"kenapa aku tidak seperti orang lain?"
"kenapa kamu harus menjadi seperti yang lain?"
0
komentar
Posted in
Label:
story
Setiap pertanyaan punya
jawabannya masing-masing. Ini seperti mendapatkan sebuah jawaban dari setiap
pertanyaan yang muncul dari kalbu. Jawaban itu datang dengan sendirinya,
sementara pertanyaan atas jawaban muncul dari kealpaan dan kehilangan yang menjadi
nyata.
Kuperkenalkan kepadamu tokoh
cerita ini, dialah Azalea. Potongan kehidupan yang Azalea miliki ini seperti
puzzle berbentuk hati yang sering diibaratkan menjadi lambang dari cinta.
Tadinya ia hanyalah potongan-potongan kecil, lalu menjelma menjadi sebuah
gambar hati merah sempurna. Setiap orang dalam cerita memegang potongannya
sendiri. Azalea memegang satu bagian. Mereka yang lainnya. Tak pernah ada yang
meminta siapa akan disatukan dengan siapa. Semua sudah ada tempatnya tersendiri
di sini.
Dan mengalirlah cerita tentang
Azalea dan mereka. Ini tentang Pesan-pesan singkat yang selalu dapat menjadi
jawaban atas setiap pertanyaan. Kecemburuan, kegembiraan, kesalahpahaman,
kesedihan, kealpaan, juga kebersamaan yang sederhana..
“Kau begitu berharga. Maka biarlah di sekat-sekat masalah, di sela-sela
ujian, di batas-batas kelemahan, menempamu di ruang-ruang malam penghambaan
kepada zat yang menjadikan mu berharga. Selamat beristirahat kawan, selepas
weekend ini pasti kita akan sedikit melupakan istirahat. Jangan mempersulit
diri, ayo apa harapanmu di sini. Kita kerja sama ya, bukannya sama-sama kerja
;) 02:43:38 23/03/2013” ucap sang jenderal cinta.
Azalea baru saja pulang,
baru saja merebahkan diri di atas sofa kesayangan saat menerima pesan singkat ini. Ya
benar, kita harus bekerjasama, batinnya. Semangat!! ^o^/ Kelelahan yang
menyergap Azalea selepas acara rapat kerja 3 hari yang lalu tiba-tiba saja
menguap entah kemana seperti juga uap air yang hilang ke udara saat dipanaskan.
Dipertemukan oleh orang-orang asing seperti mereka, Azalea merasa canggung tapi
juga menarik. Jalan cerita ini belum tahu akan bagaimana ujungnya.
Seiring berjalannya waktu,
pertemuan-pertemuan di antara mereka telah membangun sebuah kebersamaan.
Kebersamaan yang akan kau temukan jika kau sering bertemu dengan orang-orang
yang sama dengan minat yang sama. Azalea dan kesembilan orang lainnya sama
sekali tidak ada kesamaan jurusan ataupun disiplin ilmu. Tapi kecintaan dengan
dunia pendidikan lah yang menyatukan hati-hati mereka. Seperti jargon yang
selama tiga bulan terakhir itu selalu mereka serukan, “karena mendidik adalah
cinta”. Tidak peduli latarbelakang, kesamaan itulah yang akhirnya menyatukan
mereka.
Tapi hukum alam selalu mengambil
bagiannya di saat-saat terlemah. Siapapun tidak dapat memungkiri, tidak
selamanya putaran rantai roda berada di atas. Kejenuhan akan selalu datang di
saat lemahnya iman. Dan akan bertambah-tambah ketika satu per satu dari teman
mu pergi meninggalkan tanpa alasan yang pasti. Seperti yang terjadi pada
Azalea. Tanpa bermaksud meninggalkan, nyatanya lembaran miliknya berhenti di
tengah jalan, dunia berbicara. Keangkuhan akan materi mengambil alih kendali.
Untuk sesaat, Azalea ‘terpaksa’ meninggalkan cinta-nya.
Dan bukan hanya ia yang pergi
tanpa pamit, yang lainnya pun demikian. Sembilu rasanya hati sang Panglima
cinta. ditinggalkan prajurit-prajurit terbaiknya di medan perang. Di saat
pedang dan langkah kaki harusnya memburu, tapi hanya sedikit yang bertahan
tinggal di sisi.
20:37:52 23/04/2013, sang
panglima berbicara, “Hanya ingin
menyampaikan kalianlah yang terbaik. Menetesnya airmata (mungkin) penyembuh
perih hati. Bersegeralah kepompongnya menjadi kupu-kupu dan berharap bunga itu
akan segera mekar. Mudah-mudahan bisa bersua kembali. Untukmu keluarga. Para
pencinta pendidikan”. Bahkan sebenarnya sang panglima bisa saja berteriak,
menegur tegas jundinya yang mundur teratur dalam medan perang. Tapi ia tahu,
tegas tak selamanya harus berarti kata-kata tajam dan ‘ringan tangan’. Hati
adalah bagian yang paling rapuh sekaligus yang paling kuat.
Butuh waktu memang, tapi satu
demi satu teman-temannya kembali. Azalea merasa yang paling bersalah. Tidak
hanya dia, setiap orang dari mereka pun merasakan hal yang sama. Saatnya
kembali dan menjalankan mimpi yang telah mereka lambungkan dahulu. Tak ada yang
bertanya masa lalu, alasan kepergian. Air muka bisa menjelaskan segalanya yang
tak bisa dijelaskan oleh lisan. Sang panglima telah menemukan kembali
prajuritnya.
Spedometer semangat telah kembali
ke jalurnya. Kebersamaan itu kembali menyapa. Beruntung sekali Azalea
ditakdirkan menjalani jalan ini dengan orang-orang yang luarbiasa. Yang selalu
dapat menjadi alarm ketika ia lengah.
Azalea memegang puzzle miliknya.
Potongan itu laksana tenang serupa guguran daun yang jatuh di aliran sungai.
Seseorang yang masih berjalan dengan kompas tergenggam erat di tangan. Karena
itu tak jarang ia sering tertinggal dari teman-temannya. Tapi kesedihan akan
itu sirna ketika sang jenderal cinta mengatakan padanya bahwa bersama tak harus
selalu sama.
Tokoh berikutnya pemilik puzzle
ini adalah sang bunda cinta. Ialah yang memegang alarm pengingat bagi semuanya.
Tak jarang ia harus berjuang sendirian ketika yang lainnya kelelahan. Tak
jarang juga ia berkorban lebih saat yang lainnya terlalu sibuk memikirkan diri
sendiri. Tapi senyum dan canda tak pernah hilang dari wajahnya. Saat yang lain
berbalik, ia selalu ada di belakang mereka untuk meminjamkan waktunya
mendengarkan keluh dan kesah. Tapi tak pernah sekalipun dari mereka yang pernah
melihatnya berkeluh kesah atau menampakkan kegundahan. Semua punya dapurnya
masing-masing, itu yang sering diucapkannya. Mungkin dapur miliknya hanyalah
kepada Sang Penggengam Jiwa.
Beberapa dari pesan-pesannya, “Semoga percikan air wudhu pagi tadi selalu
mengingatkan kita atas amanah yang ada. Kepercayan adalah harapan, tinggal
bagaimana kita mau mengemasnya dengan ikhtiar sungguh-sungguh,05:36:09” “Jika popularitas jadi parameter diri di
hadapan manusia, maka biarlah diam dalam kerja nyata dan mujahadah jadi
pemantas kualitas ketaqwaan diri kita di hadapan Allah. Ayolah semangat!
Kepercayaan adalah harapan, 06:19:28 07/05/2013”
“Hiduplah untuk umur kita hari ini karena memang inilah umur kita yang
nyata. Dengannya kita selalu teringat untuk menciptakan keindahan, berbuat
baik, dan bermanfaat. Sebab dalam hati kita selalu ada
kekhawatiran atas pertanggungjawaban di hadapan Allah kelak ^^, 08:43:59
22/05/2013”
“Ukhuwah dan amanah beum sempurna tertunaikan. Semoga peluh suka duka
yang ada, semata harapkan ridhoNya. Bila nanti kita jauh berpisah, jadikan
rabithah pengikatnya, jadikan doa ekspresi rindu.. Semoga kita bersua di surga.
^Terimakasih telah membuat keping-keping indah di hati. 21:32:14 24/05/2013”
“Semakin mengenali manusia yang makin akrab bagi kita pastilah
aib-aibnya. Sedang mengenali Allah pasti membuat kita mengakrabi
kesempurnaanNya. 21:46:08 28/05/2013”
Pesan-pesannya seperti oase di
tengah gurun yang kering. Tanpa bermaksud menghakimi tapi caranya adalah dengan
pengingatan yang ‘cantik’. Melihat ke dalam diri sendiri. Sang Bunda cinta
memang selalu begitu. Mewarnai semua orang tapi tidak banyak terwarnai. Dia
idola semua orang! ^_^
“Setiap kesulitan jika disikapi dengan senyuman sungguh menjadi
kekuatan. Akan ku ukir pelangi hidup dalam lembar baru. Kuncinya adalah ukhuwah
karena Allah. Karena Allah-lah yang mengikat hati manusia.21:16:25 16/05/2013”
Pesan di atas datang dari seorang
pemilik potongan puzzle yang tak pernah kehabisan asa dan semangatnya untuk
pendidikan. Dialah sang pemimpi. Bukan tanpa alasan aku menyebutnya begitu. Dia
memang memiliki banyak mimpi yang selalu berusaha untuk diwujudkannya. Setiap
mendengarnya bercerita membagikan asa miliknya, kesembilan pemilik potongan
puzzle yang lain akan tersetrum oleh virus semangat sang pemimpi. Seakan tak
ada hal yang mustahil untuk dilakukan. Semuanya mungkin jika berazzam dengan
sebenarnya. Satu menit saja orang yang kehilangan harapan hidup bila duduk di
dekatnya akan langsung lupa alasan mengapa ia bisa kehilangan harapan dan selanjutnya
kembali bangkit melanjutkan hidup yang memang tentang masalah dan masalah.
Prinsipnya satu, sang pemimpi
tidak suka jika hanya menghabiskan waktu berkutat dengan konsep palsu tanpa
kerja nyata. Ia selalu ingin menyentuh objek yang membutuhkan sentuhan cinta
dari pendidikan. Tidak perlu beretorika dengannya, karena kau pasti akan
kalah. Sekali waktu uzur mungkin
menyapanya, ketika kehilangan harapan menggebu tentang cita-cita besar
pendidikan. Ia padam, yang lainnya pun seakan ikut padam. Seolah sulit untuk
percaya, orang sepertinya juga bisa merasakan kelelahan. Ini adalah
tanggungjawab semua orang. Bukan hanya satu atau dua orang. Kenapa ia bisa
kelelahan? karena teman-temannya meninggalkan ia sendiri. Azalea kembali
merenung. Selama ini ia berada di mana. Tapi sang pemimpi tidak pernah ambil
pusing dan perhitungan. Mimpi yang ia lambungkan mungkin saja terlalu tinggi
untuk dicapai, butuh waktu dan kerja keras.
“Yang paling terampil mengendalikan hati/perasaan dan pikirannya adalah
orang yang paling mudah bahagia. Mari, terima dengan lapang hati, ridho dengan
episode yang harus dijalani, berbaik sangkalah kepada Allah, niscaya akan lega
hati ini. Bukankah kita sedang menjalankan skenario Allah? ;-) Bersemangatlah
kawan! Semoga Allah menguatkan.., 15:54:35 22/05/2013” pesan ini dikirim
untuk saudara seperjuangannya yang selalu yakin bahwa mendidik adalah cinta.
Seyogyanya, pesan tersebut juga ditujukan untuk dirinya sendiri, sang pemimpi.
Kawan, terkadang kita lupa untuk
berhenti sejenak. Melihat ke sisi siapa yang masih membersamai kita. Melihat ke
belakang siapa yang sedang kelelahan tak kuat melanjutkan perjalanan. Urusan
mundur teratur di medan juang ternyata meninggalkan luka tak terlihat di hati
sang bungsu cinta. Asanya yang mengangkasa, tiba-tiba saja dirundung kecewa
ketika kakak-kakak yang disayanginya perlahan pergi tanpa penjelasan.
Meninggalkan ia bermain sendiri memegang puzzle miliknya. Derai air mata tidak
tertahan justru jatuh di atas pundak seorang yang asing. Kemana orang-orang dekatnya?
Dalam kesibukan masing-masing, sebuah pesan singkat masuk. Pendek, tapi
menjelaskan panjang kata yang tidak terucap.
“Terkadang kita butuh jarak, agar memahami rasa sebenarnya. Seperti
kata-kata yang butuh spasi, agar sanggup terbaca dengan baik, 19:33:46
27/05/2013”
Sejatinya ia kesepian. Hanya
ditinggalkan begitu saja bersama bayang-bayang kesepian. Ketika ditanya tentang
keluarganya, orang-orang yang dipertemukan dengannya untuk mengemban amanah di
dunia pendidikan ini, sang bungsu hanya bisa menggeleng dan menangis.
Jarak yang ada sudah begitu jauh,
mereka pun tersadar. Kembali merapat dalam barisan. Azalea dan lainnya. Meski
luka mungkin akan meninggalkan bekas, namun biar bagaimanapun kata maaf itu
meluncur dan berusaha untuk menebus kesalahan. 6 bulan sudah terlewati.
“Kita berjalan bersisian kali ini. Tapi entah bagaimana, harapan terasa
melarung, jauh. –persimpangan, silang hati- 18:26:23 06/07/2013”
Tak pernah ada yang sempurna dalam semua hal.
Kecuali Dzat yang Maha Sempurna itu sendiri.
Sang Panglima cinta, sang
jenderal cinta, sang bunda cinta, sang pemimpi, Azalea, sang bungsu, enam
puzzle sudah terkumpul. Empat lainnya akan segera menyusul membuat sebuah
paragraf baru
dari cerita yang belum diketahui bagaimana akhirnya ini.
> Sang professor, sang
penggerak, sang penetral, sang bayang,
Catatan Kompilasi: Tanpa Judul, Grown Up Things, Just, I'm In Love With You, Kontemplasi Drama, Perasaan yang Menyenangkan.
0
komentar
Posted in
Label:
awaken by TV,
azalea,
Keluarga,
Memory,
story
Tanpa judul.
Aku benci ditinggalkan.. Aku benci perpisahan.. Sebelum Aku
mendengarnya maka kuputuskan lebih baik aku-lah yang meninggalkan dan berpisah
dengannya. Apapun itu.
~~~
Grown up things
Ketika beranjak dewasa, beberapa orang akan membuang segala
hal kekanak-kanakan dari dirinya.
Beberapa lagi menyimpan sebagian kecil darinya sebagai
memori.
Sedikit dari mereka yang tetap memutuskan mengenggam semua
hal kekanak-kanakan itu dalam dirinya.
Dan sepertinya aku masuk ke dalam yang sedikit itu. Segala
hal tentang kekanak-kanakan telah membentuk aku yang sekarang.
Aku tidak bisa membuang potongan diriku yang satu itu.
Buruknya adalah, ketika kau hanya mengenali mereka -orang
yang kau kenal baik- di masa kanak-kanak dan tersentak kaget, terjerembab
ketika berhadapan dengan realita yang ada.
Dunia tentang “menjadi dewasa” tidak pernah seindah dongeng
dalam dunia kanak-kanak.
~~~
Just,
JIka ada pembagian jenis sahabat.. Noisy friend dengan silent friend..
Mungkin aku termasuk jenis yang kedua. Menyayangi dalam diam
adalah keahlianku. ^_^
~~~
I’m in love with you
Hari pertemuan semakin dekat. Apakah
aku masih bisa menjadi aku yang mereka kenal dahulu? Apakah kini aku sudah berubah?
Ataukah ini semua hanya pikiranku saja? Karena aku merasa mulai tidak mengenali
diriku sendiri.
Semoga perjalanan perjalanan dan
pertemuan nanti bisa membawaku kembali.
Itulah yang aku pikirkan saat akan memenuhi undangan dari
‘keluarga’. Ya, aku memang terlalu banyak berpikir. Dan ketika semuanya sudah
selesai, yang tertinggal adalah sebuah cerita.
‘Ukhuwah ini begitu
indah’, begitu ucap seorang adik sebelum kepulangan kami dari tempat
menakjubkan itu.
Tempat di manapun sama, hanya saja yang menjadikannya
istimewa adalah orang-orang yang ikut serta hadir di sana.
Masih tergambar jelas dalam ingat, semburat kemerahan
matahari terbenam sore itu. Dan deburan ombak yang menggulung lembut di dekat
kakiku. Suara alam. Menghilangkan semua penat. Ikut menenggelamkan semua rasa
sesal yang sempat terpikir. Inilah harga yang pantas. Tak dapat dinilai oleh
nominal uang yang fana.
Bersama keluarga, momen sepersekian detik itu kami nikmati
bersama. Asyik menjepret sana sini mengabadikan momen yang ada. Bagiku,
selembar foto itu juga fana. Yang abadi ada di dalam sini (hati).
Senyuman mereka, canda tawa, sudah berpisah memang. Semua
sudah bertukar/berganti posisi. Tapi bagiku, bagi kami, semuanya masih tetap
sama. Karena sejatinya slogan itu bukan hanya sekedar merek, tapi sudah terukir
dalam kalbu. Merekalah keluarga. Yang dipersaudarakan oleh islam.
‘‘Dalam kamus apapun, keluarga, tidak
ada kosakata mantan adik atau mantan kakak.’’ ini ucapan seorang adik luarbiasa yang sudah melanjutkan
tongkat estafet dakwah ini ^_^.
Meski hanya sendirian (satu-satunya akhwat ‘golongan tua’
yang datang, hehe) tapi ternyata kehadiran mereka membuat yang asing terasa
begitu dekat. Ada untungnya juga. Seperti kembali ‘muda’. Apapun itu, aku
menikmatinya. Menikmati semua momen yang terjadi di tiga hari dua malam saat
itu.
Aku selalu mengingat kata-kata ini, “Seorang kakak yang baik tidak akan pernah mengecewakan adiknya
tersayang. Ia akan selalu berusaha menjadi ‘yang terbaik’ di mata adiknya”.
Dan itulah yang terjadi padaku. Seorang aku, memasak? XD Jika bisa diibaratkan
ini seperti mimpi buruk. Apakah mereka tahu? Jangan, desakku. Biar bagaimanapun
aku pernah mencoba posisi sebagai konsumsi beberapa kali. Jadi seharusnya semua
tidak ada masalah. Semua tenaga dan pengetahuan yang kudapatkan secara otodidak
tentang memasak, kukerahkan (Yosh!). Dan hasilnya… hm.. aku bisa sedikit
tersenyum. ^_^ Tidak terlalu buruk, tapi juga tidak bisa dibilang sangat baik.
Cukuplah, hhe.
Terimakasih, adik-adikku. Satu lagi kejutan dari mereka. sebuah
pigura dengan foto-foto kebersamaan kami dan satu kata dari setiap orang
tentang aku (peluk cium kalian >_<)
Aku tidak mungkin berekspresi berlebihan di hadapan mereka
ketika mendapatkan hadiah itu. Tapi dalam hati aku melonjak kegirangan. Ada
rasa haru di sana. Keluarga jilid 2. I’m in love with you. (^_<)
~~~
Kontemplasi drama
Orang yang selalu membiarkan dirinya terluka untuk dapat
membuat orang lain bahagia. Orang yang rela pecah berantakan agar dapat membuat
orang yang disayanginya tetap menjadi utuh.
Aku benci orang seperti itu. Karena aku melihat dirinya dalam
cermin pantulan diriku.
Tapi kurasa mungkin ini yang memang seharusnya terjadi.
Kehidupan yang sempurna. Lalu pecah berantakan. Kalau bisa memilih, ia ingin
menjadi pohon di kehidupan berikutnya. Takdir yang ada di antara mereka begitu
rumit. Setelah berputar jauh menjauhi masa lalu, akhirnya kembali bertemu di
titik di mana semuanya dimulai.
Lagi, orang yang sama yang harus berkorban. Parahnya lagi,
tak cukup hanya sampai di sana. Penyakit yang dideritanya semakin hari semakin
memburuk. Cerita ini lebih malang dari kisah Cinderella. Meskipun kisah seperti
ini mungkin hanyalah picisan, dalam semu. Tapi aku bahagia untuknya. Akhir yang
‘pantas’ untuk seseorang sepertinya yang selalu berkorban untuk kebahagiaan
orang lain. “Akhirnya kami bersama”
itu yang diucapkannya di akhir cerita.
Pergi dalam tenang dan kebahagiaan karena berlimpah kasih
sayang dari orang-orang yang mencintainya.
Kisah cinta seperti ini memang tidak akan punya akhir dan
tidak akan pernah berakhir sampai kapanpun. Sudah bisa tebak ini kisah siapa? Kisah
yang diawali dengan gugurnya dedaunan, dan diakhiri dengan bergugurannya daun
maple merah yang ditiup angin.
~~~
Perasaan yang menyenangkan… ^o^
Aku selalu memimpikan hal ini.
Bisa menatap langit setiap hari.
Setiap saat yang kumau.
Menatap langit membuatku mengagumi kebesaranNya.
Bisa menatap langit membuatku mengerti arti kata ‘cukup’ dan
bersyukur.
Dengan menatap langit, aku tersadar bahwa aku ini begitu
kecil. Benda langit yang menjadi bagian dari semesta yang begitu besar.
Seperti malam ini, saat langit membentuk bayangan sempurna
diriku.
0
komentar
Posted in
Label:
awaken by song
Dengan adanya ketidaksempurnaan itulah maka semuanya menjadi
terlihat sempurna. Karena terkadang, kesempurnaan yang ditampilkan itu sangat
membuat lelah luarbiasa. Ini semua berlaku bagi siapapun, terkecuali bagi-Nya.
Sang Pemilik kesempurnaan sejati. >Just
think, when listen to one of the best song vocal group today.
0
komentar
Posted in
Label:
story
Dunia
baru, lingkungan baru, orang-orang yang baru. Seperti yang sudah-sudah, aku
harus beradaptasi dengan sekelilingku. Hal itu selalu membuat hatiku getir dan
seluruh tubuhku berkeringat dingin. Sepanjang ingatanku, aku bukan orang yang
mudah bergaul. Label pendiam sudah melekat kuat pada diriku betatapun aku
berusaha kuat untuk menghapusnya. dan aku memang mengakui bahwa aku sangat
menikmati kesendirian itu. Tapi adakalanya hal tersebut terasa menakutkan
bagiku.
Dunia
baru ini tidak pernah kuniatkan ingin kujalani. Walaupun mungkin dulu sempat
terbersit dalam khayalanku menjalani kehidupanku di tempat ini. Kukira itu
hanyalah angan angin lalu. Ada sedikit rasa kecewa di sana, tapi aku berusaha
untuk bertahan dan memantapkan diri menerima semua kehendak-Nya. Mau
marah-marah, atau mogok makan sekalipun, tidak akan mengubah kenyataan bahwa
aku adalah bagian dari tempat ini sekarang. Bagiku itu cuma buang-buang tenaga.
Tempat
ini, ah.. lebih tepatnya kampus ini adalah satu-satunya kampus PTN di ibukota
negaraku. Kota metropolitan dengan segudang cerita perjuangan hidup di
dalamnya. Nama kampus ini tertera besar-besar di tugu gerbang pintu masuknya.
Di sana
tertulis almamater ku sekarang. Kampus yang terkenal telah menetaskan
beribu-ribu lulusan potensial sebagai sumbangan bagi dunia pendidikan. Maka,
orang-orang pun heran tiap kali menanyakan jurusan yang kupilih., Akuntansi
murni tanpa embel-embel kependidikan. Dengan tanpa gelar SPd. tentunya bila aku
lulus nanti.
Jurusan
yang kuimpikan akan kudapatkan di PTN paling mahsyur di bumiku, kini ‘terpaksa’
kudapatkan di tempat ini. Aku –Azalea.
***
Hatiku
berdegup kencang saat jemariku meng-klik pointer
mouse di laman yang tiba-tiba jadi
popular bila musim ujian masuk perguruan tinggi di mulai. Akibatnya membutuhkan
kesabaran ekstra tinggi untuk menunggu halamannya terbuka.
Tapi tak
apa, aku akan menunggu selama yang dibutuhkan. Aku sering membayangkan diriku
mengenakan almamater PTN terfavorit se-negaraku tercinta. Dan aku selalu
berharap dan berdoa mendapatkan jurusan impianku, yang selalu kutuliskan di
semua daftar mimpiku. Yang selalu kubagikan kepada orang-orang di sekitarku
ketika mereka bertanya jurusan apa yang akan kuambil selepas SMA. Dengan mantap
kukatakan “Jurusan Komunikasi”. Dan aku sudah mempersiapkan diriku dengan
mengoleksi semua buku komunikasi yang mungkin akan kubutuhkan saat memulai
studiku nanti. Semuanya sempurna.
Akhirnya
halaman laman terbuka. Namaku tertera di sana. Sedikit menggulung ke bawah
untuk dapat melihat hasil ujiannya. Debaran jantungku semakin cepat dan
tanganku menjadi gemetaran. Sejenak aku tutup kedua mataku, menarik napas
panjang seraya mengucapkan lafadz bismillahirrohmanirrohim.
Kubuka
mataku kembali. Dan di depanku ada sebuah tulisan. Sebuah tulisan asing yang
tak ada dalam kamus pikiranku saat ini. Tulisan itu aneh atau mungkin salah
ketik. Ah.. atau mungkin aku sedang
bermimpi saat ini, gumamku sambil mencubit pipi kanan yang ternyata terasa
sakit. Mungkinkah…
Tapi saat
ku gerak-gerakkan pointer mouse,
tidak ada yang berubah. Namaku tertera di sana, begitupun dengan tulisan aneh
itu.
Seperti
mimpi, mimpi buruk tepatnya. Seluruh tubuhku terpaku. Tiba-tiba aku tidak tahu
harus melakukan apa. Dan tanpa aku sadari, ada tetesan air hangat membasahi
pipiku. Lewat linangan airmata itu sekali lagi kuberanikan diri melihat tulisan
aneh tersebut. Samar-samar tertulis “Selamat Anda diterima sebagai calon
mahasiswa pilihan ke 2. Akuntansi (Non Kependidikan)-U**”. Hebatnya, sekeras
apapun aku berusaha mengubah fokus mataku, tulisan itu tak berubah satu huruf
pun.
Ya Robbi,
inikah jawaban-Mu atas semua doa-doaku?. Aku-Zahra.
***
Waktu
terus berjalan, tanpa bisa menengok lagi ke belakang. Bagi Azalea, dua sampai
tiga kali dia mendatangi tempat itu tetap terasa asing. Selalu ada perasaan
aneh yang menyelimuti hatinya. Seluruh tubuhnya terus berkeringat dingin
melihat berkas-berkas di tangannya yang baru ia dapatkan dari dalam kaca kecil
yang kaku dan tanpa perasaan di gedung administrasi kampusnya. Dua, tiga kali
pula ia selalu pulang ke rumah dengan membawa perasaan tidak nyaman di hatinya.
Satu-satunya hal yang menjadi penghiburannya adalah sambutan hangat dan
bersahabat dari kakak-kakak kelas-panitia penyambutan calon mahasiswa baru-yang
selalu dapat membuat perasaannya sedikit lebih baik.
Dua sisi
cermin yang berseberangan, kiri menjadi kanan, kanan menjadi kiri. Itulah yang
dapat menggambarkan Azalea dan Zahra. Lain cerita, kedatangan Zahra di gedung
administrasi itu justru telah menimbulkan lebih banyak kenangan menyenangkan
baginya. Entah kebetulan atau memang takdir, di sana ia bertemu dengan kawan
pertama yang dikenalnya. Kawan itu bernama Yusuf. Dan entah bagaimana caranya,
Zahra dan Yusuf ternyata satu program studi dan satu kelas pula, pun nomor
registrasi mahasiswa mereka saling berurutan. Setidaknya hal itulah yang dapat
menjadi penghiburan bagi Zahra.
***
Hari itu
acara penyambutan mahasiswa baru dimulai. Azalea sekuat tenaga membiasakan
dirinya di lingkungan yang baru. Hatinya terus berkata “jalani saja. tidak akan sesulit kelihatannya,” mencoba meyakinkan
diri bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Allah swt
sangat baik padanya. Ia telah memilihkan fakultas dan jurusan yang benar-benar
menerima Azalea. fakultasnya kini tidak seperti fakultas lain yang masa
orientasi-nya sangat ribet dan menyebalkan. fakultasnya justru lebih
mengutamakan orientasi bermuatan akademik dan pembiasaan nyaman dengan wawasan
serba “kampus”. Ya, walaupun istilah ‘ribet’ itu tidak dapat dipisahkan dari
acara-acara semacam ini dimanapun. Bukannya tanpa tantangan, Azalea sempat
dihukum karena datang terlambat berturut-turut, oleh kakak kelas yang agak
‘galak’ dan bikin keki. Tapi siapa yang menyangka setelah waktu berjalan, kini
Azalea justru berteman baik dengan kakak yang ‘galak’ itu, ^_^
Hanya
berbeda beberapa baris dari tempat Azalea duduk mendengarkan materi wawasan
kampus, Zahra tidak menemukan kesulitan yang berarti. Ia segera bisa
menyesuaikan diri dan menemukan peer
group tempat di mana ia merasa nyaman untuk mengeksistensikan diri di
tempat baru yang sama sekali tidak pernah ia impikan akan berada di sana.
Zahra-lah yang pertama kali mengajak Azalea berkenalan. Tapi seperti banyak
orang lainnya, tidak sampai lima menit kemudian, Azalea sudah melupakan nama
dan wajah orang yang baru mengajaknya berkenalan tadi.
***
Tiba hari
terakhir rangkaian seluruh masa orientasi mahasiswa baru yang di adakan di
gedung kampus yang terpisah dari kompleks kampus utama. Acara tersebut
merupakan acara puncak sekaligus penutupan. Zahra membatin dalam hati, jika
saja tulisan di layar komputer tempo hari bukan tertulis Akuntansi U**
melainkan komunikasi U*, ia pasti kini sedang mengenakan jaket berwarna sewarna
matahari, bangga, dengan lambang akar pohon menghujam di dadanya. Bukan dengan jaket
berwarna sewarna hijau lumut kusam dengan lambang burung hantu menyeramkan di
dadanya dengan sedikit warna matahari di sana yang kini ia kenakan. “kuharap ini akan sementara,”, gumam
Zahra dalam hati.
“kuharap akan ada rasa bangga nantinya bagiku
untuk bisa mengenakan jaket almamater ini,” gumam Azalea dalam hati.
Mencoba meyakinkan diri bahwa tidak ada jalan untuk kembali lagi sekarang.
Azalea teringat akan kata-kata orang bijak yang pernah ia dengar, jika kau sudah memutuskan, maka jalankan
dengan sepenuh hatimu atau kau akan menyesal seumur hidupmu. Paling tidak,
mimpi yang dulu kutulis di buku mimpi sudah terwujud sekarang, yakni memiliki
sebuah blazer yang keren. Definisi kata
‘keren’ itu tergantung bagaimana caraku memaknainya kan?, ucap Azalea
menghibur diri.
Rasa
lelah menyelimuti Azalea dan Zahra karena harus berangkat pagi-pagi buta dari
rumah mereka yang terletak di pinggiran kota, bahkan sebelum adzan shubuh
berkumandang. Azalea menguap melepaskan rasa kantuknya, begitupun Zahra yang
juga menguap untuk melepaskan kantuknya dan terus menerus berharap semua
kejadian itu hanya bunga tidur. Yang sulit untuk terbangun.
***
to be continued... ^_^

