranya, Zahra dan Yusuf ternyata satu program studi dan satu kelas pula, pun nomor registrasi mahasiswa mereka saling berurutan. Setidaknya hal itulah yang dapat menjadi penghiburan bagi Zahra.
***
Hari itu acara penyambutan mahasiswa baru dimulai. Azalea sekuat tenaga membiasakan dirinya di lingkungan yang baru. Hatinya terus berkata “jalani saja. tidak akan sesulit kelihatannya,” mencoba meyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja. 
Allah swt sangat baik padanya. Ia telah memilihkan fakultas dan jurusan yang benar-benar menerima Azalea. fakultasnya kini tidak seperti fakultas lain yang masa orientasi-nya sangat ribet dan menyebalkan. fakultasnya justru lebih mengutamakan orientasi bermuatan akademik dan pembiasaan nyaman dengan wawasan serba “kampus”. Ya, walaupun istilah ‘ribet’ itu tidak dapat dipisahkan dari acara-acara semacam ini dimanapun. Bukannya tanpa tantangan, Azalea sempat dihukum karena datang terlambat berturut-turut, oleh kakak kelas yang agak ‘galak’ dan bikin keki. Tapi siapa yang menyangka setelah waktu berjalan, kini Azalea justru berteman baik dengan kakak yang ‘galak’ itu, ^_^
Hanya berbeda beberapa baris dari tempat Azalea duduk mendengarkan materi wawasan kampus, Zahra tidak menemukan kesulitan yang berarti. Ia segera bisa menyesuaikan diri dan menemukan peer group tempat di mana ia merasa nyaman untuk mengeksistensikan diri di tempat baru yang sama sekali tidak pernah ia impikan akan berada di sana. Zahra-lah yang pertama kali mengajak Azalea berkenalan. Tapi seperti banyak orang lainnya, tidak sampai lima menit kemudian, Azalea sudah melupakan nama dan wajah orang yang baru mengajaknya berkenalan tadi.
***
Tiba hari terakhir rangkaian seluruh masa orientasi mahasiswa baru yang di adakan di gedung kampus yang terpisah dari kompleks kampus utama. Acara tersebut merupakan acara puncak sekaligus penutupan. Zahra membatin dalam hati, jika saja tulisan di layar komputer tempo hari bukan tertulis Akuntansi U** melainkan komunikasi U*, ia pasti kini sedang mengenakan jaket berwarna sewarna matahari, bangga, dengan lambang akar pohon menghujam di dadanya. Bukan dengan jaket berwarna sewarna hijau lumut kusam dengan lambang burung hantu menyeramkan di dadanya dengan sedikit warna matahari di sana yang kini ia kenakan. “kuharap ini akan sementara,”, gumam Zahra dalam hati.
kuharap akan ada rasa bangga nantinya bagiku untuk bisa mengenakan jaket almamater ini,” gumam Azalea dalam hati. Mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada jalan untuk kembali lagi sekarang. Azalea teringat akan kata-kata orang bijak yang pernah ia dengar, jika kau sudah memutuskan, maka jalankan dengan sepenuh hatimu atau kau akan menyesal seumur hidupmu. Paling tidak, mimpi yang dulu kutulis di buku mimpi sudah terwujud sekarang, yakni memiliki sebuah blazer yang keren. Definisi kata ‘keren’ itu tergantung bagaimana caraku memaknainya kan?, ucap Azalea menghibur diri.
Rasa lelah menyelimuti Azalea dan Zahra karena harus berangkat pagi-pagi buta dari rumah mereka yang terletak di pinggiran kota, bahkan sebelum adzan shubuh berkumandang. Azalea menguap melepaskan rasa kantuknya, begitupun Zahra yang juga menguap untuk melepaskan kantuknya dan terus menerus berharap semua kejadian itu hanya bunga tidur. Yang sulit untuk terbangun.
***
 to be continued... ^_^