Desember 2004,
tingkat dua sekolah menegah pertama
0
komentar
Posted in
Label:
SF,
story
Surat kita
0
komentar
Posted in
Label:
story
Waktu itu, walau hanya dibonceng papa naik vespa, rasanya aku senang sekali. Aku masih ingat semilir angin yang mengelus lembut anak-anak poniku. Rambutku yang pendek dengan belah tengah. Waktu itu sepertinya aku masih duduk di taman kanak-kanak. Dan singgasanaku selalu di depan bagian vespa, tempat pijakan kaki Papa. Aku selalu duduk di depan, sampai adikku mulai bisa berjalan dan tempat singgasana akupun digantikan olehnya.
Aku ingat, sepanjang perjalanan, Papa pasti selalu menceritakan banyak hal. Waktu itu, aku sangat menikmati semua ceritanya. Seru sekali. Sesekali Mama yang duduk di belakang akan membetulkan bajuku bila tertiup angin. Aku ingat, malam itu adalah malam terakhir aku duduk di depan, kami berempat pulang ke rumah. Aku duduk dengan Mama dibelakang dan adikku yang bawel mengambil tempat kesayanganku. Mulai dari saat itu timbul pemahaman baru di benakku, mulai sekarang akan ada yang berubah. Aku adalah seorang kakak. Sebuah nama yang hadir dengan tanggung jawab di dalamnya.
Waktu kecilku, setiap berulangtahun aku selalu diajak mama pergi ke minimarket dekat rumah. Dan ada tiga hal yang pasti selalu aku beli di sana. Permen karet Barbie rasa anggur dengan stiker berhadiah di dalamnya, stiker boneka, dan manisan gula-gula kapas. Mama sampai hapal apa yang akan kubeli. Senangnya setengah mati. Anak kecil polos yang puas dengan belanjaan tiga macamnya.
Tapi ulangtahunku tahun itu, aku ingat membeli sebuah diary kecil. Mungkin waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Diary yang bergambar tokoh kartun kesayangan. Sepulangnya dari sana, aku menyodorkan buku itu pada Papa. dan minta untuk dituliskan kata ucapan selamat ulang tahun. Karena di kelasku waktu itu sedang trend menulis ucapan dari teman-teman sekelas. Jadilah, papa yang bingung memandang buku itu lama. Aku masih ingat sekali apa yang ditulisnya:
Waktu kecilku, mama hobi sekali membelikan baju dengan model sama tapi ukuran berbeda untuk aku dan adikku yang bawel. Tidak hanya baju, bahkan tas, sepatu, mainan, buku, sampai urusan aksesori rambut. Aku baru sadar hal ini baru-baru ini. Ketika melihat banyak gambar diriku di album poto berpakaian dengan model hampir sama dengan adikku yang bawel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kata mama biar ga ada yang iri. Aku senang-senang saja waktu itu. Anak kecil yang polos.
Nah, yang jadi urusan di sini adalah perkara aksesori rambut. Kira-kira adikku yang bawel itu usianya baru tiga atau empat tahun. Kami sekeluarga sedang berlibur ke pantai ancol. Di masanya, tempat tersebut sangat prestisus. Jarang-jarang kami bisa ke tempat seperti ini.
Ada sebuah topi berwarna merah dengan kepang dua di sisi kiri dan kanannya. Lagi trend saat itu. Aku dan adikku yang bawel seperti biasa dibelikan sepasang oleh mama. Punya adikku yang bawel, kepangnya hanya satu di belakang. Tapi ia menghilangkannya. Dan jadilah sejak saat topinya hilang, adikku yang bawel itu semena-mena menjadikan topi milikku sebagai miliknya. Tak terkecuali hari itu. Aku masih ingat, aku sedang menulis sesuatu di pasir, lalu tiba-tiba muncul ide jahil di otakku. Aku merebut topi (yang seharusnya punyaku) dari kepala adikku yang bawel. Dan dengan sekuat tenaga, ia menangis sejadi-jadinya dengan keras sekali membuat mama, para tante, juga adik sepupuku yang lain langsung mengerubungi kami dan menjadikan aku tertuduh tunggal ,hehe. Jadi kakak itu memang merepotkan. Gara-gara teriakannya itu, aku terpaksa menyerahkan topi milikku kembali untuk adikku yang bawel. Dan setiap malam sejak hari itu, ketika adikku yang bawel sudah tertidur, aku sering terbangun hanya untuk mencoba mengenakan topi berkepang dan mematut diri di depan cermin. Mengagumi betapa cocoknya topi berkepang dua itu untukku.
Setelah dewasa, aku baru menemukan sesuatu. Ternyata dalam insiden itu ada omku yang iseng menggambil gambar aku dan adikku yang bawel yang matanya sembab beserta topi berkepang dua di kepalanya, kami sedang duduk saling membelakangi di bawah naungan pohon kelapa.
Waktu kecilku, mama sering sekali meminta tolong pada aku kecil yang usianya masih tiga tahun pergi ke warung untuk membeli pisang goreng, rokok untuk papa, dan aneka barang dapur lainnya. Samar aku mengingat, rumahku saat itu bercat putih dengan tempelan ubin di dindingnya. Ada banyak tanaman hias rimbun di teras rumah.
Aku kecil dengan santainya melangkah pergi ke warung, dengan menggenggam erat uang di tangan kananku sambil mengemut lollipop dengan berpakaian ala kadarnya, ala anak kecil yang cuek dan polos. Sambil berteriak pada ibu penjaga warung, “beliiii…. bellii pishang goleng buuu,” Lucu sekali.
Waktu kecilku, aku suka sekali menonton televisi (sampai kini kebiasaan itu belum berubah). Aku belum masuk sekolah. Itu kepindahan rumahku yang kedua. Aku sedang menonton televisi, dan ada salah satu iklan permen karet yang sangat aku suka. Karena memakai bahasa yang terdengar asing di telingaku saat itu. Sekarang kuketahui kalau itu adalah bahasa inggris.
Papa sedang duduk menonton bersamaku, mama juga ada di sana. Dan setiap ada iklan itu muncul di televisi, dengan spontan aku langsung berdiri dan menyanyikan jingle lagu iklan permen karet sambil berjoget ria. Dari satu iklan, merembet ke iklan lainnya. Jadilah, setiap iklan mengambil alih acara, aku akan berdiri dan meniru setiap ucapan yang ada di setiap iklan dengan sempurna dan lancar sambil berteriak dan berseru, hehe..
Ah, semua itu sudah lama berlalu. Bahagianya masa kecil. Aku seperti ingin kembali ke masa itu. Masa ketika aku masih bisa menemukan vespa biru dengan papa memboncengku. Masa ketika permen karet Barbie adalah hal yang paling menyenangkan di alam semesta. Masa ketika masih kutemukan topi merah berkepang dua terlihat manis di kepalaku. Masa di mana aku bisa menemukan mama dan papa selalu tersenyum dan tertawa melihat tingkahku yang lucu. Masa-masa yang kini sudah menjadi kerlip bintang di hatiku yang sepi. Yang tersisa dalam bingkai kenangan.
0
komentar
Posted in
Label:
Awaken by Book
-Tasaro GK, Muhammad: Sang penggenggam Hujan.
0
komentar
Posted in
Label:
story
Tahun ini kuputuskan untuk pergi ke pameran buku sendiri. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya di mana aku mengajak teman untuk berkunjung ke acara ini yang selalu rutin diadakan setiap tahunnya. Acara semacam ini memang surganya bagi para pecinta buku sepertiku.
Tahun ini aku hanya ingin menikmati kesenangan ini sendirian. Karena tak pernah ada cukup waktu bila membagi hal menyenangkan ini dengan orang lain. Mereka selalu saja sibuk ingin terburu-buru ke sana dan ke sini karena bosan dan sebagainya. Sementara, aku tidak pernah bosan menatap tumpukan buku-buku yang memamnggil untuk kubaca.
Tabungan hampir setengah tahun yang kukumpulkan, dengan senang hati kudedikasikan untuk momen seperti ini. Aku berjalan berkeliling dari satu booth pameran ke booth buku lainnya. Mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah judul buku lama yang tertera dalam bahasa jepang. Tanganku spontan memegangnya. dan menarik buku itu dari barisan rak di hadapanku. "Ichi Rittoru No Namida".
Baru teringat, aku sudah punya buku dengan judul yang sama di rumah. Ingin tak jadi membeli tapi tak sampai hati karena aku tidak ingin menyulitkan petugas ini, juga antrian di belakangku yang mengular panjang. Sudahlah, anggap saja untuk koleksi, pikirku. Kuucapkan terimakasih pada nona petugas kasir itu dan berlalu pergi. Dalam hati tak habis-habisnya aku berkata pada diri kekonyolan yang baru saja kulakukan. Efek dari percakapan dengan seorang istimewa yang juga menyukai buku dengan judul yang sama. Begitu pikirku. Pasti itu yang menggerakkanku, alasanku pada sendiri.
Tak pernah ada yang bisa memastikan berapa lama aku berada di pameran buku itu. Begitu kulangkahkan kaki keluar, langit biru sudah digantikan langit gelap malam yang diseraki bintang-bintang kecil nan indah. Ini malam purnana. Sorotan lampu dari gedung-gedung tinggi yang ada di sekitarnya turut memeriahkan panorama malam. Kuputuskan untuk segera pulang. Biarpun hati belum puas bermandikan lautan buku.
Beberapa langkah menjauhi stadion tempat pertandingan bulutangkis yang telah disulap menjadi pameran buku, seseorang yang kukenali sosoknya berdiri di sisi jalan sambil memandangi sesuatu. Segenap kekuatan kukumpulkan, memberanikan diri menghampiri dan menyapanya. Wajahnya terlihat muram sekali. Ternyata ia merasa sedih karena tidak sempat berkeliling ke pameran buku di hari terakhir itu. Waktupun menunjukkan sudah hampir tutup. Dia terlupa dengan acara penting satu itu, padahal ada sebuah buku yang sudah sejak lama sangat diinginkannya.
Karena tidak enak hati sudah masuk ke dalam kisahnya hari itu, aku pun sedikit menghiburnya. Kami pulang bersama. Tidak sengaja, karena arah rumah kami memang sama. Aneh rasanya kalau tidak berbarengan pulang.
Kereta yang kunaiki sudah lengang. Hanya satu sampai dua orang saja yang menduduki barisan tempat duduk yang tersedia di setiap gerbongnya. Maklum saja, ini weekend. Sesaknya penumpang saat hari kerja absen untuk hari ini. Di kereta yang lengang itu, udara dari mesin pendingin benar-benar terasa menusuk. Aku mengeluarkan jaket yang kusimpan di dalam tas ransel dan tanpa sengaja juga ikut menumpahkan bungkusan buku-buku yang tadi kubeli di pameran. Dia terkejut bukan main saat melihat tas ransel yang besar itu penyebabnya ternyata adalah buku-buku yang kubeli.
Kami sama-sama pecinta buku. Maka obrolan yang mengalir pun berlangsung seputar buku yang kami sukai. Dia bercerita saat hendak mencari buku idamannya di booth, ternyata buku itu sudah tidak ada. Bagi seorang pecinta buku, gagal menemukan buku yang begitu diinginkan adalah hal yang membuat sedih. Akupun balik bercerita tentang sebuah buku yang tidak sengaja terbeli dan aku menunjukkan bungkusan buku itu padanya.
Raut wajahnya seketika berubah sumringah saat melihat judul buku tersebut. "Ichi Rittoru No Namida". Ternyata buku yang dicarinya adalah ini. Dan aku yang telah membelinya. Seperti takdir. Aku merasakannya.Di dunia ini semua hal terjadi bukan dengan tanpa alasan. Sama sepertiku, diapun sangat mengagumi cerita yang diangkat dari kisah nyata itu.
Kereta yang kami tumpangi akhirnya tiba di stasiun tujuan. Aku dan dia turun dari gerbong. Malam semakin larut. Sepanjang perjalanan tadi telah kubulatkan tekad untuk melakukan sesuatu yang selama ini ingin kulakukan. Kami berpisah di pintu keluar stasiun. Sebelum itu aku menyerahkan sesuatu padanya. Bungkusan buku "Ichi Rittoru No Namida". Hadiah dariku untuknya. Diapun tersenyum berterima kasih. Malam ini entah bagaimana terasa sempurna.
Hadiah buku selalu istimewa.


